Chapter Two
Kursi Nomor Tiga
POV: Rafa
Ada seni tersendiri dalam mengikat tali sepatu dengan satu tangan.
Butuh tiga minggu menonton video tutorial, empat puluh dua kali gagal, dan satu kali hampir menangis di lantai kamar mandi sebelum aku berhasil melakukannya dengan benar. Sekarang, delapan tahun kemudian, aku bisa melakukannya dalam sebelas detik. Aku tahu karena Kinan pernah menghitungnya dengan stopwatch, lalu mengirimkan hasilnya ke grup keluarga dengan keterangan: REKOR BARU. KAKAKKU ATLET.
Pagi ini aku melakukannya dalam sembilan detik.
Aku tidak memberi tahu siapa-siapa. Beberapa kemenangan cukup dinikmati sendiri, sambil duduk di anak tangga teras rumah kontrakan, ditemani kopi yang mulai dingin dan kucing tetangga yang menatapku seperti aku berutang padanya.
“Nggak ada ikan hari ini, Mbul,” kataku.
Mbul mengeong dengan nada kecewa, lalu pergi dengan ekor terangkat tinggi. Semua perempuan dalam hidupku, entah kenapa, punya bakat dramatis.
Aku berdiri, merapikan kemeja, dan mengecek bayanganku di kaca jendela. Kemeja biru muda, kancingnya magnet, dijahitkan Kinan tiga tahun lalu setelah dia melihatku lima belas menit berjuang dengan kancing biasa dan memutuskan bahwa itu “menyakitkan untuk ditonton”. Celana bahan abu-abu. Kacamata. Rambut yang sudah kusisir sebisanya.
Tangan kiriku kumasukkan ke saku celana. Kebiasaan lama. Bukan karena malu, setidaknya bukan lagi. Hanya karena tangan yang tergantung diam di sisi tubuh cenderung menarik perhatian, dan aku tidak suka menjadi pusat perhatian untuk alasan apa pun.
Siap.
“Enam bulan,” kata Pak Surya, atasanku, dua minggu lalu. “On-site full di Atma & Corp. Kamu yang pegang, Raf. Klien besar. Klien sangat besar.”
Dia mengatakannya dengan nada orang yang menyerahkan bayi. Atau bom.
Atma & Corp adalah salah satu perusahaan distribusi terbesar di Jawa. Gudang di dua puluh kota, ribuan armada, dan sistem inventaris yang, menurut dokumen yang kubaca semalaman, masih mengandalkan kombinasi Excel, WhatsApp, dan doa. Tugas kami di PT Sinergi Dataloka adalah menggantinya dengan sistem yang tidak membutuhkan doa.
Aku menyukai pekerjaan ini. Menjadi system analyst berarti sebagian besar pekerjaanku terjadi di kepala: memetakan alur, menemukan lubang, merancang ulang. Tanganku hanya dibutuhkan untuk mengetik, dan aku sudah lama berdamai dengan mengetik satu tangan. Dengan voice typing untuk dokumen panjang dan satu tangan kanan yang sudah terlatih delapan tahun, aku masih lebih cepat dari separuh kantor. Gilang yang menghitungnya. Dia juga menangis sedikit waktu itu, meski dia bilang itu karena kelilipan.
Gilang sedang menunggu di lobi Atma Tower ketika aku tiba.
Dia berumur dua puluh lima, junior developer terbaik yang pernah kutemui sekaligus manusia paling berisik yang pernah dilahirkan. Hari ini dia memakai kemeja yang terlalu rapi dan wangi parfum yang terlalu banyak.
“Bang,” katanya, langsung menyambarku. “Bang, lo udah siap?”
“Siap apa?”
“Mental lo, Bang. Lo udah nyiapin mental lo?”
“Kita mau kickoff meeting, Lang. Bukan perang.”
“Justru itu.” Dia merendahkan suara, meski lobi itu luas dan ramai dan tidak ada yang peduli pada kami. “Lo tahu siapa project owner kita?”
Aku tahu. Namanya ada di dokumen kontrak. Vannesa Atmajaya, Manajer Divisi Operasional & Supply Chain. Aku juga tahu, dari nama belakangnya, bahwa dia bukan sekadar manajer.
“Anak pemilik,” kataku.
“Anak pemilik,” ulang Gilang dengan nada khidmat, seperti menyebut nama nabi. “Bang, gue udah riset. Temen gue kerja di sini. Katanya, Bang, katanya, kalau Bu Vannesa lewat lobi, satpam bisa salah kasih salam. Pernah ada kurir yang nganterin paket ke lantai yang salah karena ngeliatin dia. Pernah ada—”
“Lang.”
“—ada vendor katering yang ngasih diskon lima puluh persen cuma karena dia senyum—”
“Lang. Kita di sini buat kerja.”
Gilang menatapku dengan wajah iba yang tulus. “Bang, lo belum ngerti. Lo belum ketemu dia.”
Aku menghela napas dan menekan tombol lift.
Aku tidak tahu kenapa, tapi aku ingat kalimat itu lama sesudahnya. Lo belum ketemu dia.
Ruang rapat lantai sembilan berdinding kaca, menghadap deretan gedung Sudirman yang berkilau di bawah matahari pagi. Meja panjangnya muat untuk empat belas orang. Kami datang lima belas menit lebih awal, dan aku memilih kursi ketiga dari ujung. Tidak terlalu depan, tidak terlalu belakang. Kursi orang yang ingin didengar ketika bicara tapi tidak ingin dilihat ketika diam.
Pelan-pelan, ruangan terisi. Kepala gudang regional. Tim IT internal. Seorang pria dari keuangan yang menatap laptopku seperti menghitung berapa harganya. Seorang perempuan berambut pendek yang memperkenalkan diri sebagai Tasya, asisten Bu Vannesa, sambil menyalami semua orang dengan kecepatan yang membuatku curiga dia sedang mengejar target jumlah jabat tangan.
“Bu Vannesa sebentar lagi,” kata Tasya. “Lagi di telepon sama gudang Surabaya. Ada truk yang nyasar ke Madura.”
“Nyasar ke Madura?” tanya Gilang.
“Nyasar ke Madura,” Tasya mengangguk serius. “Sopirnya bilang Google Maps yang salah. Google Maps bilang sopirnya yang salah. Kami sedang mediasi.”
Gilang tertawa terlalu keras. Tasya menatapnya dengan minat baru. Aku mulai curiga enam bulan ke depan akan sangat panjang.
Lalu pintu terbuka.
Aku sudah bertahun-tahun bekerja dengan klien. Aku sudah bertemu CEO, direktur, pejabat, anak pejabat. Aku terbiasa dengan orang-orang yang membawa aura kekuasaan ke dalam ruangan. Aku kira aku tahu seperti apa rasanya ketika seseorang yang penting masuk.
Aku salah.
Ruangan itu tidak menjadi tegang. Ruangan itu menjadi hening. Seperti seseorang menekan tombol mute di dunia. Pria dari keuangan berhenti mengetik. Salah satu kepala gudang, yang tadi sedang mengunyah permen, berhenti mengunyah. Di sebelahku, aku mendengar bunyi kecil pulpen Gilang jatuh ke lantai, menggelinding, lalu berhenti di bawah kursi. Dia tidak memungutnya.
Aku sendiri lupa bagaimana caranya menelan.
Dia berjalan ke kepala meja dengan langkah cepat, map di satu tangan, ponsel masih di tangan yang lain. Blazer krem, rambut dicepol sebagian, beberapa helai lolos di sisi wajah seperti dia merapikannya dengan terburu-buru di lift. Dia tidak memandang ke sekeliling untuk menikmati keheningan yang dibuatnya. Dia bahkan tidak tampak menyadarinya.
“Maaf, maaf, maaf.” Suaranya cerah, sedikit terengah. “Truk kami ada yang pengin liburan ke Madura. Sudah beres. Sopirnya sudah putar balik, dan Google Maps sudah minta maaf.”
Seseorang tertawa. Lalu semua orang tertawa, dan ruangan itu bernapas lagi.
Dia meletakkan mapnya, lalu melakukan sesuatu yang tidak kuduga: dia berjalan mengitari meja dan menyalami setiap orang. Satu per satu. Dan dia menyebut nama mereka.
“Pak Hartono, gimana lutut Bapak? Sudah enakan?”
“Mas Doni, katanya istrinya baru lahiran? Selamat! Laki-laki atau perempuan?”
“Pak Bambang, laporan bulan lalu bagus banget. Saya belum sempat bilang.”
Dia hafal semuanya. Kepala gudang, staf IT, bahkan OB yang masuk membawa nampan kopi. “Bu Yanti, makasih ya. Kopinya jangan kemanisan buat Pak Bambang, beliau lagi diet.”
Lalu dia sampai di depanku.
“Dari Sinergi Dataloka, ya?” Dia mengulurkan tangan kanannya. “Vannesa.”
Aku berdiri. Menyambut tangannya dengan tangan kananku. Tangan kiriku tetap di saku.
Aku tahu momen ini. Aku sudah mengalaminya ratusan kali selama delapan tahun. Momen ketika mata seseorang turun ke tangan kiriku yang tersembunyi, lalu naik lagi dengan ekspresi yang sedikit berubah. Kadang canggung. Kadang penasaran. Paling sering, iba. Aku sudah menyiapkan senyumku untuk itu, senyum yang bilang nggak apa-apa, saya sudah biasa.
Tapi matanya tidak turun.
Dia menatap wajahku. Hanya wajahku. Dan dia tersenyum.
“Rafa,” kataku. “Rafa Elvano. System analyst.”
“Mas Rafa.” Dia mengulangnya seperti sedang menyimpan nama itu di laci yang rapi. “Saya sudah baca proposal teknisnya. Bagian migrasi datanya bagus. Nanti saya mau tanya banyak, siap-siap ya.”
“Siap, Bu.”
“Vannesa aja. Di sini semua manggil Bu karena takut sama Papa saya. Mas Rafa nggak usah takut, Papa saya cuma galak sama orang yang telat bayar invoice.”
Gilang, yang akhirnya ingat bahwa dia punya pulpen, tersedak.
Vannesa bergeser ke Gilang. “Dan ini?”
“G-Gilang, Bu. Gilang Pratama. Junior dev. Dua puluh lima tahun. Zodiak Leo.”
Hening sebentar.
“Oke,” kata Vannesa, dengan wajah sangat serius. “Saya catat, Mas Gilang. Zodiak Leo.”
Tasya menutup mulutnya dengan map. Gilang ingin mati. Aku menatap meja dan berusaha keras tidak tertawa.
Rapat berjalan dua jam.
Aku sudah memimpin puluhan kickoff meeting, dan aku biasanya bisa membaca ruangan dengan mudah. Siapa yang skeptis, siapa yang antusias, siapa yang diam-diam akan menyabotase proyek karena takut pekerjaannya diganti mesin. Aku bisa membaca semua itu hari ini juga.
Masalahnya, aku terus-terusan kehilangan fokus.
Bukan karena dia cantik. Maksudku, dia memang cantik, dengan cara yang membuat pria dewasa lupa zodiaknya sendiri. Tapi aku sudah bertemu orang cantik. Yang membuatku kehilangan fokus adalah cara dia mendengarkan.
Ketika Pak Bambang, kepala gudang Semarang yang jelas tidak suka sistem baru, mengeluh panjang lebar bahwa aplikasi akan memperlambat kerja anak buahnya, Vannesa tidak memotongnya. Dia mencatat. Lalu dia menoleh padaku.
“Mas Rafa, gimana? Kekhawatiran Pak Bambang masuk akal nggak?”
Masuk akal. Sangat masuk akal, malah. Jadi aku menjelaskan: bagaimana kami bisa merancang input gudang dengan pemindai sehingga staf tidak perlu mengetik, bagaimana fase pertama bisa diuji di satu gudang dulu, bagaimana kami bisa menjadikan gudang Semarang sebagai pilot supaya Pak Bambang bisa langsung mengawasi dan menolak apa pun yang menyusahkan anak buahnya.
Pak Bambang mengerjap. “Gudang saya jadi pilot?”
“Kalau Bapak berkenan,” kataku. “Bapak yang paling tahu lapangan. Kalau sistemnya lolos di tangan Bapak, berarti lolos di mana-mana.”
Butuh beberapa detik. Lalu Pak Bambang, pria yang lima menit lalu siap menolak seluruh proyek, mengangguk pelan dengan ekspresi seperti baru dipromosikan.
Aku merasakan tatapan dari kepala meja.
Ketika aku menoleh, Vannesa sedang menatapku. Dagunya bertumpu di satu tangan, dan dia tersenyum. Bukan senyum ramah yang dia berikan ke semua orang tadi. Senyum yang lebih kecil. Lebih penasaran. Senyum orang yang baru saja menemukan sesuatu yang tidak ia duga di tempat yang ia kira sudah ia kenal.
Aku buru-buru menunduk ke laptop.
Telingaku panas. Aku tahu tanpa perlu bercermin bahwa telingaku merah. Telingaku selalu merah duluan. Lalu leher. Lalu, kalau situasinya benar-benar parah, kacamataku berembun.
Kacamataku mulai berembun.
Gawat, pikirku.
Rapat selesai menjelang jam makan siang. Orang-orang mulai berkemas. Aku menutup laptop, menyelipkannya di bawah lengan kanan, lalu meraih map dokumen dengan tangan yang sama. Itu selalu jadi bagian yang sedikit sulit: laptop, map, ponsel, satu tangan. Aku sudah terbiasa menyusunnya seperti permainan Tetris.
Ketika aku sampai di pintu kaca yang berat itu, pintu itu sudah terbuka.
Vannesa menahannya dengan punggung, satu tangan memegang ponsel yang sedang ia baca.
“Lanjut, Mas Rafa,” katanya tanpa mengangkat kepala. “Saya tahan.”
Aku melewatinya. Dia melepas pintu setelah aku lewat, lalu berjalan ke arah lain, masih membaca ponselnya, sudah sibuk dengan hal berikutnya.
Itu saja.
Tidak ada tatapan ke tangan kiriku. Tidak ada aduh, sini saya bantu bawain. Tidak ada wajah iba. Dia menahankan pintu untukku persis seperti dia akan menahankannya untuk siapa saja yang tangannya penuh. Seperti aku hanya seorang pria yang membawa terlalu banyak barang, bukan pria yang kurang sesuatu.
Aku berdiri di koridor itu lebih lama dari yang perlu.
“Bang.” Gilang muncul di sebelahku. “Bang, muka lo.”
“Kenapa muka saya.”
“Merah, Bang. Merah banget. Kacamata lo juga berembun.”
“AC-nya dingin.”
“Bang, AC bikin kacamata berembun kalau lo keluar dari ruangan dingin ke ruangan panas. Ini koridornya juga dingin.”
Aku menatapnya.
Gilang menatapku.
Lalu senyum paling mengerikan yang pernah kulihat perlahan merekah di wajahnya. “Bang,” bisiknya, penuh kebahagiaan. “Bang.”
“Nggak.”
“Bang, lo—”
“Nggak, Lang.”
“—naksir—”
“Gilang, saya bisa minta Pak Surya ngirim kamu ke proyek gudang di Merauke.”
Dia menutup mulut. Tapi matanya masih tersenyum, dan aku tahu dengan kepastian yang menyedihkan bahwa rahasia ini tidak akan bertahan lebih dari seminggu di tangannya.
Kami turun untuk makan siang. Di lobi, di dekat pintu putar, aku melihatnya lagi.
Vannesa berdiri di samping seorang pria. Tinggi, berjas rapi tanpa dasi, rambut ditata dengan cara yang terlihat santai tapi pasti butuh waktu lama. Wajahnya seperti model iklan jam tangan. Dia mengatakan sesuatu, dan Vannesa tertawa, lalu memukul lengannya pelan dengan map. Gerakan yang akrab. Gerakan orang yang sudah terbiasa saling memukul lengan.
“Itu Pak Kevin,” bisik Gilang, entah dari mana dia mendapat informasi. “Brand Director. Katanya lagi deket sama Bu Vannesa. Belum jadian, tapi udah sering makan siang bareng.”
Pria itu membukakan pintu untuk Vannesa. Mereka keluar bersama, menuju mobil hitam yang menunggu di depan.
“Oh,” kataku.
Hanya itu. Oh.
Tentu saja. Tentu saja perempuan seperti dia sudah punya seseorang, atau hampir punya. Pria dengan dua tangan yang bisa membukakan pintu sambil membawa tas, yang bisa menyetir tanpa perlu mobil khusus, yang bisa menggandengnya di satu sisi dan memeluknya di sisi yang lain.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan.
Aku tahu batasku. Aku sudah lama tahu. Delapan tahun cukup untuk mempelajari di mana garisnya. Aku tidak marah soal itu. Tidak juga sedih, sebagian besar waktu. Itu hanya fakta, seperti gravitasi, seperti matahari terbit di timur.
Yang tidak kutahu adalah kenapa, meski aku tahu semua itu, dadaku masih terasa seperti ada yang meremasnya pelan-pelan.
“Bang,” kata Gilang, lebih lembut kali ini. “Mau makan apa?”
“Apa aja.”
“Soto?”
“Boleh.”
Kami berjalan ke warung soto di seberang gedung. Gilang tidak mengatakan apa-apa lagi sepanjang jalan, dan itu mungkin hal paling baik yang pernah dia lakukan untukku.
Di warung soto itu, aku membuka botol kecap dengan menjepitnya di antara lutut. Gilang tidak menawarkan bantuan. Dia sudah lama belajar untuk tidak menawarkan.
Aku menatap uap yang naik dari mangkuk sotoku, dan berpikir: enam bulan.
Enam bulan duduk di kursi nomor tiga dari ujung. Enam bulan mendengarnya tertawa di ruang rapat. Enam bulan melihatnya pergi makan siang dengan pria yang bisa membukakan pintu dengan tangan kosong.
Aku akan baik-baik saja. Aku selalu baik-baik saja.
Aku hanya perlu memastikan dia tidak pernah tahu.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga reading
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari