← Yang Kiri buat Aku

Chapter Twenty Nine

Serangan Balik

POV: Vannesa

Senin pagi, ada kopi di mejaku.

Bukan kopi yang kubeli sendiri. Kopi dari kafe di lobi, yang antreannya panjang. Gelasnya masih hangat. Dan di tutup gelasnya, tertempel catatan tempel kuning.

Tulisan tangan yang rapi. Sedikit miring ke kanan.

Pakai gula. Soalnya kamu suka manis. Kayak kamu. — R.

Aku berdiri di depan mejaku dan membaca catatan itu tiga kali.

Lalu aku merasakan sesuatu yang aneh. Panas. Naik dari leher, ke pipi, ke telinga. Seperti ada yang menyalakan kompor di bawah kulitku.

Aku menaruh gelas kopi itu dengan sangat pelan. Duduk. Membuka laptop. Menatap layar tanpa mengetik apa-apa.

Melalui partisi kaca, aku melihat meja vendor. Rafa sedang duduk di sana, mengetik dengan tenang, kacamata di hidung, tangan kiri di pangkuan. Tidak di saku. Aku menyadari itu dengan sedikit terkejut. Sejak Tebet, tangan kirinya lebih sering di pangkuan atau di meja. Tidak disembunyikan.

Dia tidak menoleh ke ruanganku. Dia terus mengetik.

Tapi di sudut bibirnya, ada senyum kecil.

Di meja sebelahnya, Gilang menatapku melalui partisi kaca dengan mata melebar dan mulut terbuka. Lalu dia menatap Rafa. Lalu menatapku lagi. Lalu dia mengambil spidol, berdiri, berjalan ke papan tulis kecil di sudut area vendor, dan menulis dengan huruf besar:

BANG RAFA: 1 BU VANNESA: 23

Lalu dia menggambar panah kecil di bawah angka satu, dengan tulisan: akhirnya!!!

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.


Tasya menerobos ruanganku tiga menit kemudian.

“Aku lihat papan tulisnya,” katanya, menutup pintu. “Aku lihat catatannya. Gilang kirim foto ke grup.”

“Grup apa?”

“Grup Taruhan Lantai 9. Anggotanya empat puluh dua orang.” Tasya duduk di kursi tamu dengan wajah berbinar seperti anak kecil di pagi Lebaran. “Nes. Nes. Dia nyerang balik.”

“Dia cuma nulis catatan.”

“Dia nulis kayak kamu. Rafa Elvano. Cowok yang bikin benteng dari map arsip dua minggu lalu. Nulis kayak kamu.” Tasya menunjuk wajahku. “Dan kamu merah.”

“Aku nggak merah.”

“Kamu merah kayak rendang.”

Aku membuka ponsel, menyalakan kamera depan, dan menatap wajahku sendiri.

Aku merah kayak rendang.

“Ya Tuhan,” gumamku.

“Ini baru mulai, Nes.” Tasya bersandar di kursi dengan wajah puas. “Kamu udah dua minggu nyerang. Sekarang giliran dia. Dan cowok pendiam kalau udah nyerang balik…” Dia menggeleng pelan, seperti dokter yang menyampaikan diagnosis serius. “Nggak ada obatnya.”


Tasya benar.

Rapat mingguan jam sepuluh. Aku masuk ruang rapat lima menit lebih awal, seperti biasa, untuk mengklaim kursi di sebelah kiri Rafa.

Rafa sudah di sana.

Duduk. Di kursi yang biasanya kuklaim. Dan kursi di sebelah kirinya, kosong, dengan secangkir teh hangat di depannya.

“Buat kamu,” katanya ketika aku berdiri di ambang pintu dengan wajah bingung. “Duduk.”

Aku duduk. Pelan. Di sebelah kirinya.

“Kamu datang jam berapa?” tanyaku.

“Jam sembilan empat puluh.”

“Kenapa?”

“Biar aku yang nunggu kamu, sekali-sekali.” Dia tidak menatapku. Dia menatap dokumen di depannya. “Kamu udah dua minggu nunggu aku. Nggak adil.”

Aku menatap cangkir teh di depanku. Menatap Rafa. Menatap cangkir teh lagi.

Panas itu naik lagi. Leher. Pipi. Telinga.

Rapat dimulai. Dua belas orang. Pak Bambang di layar video dari Semarang. Om Darmo di ujung meja. Aku mempresentasikan laporan bulanan divisi, seperti setiap Senin, dan aku berusaha keras untuk berkonsentrasi.

Di tengah presentasiku, ponselku bergetar di meja. Aku meliriknya sekilas.

Jangan senyum kayak gitu di rapat. Aku nggak bisa konsentrasi. Kamu yang tanggung jawab.

Kalimatku sendiri. Dua minggu lalu. Dikembalikan persis kata demi kata.

Aku berhenti bicara.

Di tengah kalimat. Di depan dua belas orang dan satu Pak Bambang.

“…akurasi pengiriman bulan ini,” kataku. Lalu diam. Otakku kosong. Grafik di layar di belakangku tiba-tiba terlihat seperti tulisan dalam bahasa asing.

“Berapa persen, Bu?” tanya Om Darmo.

“Persen,” ulangku. “Iya. Persen.”

Di layar video, Pak Bambang mencondongkan badan ke kamera. “Bu Vannesa? Kok merah, Bu? Sakit?”

Dua belas orang menoleh padaku.

Lalu, satu per satu, entah kenapa, menoleh ke Rafa.

Rafa sedang menatap laptopnya dengan konsentrasi luar biasa. Wajahnya datar. Sangat datar. Terlalu datar.

“AC-nya, Pak,” kataku. “AC-nya panas.”

“AC kok panas lagi, Bu? Minggu lalu Mas Rafa juga bilang AC-nya panas.”

“Rusak, Pak. AC-nya rusak.”

“Kok rusaknya pas rapat terus, Bu?”

Di ujung meja, Gilang menjatuhkan kepalanya ke meja. Bunyi tok pelan. Tasya menunduk sangat dalam ke catatannya, bahunya berguncang hebat.

Om Darmo menatapku, lalu menatap Rafa, lalu menatapku lagi. Lalu, untuk pertama kalinya selama tujuh tahun aku mengenalnya, Om Darmo tersenyum. Senyum kecil, samar, di balik kumisnya yang tebal.

“Delapan puluh tujuh persen,” katanya. “Akurasi pengiriman. Ada di slide. Lanjut, Nes.”

Aku melanjutkan. Dengan suara yang sedikit bergetar dan wajah yang sepertinya tidak akan pernah berhenti merah.

Di bawah meja, aku mengetik cepat.

KAMU CURANG.

Balasannya datang dalam dua detik.

Aku belajar dari yang terbaik.

Setelah rapat, Om Darmo menahanku di ambang pintu. Dia menunggu sampai semua orang keluar, termasuk Rafa, yang berjalan pergi dengan telinga merah dan langkah terlalu cepat.

“Nes,” kata Om Darmo.

“Iya, Om?”

“AC ruang rapat ini sudah Om suruh servis. Besok teknisinya datang.” Dia merapikan map di tangannya dengan wajah sangat serius. “Kalau setelah diservis masih panas terus tiap kalian berdua rapat, berarti masalahnya bukan di AC.”

“Om—”

“Om cuma bilang.” Om Darmo menepuk bahuku, sekali, dengan canggung, seperti orang yang tidak terbiasa menepuk bahu siapa pun. “Vendornya bagus. Kerjanya rapi. Om setuju anggarannya. Yang lain-lain, Om nggak ikut campur.”

Dia pergi. Aku berdiri di ambang pintu ruang rapat, menatap punggungnya, dan menyadari bahwa itu adalah restu paling aneh yang pernah kuterima.


Siangnya, di meja vendor, aku duduk di sebelah kirinya seperti biasa. Kami bekerja. Aku mencoba fokus. Aku benar-benar mencoba.

Tapi dia tidak berhenti.

Ketika aku mengambil pulpen dari mejanya tanpa bertanya, seperti yang selalu kulakukan:

“Pulpenku kamu ambil terus,” katanya.

“Pinjam.”

“Kamu udah pinjam dua belas pulpen. Nggak ada yang balik.”

“Nanti aku balikin.”

“Nggak usah.” Dia menatapku. “Semua yang kamu ambil dari aku, nggak usah dibalikin. Simpen aja.”

Aku menatapnya. Pulpen di tanganku tiba-tiba terasa berat. Pipiku panas.

Gilang, di meja sebelah, berdiri dan berjalan ke papan tulis. Menghapus angka satu. Menulis angka dua.

Ketika aku mengeluh soal rambutku yang berantakan karena angin di lobi:

“Nggak berantakan,” katanya.

“Berantakan. Lihat, ini mencuat.”

Dia menatap rambutku. Lalu tangan kanannya terangkat, pelan, dan merapikan sehelai rambut yang mencuat di sisi kepalaku. Menyelipkannya ke belakang telingaku. Jari-jarinya menyentuh telingaku sebentar.

“Udah,” katanya pelan. “Rapi.”

Aku tidak bisa bernapas.

Gilang berdiri lagi. Tiga.

Ketika aku pergi ke pantry untuk mengisi botol minum, dan dia mengikutiku, dengan alasan mencuci gelas:

Aku berdiri di depan dispenser. Dia berdiri di sebelahku. Dekat. Cukup dekat sehingga aku bisa mencium wangi yang kutanyakan dua minggu lalu. Kayu dan kertas.

“Vannesa,” katanya pelan.

“Hm?”

“Dua minggu lalu, di sini, kamu bilang aku wangi. Terus kamu bilang mau cari tahu sendiri nanti wanginya dari mana.”

Aku membeku. Air di botolku mulai meluap.

“Kapan?” tanyanya.

Aku menoleh padanya. Dia menatapku. Wajahnya merah, aku bisa melihatnya, telinganya merah menyala. Tapi matanya tidak mundur. Untuk pertama kalinya, dia tidak mundur. Dia berdiri di sana, merah dan gugup dan sangat berani, dan menatapku seperti menunggu jawaban.

Botolku meluap. Air membasahi jari-jariku, lalu lantai pantry.

Aku tidak bisa bergerak.

Rafa mengulurkan tangan kanannya. Mematikan dispenser. Mengambil botol dari tanganku yang basah. Menutupnya. Menaruhnya di meja pantry.

“Botolmu meluap,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamu merah.”

“Aku tahu.”

Dia tersenyum. Pelan. Senyum kecil yang sama, di sudut bibir. Tapi kali ini ada sesuatu yang lain di dalamnya. Sesuatu yang nakal. Sesuatu yang belum pernah kulihat.

“Empat,” katanya.

Lalu dia mengambil tisu, mengelap tanganku yang basah, sangat pelan, satu per satu jariku, dan pergi.

Aku berdiri di pantry. Sendirian. Dengan tangan yang baru saja dilap satu per satu jarinya dan lantai yang basah dan jantung yang berdetak seperti drum.

Bu Yanti masuk dengan nampan. Melihat lantai basah. Melihatku. Tersenyum lebar.

“Pel, Bu?” tanyanya.

“Iya, Bu,” bisikku. “Tolong.”


Tasya menemukanku di tangga darurat jam tiga sore.

Aku duduk di anak tangga paling atas, sama seperti waktu itu. Sepatu dilepas. Wajah di lutut.

“Nes,” katanya. Dia duduk di sebelahku. “Gilang bilang skornya lima sekarang.”

“Lima?”

“Katanya pas kamu lewat tadi, dia bilang ‘hati-hati, lantainya licin’ terus kamu kesandung.”

“Aku kesandung karena lantainya memang licin.”

“Kamu kesandung karena dia yang bilang.” Tasya menyandarkan bahunya ke bahuku. “Gimana rasanya?”

“Rasanya apa?”

“Jadi yang merah.”

Aku mengangkat wajah dari lutut. Menatap dinding tangga darurat yang dicat abu-abu, lampu neon yang berkedip.

“Rasanya,” kataku pelan, “kayak aku akhirnya ngerti kenapa dia dulu selalu kabur.”

Tasya tertawa pelan.

“Sya,” kataku. “Dia berubah. Dua minggu lalu dia bikin benteng dari map. Sekarang dia…” Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. “Tangannya nggak di saku lagi. Kamu sadar nggak? Dari Tebet. Tangannya di meja. Di pangkuan. Dia nggak ngumpetin lagi.”

“Aku sadar.”

“Itu karena aku?”

Tasya menatapku. “Menurutmu?”

Aku diam.

Lalu, pelan, perasaan lain muncul di bawah kebahagiaan itu. Perasaan yang sudah kubawa sejak malam di kamar Mama. Perasaan yang makin berat setiap kali dia tersenyum padaku.

“Sya,” bisikku. “Makin dia berubah, makin aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut dia tahu. Dari orang lain. Dengan cara yang salah.” Aku menggenggam kunci mobil di saku blazerku. Senter perak kecil. “Dia sekarang percaya aku suka dia karena dia. Dia percaya, Sya. Aku lihat di matanya waktu gala. Dan kalau dia tahu sekarang, dengan cara yang salah…”

“Makanya bilang,” kata Tasya pelan. “Sekarang. Sebelum makin jauh.”

Aku menatap lampu neon yang berkedip.

“Minggu ini,” kataku. “Aku bilang minggu ini.”


Jam lima sore, ponselku bergetar.

Sabtu ini kamu kosong?

Aku menatap layar. Jantungku mulai berdebar dengan irama yang berbeda.

Kosong. Kenapa?

Tidak ada balasan selama satu menit. Lalu dua menit. Tanda sedang mengetik muncul dan hilang, muncul dan hilang. Aku bisa membayangkannya di meja vendor, mengetik, menghapus, mengetik lagi, dengan telinga yang merah.

Lalu:

Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Ada yang mau aku omongin.

Aku menatap kalimat itu lama.

Ada yang mau aku omongin. Kalimat yang sama yang Kevin katakan, sebulan lalu, sebelum rooftop. Tapi kali ini aku tidak menunggu jantungku berdebar. Jantungku sudah berdebar sejak sebelum membuka pesan itu.

Aku mengetik: Aku juga ada yang mau aku omongin.

Lalu aku menatap kalimat itu. Menatap kata juga.

Aku akan bilang. Sabtu ini. Setelah dia mengatakan apa pun yang ingin dia katakan. Atau sebelum. Aku akan bilang semuanya. Gang itu. Mama. Rumah sakit. Kasir. Lift. Suara. Chat jam 23.47.

Aku akan bilang, dan dia akan mengerti. Karena dia sudah percaya. Karena dia sudah melihat bahwa aku menyukainya sebelum aku tahu. Karena tangannya sudah tidak di saku lagi.

Aku menekan kirim.

Balasannya datang cepat.

Oke. Tapi aku duluan ya. Aku udah latihan seminggu.

Aku tertawa. Sendirian di ruanganku. Tawa yang sedikit gemetar.

Latihan apa?

Rahasia. Jam 4 sore. Aku jemput.

Kamu jemput pakai apa?

Ojek. Kamu bonceng.

Rafa, aku nggak mau rambutku berantakan kena helm.

Nggak apa-apa. Nanti aku rapiin. Kayak tadi.

Aku menaruh ponsel di meja dengan layar menghadap ke bawah, dan menutup wajahku dengan kedua tangan.

Melalui celah jari-jariku, melalui partisi kaca, aku melihat Gilang berdiri di depan papan tulis. Menghapus angka lima.

Menulis angka enam.

Dan di bawahnya, dengan huruf kecil:

Bu Vannesa kalah telak. Pertandingan belum selesai.