← Yang Kiri buat Aku

Chapter Ten

Makan Siang Urusan Kerja

POV: Rafa

“Mas Rafa, siang ini kosong?”

Aku mengangkat kepala. Vannesa berdiri di samping mejaku, tablet di pelukan, wajah sangat profesional. Terlalu profesional. Seperti orang yang sudah berlatih kalimat itu di depan cermin.

“Kosong,” kataku. “Kenapa?”

“Makan siang. Urusan kerja.” Dia mengetuk tabletnya. “Aku mau bahas rencana uji coba di Semarang. Jadwal, siapa yang berangkat, gitu-gitu.”

“Oh. Oke.” Aku menoleh ke meja sebelah. “Lang, siang ini kita—”

“Gue ada janji, Bang,” kata Gilang, sangat cepat.

“Janji sama siapa?”

“Sama… dokter gigi.”

“Kamu ke dokter gigi minggu lalu.”

“Giginya kambuh, Bang. Gigi itu kayak mantan. Suka balik lagi.” Dia tidak menatapku. Dia menatap Vannesa, lalu menatap langit-langit, lalu kembali ke monitornya, dan mengetik sesuatu yang aku yakin bukan kode.

Vannesa tersenyum manis. “Ya udah, kita berdua aja. Jam dua belas ya, Mas. Di lobi.”

Dia pergi. Aku menatap Gilang. Gilang pura-pura sangat sibuk.

“Kamu nggak ada janji dokter gigi,” kataku.

“Bang,” bisiknya tanpa menoleh. “Bang, ini momen. Ini momen, Bang. Gue nggak mau jadi obat nyamuk.”

“Ini urusan kerja.”

“Bang, nggak ada orang ngajak makan siang urusan kerja sambil pegang tablet kebalik.”

Aku menoleh ke ruangan Vannesa. Melalui partisi kaca, aku melihatnya duduk di mejanya. Dia sedang membalik tabletnya. Dari posisi terbalik ke posisi benar. Lalu dia menutup wajah dengan kedua tangan.

Telingaku mulai panas.


Jam dua belas kurang lima, Gilang mengubah pikirannya.

“Bang, gue ikut.”

“Katanya dokter gigi.”

“Dokter giginya cancel.”

“Barusan?”

“Barusan, Bang. Mendadak. Dokter gigi juga manusia.” Dia memakai jaketnya. “Gue cuma mau mastiin lo nggak ngomongin sistem retur selama makan siang. Lo kan suka gitu. Ada cewek cantik di depan lo, lo malah ngejelasin alur data. Itu kriminal, Bang.”

Aku tidak sempat membantah. Kami turun ke lobi bersama, dan di sana Vannesa sudah menunggu. Tasya berdiri di sebelahnya.

“Oh,” kata Gilang.

“Oh,” kata Tasya.

Mereka saling menatap. Aku bisa melihat dua rencana rahasia bertabrakan di udara seperti dua truk di tikungan.

“Mbak Tasya ikut?” tanya Gilang.

“Aku cuma nganter Nes sampai lobi,” kata Tasya. “Mas Gilang ikut?”

“Gue cuma nganter Bang Rafa sampai lobi.”

Hening sebentar.

“Oke,” kata Vannesa, dengan senyum yang terlihat sedikit dipaksakan. “Ya udah, berempat aja.”

Jadi kami pergi berempat. Warung padang di seberang gedung, yang selalu ramai dan dindingnya penuh foto pejabat yang pernah makan di sana. Kami duduk di meja kayu panjang. Piring-piring berdatangan dan ditumpuk di depan kami seperti menara.

Aku mencuci tangan kanan di kobokan. Lalu, dengan gerakan yang sudah kulakukan ribuan kali, aku mulai makan dengan tangan. Di warung padang, aku selalu merasa paling normal. Di sini semua orang makan dengan satu tangan. Tangan kanan menyuap, tangan kiri diam di pangkuan. Tidak ada yang melihat bedanya.

Vannesa juga makan dengan tangan. Rapi, cepat, jelas bukan pertama kalinya. Gilang dan Tasya duduk berseberangan, dan selama sepuluh menit pertama mereka bicara tentang pekerjaan dengan sangat serius, sangat sopan, dan sangat mencurigakan.

Lalu Tasya tiba-tiba melihat ponselnya.

“Ya ampun,” katanya. “Mas Gilang, ada yang nyari kamu di kantor.”

Gilang mengerjap. “Siapa?”

“Pak… Pak Tarno.”

“Pak Tarno nyari gue? Kenapa?”

“Katanya urgent. Kartu akses kamu.”

“Kartu akses gue kenapa?”

“Nggak tahu. Urgent. Ayo, aku temenin.” Tasya berdiri, meraih tasnya, dan menatap Gilang dengan tatapan yang sangat keras.

Aku melihat pemahaman perlahan menyebar di wajah Gilang, seperti fajar menyingsing di atas padang pasir.

“OH,” katanya. “Oh iya. Kartu akses. Iya, itu urgent banget. Bang, gue duluan ya. Kartu akses. Penting.”

Mereka bayar di kasir dalam waktu tiga belas detik dan menghilang di tengah keramaian. Piring rendang Gilang masih setengah penuh.

Aku menatap pintu warung. Lalu menatap Vannesa.

Vannesa menatap nasi di depannya dengan konsentrasi luar biasa.

“Kartu akses,” kataku.

“Kartu akses,” ulangnya, tanpa mengangkat kepala.

“Kartu aksesnya Gilang nggak pernah bermasalah.”

“Mungkin baru mulai bermasalah.”

“Pak Tarno juga lagi libur hari ini.”

Dia berhenti mengunyah. Perlahan, dia mengangkat kepala. Pipinya merah.

Lalu kami berdua tertawa. Keras, tiba-tiba, sampai ibu-ibu di meja sebelah menoleh dan pelayan warung tersenyum-senyum sendiri.


“Oke,” katanya setelah tawanya reda. “Aku mau ngusulin sesuatu.”

“Soal Semarang?”

“Bukan. Soal kita.”

Jantungku melompat, ke tempat yang tidak seharusnya.

“Soal cara kita ngomong,” lanjutnya, dan jantungku kembali ke tempatnya dengan sedikit malu. “Di rapat, oke, ‘Bu Vannesa’ dan ‘Mas Rafa’. Tapi di luar kantor, pas makan kayak gini, jangan ‘Ibu’ lagi. Aku jadi berasa umur empat puluh.”

“Oke. Vannesa.”

“Terus kamu juga jangan ‘saya’.”

“Kenapa?”

“Kayak lagi ngomong sama notaris.” Dia menyuap nasi. “Tiap kamu bilang ‘saya’, aku berasa lagi tanda tangan akta jual beli tanah.”

“Terus apa?”

“‘Aku’. Kayak orang normal.”

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

Aku tidak tahu kenapa ini sulit. Aku sudah bicara “aku-kamu” dengan banyak orang. Dengan Laras, dengan teman-teman kuliah, dengan Dita vokalis band dulu. Tapi dengan dia, kata itu terasa berbeda. Seperti membuka pintu yang selama ini sengaja kukunci, bukan karena ada yang berbahaya di baliknya, tapi karena aku tahu kalau pintu itu terbuka, aku tidak akan bisa menutupnya lagi.

“A-aku,” kataku.

Dia menunggu.

“Aku… mau nambah sambal ijo.”

Dia menatapku sedetik. Lalu dia tersenyum, senyum lebar yang membuat matanya menyipit, dan mendorong piring sambal ijo ke arahku.

“Nah,” katanya. “Susah nggak?”

“Susah.”

“Kenapa susah?”

Karena setiap kali aku bilang “aku” ke kamu, rasanya seperti mengaku sesuatu, pikirku. Aku tidak mengatakannya.

“Belum biasa,” kataku.

“Nanti juga biasa.” Dia menyuap nasi lagi, puas. “Aku kasih waktu seminggu. Kalau masih ‘saya’, aku denda.”

“Denda apa?”

“Traktir martabak.”

Aku tertawa. “Deal.”

Kacamataku mulai berembun. Aku menyalahkan sambal ijo.


Kami tidak membicarakan Semarang sama sekali.

Kami membicarakan hal-hal lain. Hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan sistem distribusi atau alur retur atau gudang yang kebanjiran. Dia bercerita tentang Papanya yang mengoleksi lelucon bapak-bapak seperti orang mengoleksi perangko. Tentang Mamanya yang lembut dan tidak pernah marah, tapi bisa membuatmu merasa bersalah hanya dengan menghela napas. Tentang Tasya yang dia kenal sejak hari pertama kuliah, ketika mereka berdua tersesat mencari ruang kelas yang sama dan akhirnya malah masuk ke kelas Filsafat yang salah dan tidak berani keluar selama dua jam.

“Kamu dulu kuliah di mana?” tanyanya.

Aku menyebut kampusku.

“Oh, deket kampusku dulu! Satu kawasan, kan? Kita mungkin pernah papasan.”

“Mungkin.”

“Kamu dulu anak apa? Anak organisasi? Anak nongkrong? Anak perpustakaan?”

“Anak band,” kataku, sebelum aku sempat berpikir.

Dia berhenti menyuap. “Serius? Main apa?”

Aku bisa mengubah topik. Aku biasanya mengubah topik. Tapi dia menatapku dengan wajah penuh antusiasme, seperti anak kecil yang menemukan harta karun, dan aku tidak tega.

“Gitar,” kataku.

“Ya ampun. Kamu main gitar? Sekarang masih?”

Hening sebentar. Aku melihat pemahaman melintas di wajahnya, cepat, seperti bayangan burung di atas air. Matanya tidak turun ke tangan kiriku di pangkuan. Tapi aku tahu dia sedang memikirkannya.

“Sekarang dengerin aja,” kataku ringan. “Jadi penonton lebih santai. Nggak perlu latihan.”

Dia diam. Aku menunggu. Aku menunggu aduh, maaf. Menunggu wajah iba. Menunggu dia buru-buru mengganti topik dengan canggung.

“Aku pernah les piano,” katanya.

Aku mengerjap. “Oh ya?”

“Umur sepuluh tahun. Tiga bulan.” Dia mengangkat tiga jari. “Terus gurunya resign.”

“Kenapa?”

“Katanya dia mau pindah ke Kalimantan. Tapi Papa bilang dia lihat guru itu minggu depannya di mal Senayan.” Dia menyuap nasi dengan wajah tragis. “Aku cukup yakin aku satu-satunya murid dalam sejarah yang bikin guru les piano pura-pura pindah pulau.”

Aku tertawa. Aku tertawa begitu keras sampai hampir tersedak rendang, dan dia ikut tertawa, dan ibu-ibu di meja sebelah menoleh lagi.

Dan aku menyadari, di tengah tawa itu, bahwa dia baru saja melakukannya lagi. Seperti pulpen yang dia pungut. Seperti pintu yang dia tahan. Dia tidak menghindari topik gitar. Dia tidak mengasihani. Dia hanya menaruh ceritanya sendiri di samping ceritaku, seperti menaruh piring di samping piring, dan membiarkan keduanya berdiri sejajar.


Pertengkaran soal siapa yang bayar berlangsung empat menit.

“Aku yang ngajak,” katanya.

“Aku yang makan paling banyak.”

“Kamu makan dua potong ayam. Aku makan rendang, ayam, perkedel, sama telur balado. Aku yang makan paling banyak.”

“Kamu makan paling banyak, tapi aku yang pesen es jeruk dua kali.”

“Itu nggak ada hubungannya.”

“Es jeruk itu mahal.”

“Es jeruk di sini lima ribu, Rafa.”

Dia menyebut namaku. Tanpa “Mas”. Hanya Rafa.

Aku membeku sebentar. Cukup lama sehingga dia menyadari apa yang baru dia katakan, dan pipinya memerah lagi.

Aku menggunakan kesempatan itu. Aku mengeluarkan ponsel dengan tangan kanan, membuka aplikasi, dan memindai kode QR di meja kasir dalam satu gerakan. Delapan tahun mengerjakan semuanya dengan satu tangan membuatku sangat cepat dalam hal-hal seperti ini.

Bip. Pembayaran berhasil.

Dia menatap ponselku. Lalu menatapku. Mulutnya terbuka.

“Curang,” katanya.

“Skill.”

“Itu curang dan kamu tahu itu curang.”

“Minggu depan kamu yang bayar.”

Dia berhenti. Menatapku dengan mata menyipit. “Minggu depan?”

Aku menyadari apa yang baru saja kukatakan. Minggu depan. Seolah ini akan terjadi lagi. Seolah ini jadwal rutin. Seolah aku, pria yang tiga hari lalu membuat keputusan tegas di anak tangga teras bersama seekor kucing, sedang merencanakan makan siang berikutnya dengan perempuan yang seharusnya kujauhi.

“Maksudku—” kataku.

“Oke,” katanya cepat. “Minggu depan aku yang bayar. Deal.”

Dia keluar dari warung sebelum aku bisa meralat. Aku mengikutinya, dan di trotoar, di bawah terik matahari jam satu siang, dia berjalan di sebelah kiriku. Sangat dekat. Lengannya sesekali hampir menyentuh lenganku yang tidak bisa merasakan apa-apa.

Aku tidak bisa merasakannya. Tapi aku bisa melihatnya. Dan itu sudah cukup untuk membuat seluruh sisi kiri tubuhku terasa terbakar.


Gilang sedang menunggu di meja kami dengan wajah penuh harap.

“Gimana, Bang?”

“Gimana apa?”

“Makan siangnya, Bang. Gimana?”

“Enak. Rendangnya empuk.”

“BANG.”

Aku duduk, membuka laptop, dan mulai bekerja. Gilang menatapku dengan wajah frustrasi, lalu melirik ke ruangan Vannesa. Dia menahan napas.

“Bang,” bisiknya. “Bang, lihat.”

Aku melirik.

Di ruangannya, Vannesa sedang duduk di mejanya. Tidak bekerja. Dagunya bertumpu di tangan, dan dia menatap keluar jendela, dan dia tersenyum. Senyum sendirian. Senyum orang yang sedang mengulang-ulang sesuatu di kepalanya.

Tasya lewat di depan ruangannya, melihat ke dalam, lalu berhenti. Dia menoleh ke arah meja kami. Matanya bertemu mata Gilang. Mereka saling mengangguk, pelan, seperti dua jenderal yang baru memenangkan perang.

“Gue nggak ngerti apa yang terjadi,” bisik Gilang, “tapi gue bangga sama diri gue sendiri.”

“Kamu cuma kabur dari warung padang, Lang.”

“Kaburnya strategis, Bang.”

Aku kembali ke laptopku. Ada email dari Pak Bambang yang harus kubalas, dokumen UAT yang harus direvisi, dan jadwal uji coba Semarang yang, ironisnya, sama sekali tidak kami bahas.

Ponselku bergetar.

Pesan dari nomor yang baru kusimpan dua minggu lalu, dengan nama kontak yang sudah kuubah tiga kali. Dari Bu Vannesa, ke Vannesa, ke Vannesa (klien), supaya aku tidak lupa batasku.

Kita lupa bahas Semarang. 😅 Besok makan siang lagi?

Aku menatap layar itu. Lama.

Di meja sebelah, Gilang pura-pura tidak melihat, dengan cara yang sangat terlihat.

Aku mengetik balasan. Menghapusnya. Mengetik lagi.

Besok aku nggak bisa, ada rapat sama Mas Doni.

Aku menatap kata aku di layar. Tidak ada saya. Aku bahkan tidak sadar mengetiknya.

Lalu aku menambahkan:

Lusa?

Aku menekan kirim sebelum aku bisa berubah pikiran. Di ruangannya, di balik partisi kaca, aku melihat Vannesa mengambil ponselnya, membaca, lalu menutup mulut dengan tangan.

Balasannya datang tiga detik kemudian.

Lusa. Aku yang bayar. Jangan curang pakai QR lagi.

Aku membalik ponselku ke meja, menghadap ke bawah.

“Bang,” kata Gilang, sangat pelan. “Kacamata lo.”

“Kenapa.”

“Berembun lagi.”

Aku tidak menjawab. Aku melepas kacamata, mengelapnya dengan ujung kemeja, dan memakainya lagi.

Masih berembun.