Chapter Twenty Five
Kasihan Aku
POV: Vannesa
Gilang membuka taruhan.
Aku tahu karena Kamis pagi, ketika aku lewat di depan pantry, aku melihat selembar kertas HVS ditempel di pintu lemari pendingin dengan selotip bening. Judulnya ditulis dengan spidol merah, huruf kapital:
KAPAN BANG RAFA NYERAH? Taruhan resmi lantai 9. Min. Rp 10.000. Bandar: Gilang.
Di bawahnya ada tabel. Kolom-kolom tanggal. Nama-nama karyawan dengan angka di sebelahnya. Mas Doni pasang lima puluh ribu untuk Jumat minggu ini. Bu Yanti pasang dua puluh ribu untuk minggu depan. Pak Tarno, yang bahkan bukan karyawan lantai sembilan, pasang tiga puluh ribu untuk hari ini, pasti hari ini. Mbak Rini, yang tiga minggu lalu tertawa di pantry soal kasihan ceweknya, pasang seratus ribu untuk akhir bulan dengan catatan kecil di sebelahnya: semoga lebih cepat.
Di baris paling bawah, dengan tulisan tangan yang sangat kukenal, rapi dan sedikit miring ke kanan:
Rafa: Rp 0. Tidak ikut. Tolong turunkan kertas ini.
Dan di bawahnya lagi, tulisan tangan Tasya:
Ditolak. — Manajemen.
Aku berdiri di depan lemari pendingin itu dan tertawa sampai perutku sakit.
Jam sepuluh, aku mengirim Rafa foto kertas taruhan itu.
Kamu udah lihat?
Udah. Aku minta diturunin. Ditolak “manajemen”.
Manajemennya siapa?
Tasya. Kayaknya Tasya sekarang lebih berkuasa dari Pak Hendra.
Mau pasang taruhan?
Aku nggak bisa pasang taruhan buat diri sendiri. Itu konflik kepentingan.
Kalau aku yang pasang?
Tidak ada balasan selama satu menit. Lalu:
Kamu pasang tanggal berapa?
Aku tersenyum. Mengetik.
Rahasia. Tapi aku pasang lima ratus ribu. Dan aku pasti menang.
Dari balik partisi kaca, aku melihatnya membaca pesan itu. Telinganya merah.
Lima belas.
Kali ini aku yang mendengarnya di pantry, dan kali ini bukan Mbak Rini.
Dua perempuan dari divisi legal lantai dua belas. Aku hanya mengenal mereka dari wajah. Mereka turun ke lantai sembilan karena mesin kopi di lantai mereka rusak, dan mereka berdiri di dekat dispenser, membicarakan kertas di pintu lemari pendingin.
“…jadi Bu Vannesa yang ngejar? Serius?”
“Serius. Satu gedung tahu. Tiap hari duduk di sebelahnya. Bawain kopi. Katanya kemarin di rapat sampai bisik-bisik apa gitu, cowoknya sampai merah kayak kepiting.”
“Ya ampun. Bu Vannesa. Anak Pak Hendra. Cantik kayak gitu, masa ngejar-ngejar.”
“Ngejar vendor lagi.”
“Vendor yang…” Suaranya merendah. “Yang itu, kan? Yang tangannya.”
“Iya. Kasihan ya.”
“Kasihan Bu Vannesa. Udah cantik, kaya, pinter, masa harus ngejar-ngejar cowok yang begitu.”
Aku berdiri di ambang pintu pantry. Mereka belum melihatku.
Beberapa minggu lalu, di tempat yang sama, aku bersembunyi di balik lemari pendingin dan diam. Seminggu lalu, di tempat yang sama, aku keluar dan marah. Dan sekarang, di tempat yang sama, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan diam. Bukan marah.
Aku merasa geli.
Karena mereka benar. Aku memang mengejarnya. Aku memang capek. Dan tidak ada yang lebih lucu di dunia ini daripada dua orang asing yang mengasihaniku karena alasan yang sepenuhnya benar tapi sepenuhnya salah.
Aku masuk ke pantry. Mengambil gelas. Mengisi air di dispenser, tepat di sebelah mereka.
Mereka melihatku dan membeku.
“Iya,” kataku, sambil menatap air yang mengalir ke gelasku. “Kasihan aku.”
Hening.
“Ngejar dia capek banget,” lanjutku. “Kalian nggak tahu. Larinya kenceng. Padahal tangannya cuma satu. Kemarin dia bikin benteng dari map arsip setinggi lima puluh senti biar aku nggak bisa duduk di sebelahnya. Dia datang jam enam tiga puluh pagi cuma buat bikin benteng.”
Salah satu dari mereka membuka mulut. Menutupnya lagi.
“Terus di rapat dia pindah kursi. Aku harus tukeran kursi dua kali sama Gilang.” Aku mematikan dispenser. Menatap mereka dengan wajah paling serius yang bisa kubuat. “Terus kemarin sore aku tanya dia suka aku atau nggak, dan dia diam. Nggak jawab. Sepuluh detik. Kalian tahu rasanya nunggu sepuluh detik?”
Mereka menggeleng pelan, terhipnotis.
“Rasanya kayak seumur hidup,” kataku. “Jadi iya. Kasihan aku. Kalian ada tips nggak? Cara ngejar cowok yang larinya kenceng?”
Hening panjang.
Lalu dari sudut pantry, dari balik rak piring, terdengar suara.
“Pakai rendang, Bu.”
Kami bertiga menoleh. Mbak Rini berdiri di sana, memegang cangkir kopi, wajahnya merah tapi matanya berbinar.
“Mas Rafa suka rendang,” kata Mbak Rini. “Saya pernah lihat dia makan rendang di warung padang, nambah dua kali. Terus dia nggak suka acar. Pak Tarno yang bilang.”
“Dan kopi tanpa gula,” tambah suara lain. Mbak Sari, muncul dari balik lemari pendingin. “Tapi Ibu udah tahu itu.”
“Pisang goreng,” kata suara ketiga. Bu Yanti, di ambang pintu pantry dengan nampan. “Mas Rafa paling seneng pisang goreng yang pinggirnya garing, Bu. Saya yang tahu. Saya bikinin khusus.”
Dua perempuan dari divisi legal itu menatap kami semua bergantian. Pantry yang tadinya berisi dua orang sekarang berisi enam, dan lima di antaranya jelas berada di pihak yang sama.
“Oh,” kata salah satunya. “Oh. Oke. Maaf, Bu. Kami nggak tahu.”
“Nggak apa-apa,” kataku, tersenyum. “Sekarang kalian tahu.”
Mereka pergi dengan cepat, masih membawa gelas kosong, lupa mengisi kopi.
Mbak Rini mendekatiku. Wajahnya masih merah.
“Bu,” katanya pelan. “Saya pasang seratus ribu buat akhir bulan. Tapi saya harap Ibu menang lebih cepat.”
Aku menatapnya. Perempuan yang tiga minggu lalu tertawa di pantry ini, sekarang berdiri di depanku dengan mata yang tulus.
“Makasih, Mbak,” kataku.
“Saya yang harusnya makasih, Bu.” Mbak Rini menunduk. “Waktu Ibu marah di sini minggu lalu. Saya pulang, terus saya nggak bisa tidur. Saya mikir, saya udah jahat banget ya selama ini. Ke orang yang bantuin saya benerin formula Excel.” Dia tersenyum malu. “Jadi saya pasang taruhan buat Ibu. Biar kalau Ibu menang, saya ikut seneng.”
Rafa mendengar soal pantry satu jam kemudian. Dari Gilang, tentu saja.
Aku tahu karena ketika aku lewat di depan meja vendor, Gilang sedang berbisik heboh sambil memperagakan sesuatu dengan tangan, dan Rafa mendengarkan dengan wajah yang perlahan berubah dari bingung, ke kaget, ke merah.
Dia melihatku lewat. Dia berhenti mendengarkan Gilang.
“Kamu,” katanya.
“Aku?”
“Kamu bilang ke orang legal bahwa kamu capek ngejar aku.”
“Aku jujur.”
“Di pantry.”
“Pantry itu tempat pengakuan dosa.” Aku menatapnya dengan polos. “Kenapa? Kamu malu?”
“Aku—” Dia berhenti. Menatapku. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, sangat tidak percaya: “Kamu bikin satu pantry ngasih kamu tips buat ngejar aku.”
“Mbak Rini bilang pakai rendang.”
“Mbak Rini?”
“Mbak Rini sekarang di pihakku.” Aku tersenyum. “Semua orang di pihakku, Rafa. Kamu udah kalah jumlah.”
Dia menatapku lama. Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga.
Dia tertawa.
Bukan tawa kecil di sudut bibir. Tawa sungguhan. Rendah, pelan, dari dada, sampai dia harus melepas kacamata dan menutup mata dengan tangan kanannya. Bahunya berguncang. Gilang, di sebelahnya, menatapnya dengan kagum seperti melihat komet.
Aku belum pernah mendengarnya tertawa seperti itu. Tidak di warung padang. Tidak di gudang Cikarang. Tidak di lift.
Aku berdiri di sana, di tengah koridor lantai sembilan, dan membiarkan suara itu masuk ke dadaku dan tinggal di sana.
“Kamu gila,” katanya akhirnya, masih tertawa, memakai kacamatanya lagi.
“Iya.”
“Kamu beneran gila.”
“Iya.” Aku mencondongkan badan sedikit. “Tapi kamu ketawa. Itu poin buat aku.”
Dia berhenti tertawa. Menatapku. Dan wajahnya perlahan memerah lagi.
Enam belas.
Sore itu dia memakai dasi.
Aku tidak tahu kenapa. Dia jarang memakai dasi. Mungkin karena ada rapat dengan Om Darmo jam tiga, dan Om Darmo suka vendor yang berpakaian rapi. Dasi biru tua, dengan motif garis-garis kecil.
Setelah rapat, dia kembali ke mejanya, dan aku melihat dasinya miring. Sedikit. Ke kiri.
Aku menghampirinya.
“Dasinya miring,” kataku.
Dia menunduk, melihat dasinya. “Oh.”
“Sini aku benerin.” Aku mengulurkan tangan dan memegang dasinya. “Sekalian narik kamu dikit.”
Aku menarik. Pelan. Hanya sedikit, main-main, supaya wajahnya mendekat ke wajahku.
Dan dasinya lepas.
Seluruhnya. Terlepas dari kerah kemejanya dengan bunyi klik kecil, dan tergantung di tanganku seperti ikan yang baru ditangkap.
Kami berdua menatap dasi itu.
“Itu dasi jepit,” kata Rafa pelan.
“Oh.”
“Aku nggak bisa ikat dasi pakai satu tangan.”
“Oh,” kataku lagi, lebih pelan.
Hening sebentar. Aku menatap dasi di tanganku. Dia menatap dasi di tanganku. Gilang, di meja sebelah, menatap dasi di tanganku dengan wajah seperti orang yang menyaksikan kecelakaan lalu lintas dalam gerak lambat.
Lalu aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Dan Rafa ikut tertawa, dan kami berdua tertawa seperti orang bodoh di tengah lantai sembilan, dengan dasi jepit biru tua yang tergantung di antara kami.
“Oke,” kataku, setelah tawaku reda. Aku memasang dasi itu kembali di kerahnya. Klik. Lurus. Rapi. Tanganku bertahan di kerahnya sedikit lebih lama dari yang perlu. “Udah. Lurus.”
“Makasih.”
“Nggak usah takut,” kataku pelan, masih memegang kerahnya. “Aku nggak gigit.”
Dia menelan ludah.
“Kecuali kamu minta,” tambahku.
Aku melepaskan kerahnya dan berjalan pergi. Di belakangku, aku mendengar bunyi tok pelan. Gilang, menjatuhkan kepalanya ke meja lagi.
Tujuh belas.
Malam itu, Mama menungguku di teras belakang lagi.
“Nes,” katanya ketika aku duduk di lantai di depan kursinya. Jari-jarinya mulai menyisir rambutku, pelan. “Sudah bilang?”
“Belum, Ma.”
Jari-jarinya berhenti sebentar. Lalu bergerak lagi.
“Kamu kelihatan bahagia,” katanya. “Seminggu ini. Mama belum pernah lihat kamu pulang dengan wajah kayak gini.”
“Dia ketawa hari ini, Ma. Ketawa beneran. Aku belum pernah dengar dia ketawa kayak gitu.”
Mama diam. Jari-jarinya terus menyisir.
“Nes,” katanya akhirnya. “Makin dia bahagia, makin berat nanti kalau dia tahu.”
Aku menatap halaman belakang yang gelap. Pohon kamboja. Kolam ikan. Lampu taman yang temaram.
“Aku tahu, Ma.”
“Mama cuma—”
“Aku tahu.” Suaraku kecil. “Sebentar lagi. Aku janji.”
Mama tidak menjawab. Tapi jari-jarinya, di rambutku, sedikit gemetar lagi.
Jam sembilan malam, aku masih di basement kantor, di mobil, belum menyalakan mesin.
Aku lembur untuk laporan bulanan, dan sekarang lampu basement sebagian mati. Perawatan rutin, kata pengumuman di lift. Lorong parkir bawah tanah itu lebih gelap dari biasanya. Hanya beberapa lampu darurat hijau yang menyala di kejauhan.
Aku menggenggam kunci mobil dengan senter perak kecil. Aku menyalakannya. Lingkaran cahaya putih kecil jatuh di dasbor.
Aku baik-baik saja. Aku punya senter. Aku tidak perlu menelepon siapa-siapa.
Lalu ada ketukan di kaca jendela.
Aku terlonjak. Jantungku melompat ke tenggorokan. Aku menoleh dengan senter terangkat, seperti senjata.
Rafa berdiri di luar jendela. Dengan tas laptop di bahu kanan dan tangan kiri di saku. Dia mengangkat tangan kanannya sedikit, seperti menyerah.
“Maaf,” katanya dari balik kaca. “Aku ngagetin.”
Aku menurunkan kaca jendela. “Kamu ngapain di sini? Kamu kan naik ojek.”
“Pak Tarno bilang lampu basement lagi dimatiin sebagian. Terus dia bilang mobilmu masih di sini.” Dia menggaruk tengkuk dengan tangan kanan. Canggung. “Jadi aku turun.”
“Aku udah punya senter,” kataku. Aku mengangkat kunci mobil dengan senter yang masih menyala. “Dari kamu. Ingat?”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa turun?”
Dia menatapku. Di bawah cahaya lampu darurat hijau yang redup, wajahnya terlihat lebih lembut. Lebih ragu. Seperti orang yang berdiri di tepi kolam dan belum yakin mau melompat.
“Senter nggak bisa ngobrol,” katanya.
Aku menatapnya.
Aku menatapnya lama sekali. Pria yang kemarin membangun benteng dari map arsip supaya aku tidak bisa duduk di sebelahnya. Pria yang bilang kamu pantas dapat yang utuh. Pria yang diam sepuluh detik ketika aku bertanya apakah dia menyukaiku.
Pria itu turun ke basement jam sembilan malam, karena lampunya mati, dan dia tahu aku takut gelap.
Dia yang datang padaku. Untuk pertama kalinya, dia yang datang.
“Masuk,” kataku.
Dia mengerjap. “Hah?”
“Masuk ke mobil. Aku antar kamu pulang.”
“Rumahku nggak searah.”
“Aku nggak peduli.” Aku membuka kunci pintu penumpang. “Masuk, Rafa. Atau aku bilang ke Pak Tarno kamu nolak diantar, dan besok Pak Tarno pasang taruhan seratus ribu buat hari ini.”
Dia menatapku. Lalu, pelan, dia tersenyum. Senyum kecil di sudut bibir. Dan dia berjalan memutari mobil, membuka pintu penumpang dengan tangan kanan, dan duduk di sebelahku.
Di sebelah kiriku.
Aku menyetir. Dia di kursi penumpang, di sebelah kiriku, sehingga sisi kanannya, sisi yang bisa merasakan, menghadap ke arahku.
Aku menyadarinya ketika kami keluar dari basement. Aku menoleh, dan dia sedang menatapku. Dan telinganya merah, di bawah cahaya lampu jalan yang lewat.
“Delapan belas,” kataku pelan.
“Aku nggak ngapa-ngapain.”
“Kamu lihat aku nyetir.”
“Itu dihitung?”
“Itu dihitung,” kataku. “Semua dihitung.”
Dia tertawa. Pelan. Menatap jendela.
Lalu, di lampu merah di perempatan Kuningan, tanpa menoleh padaku, dia berkata:
“Aku juga ngitung.”
Jantungku berhenti.
“Ngitung apa?”
“Berapa kali kamu senyum ke aku.” Dia terus menatap jendela. Suaranya sangat pelan. “Dari hari pertama.”
Lampu hijau menyala. Mobil di belakang membunyikan klakson. Aku tidak bergerak.
“Berapa?” bisikku.
Dia akhirnya menoleh. Di bawah lampu jalan, wajahnya merah sampai ke leher.
“Terlalu banyak buat aku hafal,” katanya. “Tapi aku ingat semuanya.”
Klakson berbunyi lagi, lebih panjang. Aku menginjak gas. Tanganku gemetar di setir.
Aku tidak menghitung merah yang itu.
Karena kali ini, untuk pertama kalinya, pipiku yang merah.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku reading
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari