Chapter Nine

Yang Terbang Itu

Aku ketiduran di meja belajar.

Itu kebiasaan buruk yang sudah tiga tahun tidak berhasil kuhentikan. Kalau ada naskah yang belum beres, aku tidak bisa pindah ke kasur. Ada sesuatu di kepalaku yang menganggap kasur sebagai hadiah, dan hadiah itu harus dibayar dulu.

Malam itu yang belum beres adalah proof edisi November.

Enam belas halaman, dicetak di kertas HVS murah dari printer sekretariat yang tintanya sudah belang di sisi kiri. Aku sudah mengoreksi sampai halaman sebelas. Halaman empat ada di atas tumpukan, terbalik, karena aku sudah membacanya empat kali dan tidak sanggup membacanya untuk kelima kali.

Aku tertidur dengan pulpen merah di tangan sekitar pukul dua.

Pukul tiga kurang sepuluh, lantai berubah.


Aku berdiri di kamar orang.

Kamar kos putra. Bau deterjen dan kardus. Dua kasur, satu kosong dan rapi sampai selimutnya kelihatan disetrika, satu berantakan dengan bungkus mi di sampingnya. Rak buku dari besi. Kalender akademik yang dicoret-coret dengan tiga warna spidol.

Satu lampu belajar menyala, diarahkan ke langit-langit.

Dan di tengah ruangan, berdiri di atas kursi plastik, ada seseorang.

Aku masih memegang pulpen merah. Di tangan kiriku, tiga lembar proof yang ikut tertarik karena tanganku menindihnya waktu tidur.

“Apa—“ kataku.

Dia tidak menjawab.

Ini yang perlu dipahami, dan aku butuh waktu terlalu lama untuk memahaminya waktu itu: dia tidak menjawab bukan karena dia mengabaikanku.

Dia berdiri di atas kursi plastik, punggung menempel ke dinding, kedua tangan menempel juga, telapak terbuka menekan tembok seperti orang yang berusaha menyatu dengan bangunan. Kepalanya mendongak. Matanya tidak berkedip. Dagunya bergetar sedikit — bukan gemetar besar, getaran kecil yang cuma kelihatan kalau kamu berdiri dekat.

Dan dia sama sekali tidak bersuara.

Aku belum pernah melihat orang setakut itu. Aku sudah meliput kebakaran pasar. Aku sudah mewawancarai orang yang rumahnya longsor. Aku belum pernah melihat orang yang ketakutannya sampai mengambil suaranya.

“Hei,” kataku. Pelan. “Ini aku.”

Tidak ada respons.

Aku mengikuti arah pandangannya.

Di langit-langit, tepat di atas kepalanya, kira-kira satu setengah meter dari wajahnya, ada seekor kecoak.

Besar. Cokelat mengilap. Sayapnya setengah terbuka.

Dan sayap kecoak yang setengah terbuka artinya cuma satu hal.


“Oh,” kataku.

Dan aku ingin mencatat, untuk kejujuran, bahwa reaksi pertamaku bukan kasihan.

Reaksi pertamaku adalah aku menemukan sesuatu.

Ada bagian dari diriku yang menyala seperti lampu. Bagian yang sudah tiga semester mencari celah. Bagian yang menghitung berapa nilai informasi ini kalau diceritakan di tempat yang tepat, ke orang yang tepat, dengan nada yang tepat.

Ketua BEM Fakultas Teknik. Orang yang berdiri di depan dua ratus peserta forum tanpa berkedip. Orang yang bicara kepada dosen penguji seperti sedang menegakkan tata tertib. Orang yang, waktu motornya jalan sendiri di jalan umum, berkata aku sempat lihat spion.

Naik ke atas kursi plastik. Diam. Karena serangga.

Aku memikirkannya selama mungkin dua detik penuh.

Dan aku ingin jujur soal seberapa jauh dua detik itu membawaku, karena kalau aku mempersingkatnya, aku sedang membuat diriku lebih baik daripada aslinya.

Dalam dua detik itu aku sudah menyusun kalimat pembukanya. Aku sudah memilih rubriknya — bukan berita, terlalu kasar; kolom ringan di halaman belakang, yang justru paling banyak dibaca. Aku sudah menentukan bahwa aku tidak akan menyebut namanya, karena tidak perlu, karena di kampus ini cuma ada satu orang yang cocok dengan deskripsinya, dan tidak menyebut nama justru membuat orang lebih yakin.

Aku bahkan sudah tahu judulnya.

Aku sudah tiga semester mencari sesuatu yang bisa membuat orang berhenti menganggapnya sempurna. Aku sudah mengejar anggaran, notulen, absensi, laporan telat. Semuanya benar dan semuanya kering. Orang tidak berhenti mengagumi seseorang karena laporan telat empat puluh satu hari.

Orang berhenti mengagumi seseorang karena satu gambar.

Dan gambar itu sedang berdiri di atas kursi plastik di depanku.

Lalu aku melihat tangannya.

Buku-buku jarinya putih. Dia menekan tembok begitu keras sampai kulitnya kehilangan warna, dan tembok itu tidak akan ke mana-mana, dan itu bukan gerakan orang yang sedang jijik.

Itu gerakan orang yang sedang menahan diri untuk tidak berteriak, dan sudah menahannya cukup lama.

“Oke,” kataku.

Aku melipat tiga lembar proof itu jadi satu gulungan.


Membunuh kecoak di langit-langit itu bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan anggun.

Aku harus menyeret kasur — kasur yang berantakan, yang jelas punya Dimas — ke tengah ruangan, naik ke atasnya, dan mengayun ke atas dengan sudut yang sepenuhnya salah untuk anatomi manusia.

Kena di ayunan kedua.

Benda itu jatuh. Di udara, di antara langit-langit dan lantai, sayapnya membuka penuh dan bergetar sekali, dan bunyinya seperti kartu yang dikocok.

Dan di belakangku aku dengar napas ditarik pendek sekali, satu kali, yang paling mendekati suara yang dia keluarkan sepanjang malam itu.

Aku menutupnya dengan gelas plastik bekas. Aku menyelipkan kalender akademik yang dicoret tiga warna itu ke bawah gelasnya. Aku membawanya ke jendela. Aku melemparnya keluar, ke arah kebun belakang, sejauh yang bisa dilempar orang yang tingginya seratus lima puluh sembilan sentimeter.

Aku memeriksa gelas plastik itu di depan mataku sebelum melempar, karena aku harus yakin. Kalau salah, kalau benda itu masih ada di dalam kamar, seluruh malam ini akan mengulang dirinya sendiri.

Aku menutup jendela. Aku mengecek kusennya. Aku mengecek celah di bawah pintu, dan menyumpalnya dengan handuk kecil yang tergantung di kursi.

Baru setelah semuanya selesai, aku berbalik.

“Udah,” kataku.

Dia masih di atas kursi.

“Udah beneran. Aku buang ke luar. Jendelanya udah aku tutup.”

Butuh sekitar dua puluh detik sebelum tangannya lepas dari tembok.

Butuh sekitar satu menit sebelum dia turun.

Dan waktu dia turun, dia tidak melihat ke arahku. Dia duduk di pinggir kasurnya sendiri — yang rapi, yang selimutnya kelihatan disetrika — dengan siku di lutut dan kepala menunduk, dan dia bernapas seperti orang yang baru sampai di puncak tangga.

Aku berdiri di tengah ruangan sambil memegang gulungan proof edisi November.

Aku tidak tertawa.

Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa aku tidak tertawa. Aku orang yang tertawa. Aku tertawa waktu Dimas menceritakan motor yang menabrak pot beton, di depan tujuh orang, dua hari setelah aku tahu ceritanya yang sebenarnya.

Tapi malam itu tidak ada apa pun di dalam diriku yang mau tertawa, dan itu membuatku takut jauh lebih dari kecoaknya.


“Dimas ke mana?” tanyaku, karena harus ada yang bicara.

“Lab.” Suaranya serak. “Sampai pagi.”

“Oh.”

“Kamu—“ Dia berhenti. Menelan. “Kamu bisa pulang?”

“Aku nggak tahu.”

Kami sama-sama diam menghitung, dan tidak ada yang panas, dan aku menyadari sesuatu.

“Kamu masih belum tenang.”

“Aku tenang.”

“Ketua.” Aku duduk di kursi plastik yang tadi dia naiki. “Aku nggak bisa pulang. Berarti kamu nggak tenang. Itu satu-satunya alat ukur yang kita punya.”

Dia tidak menjawab selama mungkin setengah menit.

Lalu:

“Dulu waktu kecil aku tidur di kamar belakang rumah nenek. Ada tiga. Malam-malam. Aku nggak bisa keluar karena pintunya dikunci dari luar.”

Dia mengucapkannya rata, tanpa penekanan, seperti sedang membacakan nomor rekening.

“Aku nggak cerita ke siapa-siapa. Aku enam tahun. Aku pikir kalau aku cerita, aku nggak boleh nginep lagi.” Dia menggosok wajahnya sekali dengan telapak tangan. “Terus jadi kebiasaan. Nggak cerita.”

“Nadia tahu?”

“Nggak.”

“Dimas?”

“Dimas sekamar sama aku dua tahun.”

“Itu bukan jawaban.”

“Iya,” katanya. “Itu bukan jawaban.”

Aku memutar pulpen merah di jariku dan berpikir bahwa aku sedang duduk di kamar kos seseorang jam tiga pagi, memegang bukti cetak tulisan yang akan menghantam orang itu di halaman empat minggu depan, sementara orang itu baru saja menceritakan sesuatu kepadaku yang tidak pernah dia ceritakan kepada dua orang yang paling dekat dengannya.

Dan aku sadar, dengan sangat jelas, bahwa dia tidak menceritakannya karena percaya padaku.

Dia menceritakannya karena aku sudah melihat, dan menceritakan sesudah ketahuan itu bukan kepercayaan. Itu ganti rugi.

Entah kenapa, itu lebih menyakitkan.


“Kenapa kamu nggak ketawa?” tanyanya.

“Apa?”

“Barusan. Kamu nggak ketawa.” Dia mengangkat kepala, dan matanya masih merah di sudutnya. “Semua orang ketawa. Waktu SMA ada yang lihat, satu angkatan tahu dalam dua hari. Aku dipanggil ‘Pak Kecoak’ sampai kelas tiga.”

“Aku bukan anak SMA.”

“Bukan itu maksudku.”

“Aku tahu maksud kamu.”

Aku berdiri. Aku meletakkan gulungan proof edisi November di meja belajarnya — dan aku baru sadar sesudah melepaskannya bahwa halaman empat ada di lapisan paling luar, terlipat ke arah dalam, dengan judul yang jahat itu setengah kelihatan.

Dia melihatnya. Aku tahu dia melihatnya, karena matanya berhenti di sana selama satu detik.

Dia tidak berkata apa-apa.

Dan aku tidak mengambilnya kembali.

“Aku nggak akan cerita ke siapa-siapa,” kataku.

“Kamu nggak perlu janji.”

“Aku nggak lagi janji. Aku lagi ngasih tahu.” Aku melipat tangan. “Kalau aku janji, artinya ini bisa dilanggar dan kamu harus khawatir. Aku nggak mau kamu khawatir soal itu. Jadi aku ngasih tahu aja: nggak akan.”

Dia menatapku.

Dan untuk pertama kalinya sejak semester tiga, aku tidak bisa membaca ekspresinya sama sekali, padahal aku sudah menghabiskan tiga tahun belajar membacanya dari jarak jauh.

“Kenapa?” katanya.

Aku sudah menyiapkan tiga jawaban di kepalaku dalam waktu dua detik, dan ketiganya bagus, dan ketiganya bohong.

Karena aku profesional. Karena Pasal 7. Karena ini nggak layak berita.

Yang keluar dari mulutku bukan salah satu dari ketiganya.

“Karena aku pernah begitu,” kataku. “Bukan sama serangga. Tapi pernah. Dan yang paling parah bukan takutnya.”

“Terus apa?”

“Yang paling parah itu tahu bahwa ada orang lain yang lihat, dan sekarang dia yang mutusin apakah itu bakal jadi cerita atau nggak.” Aku mengangkat bahu. “Aku nggak mau jadi orang itu buat kamu.”

Kami sama-sama tidak bicara cukup lama sampai ada suara motor lewat di gang, dan suara azan subuh dari kejauhan, dan pulpen merah di tanganku yang jatuh ke lantai karena aku tidak sadar sudah melonggarkan pegangannya.

Aku menunduk mengambilnya.

Waktu aku berdiri lagi, gelang di sakuku sudah hangat.

“Eh,” kataku. “Panas.”

“Iya.”

“Berarti kamu udah—“

“Iya.”

Satu.

Dua.

“Grace.”

Ti—


Aku muncul kembali di kursi meja belajarku, dengan pipi masih terasa bekas lipatan lengan baju, dan halaman dua belas proof edisi November terbuka di depanku, belum dikoreksi.

Di luar, langit sudah abu-abu.

Aku duduk di sana lama sekali.

Lalu aku menarik halaman empat dari tumpukan — versi yang masih ada di mejaku, karena aku selalu mencetak dua rangkap, karena aku tidak percaya pada dokumen tunggal.

Aku membacanya untuk kelima kalinya.

Angkanya benar. Tiga mata anggaran, kenaikan tanpa penjelasan, laporan telat empat puluh satu hari. Semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Aku bisa membelanya di forum mana pun.

Judulnya tetap jahat.

Aku duduk memegang kertas itu sampai lewat setengah enam, dan aku memikirkan buku-buku jari yang memutih di tembok, dan aku memikirkan seorang anak enam tahun di kamar belakang rumah neneknya yang memutuskan bahwa lebih baik tidak cerita.

Dan aku tidak mengubah judulnya.

Sasa menelepon jam tujuh pagi menanyakan apakah koreksinya sudah selesai, dan aku bilang sudah, padahal halaman dua belas sampai enam belas belum kusentuh sama sekali.

“Kamu bangun jam berapa?” tanyanya.

“Aku belum tidur.”

“Gres.”

“Aku tidur nanti siang.”

“Kamu ngapain semaleman?”

Dan aku berdiri di kamarku, memegang halaman empat dengan judul yang jahat itu, sambil mendengar suara temanku sendiri di telepon, dan aku menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam tiga tahun aku punya sesuatu yang tidak bisa kuceritakan kepada Sasa.

“Koreksi,” kataku.

Aku ingin sekali menulis bahwa aku mengubahnya. Aku sudah beberapa kali mencoba menceritakan bagian ini dengan versi yang lebih baik.

Yang sebenarnya terjadi: aku mencoret satu kata di paragraf keenam — kata yang tidak perlu, kata yang cuma ada di sana untuk menyakiti — dan aku menggantinya dengan kata yang lebih datar.

Satu kata.

Itu seluruh isi gencatan senjata kami, dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan pernah menyadarinya kecuali aku.