Chapter Twenty One

Tanpa Sambal

Aku menemukannya di bulan April, dari Dimas, dan Dimas tidak sedang bermaksud memberitahuku apa pun.

Kami bertiga di Warung Bu Tin. Ini sudah jadi hal yang wajar sejak Maret — Dimas satu-satunya orang yang tahu, jadi Dimas satu-satunya orang yang bisa dijadikan alasan kalau ada yang bertanya kenapa anak Poros dan anak Teknik duduk semeja.

Dimas menyebutnya “jadi tumbal sosial”. Dia bangga sekali dengan istilah itu.

Kami memesan. Dan sambil menulis pesanan, Bu Tin bertanya seperti biasa:

“Sambele piro?”

“Tiga, Bu,” kata Dimas.

“Nggak usah, Bu,” kata orang di sebelahku.

Aku memesan nasi goreng tanpa cabai dengan cara yang sudah kuhafal — pelan, cepat, tanpa penekanan, supaya tidak ada yang menangkapnya.

Dan Dimas mengerang.

“Yan. Serius.”

“Apa.”

“Lima bulan.” Dimas menyandarkan punggung. “Lima bulan, Yan. Aku makan sambel sendirian kayak orang buangan. Kamu tahu makan pedes itu olahraga sosial? Nggak enak sendirian.”

“Ya udah kamu ajak yang lain.”

“Yang lain siapa? Anak-anak lab? Mereka makan di Burjo Barokah, aku nggak sudi.” Dia menoleh padaku, mencari sekutu. “Mbak, dia dulu itu paling parah. Level empat. Tiap hari. Bapaknya bawa oleh-oleh sambel botolan dari Semarang tiap bulan, dua botol.”

Aku sedang mengangkat gelas es teh.

Aku meletakkannya kembali.

“Lima bulan,” kataku.

“Iya! Dari bulan November. Aku inget banget karena—“

“Dim,” kata suara di sebelahku.

“—karena waktu itu di kantin dia lagi ngelamun terus tiba-tiba bilang ‘hari ini nggak’ terus—“

“Dimas.”

Dimas berhenti.

Dia melihat ke arah kiri, lalu ke arah kanan, dan aku bisa melihat momen persis ketika sesuatu di kepalanya tersambung, dan aku bisa melihat momen persis ketika dia memutuskan bahwa dia lebih suka tidak melanjutkan.

“Aku ke kamar mandi dulu,” katanya.

Warung Bu Tin tidak punya kamar mandi.

Dia pergi ke luar dan berdiri di depan bengkel las selama enam menit dengan ponsel di tangan, pura-pura menelepon seseorang.


“November,” kataku.

“Grace.”

“Bulan November tahun lalu.”

“Iya.”

Aku menghitung mundur, dan aku menghitungnya dengan sangat cepat, karena menghitung adalah hal yang kulakukan supaya tidak merasakan sesuatu.

November.

Bulan November, aku menerbitkan halaman empat dengan judul yang jahat, dan aku tahu judul itu jahat waktu menulisnya, dan aku tidak menariknya padahal masih sempat sampai jam dua belas.

Bulan November, kami masih menyebut satu sama lain “Ketua” dan “Grace”.

Bulan November, tidak ada dua gelas. Tidak ada Kamis. Tidak ada apa pun.

Bulan November, orang ini tidak punya satu pun alasan untuk melakukan apa pun untukku.

“Kenapa,” kataku.

“Kenapa apa.”

“Jangan gitu.”

Dia memutar sendoknya di piring yang belum datang.

“Aku di antrean kantin,” katanya. “Aku baru sadar sesuatu. Aku nggak bisa bilang apa. Terus ibu kantinnya nanya sambel apa nggak.”

“Terus?”

“Terus aku bilang nggak.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawabannya.” Dia mengangkat bahu. “Aku nggak mikir panjang, Grace. Sumpah. Aku nggak nyusun apa-apa. Aku cuma tiba-tiba nggak pengin makan sesuatu yang bikin kamu nggak bisa ikut duduk.”

“Kita nggak pernah duduk bareng bulan November.”

“Aku tahu.”

“Kita musuhan bulan November.”

“Aku tahu.”

Bu Tin datang membawa dua piring. Nasi goreng tanpa cabai, dua-duanya, karena Bu Tin sudah lama berhenti bertanya.


Kami makan dalam diam selama beberapa menit.

Dan sekitar suapan kelima, aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan sama sekali.

Aku menggeser piringku ke pinggir meja, memanggil Bu Tin, dan bilang: “Bu, sambelnya boleh minta? Yang sedikit aja.”

Dia berhenti mengunyah.

Bu Tin membawa cobek kecil. Aku mengambil setengah sendok teh. Setengah. Aku mengaduknya ke pinggir nasi, di area yang mungkin seluas dua sentimeter persegi, dan aku menyendok sedikit sekali dari bagian itu.

Rasanya seperti dipukul di bagian dalam kepala.

Mataku langsung berair. Aku minum es teh setengah gelas dalam empat detik. Dimas masuk kembali dari bengkel las tepat pada momen itu dan langsung berbalik keluar lagi.

“Grace.”

“Aku bisa.”

“Kamu nangis.”

“Aku bisa,” kataku, dengan suara yang sepenuhnya tidak mendukung klaim itu.

Dia tidak mengambil piringku. Dia tidak menyuruhku berhenti. Dia tidak memanggil Bu Tin untuk membawa sambalnya pergi.

Dia cuma mendorong gelas es tehnya sendiri ke arahku, dan berkata, “Kalau kamu maksain, aku ikut.”

“Ikut apa?”

“Aku pesen level empat.”

“Kamu—“

“Kita dua-duanya masuk UGD, atau kita dua-duanya berhenti.” Dia mengangkat alis. “Pilih.”

Aku menaruh sendokku.

“Aku berhenti.”

“Bagus.”

Dan itu satu-satunya cara dia pernah menang berdebat denganku, dan dia memakainya tepat tiga kali dalam seluruh hidup kami.


Aku mencoba berterima kasih empat kali.

Aku ingin mencatat keempat-empatnya, karena kegagalan yang berulang itu bukan kebetulan. Itu diagnosis.

Percobaan pertama, di warung, dua menit setelah percakapan itu. Aku membuka mulut. Yang keluar: “Kamu bisa aja pesen sambel terus taruh di pinggir.”

Percobaan kedua, malamnya, lewat pesan.

Aku mengetik: makasih ya soal yang tadi

Aku menatapnya selama satu menit.

Aku menghapusnya dan mengetik: dimas mulai lebay

Terkirim.

Percobaan ketiga, hari Kamis, di kamarku, jam sebelas malam, sesudah cicak dan sesudah dua gelas kopi.

Aku bilang, “Van.”

“Hm.”

Dan aku duduk di kasur selama sekitar dua puluh detik dengan mulut terbuka setengah, seperti orang yang lupa mau bilang apa, hanya saja aku tidak lupa sama sekali.

“Nggak jadi,” kataku.

Dia tidak memaksa. Dia tidak pernah memaksa. Kadang aku berharap dia memaksa.

Percobaan keempat terjadi tiga hari kemudian, dan yang keluar dari mulutku adalah:

“Aku nggak minta kamu berhenti makan pedes.”

Suaraku salah. Terlalu keras. Terlalu tajam. Suara yang biasa kupakai di forum.

Dia menoleh dari laptopnya.

“Aku tahu.”

“Aku nggak pernah minta apa-apa dari kamu.”

“Aku tahu itu juga.”

“Jadi jangan—“ Aku berhenti. “Jangan ngelakuin hal yang nggak aku minta terus aku jadi harus—“

Aku berhenti lagi.

“Harus apa?” katanya. Pelan.

Aku tidak menjawab, karena jawabannya adalah harus berutang, dan aku sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa mengatakannya keras-keras akan membuatnya jadi nyata.


Aku perlu menjelaskan sesuatu tentang diriku sendiri, dan aku tidak suka menjelaskannya.

Aku bisa memberi. Aku sangat bisa memberi.

Aku yang membayarkan cetak ulang edisi Maret waktu dana lembaga telat cair, dari uang tabunganku sendiri, tujuh ratus ribu, dan aku tidak pernah menagihnya. Aku yang menemani Rifqi ke rumah sakit jam dua pagi waktu adiknya kecelakaan. Aku yang mengurus izin Sasa ke dosen waktu dia tidak bisa bicara selama tiga hari setelah putus.

Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah berterima kasih dengan benar, dan aku tidak pernah keberatan, karena bukan itu poinnya.

Yang tidak bisa kulakukan adalah sisi sebaliknya.

Ibuku pernah bilang, waktu aku kelas dua SMA, bahwa aku menerima hadiah seperti orang menerima tagihan.

Aku marah selama dua hari.

Aku marah karena beliau benar.

Sejak ayahku meninggal, aku sudah menyusun seluruh hidupku di sekitar satu prinsip yang tidak pernah kuucapkan: kalau aku tidak berutang kepada siapa pun, tidak ada yang bisa hilang dariku.

Orang yang tidak menerima apa-apa tidak bisa kehilangan apa-apa.

Dan sekarang ada seseorang yang berhenti makan sambal sejak bulan November, tanpa memberitahuku, tanpa menagih, tanpa sekali pun menyebutkannya selama lima bulan, dan seluruh sistem pertahananku tidak punya prosedur untuk itu.


Sasa menangkapku hari Jumat.

“Gres.”

“Hm.”

“Kamu nggak makan sambel.”

“Aku emang nggak pernah makan sambel.”

“Iya, tapi biasanya kamu ngumpetin.” Dia menyandarkan dagu di tangannya. “Tiga tahun, kamu selalu pesen duluan sambil ngomong cepet biar nggak ada yang denger. Kemarin kamu pesen biasa aja. Kenceng.”

Aku menatap layar laptopku.

“Terus?”

“Nggak papa.” Sasa mengangkat bahu. “Bagus, kok.”

Dia kembali ke pekerjaannya, dan tidak menyinggungnya lagi, dan aku duduk di ruang redaksi selama beberapa menit sambil menyadari bahwa aku sudah berubah dengan cara yang bahkan tidak kusadari sendiri, dan bahwa satu-satunya orang yang menyadarinya adalah orang yang sedang tidak boleh kuceritai apa pun.


Yang kulakukan hari Sabtu, tanggal dua belas April, aku lakukan sendirian, dan tidak kuceritakan kepada siapa pun selama lebih dari setahun.

Aku ke Indomaret dekat kos.

Aku berdiri di rak bumbu selama sebelas menit — sebelas menit, aku menghitungnya — karena ternyata ada banyak sekali jenis sambal botolan dan aku tidak tahu satu pun bedanya.

Aku memotret raknya. Aku hampir mengirimkannya ke Dimas dan berhenti di detik terakhir karena Dimas akan tahu artinya apa.

Akhirnya aku memilih tiga botol. Tiga merek berbeda. Aku memilih berdasarkan warna, karena aku tidak punya kriteria lain.

Empat puluh dua ribu.

Aku membawanya pulang dan menaruhnya di rak kecil di kamarku, di samping dua gelas yang selalu bersih, di rak yang bisa dijangkau orang yang duduk di sudut ruangan.

Dan aku tidak mengatakan apa-apa.

Kamis berikutnya, dia datang jam sebelas kurang. Cicak. Sapu. Empat puluh detik. Dua gelas kopi.

Dan sekitar menit kedua puluh, dia berdiri untuk mengambil sesuatu di rak — buku, kupikir — dan berhenti.

Aku melihat punggungnya berhenti.

Dia berdiri di depan rak itu selama mungkin empat detik.

Lalu dia mengambil gelasnya dan kembali ke sudut dan duduk dan melanjutkan kalimat yang tadi terpotong, tentang harga baja tulangan yang naik dua belas persen.

Dia tidak menyentuh botol-botol itu.

Dia tidak menyebutnya.

Tidak malam itu. Tidak Kamis berikutnya. Tidak sekali pun sepanjang sisa tahun itu.

Dan botol-botol itu tetap di sana, tiga botol, tidak pernah dibuka, selama satu setengah tahun.


Ada satu hal lagi.

Dan hal ini yang membuatku, sampai sekarang, tidak pernah bisa menceritakan bab ini kepada siapa pun tanpa berhenti di tengah.

Sekitar dua minggu kemudian, aku bertanya kepada Dimas — sambil pura-pura membahas hal lain, dengan nada yang kupikir sangat halus dan ternyata tidak halus sama sekali:

“Dim. Bapaknya masih ngirim sambel botolan?”

Dimas mengaduk kopinya.

“Masih,” katanya. “Dua botol, tiap bulan.”

“Terus?”

“Ya numpuk.” Dia mengangkat bahu. “Ada delapan botol di rak dapur kos. Belum dibuka semua. Yan nggak pernah cerita ke bapaknya.”

Aku menatap Dimas.

“Kenapa nggak cerita?”

“Ya kalau cerita, bapaknya nanya kenapa.” Dimas menyeruput kopinya. “Terus dia harus jawab. Mbak tahu sendiri orangnya kayak apa.”

Dan aku duduk di Warung Bu Tin siang itu sambil membayangkan sebuah rak dapur di kos putra dekat Fakultas Teknik dengan delapan botol sambal yang tidak akan pernah dibuka, dikirim setiap bulan oleh seorang ayah dari Semarang yang tidak pernah diberi tahu kenapa anaknya berhenti.

Dan tiga botol lain di rak kamarku yang juga tidak akan pernah dibuka.

Delapan di rak dapur kos putra dekat Fakultas Teknik. Tiga di rak kamar kos putri di Karangmalang.

Sebelas botol.

Dua orang yang sama-sama tidak bisa mengatakan satu kalimat sederhana kepada siapa pun.

Aku pulang sore itu dan aku duduk di lantai kamarku dan aku mengeluarkan ponsel dan aku mengetik, untuk kelima kalinya sejak bulan April:

makasih ya

Dua kata. Enam huruf dan tiga huruf.

Aku menatapnya selama sepuluh menit penuh.

Lalu aku menghapusnya, dan mengetik sesuatu yang lain, dan mengirimnya:

kamis besok bawa laptop aku pengin nonton film yang jelek

Balasannya datang dua menit kemudian, dan aku membacanya sambil menutup mata sebentar, karena orang itu selalu, selalu mengerti maksudku dan tidak pernah sekali pun memintaku menerjemahkannya.

Oke.

Yang mana?

yang kamu tonton tiap kamis

Jeda cukup lama.

Kamu tahu judulnya?

aku wartawan, van aku tau judulnya dari bulan desember

Kamu nggak pernah bilang.

kamu juga nggak

Kamu nonton sendiri?

dua kali

Kapan.

januari sama maret sendirian volume kecil

Aku menatap layar itu di lantai kamarku, di antara rak berisi tiga botol sambal yang tidak akan pernah dibuka dan dua gelas yang selalu bersih.

Menit ke berapa kamu berhenti?

empat puluh sembilan

Iya.

van

Iya.

aku nggak nanya kenapa aku nggak akan nanya kenapa aku cuma mau kamu tau kalau aku udah nonton

Dan itu, sejauh yang bisa kulakukan pada bulan April tahun itu, adalah bentuk terima kasih.

Dia mengerti.

Dia selalu mengerti, dan itu satu-satunya alasan aku selamat.