Chapter Ten
Tidak Bisa Dibohongi
Motorku keluar dari bengkel tanggal empat November dengan spakbor depan baru yang warnanya tidak sama persis, dan sejak hari itu aku tidak pernah lagi mengendarainya di atas empat puluh.
Bukan karena Pasal 3.
Karena aku sudah menghitung.
Kalau aku ditarik pada kecepatan tiga puluh, motor itu melaju sekitar delapan meter sebelum jatuh. Kalau enam puluh, jaraknya bukan dua kali lipat — jaraknya empat kali lipat, dan yang jatuh bukan cuma motornya. Kalau ada yang berjalan di trotoar itu, kalau ada anak SD pulang sekolah, kalau ada ibu-ibu menyeberang.
Aku menghitungnya berkali-kali selama seminggu, di kelas, di rapat, di antrean fotokopi, dan setiap kali aku sampai di angka yang sama.
Jadi aku mengusulkan sesuatu.
Ke: Grace (Poros) Kita perlu ketemu. Ada usulan teknis.
Dari: Grace (Poros) “usulan teknis”
Kamu denger sendiri nggak sih kalau ngomong
Kami bertemu hari Minggu di Warung Bu Tin, karena Warung Bu Tin sudah jadi wilayah netral kami, dan karena Bu Tin sudah berhenti bertanya.
Aku membawa satu lembar kertas. Bukan diketik kali ini. Ditulis tangan.
“Ini apa?”
“Prosedur pelepasan terjadwal.”
Dia menatapku beberapa saat.
“Kamu ngasih nama.”
“Semua prosedur perlu nama.”
“Rayyan.” Dia meletakkan kertas itu. “Ini kutukan, bukan proyek.”
Dan aku berhenti sebentar.
Bukan karena kalimatnya. Karena kata pertamanya.
Sejak Sumberwangi, dia selalu memanggilku Ketua. Setiap kali. Di gudang, di halaman belakang, di warung ini, di kamar kosku jam tiga pagi. Selalu dengan nada yang sama, nada yang membuat gelar itu terdengar seperti tuduhan.
Dia baru saja tidak melakukannya.
Aku tidak berkomentar. Aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa hal-hal seperti ini, kalau kamu tunjuk, akan hilang.
“Dengar dulu logikanya,” kataku.
Logikanya begini.
Kejadian di bazar itu bukan kejadian terburuk yang bisa terjadi. Kejadian itu kejadian yang paling ringan dari semua kemungkinan yang ada.
Aku sedang di motor. Bisa saja aku sedang di tangga. Bisa saja aku sedang memegang gelas panas di depan orang. Bisa saja dia sedang di kamar mandi, atau di dalam bus, atau di tengah menyeberang.
Sistem seperti ini tidak boleh dibiarkan dipicu secara acak.
“Jadi kita jadwalkan,” kataku. “Kalau kita bisa memicunya sendiri, di waktu yang kita pilih, di tempat yang aman, kita bisa turunkan tekanannya. Seperti katup.”
“Katup.”
“Iya.”
“Kamu mikirin ini berapa lama?”
“Sembilan hari.”
Dia mengambil kertasku dan membacanya sampai bawah, dan aku bisa melihat matanya bergerak cepat, dan aku bisa melihat titik persis di mana dia berhenti menganggapku bodoh.
“Oke,” katanya akhirnya. “Aku ikut. Tapi satu syarat.”
“Apa.”
“Kalau ini berhasil, kita nggak pernah pakai buat hal lain.”
“Hal lain apa?”
“Hal lain apa pun.” Dia menatapku lurus. “Kalau ada tombol yang bisa manggil orang dari mana aja, cepat atau lambat ada yang bakal mencetnya bukan karena darurat.”
Aku menatapnya kembali, dan aku ingat pernah mengatakan hal yang sangat mirip di posko KKN, dan aku ingat waktu itu dia tidak menjawab.
“Setuju,” kataku.
Kami melakukan uji coba selama dua belas hari. Aku mencatat semuanya. Aku masih menyimpan catatannya.
Uji A — Rangsangan visual. Aku menonton kompilasi video kecelakaan kerja selama empat puluh menit di kamar. Detak jantungku naik, kuukur dengan jam tangan olahraga Dimas. Sembilan puluh enam per menit.
Tidak terjadi apa-apa.
Uji B — Rangsangan dingin mendadak. Dia menyiram tengkuknya sendiri dengan air es. Melapor lewat pesan: kaget parah. jantung kenceng banget. nggak ada apa-apa.
Uji C — Ketinggian. Aku berdiri di tepi lantai lima Gedung Teknik selama enam menit, memegang pagar. Aku takut ketinggian pada tingkat yang wajar untuk manusia dewasa. Tanganku berkeringat.
Tidak terjadi apa-apa.
Uji D — Kejutan oleh pihak lain. Ini yang paling menjanjikan.
Aku memberitahunya: kagetkan aku, kapan saja, dalam tujuh hari ke depan. Jangan bilang kapan.
Dia melakukannya di hari kedua, di koridor Gedung C, dari balik pintu, dan aku benar-benar terlonjak. Aku menjatuhkan map. Beberapa orang menoleh.
Detakku naik. Tanganku dingin.
Tidak terjadi apa-apa.
Aku menulis di catatan: kaget ≠ panik.
Uji D-2 — Kejutan berulang. Kami mengulanginya empat kali dalam dua minggu, dengan pihak ketiga yang tidak tahu apa-apa. Dimas menabrakku di lorong dengan tumpukan buku. Rifqi menjatuhkan kursi lipat di belakang punggungnya di sekretariat. Kami berdua terlonjak. Kami berdua tertawa sesudahnya.
Tidak terjadi apa-apa, dan aku mencatat hal yang lebih menarik daripada hasilnya: kami berdua tertawa sesudahnya. Dua orang yang tiga bulan lalu tidak bisa duduk di kantin yang sama sekarang sedang bergantian menakut-nakuti satu sama lain di koridor gedung kuliah dengan alasan metodologis.
Aku menulis di margin, dengan pensil, dengan huruf kecil: catat ini nanti. Lalu aku menghapusnya.
Uji E. Uji E adalah tempat semuanya berhenti, dan aku tidak akan menulis detailnya di sini karena kami sepakat untuk tidak membicarakannya lagi.
Yang bisa kutulis: uji E melibatkan sesuatu yang benar-benar dia takuti, dilakukan di ruangan yang aman, dengan aku yang tahu persis apa yang akan terjadi dan kapan.
Dia takut. Sungguhan takut. Tangannya gemetar. Aku menghentikannya di menit ketiga karena aku tidak sanggup melanjutkan.
Tidak terjadi apa-apa.
Dan waktu aku bertanya kenapa, dia menjawab sambil masih mengatur napas, dengan kalimat yang butuh waktu berminggu-minggu sebelum aku benar-benar memahaminya:
“Karena aku tahu kamu ada di sini.”
Kesimpulan uji coba, aku tulis di halaman terakhir, tanggal enam belas November:
Pemicu tidak dapat direproduksi secara sengaja. Kaget bukan pemicu. Takut bukan pemicu. Sakit bukan pemicu. Bahaya objektif bukan pemicu. Prosedur pelepasan terjadwal: tidak dapat dilaksanakan. Ditutup.
Yang tidak kutulis di halaman terakhir itu, tapi kutulis di sini karena sekarang sudah tidak ada gunanya disembunyikan:
Selama dua belas hari uji coba, kami bertemu sembilan kali.
Sembilan kali dalam dua belas hari, dengan alasan yang setiap kalinya sah, tercatat, dan bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis. Warung Bu Tin empat kali. Lorong Gedung C dua kali. Perpustakaan lantai tiga, meja paling pojok, dua kali. Sekali di parkiran, tujuh menit, cuma untuk menyerahkan jam tangan olahraga Dimas.
Aku tidak menghitungnya waktu itu.
Aku menghitungnya bulan Februari, waktu aku membuka lagi buku itu untuk keperluan yang sama sekali lain, dan aku harus menutupnya kembali.
Aku menutup buku catatan itu dan meletakkannya di rak, dan aku merasa kalah dengan cara yang sangat spesifik: kalah karena tidak ada yang bisa diperbaiki.
Aku ingat aku sempat berpikir bahwa itu berita paling buruk sepanjang tiga bulan terakhir.
Aku salah. Berita buruknya belum datang. Berita buruknya datang sebelas hari kemudian, di antrean kantin, dan bentuknya bukan berita.
Tanggal dua puluh tujuh November, hari Rabu, jam dua belas lewat.
Aku sedang antre nasi rames di kantin Teknik bersama Dimas dan dua pengurus. Dimas sedang menjelaskan kenapa dia tidak bisa mengambil mata kuliah pengganti semester ini dengan alasan yang berubah tiga kali dalam satu paragraf.
Dan aku sedang memikirkan uji E.
Bukan bagian yang penting. Bagian yang tidak penting: bahwa waktu itu dia gemetar tapi tidak tertarik ke mana-mana, dan aku sudah menuliskannya sebagai data negatif, dan data negatif itu sudah kututup.
Lalu ibu kantin bertanya mau pakai sambal atau tidak, dan aku menjawab pakai, dan sementara sendok sambal itu bergerak aku menyadari sesuatu.
Kalau panik tidak bisa dipalsukan—
Kalau panik tidak bisa dijadwalkan, tidak bisa dipancing, tidak bisa dibuat-buat, tidak bisa dipaksa keluar bahkan oleh orang yang benar-benar mencoba—
Maka setiap kali ini terjadi, itu asli.
Halaman belakang posko jam dua pagi. Asli. Balai desa, kompor, empat puluh orang. Asli. Kamar kos yang kabelnya terbakar. Asli. Kamar kos putri dengan tujuh belas orang menonton film. Asli. Ruang sidang 2.04. Asli. Bazar. Kursi plastik. Sembilan menit. Asli. Kamar kosku, jam tiga pagi, kursi plastik, kecoak. Asli.
Tujuh kali.
Tujuh kali seseorang benar-benar ketakutan, dan tujuh kali aku benar-benar ada di sana, dan tidak ada satu pun dari tujuh kali itu yang bisa direncanakan, dipalsukan, atau dibatalkan oleh siapa pun.
“Mas?” kata ibu kantin. “Sambelnya?”
Aku memegang nampan itu dan aku tidak bisa menjawab.
“Yan.” Dimas menyikutku. “Kamu ditanya.”
“Iya. Sebentar.”
“Sambelnya, Mas?” ulang ibu kantin, dengan kesabaran orang yang sudah dua puluh tahun melayani mahasiswa yang tidak bisa mengambil keputusan sederhana.
“Nggak usah, Bu.”
Dimas menoleh. “Kamu selalu pakai sambel.”
“Hari ini nggak.”
Aku tidak tahu kenapa aku menjawab begitu. Tidak ada alasannya. Tidak ada satu pun hal yang menghubungkan sambal dengan apa yang sedang terjadi di kepalaku saat itu.
Aku baru mengerti dua bulan kemudian, dan waktu aku mengerti, aku sedang berdiri di antrean yang sama, dan aku harus keluar dari barisan lagi.
Aku keluar dari antrean. Aku meletakkan nampan di meja kosong terdekat. Aku duduk.
Dimas duduk di depanku dengan wajah yang, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tidak sedang bersiap melempar lelucon.
“Yan. Kamu pucet.”
“Aku nggak apa-apa.”
“Kamu duduk kayak orang dikasih tau nilai.”
Aku menatap nasi di nampan itu selama mungkin satu menit penuh.
Dan yang membuatku tidak bisa mengangkat sendok bukan angka tujuh. Bukan juga fakta bahwa kutukan ini tidak bisa dikendalikan.
Yang membuatku tidak bisa mengangkat sendok adalah kalimat yang muncul sesudahnya, tanpa diundang, dengan urutan yang sudah rapi seperti sudah lama menunggu giliran:
Berarti dia juga.
Berarti tujuh kali itu, di sisi sana, ada orang yang benar-benar ketakutan dan tidak bisa berbuat apa-apa soal siapa yang datang.
Berarti dia tidak pernah punya pilihan untuk tidak memanggilku.
Dan berarti — ini bagian yang membuatku menaruh sendok kembali — setiap kali dia melihatku muncul, hal pertama yang dia rasakan bukan lega.
Hal pertama yang dia rasakan adalah malu.
Tujuh kali.
Aku sudah tujuh kali melihat orang itu dalam keadaan yang paling tidak ingin dia perlihatkan kepada siapa pun, dan tujuh kali itu dia tidak diberi kesempatan untuk memilih.
Sementara aku — aku selalu datang sudah tahu apa yang harus dilakukan. Aku selalu punya hitungan. Aku selalu punya prosedur.
Aku selalu datang sebagai orang yang menolong.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku duduk di kamar sampai lewat tengah malam sambil memikirkan satu pertanyaan yang tidak ada di tabel mana pun, dan tidak bisa kutulis di kolom mana pun, dan tidak bisa kuselesaikan dengan prosedur apa pun:
Kapan terakhir kali dia melihatku takut, dan aku tidak sedang dipaksa?
Jawabannya satu kali.
Jam tiga pagi. Di atas kursi plastik. Dan dia tidak tertawa.
Ke: Grace (Poros) Uji coba ditutup. Semua negatif. Nggak ada katup.
Dari: Grace (Poros) ya udah berarti kita balik ke cara lama
Ke: Grace (Poros) Cara lama apa
Dari: Grace (Poros) hati-hati terus seumur hidup
Dari: Grace (Poros) eh serius. kamu nggak apa2? nadia bilang kamu keluar antrean kantin terus duduk sepuluh menit
Aku menatap pesan ketiga itu lebih lama dari dua yang pertama.
Ke: Grace (Poros) Nadia bilang ke kamu?
Dari: Grace (Poros) dia yang samperin aku di depan perpus dia bilang “mbak grace, mas rayyan hari ini aneh” terus dia pergi gitu aja aku nggak tau harus ngerasa gimana
Aku membaca pesan itu tiga kali sebelum menaruh ponsel.
Lalu aku mengambilnya lagi, dan aku mengetik sesuatu, dan aku menghapusnya.
Aku mengetiknya lagi. Aku menghapusnya lagi.
Yang ingin kuketik: Kamu nggak perlu minta maaf tiap kali kamu takut.
Yang kukirim, jam sebelas lewat empat puluh malam itu:
Oke. Selamat malam.
Dan aku berbaring dengan mata terbuka sambil menyadari, dengan rasa jengkel yang aneh dan tidak beralasan, bahwa aku baru saja melakukan hal yang persis sama seperti yang dia lakukan sepanjang hidupnya.
Aku menulis versi yang aman.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi reading
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau