Chapter Twenty Seven

Rapat Gabungan

Forum Terbuka Evaluasi Lembaga Kemahasiswaan diadakan setahun sekali di aula lantai satu, dihadiri sembilan lembaga, dua Wakil Dekan, satu orang dari Bagian Kemahasiswaan, dan siapa pun mahasiswa yang mau datang.

Tahun ini dihadiri seratus dua belas orang, yang merupakan rekor, dan aku tahu persis kenapa rekornya pecah.

Karena bulan November ada halaman empat.

Karena bulan Maret ada seorang Pemred yang muncul entah dari mana di tengah rapat pleno BEM dan tidak ada satu pun dari dua puluh tiga saksi yang bisa menjelaskan bagaimana.

Karena orang datang untuk menonton pertengkaran.

Jumat, tanggal enam Juni. Pukul satu siang. Aula penuh sampai ke belakang.

Dan di baris ketiga, di kursi paling ujung, dengan buku catatan di pangkuan dan pulpen yang sudah dibuka tutupnya sejak sebelum acara dimulai, duduk orang yang tadi pagi mengirimiku pesan berbunyi:

van jangan bawa map


Aku membawa map.

Aula itu punya akustik yang buruk dan kipas gantung yang berbunyi setiap tiga putaran.

Sesi pertama: laporan. Membosankan. Sembilan lembaga membacakan hal-hal yang sudah tertulis di berkas yang dibagikan.

Sesi kedua: tanggapan.

Dan di sesi kedua, dia mengangkat tangan pada menit keempat.

“LPM Poros. Untuk BEM Fakultas Teknik.” Dia berdiri. Suaranya jelas sampai belakang tanpa pengeras suara. “Di halaman sebelas laporan, ada pos pelatihan kepemimpinan lanjutan. Vendor konsumsi dan perlengkapan. Nama vendornya sama dengan yang di halaman tujuh, tapi alamatnya beda. Bisa dijelaskan?”

Aku sudah menyiapkan jawaban untuk enam pertanyaan.

Itu bukan salah satu dari enam.

Seratus dua belas orang menoleh ke arahku.

“Terima kasih pertanyaannya,” kataku, dan aku mendengar suaraku sendiri melakukan hal yang selalu dilakukan suaraku, yaitu terdengar sangat tenang. “Kami akan cek dan sampaikan tertulis.”

“Berapa lama?”

“Tujuh hari kerja.”

“Tahun lalu jawaban tertulisnya empat puluh satu hari.”

Aula tertawa.

Dan aku berdiri di podium sambil merasakan dua hal sekaligus, dan dua hal itu sama sekali tidak bisa berdampingan di dalam satu tubuh manusia.

Yang pertama: dia benar, dan aku tidak tahu jawabannya, dan aku baru sadar detik itu juga bahwa aku belum pernah membaca halaman sebelas.

Yang kedua — dan ini yang tidak akan pernah kuceritakan kepada siapa pun di ruangan itu — adalah bahwa aku sangat, sangat ingin tertawa.

Karena dua belas jam sebelumnya orang yang sedang mempermalukanku di depan seratus dua belas orang sedang duduk di lantai kamarku memakan mi instan dari mangkuk dan mengeluh bahwa raknya miring.


Aku membalas di sesi ketiga, karena kalau aku tidak membalas, orang akan curiga.

Ini kedengaran gila kalau ditulis, tapi begitulah keadaannya: kami harus bertengkar, dengan sungguh-sungguh, dengan kualitas yang meyakinkan, karena tidak bertengkar akan jauh lebih mencurigakan daripada bertengkar.

“Untuk LPM Poros,” kataku. “Di laporan halaman enam, ada pos cetak edisi khusus. Empat juta dua ratus. Oplahnya lima ratus eksemplar.”

Dia mengangkat wajah dari buku catatan.

“Betul.”

“Delapan ribu empat ratus rupiah per eksemplar.”

“Betul.”

“Poros dibagikan gratis.”

“Betul.”

“Jadi, empat juta dua ratus untuk lima ratus lembar kertas yang, berdasarkan pengamatan saya di gedung ini, tiga ratusnya masih ditumpuk di depan sekretariat sejak bulan April.”

Aula bersuit.

Dan aku melihat sesuatu di wajahnya — sepersekian detik, tidak mungkin ditangkap siapa pun kecuali orang yang sudah sembilan bulan mempelajarinya — yang bukan marah sama sekali.

Dia menikmatinya.

“Tiga ratus dua puluh,” katanya. “Dan itu sisa distribusi fakultas yang belum diambil pengurusnya.”

“Pengurus lembaga mana?”

“Salah satunya BEM Fakultas Teknik.”

Aula meledak.

Aku menunduk ke arah map yang tidak seharusnya kubawa, dan aku menahan wajahku dengan seluruh kekuatan yang kupunya, dan aku tetap kalah.

Sudut mulutku bergerak.

Setengah detik. Mungkin kurang.

Dan di baris ketiga, kursi paling ujung, dia menunduk ke buku catatannya pada detik yang sama persis.

Aku memindai aula selama tiga detik penuh sesudahnya, mencari satu pun orang yang menangkapnya.

Tidak ada.

Kecuali satu.

Di baris kedua, kursi ketiga dari kanan, Nadia sedang menulis notulen dan tidak mengangkat kepala sama sekali.


Sesi keempat: masukan alumni.

Ini bagian yang selalu ada di forum mana pun dan biasanya diisi orang yang bicara dua puluh menit tentang zamannya dulu.

Tahun itu tidak.

“Terima kasih, Moderator. Saya Yudha, alumni Teknik Sipil angkatan sebelas.”

Aku belum pernah menceritakan tentang Bang Yudha, dan aku menyadari sekarang bahwa itu kesalahan, karena kalau aku baru memperkenalkannya di sini, dia akan terdengar seperti tokoh yang dimasukkan untuk suatu keperluan.

Bang Yudha bukan itu.

Bang Yudha adalah orang yang menjemputku di terminal Jombor pada hari pertamaku di Yogyakarta, empat tahun lalu, karena dia satu SMA dengan sepupuku dan sepupuku memintanya. Dia yang mengajariku cara membaca RAB. Dia yang bilang, waktu aku hampir mundur dari pencalonan Ketua BEM semester lima karena takut kalah, bahwa orang yang takut kalah biasanya sudah tahu dia layak menang.

Dia yang memberikan akses data proyek Gedung Serba Guna untuk skripsiku.

Dia berdiri di aula itu dengan kemeja lengan panjang digulung dan bicara selama enam menit, dan enam menit itu adalah enam menit terbaik dari seluruh forum.

“Saya mau tanggapi soal vendor tadi,” katanya.

Aula menoleh.

“Adik saya yang di Poros tadi bertanya kenapa nama vendornya sama tapi alamatnya beda. Itu pertanyaan yang bagus, dan saya senang ada yang nanya.” Dia berbalik menghadap forum, bukan menghadap panggung. “Saya jawab dari sisi orang yang sekarang kerja di dunia pengadaan. Itu wajar terjadi, dan itu juga bisa jadi masalah. Dua-duanya benar.”

Dia menjelaskan tentang perusahaan yang punya kantor operasional terpisah dari kantor terdaftar. Tentang penyedia kecil yang alamat NPWP-nya rumah pemiliknya. Tentang bagaimana hal yang sama persis bisa berarti tidak apa-apa dan bisa berarti sangat parah, dan bagaimana satu-satunya cara membedakannya adalah dengan melihat dokumen ketiga, bukan dua.

“Jadi saran saya untuk BEM,” katanya, “jangan jawab ‘akan kami cek’. Itu jawaban yang bikin orang curiga. Bawa dokumennya. Semua. Termasuk yang bikin kalian kelihatan berantakan.”

Aula bertepuk tangan.

Aku bertepuk tangan.

Dan di baris ketiga, kursi paling ujung, orang yang sudah tiga tahun tidak pernah bertepuk tangan untuk siapa pun di forum mana pun, bertepuk tangan.


Aku bertemu Bang Yudha di lorong setelah forum bubar.

“Yan!”

“Bang.”

Dia menepuk bahuku dua kali, keras, seperti biasa. Dia satu-satunya orang yang menepuk bahuku tanpa membuatku ingin menghindar.

“Kamu kelihatan capek.”

“Skripsi.”

“Sidang kapan?”

“Dua minggu lagi.”

“Data yang aku kasih kepakai?”

Dan ada jeda.

Setengah detik. Mungkin kurang. Sama seperti sudut mulutku di podium tadi.

“Saya ganti, Bang.”

Bang Yudha berhenti berjalan.

“Ganti?”

“Penguji bilang statusnya belum tuntas. Risiko akademik.” Aku memindahkan map ke tangan kiri. “Saya ambil data proyek lain. Yang di Kabupaten. Mundur empat bulan.”

Dia menatapku.

Dan aku ingin mencatat, dengan sangat jelas, apa yang terjadi di wajah orang itu pada detik itu, karena aku memutarnya berkali-kali di kepalaku selama enam bulan berikutnya dan setiap kali aku melihatnya sedikit berbeda.

Waktu itu, yang kulihat: prihatin.

Sekarang, kalau aku jujur: yang kulihat adalah orang yang baru saja mengetahui sesuatu dan sedang menghitung berapa cepat dia harus bergerak.

“Ya sudah,” katanya. “Bagus. Aman.”

“Maaf ya, Bang. Bang Yudha udah repot-repot.”

“Nggak apa-apa.” Dia menepuk bahuku lagi. “Yan.”

“Iya, Bang.”

“Kamu tahu kenapa aku kasih data itu ke kamu?”

“Kenapa, Bang?”

“Karena kamu satu-satunya anak di sini yang aku yakin bakal ngerjain bener.” Dia tersenyum. “Kalau ada yang salah di proyek itu, kamu yang bakal nemu duluan.”

Aku tertawa.

Aku benar-benar tertawa, di lorong itu, di bulan Juni, karena aku pikir itu pujian.


“Oh iya,” katanya, sudah setengah berbalik. “Yang tadi nanya soal vendor. Anak Poros itu.”

“Kenapa, Bang?”

“Tajam.” Dia mengangguk pelan, dengan ekspresi yang jelas-jelas kagum. “Beneran tajam. Halaman sebelas itu nggak akan ketemu kalau bacanya nggak sampai lampiran. Berapa persen mahasiswa yang baca sampai lampiran?”

“Nggak banyak, Bang.”

“Nol koma sekian.” Dia memasukkan tangan ke saku. “Siapa namanya?”

“Grace.”

“Grace apa?”

Dan ini bagian yang membuatku, sampai sekarang, tidak bisa tidur kalau memikirkannya terlalu lama.

Aku menjawab.

Aku menjawab tanpa berpikir sedetik pun. Aku menjawab dengan nada bangga yang sama sekali tidak bisa kusembunyikan, karena aku memang bangga, karena dua belas jam sebelumnya orang itu duduk di lantai kamarku memakan mi instan.

“Grace Alecia, Bang. Pemred Poros.”

“Alecia.” Bang Yudha mengangguk sekali. “Oke.”

Dia pergi.

Dan aku berdiri di lorong itu selama beberapa detik dengan perasaan hangat yang tidak beralasan, seperti anak kecil yang barusan menunjukkan gambarnya kepada orang dewasa yang tepat.


Nadia menahanku di depan aula sebelum aku sempat keluar.

“Mas Rayyan.”

“Iya, Nad.”

“Halaman sebelas.”

Aku berhenti.

“Kamu tahu?”

“Aku yang ngetik laporannya,” katanya. “Aku yang nyusun lampirannya. Aku yang naruh alamat vendornya di dua tempat, karena itu yang tertulis di dua kuitansi yang aku terima.”

“Terus kenapa kamu nggak—“

“Aku udah lapor, Mas.” Suaranya tetap ramah. Suaranya selalu tetap ramah, dan itu yang membuat kalimat berikutnya terasa seperti dipukul. “Bulan Januari. Ke Mas. Di rapat evaluasi. Aku bilang ada dua alamat, terus Mas bilang ‘nanti dicek’, terus rapatnya lanjut ke agenda berikutnya.”

Aku berdiri di depan pintu aula dengan map di tangan.

“Aku nggak inget,” kataku.

“Aku tahu Mas nggak inget.” Dia menyampirkan tasnya. “Itu bukan hal yang penting waktu itu. Nggak apa-apa.”

“Nad—“

“Notulennya ada di arsip, Mas. Halaman empat, poin enam.” Dia tersenyum, dan pergi. “Kalau Mas mau cek.”

Malamnya kami bertemu di Warung Bu Tin.

“Tiga ratus dua puluh,” katanya, sambil menusuk nasi gorengnya. “Kamu ngitung.”

“Aku lewat depan sekretariat kalian tiap hari.”

“Kamu ngitung tumpukan koran dari luar jendela.”

“Iya.”

“Van, itu psikopat.”

“Kamu nyari halaman sebelas sampai ke lampiran.”

“Itu kerjaan.”

“Itu juga psikopat.”

Dia menendang kakiku di bawah meja. Aku menendang balik. Bu Tin melirik dan tidak berkomentar, karena Bu Tin sudah lama berhenti berkomentar.

“Aku hampir ketawa,” katanya.

“Aku ketawa.”

“Aku tahu. Setengah detik.” Dia mengangkat sendoknya ke arahku. “Kamu harus latihan itu.”

“Nggak ada yang lihat.”

“Ada.”

“Siapa?”

“Nadia.”

Aku meletakkan gelasku.

“Kamu lihat dia?”

“Aku selalu lihat dia.” Dia mengangkat bahu. “Dia satu-satunya orang di ruangan itu yang nggak pernah nonton pertengkaran. Dia nonton kita.”


“Van.”

“Hm.”

“Halaman sebelas itu.”

“Iya.”

“Aku nggak nanya buat mempermalukan kamu.” Dia menusuk nasi gorengnya lagi. “Aku nanya karena aku baca sampai lampiran dan aku nggak ngerti.”

“Aku tahu.”

“Kalau kamu bisa jelasin sekarang, jelasin sekarang. Aku nggak akan tulis.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak bisa jelasin sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak tahu,” kataku. “Dan itu jawaban yang paling jujur yang bisa aku kasih, dan itu juga jawaban paling jelek yang bisa dikasih Ketua BEM.”

Dia meletakkan sendoknya.

“Van, kamu tahu ini bakal jadi masalah, kan.”

“Aku tahu.”

“Buat kamu, maksudku. Bukan buat aku.”

“Aku tahu.”

Dan kami duduk di Warung Bu Tin sampai jam sepuluh tanpa membicarakannya lagi, dan aku ingin sekali bisa kembali ke meja itu dan memaksa diriku sendiri melanjutkan percakapan itu selama sepuluh menit lagi.

Sepuluh menit lagi mungkin cukup.


Kami pulang terpisah, seperti biasa, dengan selisih enam menit, lewat rute yang berbeda dari rute Minggu lalu.

Dan jam sebelas malam, sudah di kos, dia mengirim pesan.

van

Iya.

bang yudha itu siapa

Aku membaca dua kata itu — bang yudha — dan aku merasakan sesuatu yang sangat kecil dan sangat tidak enak di belakang tengkuk, dan aku mengabaikannya sepenuhnya, karena tidak ada satu pun alasan di dunia ini untuk tidak mengabaikannya.

Alumni. Yang jemput aku di terminal waktu pertama kali ke Jogja. Dia yang ngajarin aku baca RAB. Kenapa?

Jeda cukup lama.

nggak papa jawabannya bagus banget tadi

Iya. Dia emang gitu.

terlalu bagus

Maksudnya?

Jeda lebih lama lagi.

nggak aku kecapekan lupain aja

Oke. Tidur.

oke van

Iya.

halaman sebelas tetep aku tagih ya

Aku tahu.

tujuh hari kerja

Aku tahu.

Dan aku menaruh ponselku, dan aku tidur delapan jam penuh malam itu, yang merupakan malam terakhir aku tidur delapan jam penuh selama enam bulan berikutnya.