Chapter Twenty Six
Obat Maag dari Farmasi
Aku tahu dia punya maag sejak bulan Maret, dan aku tahu bukan karena dia bilang.
Aku tahu karena orang yang punya maag punya kebiasaan yang tidak bisa disembunyikan.
Dia selalu makan sebelum jam satu, bahkan kalau sedang tidak lapar. Dia tidak pernah minum kopi dalam keadaan perut kosong — dia selalu makan roti dulu, satu, selalu satu, selalu sebelum menyeduh. Kalau rapat molor lewat jam dua, dia mulai duduk dengan cara yang aneh: sedikit membungkuk, dengan siku kiri menempel ke perut, dan dia tidak menyadarinya sama sekali.
Dan sekali, di bulan April, di Warung Bu Tin, aku melihatnya menelan sesuatu dari saku kemejanya sambil pura-pura minum es teh.
Aku tidak bertanya.
Aku menghitung.
Sembilan bulan aku mengenal orang itu, dan tidak satu kali pun dia menyebutkan kata sakit, tidak enak badan, atau capek. Sekali pun tidak.
Jadi di bulan Mei, tanggal dua puluh delapan, aku melakukan sesuatu yang harus kupikirkan selama sepuluh hari sebelum berani melakukannya.
Aku mengirim pesan kepada Nadia.
Nomornya ada di daftar narasumber Poros sejak bulan November — sekretaris BEM Fakultas Teknik, kontak resmi, dipakai untuk konfirmasi tiga kali.
Aku mengetik empat versi.
Versi satu: Nad, boleh nanya soal obat lambung? Terlalu langsung. Dia akan tahu untuk siapa dalam dua detik.
Versi dua: Nad, aku lagi nyusun tulisan soal kesehatan mahasiswa tingkat akhir. Bohong. Dan bohong kepada Nadia adalah pekerjaan yang sudah dia lakukan untuk kami selama enam bulan, dan aku tidak sanggup mengembalikan itu kepadanya dalam bentuk apa pun.
Versi tiga: Nad, bisa ketemu? Terlalu berat. Terdengar seperti akan ada pengumuman.
Yang kukirim, versi empat:
Nad. Aku mau nanya sesuatu yang nggak enak. Boleh nolak.
Balasannya datang dalam empat menit.
Boleh, Mbak. Besok di kantin Farmasi jam 2? Lagi sepi.
Kantin Farmasi hari Kamis jam dua siang berisi lima orang dan satu kucing.
Nadia sudah duduk waktu aku datang. Di depannya ada dua gelas es jeruk.
“Aku pesenin,” katanya. “Nggak tahu Mbak suka apa. Semua orang suka es jeruk.”
“Makasih.”
Aku duduk.
Dan selama mungkin sepuluh detik penuh, tidak ada satu pun dari kami yang tahu harus mulai dari mana.
“Aku duluan aja ya,” kata Nadia akhirnya. “Biar nggak lama.”
“Oke.”
“Aku pernah suka sama Mas Rayyan. Empat semester. Aku udah bilang ke orangnya bulan Januari, dan dia jujur, dan itu selesai.” Dia mengaduk es jeruknya sekali. “Aku ngomong duluan biar Mbak nggak usah mikirin cara nanyanya.”
Aku memegang gelasku dan tidak minum.
“Nadia—“
“Aku nggak lagi sedih,” katanya. “Maksudku, aku sedih bulan Januari sampai Februari. Sekarang enggak. Tapi kalau Mbak nunggu aku ngomong ‘aku nggak apa-apa kok’ terus kita ketawa, itu nggak akan kejadian, karena aku nggak mau bohong lagi tahun ini.”
Aku meletakkan gelasku.
“Oke,” kataku. “Terima kasih.”
“Terima kasih buat apa?”
“Buat nggak bohong.”
Dia menatapku sebentar. Lalu dia tersenyum, dan senyumnya kali ini sampai ke matanya, dan itu pertama kalinya aku melihat perbedaannya.
“Jadi,” katanya, “obat apa?”
Aku menarik napas.
“Lambung.”
“Buat siapa?”
“Nad.”
“Aku harus tanya. Beneran.” Dia mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya, seperti orang yang sedang bekerja. “Kalau buat Mbak, obatnya beda. Kalau buat orang yang udah minum sesuatu selama bertahun-tahun, beda lagi. Aku nggak bisa nebak.”
“Buat dia.”
Nadia mengangguk sekali dan menulis sesuatu.
“Sejak semester lima,” katanya.
Aku mengangkat kepala.
“Nad—“
“Aku Sekretaris BEM, Mbak. Aku yang pesenin konsumsi rapat selama empat semester.” Dia tidak berhenti menulis. “Aku tahu siapa yang nggak makan siang, siapa yang alergi, siapa yang nggak bisa telat makan. Itu bukan intip-intip. Itu kerjaan.”
“Dia minum apa?”
“Antasida. Yang tablet kunyah, merek warna putih-biru. Beli di apotek depan, kadang di Indomaret.” Nadia meletakkan pulpennya. “Dan itu masalahnya.”
“Kenapa?”
“Karena antasida itu buat sekarang. Dia netralin asam yang udah ada, terus habis. Dia nggak nyembuhin apa-apa.” Dia menyodorkan buku catatannya. “Kalau orang minum antasida terus-terusan selama dua tahun, artinya dia nggak pernah ke dokter. Artinya dia nggak tahu itu maag biasa atau bukan. Artinya dia cuma matiin alarmnya.”
Aku membaca tulisan tangannya, yang rapi sekali, dengan huruf kecil-kecil.
“Dan kalau nanti sakitnya makin sering,” lanjut Nadia, “dia nggak akan nyadar, karena obatnya masih bekerja. Dia cuma nambah dosisnya.”
Aku duduk di kantin Farmasi hari Kamis jam dua siang dan merasa mual tanpa alasan medis apa pun.
Dia cuma matiin alarmnya.
“Nad.”
“Iya.”
“Kalau dosisnya nambah, kelihatan nggak dari luar?”
“Nggak.”
“Sama sekali?”
“Sama sekali.” Dia mengangkat bahu. “Yang kelihatan cuma kalau orangnya cerita. Atau kalau ada yang ngitungin berapa banyak strip yang dia beli.”
Kami sama-sama diam.
“Aku bisa ngitungin,” kata Nadia.
Aku menoleh.
“Aku beli obat di apotek yang sama sama dia. Depan gerbang selatan. Mas apotekernya kenal aku karena aku anak Farmasi, dan dia suka ngeluh soal mahasiswa yang beli antasida kayak beli permen.” Dia memutar gelasnya. “Kalau ada yang beli lebih sering, aku bakal denger. Bukan sengaja nyari. Cuma denger.”
“Nadia.”
“Aku nggak nawarin buat jadi mata-mata, Mbak.”
“Aku tahu.”
“Aku cuma—“ Dia berhenti, dan untuk pertama kalinya sore itu, kalimatnya tidak keluar rapi. “Aku cuma nggak mau ada yang kenapa-kenapa terus semua orang bilang ‘kok nggak ada yang tahu’. Padahal ada yang tahu. Cuma nggak ada yang ngitung.”
“Nad, satu lagi.”
“Iya.”
“Kalau orang sengaja nahan panik — beneran nahan, terus-terusan — badannya kenapa?”
Nadia meletakkan gelasnya.
Dan aku menyadari, terlambat, bahwa aku baru saja mengajukan pertanyaan yang tidak ada satu pun alasan wajar untuk kuajukan.
“Kenapa Mbak nanya itu?”
“Penasaran.”
“Mbak Grace.”
“Aku beneran cuma penasaran.”
Dia menatapku beberapa detik, lalu memutuskan — dan aku bisa melihat dia memutuskan — untuk menerima jawaban itu.
“Sistem saraf simpatis,” katanya. “Kalau dipaksa nyala terus, yang kena duluan biasanya lambung. Terus tidur. Terus tangan.” Dia menirukan gerakan gemetar dengan jari. “Yang halus dulu. Yang kelihatan belakangan.”
“Berapa lama sampai kelihatan?”
“Tergantung orangnya. Kalau orangnya kuat, malah lebih lama.”
“Itu bagus?”
“Itu paling jelek.” Dia menghabiskan es jeruknya. “Yang lemah cepat ketahuan terus cepat ditolong. Yang kuat baru ketahuan waktu udah nggak bisa jalan.”
Aku menulis kalimat itu di buku catatanku, dan aku menggarisbawahinya, dan aku tidak tahu kenapa.
Yang terjadi berikutnya membuatku tidak bisa tidur malam itu, dan aku masih memikirkannya sampai sekarang.
Nadia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Bukan obat. Selembar kertas resep kosong yang sudah dia isi dengan tulisan tangan: nama tiga jenis obat, dosis, waktu minum, dan di bawahnya empat baris tentang makanan yang harus dihindari.
Kertas itu sudah ditulis sebelum aku datang.
“Kamu udah nyiapin,” kataku.
“Iya.”
“Dari kapan?”
“Dari Mbak kirim pesan kemarin.” Dia mendorong kertas itu ke arahku. “Aku tahu Mbak mau nanya apa. Nggak ada hal lain yang bikin Mbak Grace mau ketemu aku.”
Aku memegang kertas itu di kantin Farmasi dan aku tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik.
“Nad.”
“Hm.”
“Kamu nggak marah sama aku?”
Dia menatapku.
“Marah kenapa?”
“Karena—“ Aku mengangkat tangan sedikit. “Karena semuanya.”
Dan Nadia Ayu Prameswari, anak Farmasi, Sekretaris BEM Fakultas Teknik, dua puluh satu tahun, meletakkan es jeruknya dan menjawab dengan sesuatu yang sudah jelas dia pikirkan berminggu-minggu:
“Aku marah bulan Februari. Sebentar.”
“Kenapa?”
“Karena aku empat semester nunggu, terus Mbak dateng tiga bulan terus jadi.” Dia mengangkat bahu. “Itu wajar. Aku manusia.”
“Iya.”
“Terus aku mikir.” Dia menyandarkan punggung. “Aku empat semester nunggu, Mbak. Nunggu. Nggak ngapa-ngapain. Aku ngitungin dia makan siang jam berapa, aku hafal nomor sepatunya, aku tahu dia nggak bisa tidur kalau ada rapat besoknya. Empat semester. Dan aku nggak pernah sekali pun bilang apa-apa.”
Kucing kantin itu lewat di bawah meja kami.
“Mbak nulis tiga puluh empat tulisan yang bikin dia kesel.” Nadia tersenyum, dan senyumnya agak miring. “Itu lebih berani daripada semua yang aku lakuin selama empat semester.”
“Itu bukan—“
“Aku tahu itu bukan cinta, Mbak. Aku tahu Mbak nggak lagi ngerayu dia lewat kolom anggaran.” Dia tertawa, satu kali. “Tapi Mbak berani ada di depan dia. Aku nggak pernah. Aku selalu di samping.”
Dia mengambil tasnya.
“Aku sekarang lagi belajar berdiri di depan orang,” katanya. “Bukan buat dia. Buat aku.”
Dia berdiri.
“Nad.”
“Iya?”
Dan aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan, yang tidak ada di daftar mana pun, yang kalau dipikir ulang jelas-jelas melanggar setiap protokol yang kususun bersama seseorang sejak bulan Februari.
“Kalau kamu butuh apa-apa,” kataku, “sama Poros. Ruang, arsip, orang. Apa aja.”
Dia berhenti.
“Kenapa?”
“Karena kamu bilang kamu lagi belajar berdiri di depan orang.” Aku melipat kertas resep itu. “Dan tempat aku isinya orang yang kerjaannya berdiri di depan orang.”
Nadia menatapku cukup lama.
“Oke,” katanya.
Lalu dia pergi.
Dan tujuh bulan kemudian, dia betul-betul datang, membawa amplop cokelat, ke ruangan yang sama yang kutawarkan sore itu di kantin Farmasi, pada hari Kamis di bulan Mei, waktu tidak ada satu pun dari kami yang tahu apa yang akan terjadi.
Aku duduk di kantin Farmasi sendirian selama dua puluh menit setelah dia pergi.
Dan aku menulis dua hal di buku catatanku.
Yang pertama: daftar apotek di sekitar kampus. Enam.
Yang kedua, di halaman berikutnya, dengan tulisan yang lebih kecil:
Aku baru saja meminta orang lain mengawasi orang yang aku sayang, tanpa memberitahu orangnya.
Aku menatap kalimat itu.
Lalu aku menulis di bawahnya:
Ini persis yang aku benci dari orang-orang yang aku tulis selama tiga tahun.
Dan aku menyobek halaman itu, dan aku melipatnya, dan aku memasukkannya ke dompetku, karena aku tidak bisa membuangnya dan aku tidak bisa membiarkannya di buku catatan yang dibaca orang lain.
Kertas itu masih di dompetku sampai bulan Desember.
Aku memberikan kertas resep itu hari Kamis malam.
Aku meletakkannya di lantai, di sudut, di samping gelas kopinya, tanpa berkata apa-apa.
Dia mengambilnya. Dia membacanya. Dua kali.
“Ini tulisan tangan Nadia,” katanya.
“Iya.”
Dia melipat kertas itu jadi dua.
“Kamu ketemu dia?”
“Iya.”
“Ace—“
“Aku nggak nanya kamu kenapa,” kataku, cepat, karena aku sudah menyiapkan kalimat ini selama tiga hari. “Aku nggak nanya sejak kapan. Aku nggak nanya sakitnya gimana. Aku cuma naruh kertas.”
Dia memegang lipatan kertas itu.
“Kenapa nggak nanya?”
“Karena kalau aku nanya, kamu bakal jawab yang enak.”
Dan dia tidak membantah.
Itu bagian yang paling kuingat dari seluruh malam itu, dan aku memikirkannya berkali-kali sepanjang bulan Desember: dia tidak membantah sama sekali.
Dia cuma memasukkan kertas itu ke saku kemejanya, dan mengambil gelas kopinya, dan berkata:
“Kurang gula.”
“Aku udah nambahin dua.”
“Aku tahu.”
Dan kami tidak membicarakannya lagi.
Kertas resep itu masih ada di saku kemejanya bulan Desember, terlipat dua, sudah lunak seperti kain.
Aku tahu, karena aku yang mengeluarkannya.
Tapi itu nanti.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi reading
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau