Chapter Thirty Six
Gelas yang Dingin
Kamis, tanggal empat Desember.
Aku menjerang air jam sepuluh lewat sepuluh, seperti empat belas bulan terakhir.
Aku menyeduh dua gelas kopi sachet jam sepuluh lewat dua puluh, seperti empat belas bulan terakhir.
Aku meletakkan gelas kedua di lantai, di sudut, di atas tatakan, tiga sentimeter dari kaki lemari supaya tidak tersenggol.
Dan aku duduk di kasur.
Lubang anginnya dilakban empat sisi sejak bulan Juni. Tidak ada cicak di kamar itu sejak bulan Juni. Tidak akan pernah ada cicak lagi di kamar itu.
Aku sudah tahu tidak akan ada yang datang.
Aku tetap menyeduh dua.
Jam sebelas kurang, aku mengirim pesan.
van
Dibaca jam sebelas lewat empat.
Iya.
lagi apa
Berkas.
berkas apa
Legalisir ijazah. Buat lamaran.
jam 11 malem?
Iya.
Aku menatap layar itu.
Empat belas bulan aku mengenal orang itu. Dia tidur jam sebelas. Setiap malam. Sejak semester satu. Dia bangun jam lima. Dia pernah berkata kepadaku, di kamar ini, di lantai itu, bahwa dia manusia paling membosankan yang pernah kutemui, dan dia mengucapkannya tanpa membela diri sama sekali.
oke
Kamu udah makan?
udah
Ya udah tidur. Aku juga.
oke
Selamat malam, Ace.
Aku meletakkan ponselku menghadap ke bawah di kasur.
Dan aku duduk di kamar itu dengan dua gelas kopi selama satu jam tiga belas menit.
Aku ingin mencatat apa yang sebenarnya terjadi malam itu, karena orang selalu mengira ini bagian yang dramatis dan sebenarnya bagian ini justru sangat kecil.
Aku tidak menangis. Aku tidak berteriak. Aku tidak melempar apa pun.
Aku duduk di kasur, dan sekitar jam dua belas kurang, aku mengucapkan satu kata dengan suara keras di kamar kosong.
“Van.”
Kipas angin berputar.
Aku mengucapkannya lagi.
“Van.”
Tidak ada apa-apa.
Tentu saja tidak ada apa-apa. Aku tahu persis kenapa tidak ada apa-apa, dan aku sudah tahu sejak awal, dan pengetahuan itu tidak membantu sama sekali.
Karena kutukan itu tidak pernah menjawab panggilan.
Empat belas bulan dan aku baru mengerti malam itu: benda itu tidak pernah sekali pun menjawab keinginan. Tidak pernah menjawab rindu. Tidak pernah menjawab nama yang diucapkan keras-keras di kamar kosong.
Benda itu cuma menjawab satu hal.
Takut.
Dan aku sedang tidak takut. Aku sedang sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih lambat dan tidak punya nama yang bisa dipakai, dan tidak ada satu pun gelang tembaga di dunia ini yang peduli.
Aku menaruh gelas kedua di rak, di sebelah tiga botol sambal yang tidak pernah dibuka.
Aku tidak membuangnya.
Aku menaruhnya di rak dan aku tidak mencucinya, dan besok paginya kopi itu sudah dingin dan permukaannya berselaput, dan aku membiarkannya di sana selama sembilan hari.
Dimas menelepon hari Senin, tanggal delapan Desember, jam empat sore.
Dimas tidak pernah menelepon siapa pun. Dimas mengirim pesan suara berdurasi empat menit yang isinya tiga menit ketawa.
Aku mengangkat di dering pertama.
“Mbak.”
“Dim.”
“Mbak lagi di mana?”
“Kos.”
“Aku ke situ ya.”
Dan dia menutup teleponnya sebelum aku sempat menjawab, yang juga bukan hal yang pernah dilakukan Dimas Saputra kepada siapa pun.
Dia sampai empat puluh menit kemudian dan duduk di lantai kamarku — di sudut, di tempat itu, dan aku hampir memintanya pindah dan aku menahan diri — dan dia tidak bicara selama sekitar satu menit penuh.
“Mbak, aku mau ngomong sesuatu, dan habis ini aku bakal dimarahin seumur hidup.”
“Dim.”
“Aku ke kosnya hari Sabtu. Yang di Pogung.” Dia menggosok lututnya. “Aku belum pernah ke situ, Mbak. Dua bulan dia pindah, aku belum pernah diajak.”
Aku menunggu.
“Kamarnya lantai bawah. Deket selokan.” Dimas mengangkat kepala. “Mbak, dia takut kecoak.”
“Aku tahu.”
“Mbak tahu?”
“Aku tahu, Dim.”
“Aku baru tahu Sabtu.” Suaranya goyah. “Dua tahun sekamar, Mbak. Dua tahun. Aku baru tahu hari Sabtu, waktu aku lihat lakban di lubang angin sama kapur barus di sembilan titik dan aku nanya ‘ini apaan’ terus dia bilang ‘nggak apa-apa’.”
Aku menutup mata.
“Terus?”
“Terus aku duduk di situ satu jam.” Dimas menarik napas. “Mbak, ada tiga kaleng susu beruang kosong di bawah meja. Ada strip obat lambung — aku ngitung, Mbak, aku ngitungin bungkusnya di tempat sampah, ada sembilan strip kosong. Sembilan. Aku nggak tahu itu banyak apa nggak, tapi—“
“Itu banyak.”
“—tapi aku tahu itu banyak buat orang yang dua tahun sekamar sama aku dan nggak pernah minum obat apa-apa.”
Kipas angin berputar.
“Dia nggak tidur, Mbak.”
“Dim.”
“Aku sms dia jam dua pagi hari Minggu, iseng, buat ngetes. Dibales dua menit.” Dimas mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Aku sms lagi jam tiga. Dibales. Jam empat aku sms lagi, dibales, terus dia bilang ‘kenapa kamu belum tidur’.”
Aku duduk di kasur dan tidak bisa merasakan tanganku sendiri.
“Dan Mbak,” katanya, “tangannya.”
“Aku tahu.”
“Mbak tahu?”
“Aku nggak tahu,” kataku. “Aku nebak. Dari empat minggu lalu.”
“Kenapa nggak nanya?”
Dan aku duduk di kamar kos Melati Dua pada sore hari tanggal delapan Desember dan aku menjawab dengan satu-satunya kalimat jujur yang tersedia:
“Karena kalau aku nanya, dia bakal jawab yang enak.”
“Dim.”
“Iya, Mbak.”
“Kenapa kamu cerita?”
Dan Dimas Saputra, yang sudah dua tahun menutupi skripsinya yang mandek dengan tertawa lebih keras dari siapa pun di ruangan mana pun, duduk di lantai kamarku dan menjawab dengan kalimat yang membuatku menyadari bahwa orang itu sudah lama tidak sama dengan orang yang berdiri di ambang pintu bulan Maret sambil bilang “oh, halo, Mbak”.
“Karena dia yang dulu nggak nyuruh aku ngapa-ngapain,” katanya. “Waktu skripsiku mandek. Dia bikin daftar dulu, terus dia buang daftarnya, terus dia cuma beliin nasi padang terus duduk.”
Dia menggosok matanya dengan pergelangan tangan.
“Aku nggak bisa bikin daftar, Mbak. Aku nggak pinter. Aku cuma bisa lapor ke orang yang bisa.”
Aku duduk di kasur dan tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik.
“Dim.”
“Hm.”
“Bab berapa sekarang?”
“Empat.” Telinganya merah. “Jangan diungkit.”
“Aku nggak ngungkit.”
“Mbak barusan ngungkit.”
Aku ke Pogung malam itu juga.
Aku tidak mengabari. Aku tidak menelepon dulu. Aku naik ojek daring dan aku berdiri di depan kamar itu jam delapan lewat dan aku mengetuk tiga kali.
Dia membuka pintu.
Dan hal pertama yang kulihat bukan wajahnya.
Hal pertama yang kulihat adalah bahwa dia memindahkan tangan kanannya ke saku sekitar setengah detik sebelum pintu terbuka penuh.
Setengah detik.
Dia sudah melatihnya.
“Ace.”
“Boleh masuk?”
Dia berdiri di ambang pintu, dan aku melihat dia menghitung — aku bisa melihat orang itu menghitung dari jarak lima meter, aku sudah empat belas bulan melihatnya menghitung — dan aku melihat momen persis ketika dia menyadari bahwa tidak ada satu pun hasil hitungan yang bisa mencegah ini.
Dia mundur selangkah.
Kamar itu berukuran tiga kali tiga.
Lampu tidur menyala menghadap dinding. Lakban di lubang angin, dua lapis, empat sisi. Kapur barus. Kolong kasur bersih sekali, bersih dengan cara yang tidak wajar, bersih seperti tempat yang dipel setiap hari oleh orang yang tidak bisa tidur.
Dan di sudut ruangan, di lantai, ada satu gelas.
Satu.
Aku berdiri di tengah kamar itu dan melihat satu gelas kopi di lantai dan aku merasakan sesuatu di dadaku patah dengan bunyi yang bisa kudengar sendiri.
“Van, kamu bikin kopi.”
“Aku minum kopi.”
“Kamu bikin kopi hari Kamis.”
Dia tidak menjawab.
“Van.”
“Ace, jangan.”
“Kamu bikin kopi hari Kamis jam tujuh malam, sendirian, di kos yang aku nggak pernah dikasih alamatnya.”
“Aku nggak—“
“KAMU BIKIN SATU.”
Dan suaraku pecah di kata terakhir, dan aku berdiri di tengah kamar kos berukuran tiga kali tiga di Pogung dengan dua tangan mengepal di sisi badan.
“Itu lebih parah dari semuanya,” kataku. “Kamu tahu nggak? Dari semuanya. Dari obat, dari nggak tidur, dari tangan kamu. Kamu bikin kopi hari Kamis dan kamu bikin satu.”
Yang dia katakan berikutnya adalah kalimat yang sudah kutunggu selama delapan minggu, dan yang sudah dia siapkan selama delapan minggu juga, dan aku tahu itu karena keluarnya terlalu rapi.
“Aku nggak bisa panik,” katanya. “Kalau aku panik, kamu muncul di sini.”
“Aku tahu.”
“Ada yang nanya alamat kos ini, Ace. Dua kali. Bulan Oktober.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
“Aku nggak tahu detailnya. Aku tahu bentuknya.” Aku menunjuk lakban di lubang angin. “Aku wartawan, Van. Aku baca ruangan.”
Dia berdiri di sana dengan tangan kanan di saku.
“Terus kamu ngerti,” katanya.
“Aku ngerti.”
“Ya udah.”
“Aku ngerti dan aku tetep marah.”
“Ace—“
“Kamu pikir aku marah karena kamu ngelindungin aku?” Aku maju selangkah dan dia mundur setengah dan itu — bukan lakbannya, bukan strip obatnya, bukan satu gelas kopinya — itu yang paling menghancurkan sepanjang malam itu.
“Aku nggak marah karena kamu lindungi,” kataku. “Aku marah karena kamu tinggal.”
Aku akan menuliskan sisanya secepat mungkin, karena aku sudah beberapa kali mencoba dan aku selalu berhenti di tengah.
“Delapan minggu, Van. Kamis nggak dateng. Telepon dijawab dua kata. Aku tanya kabar, kamu bilang sehat.”
“Aku emang—“
“Kamu tahu bapakku meninggal gimana?”
Dan dia berhenti.
Seluruh tubuhnya berhenti.
“Tiga minggu,” kataku. “Tiga minggu dia bilang dadanya sakit terus tiap ditanya dia bilang masuk angin. Tiap hari ibuku nanya. Tiap hari dia jawab yang enak. Karena ibuku lagi ujian sertifikasi dan dia nggak mau ibuku mikirin yang lain.”
Kamar itu sangat sunyi.
“Ibuku cerita itu ke kamu di dapur, bulan Mei,” kataku. “Aku denger dari kamar mandi. Aku denger semuanya, Van. Aku berdiri di balik pintu sampai selesai.”
Dan aku melihat wajahnya, dan aku melihat sesuatu di dalamnya runtuh, dan aku tetap melanjutkan karena aku sudah tidak bisa berhenti.
“Ibuku bilang apa ke kamu?”
“Ace.”
“Ibuku bilang apa.”
“Dia bilang,” katanya, dan suaranya nyaris tidak ada, “anak Ibu nggak bisa dibohongin dua kali.”
“Terus kamu ngapain?”
Dia tidak menjawab.
“Van. Terus kamu ngapain.”
“Aku—“
Dan aku melihat orang itu berdiri di tengah kamar kos tiga kali tiga di Pogung dan mencoba menyusun kalimat, dan gagal, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.
“Aku mikirin itu di kereta,” katanya akhirnya.
“Terus?”
“Terus aku ambil kesimpulan.”
“Kesimpulan apa.”
“Yang salah,” katanya.
“Ace,” katanya. “Boleh aku tanya satu hal?”
“Tanya.”
“Kalau posisinya kebalik.” Dia bersandar ke dinding, dan aku melihat betapa dia butuh dinding itu. “Kalau yang ditanyain alamatnya kamu. Kalau ada dua orang nunggu di depan kos kamu dua kali. Kalau yang tahu nama jalan rumah ibu kamu itu mereka.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu bakal cerita ke aku?”
Kipas angin di kamar tiga kali tiga itu tidak ada. Yang ada cuma jendela kecil yang dibuka sepuluh sentimeter.
“Nggak,” kataku.
“Nah.”
“Tapi aku bakal salah.”
Dia mengangkat kepala.
“Van, aku bakal salah.” Suaraku sudah tidak keras lagi. “Itu bukan pembelaan buat kamu. Itu justru poinnya. Kita berdua bakal ngelakuin hal yang sama persis, dan dua-duanya salah, dan itu yang bikin aku takut setengah mati.”
“Terus gimana?”
“Aku nggak tahu.”
Dan itu jawaban paling jujur yang pernah kuberikan kepadanya, dan itu juga jawaban yang tidak menolong siapa pun, dan kami berdua tahu.
Aku pulang jam sepuluh.
Aku tidak menyentuhnya sekali pun malam itu. Dia tidak menyentuhku sekali pun.
Di ambang pintu aku berbalik, dan aku mengucapkan sesuatu yang tidak kurencanakan dan yang akan kubawa sampai mati:
“Van, aku nggak minta kamu berhenti ngelindungin aku.”
Dia mengangkat kepala.
“Aku minta kamu berhenti mikir bahwa ngelindungin itu artinya pergi.”
Dan aku pulang, dan dia tidak mengantarku ke jalan, dan aku tidak menonton lampu belakang apa pun malam itu karena tidak ada motor dan tidak ada siapa-siapa dan aku naik ojek daring sendirian lewat Jalan Kaliurang dengan mata terbuka sepanjang jalan.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin reading
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau