Chapter Fifteen

Mati Lampu

Aku ulang tahun tanggal enam Februari, dan aku tidak pernah memberi tahu siapa pun kecuali dua orang.

Ibuku tahu karena beliau yang melahirkanku. Sasa tahu karena dia pernah melihat KTP-ku waktu kami mengurus kos.

Selain itu, tidak ada di media sosial mana pun. Tidak ada di berkas organisasi. Kolom tanggal lahir di formulir keanggotaan Poros aku isi dengan tanggal yang salah, sengaja, semester dua, dan tidak pernah kuperbaiki.

Alasannya sederhana dan tidak dramatis: ayahku meninggal tanggal delapan Februari.

Dua hari.

Selama sembilan tahun, dua hari itu berdiri bersebelahan di kalender seperti dua orang yang tidak saling kenal tapi terpaksa satu lift, dan aku sudah lama berhenti mencoba memisahkan mereka.

Jadi aku tidak merayakan. Aku bekerja.


Tanggal enam Februari jatuh di hari Kamis.

Aku menyadarinya dua minggu sebelumnya, waktu mengecek kalender untuk keperluan lain — jadwal cetak, aku bersumpah jadwal cetak — dan aku menutup aplikasi itu terlalu cepat.

Hari itu hujan sejak sore. Bukan hujan Desember yang tidak berhenti-berhenti. Hujan Februari yang marah, yang datang jam lima dan menghantam atap seng garasi kos sampai tidak ada yang bisa mendengar apa pun.

Ibuku menelepon jam tujuh.

Kami bicara dua puluh dua menit. Beliau menceritakan tetangga yang anaknya menikah, harga cabai, dan atap dapur yang bocor di sudut yang sama seperti tahun lalu. Aku menceritakan skripsi, dan aku bilang semuanya lancar, yang setengah benar.

Di menit kedua puluh, beliau bilang, “Wis gedhe, ya.”

“Iya, Bu.”

“Bapakmu mesti seneng.”

Kami sama-sama diam kira-kira empat detik, yang di dalam sambungan telepon terasa seperti empat menit.

Lalu beliau bilang jangan lupa makan, dan aku bilang iya, dan sambungannya ditutup.

Aku duduk di kasur memegang ponsel yang layarnya sudah mati.


Sesudah telepon itu ditutup, aku duduk cukup lama.

Kamar Sasa kosong — dia pulang Kamis sore seperti biasa. Kos sepi. Hujan menghantam seng.

Dan aku melakukan hal yang sudah kulakukan setiap tanggal enam Februari selama sembilan tahun: aku membuka folder di ponselku yang isinya sebelas foto, dan aku menatap yang keempat, yang diambil di halaman belakang rumah di Klaten dengan sebelas ekor ayam yang namanya nama hari.

Aku tidak menangis. Aku tidak pernah menangis di tanggal enam. Tanggal enam itu tanggal lahirku, dan aku sudah lama memutuskan bahwa aku tidak akan menyerahkan tanggal lahirku kepada tanggal delapan.

Aku cuma menatapnya selama sekitar dua belas menit.

Lalu aku menutup folder itu dan berdiri untuk menjerang air, karena ini hari Kamis, dan pada hari Kamis aku menjerang air.

Airnya belum sempat mendidih.


Listrik padam jam delapan lewat.

Se-blok. Bukan cuma kos. Aku tahu karena lampu jalan di seberang ikut mati, dan seluruh Karangmalang tiba-tiba jadi sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya: gelap sungguhan, dengan hujan.

Aku menyalakan senter ponsel. Sembilan belas persen.

Aku matikan lagi.

Dan di dalam gelap itu, dalam suara hujan yang menghantam seng, aku mencium bau.

Plastik terbakar.

Aku ingin sekali menulis bahwa aku memeriksa dulu. Bahwa aku bersikap rasional. Bahwa aku ingat kabel di kamarku sudah diganti bulan November, bahwa bau itu jelas datang dari luar, dari genset tetangga, dari mana pun.

Yang terjadi: tubuhku sudah tahu duluan, dan tubuhku ingat malam bulan September lebih baik daripada aku.

Napasku pindah ke leher dalam waktu kira-kira dua detik.

Dan ruang di depan lemari terisi.


Dia basah kuyup.

Bukan sedikit basah. Rambutnya menempel ke dahi, kausnya menempel ke bahu, dan air menetes dari ujung lengannya ke lantai kamarku dalam pola yang bisa didengar di antara suara hujan.

Di tangan kanannya ada payung.

Terlipat. Belum dibuka. Masih ada tali pengikatnya.

“Kamu—“ kataku, di antara napas yang salah, “kamu bawa payung tapi nggak dibuka?”

“Aku baru mau buka.”

“Kamu—“

“Grace. Bau apa?”

“Aku nggak tahu. Kabel. Kayak yang dulu.”

Dia meletakkan payung itu. Dia menyalakan senter ponselnya sendiri dan berjalan mengelilingi kamarku — stopkontak, MCB, kolong meja, belakang lemari, kabel setrika yang sudah tidak ada karena setrikanya sudah lama kubuang.

Empat puluh detik.

“Nggak ada,” katanya. “Ini dari luar. Genset. Ada yang nyalain genset di gang sebelah, aku denger tadi waktu jalan.”

“Kamu yakin?”

“Aku yakin.”

“Kamu—“

“Alecia.” Dia jongkok di depan kasur, seperti dulu, seperti di halaman posko di Sumberwangi jam dua pagi. “Nggak ada api. Aku udah cek semuanya. Napas.”

Empat. Tahan tujuh. Buang delapan.

Kami mengulanginya lima kali.

Dan di hitungan kelima, bahuku turun, dan tanganku berhenti dingin, dan bau plastik itu berubah kembali menjadi apa yang memang selalu ada: bau genset tetangga yang jauh.

Kami sama-sama menunggu.

Tidak ada yang memanas.


“Aneh,” katanya.

“Aku udah tenang.”

“Aku tahu.” Dia melihat ke arah lacinya, lalu ke arahku. “Aku bisa lihat kamu tenang. Napas kamu udah normal dari dua menit lalu.”

“Terus kenapa nggak—“

“Aku nggak tahu.”

Dia berdiri. Dia berjalan ke jendela, membukanya sedikit supaya baunya keluar, lalu menutupnya lagi karena hujannya masuk. Dia berdiri di sana dengan tangan di kusen, punggung menghadapku, basah kuyup, di kamar yang gelap.

Dan aku duduk di kasur dan aku merasakan jantungku.

Yang tidak turun.

Yang belum turun sejak tadi. Yang mungkin bahkan naik lagi.

Yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bau apa pun.

Aku sudah tahu. Aku sudah tahu sejak tanggal tiga puluh Januari, sejak dua gelas kopi, sejak aku menuang air panas untuk orang yang belum ada. Aku sudah tahu dan aku sudah menyusun tiga penjelasan alternatif dan aku sudah mencoret ketiganya sendiri, satu per satu, seperti orang lain yang kukenal.

Dan sekarang aku duduk di ruangan gelap dengan alat ukur di dalam laci yang tidak bisa dibohongi, tidak bisa dijadwalkan, tidak bisa dipalsukan, tidak bisa dibujuk.

Alat ukur yang cuma tahu satu hal: apakah jantungku tenang atau tidak.

Dan dia — orang yang menghitung segala sesuatu, yang membuat tabel, yang mencatat rata-rata, yang tahu persis berapa lama aku biasanya butuh untuk tenang — sedang berdiri membelakangiku di depan jendela dan tidak berbalik.

Karena dia sudah menghitungnya juga.

Dia sudah menghitungnya lebih dulu.


“Van.”

Dia berbalik.

Aku tidak berencana. Aku bersumpah aku tidak berencana. Nama itu keluar dari tempat yang tidak pernah kubuka, dari satu tanda tangan yang kubaca terbalik di Warung Bu Tin lima bulan lalu dan tidak pernah kusebut kepada siapa pun.

Wajahnya, di cahaya senter yang menghadap ke langit-langit, melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat.

“Kamu—“

“Aku baca tanda tangan kamu.” Suaraku tidak stabil. “Di perjanjian. Kamu nulis nama lengkap.”

“Nggak ada yang manggil aku begitu.”

“Aku tahu.”

“Ibuku aja.”

“Aku tahu.”

Dia berjalan dua langkah dan berhenti. Dan aku melihat sesuatu di dirinya yang membuat semuanya jauh lebih mudah, karena selama ini aku selalu mengira aku sendirian di dalam hal ini:

Tangannya gemetar.

Orang yang menghitung mundur untukku di halaman posko, di kamar kos penuh tujuh belas orang, di kursi plastik pelataran rektorat, di ruang sidang dari jarak sembilan meter — tangannya gemetar di kamarku, jam delapan lewat, dalam gelap.

“Aku nggak bisa pulang,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamu tahu kenapa.”

“Iya.”

“Bilang.”

“Kamu duluan.”

“Aku nggak bisa.” Dia menelan. “Aku belum pernah. Sekali pun. Aku nggak tahu urutannya.”

Dan itu — dari semua hal, dari semua kalimat yang mungkin ada di dunia — itu yang membuatku berdiri.


“Urutannya nggak ada,” kataku.

“Pasti ada.”

“Nggak ada, Van. Nggak pernah ada. Kamu pikir semua orang punya prosedurnya dan cuma kamu yang nggak dikasih.”

Dia tidak menjawab.

“Kamu nyusun tiga jawaban buat tiga pertanyaan,” kataku. “Kamu bikin tabel buat kutukan. Kamu bikin perjanjian pakai materai yang udah nggak berlaku. Kamu bahkan nyeduh kopi dua gelas.”

Dia mengangkat kepala di kata terakhir.

Dan aku menyadari, terlambat, apa yang baru saja kukatakan.

“Kamu tahu,” katanya.

“Aku tahu.”

“Sejak kapan.”

“Nadia.” Aku menelan. “Nadia nggak pernah cerita apa-apa ke aku. Dia cuma dua kali nanya hal yang aneh. Dan orang kayak Nadia nggak nanya hal aneh tanpa alasan.”

Hujan menghantam seng.

“Aku juga tahu soal kamu,” katanya. “Kamis.”

“Aku tahu kamu tahu.”

“Kamu ngecek kamar tiap sore.”

“Kamu nonton film yang sama tiap minggu.”

“Iya.”

“Kita ini bego banget ya.”

“Iya,” katanya.


Aku memeluknya lebih dulu.

Aku ingin mencatat itu untuk sejarah, karena dia akan membantahnya nanti, dan karena aku ingin ada satu hal dalam hidupku yang aku yang mulai.

Dia basah dan dingin dan kausnya menempel dan bahunya kaku selama mungkin dua detik penuh, seperti orang yang tidak tahu di mana harus menaruh tangannya.

Lalu tangannya turun ke punggungku.

Dan dia memeluk dengan cara yang persis seperti caranya melakukan segala hal: terlalu hati-hati, terlalu terukur, seperti orang yang takut merusak sesuatu kalau menekan terlalu keras.

“Terlalu pelan,” kataku, ke bahunya.

Dia menekan lebih erat.

Dan aku berdiri di kamar kos yang gelap di Karangmalang pada malam ulang tahunku yang tidak diketahui siapa pun, dipeluk oleh orang yang tulisannya kuhancurkan tiga puluh empat kali dalam tiga semester, sambil mendengar hujan menghantam seng dan genset tetangga menyala di kejauhan.

Aku menarik kepala sedikit ke belakang.

Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Cuma bentuk. Cuma cahaya senter yang memantul dari langit-langit.

“Ace,” katanya.

Pelan sekali. Setengah pertanyaan.

Dan aku tidak menjawabnya dengan kata.


Ciuman pertama itu tidak seperti apa pun yang pernah kubayangkan, karena aku tidak pernah membayangkannya, karena aku bukan orang yang membayangkan hal semacam itu.

Yang kuingat bukan gambar. Tidak ada gambar. Gelap total.

Yang kuingat: dia dingin dan basah dan mulutnya hangat, dan ada air yang menetes dari rambutnya ke pipiku, dan tangannya di belakang leherku terlalu hati-hati lagi sampai aku harus menarik kausnya sedikit supaya dia berhenti minta izin.

Yang kuingat: aku tidak bisa mendengar apa-apa selain hujan.

Yang kuingat: pendek. Jauh lebih pendek dari yang seharusnya, karena dua-duanya tidak tahu berapa lama yang wajar, karena dua-duanya berhenti pada waktu yang bersamaan seperti dua orang yang sama-sama takut melewati batas yang tidak ada.

Dan yang paling kuingat: dahinya menempel ke dahiku sesudahnya, dan dia bernapas dengan cara yang salah, dan aku yang menghitungkan untuknya.

“Empat,” kataku.

“Diem.”

“Tahan tujuh.”

“Grace—“

“Buang delapan.”

Dia tertawa. Bunyinya masih jelek. Bunyinya jelek sekali dan aku ingin mendengarnya lagi.


Gelang di laciku memanas jam sembilan lewat empat.

Kami merasakannya dua-duanya. Dia lebih dulu, karena punyanya menempel di saku, dan aku melihat wajahnya berubah.

“Jangan,” kataku.

“Aku nggak ngatur.”

“Aku tahu.”

“Ace—“

Satu.

“Kamis depan,” kataku, cepat, “kamu bawa gulanya.”

Dua.

“Aku udah pegang dari tadi,” katanya. “Ada di saku. Bas—“

Ti—

Kosong.

Dan aku berdiri sendirian di tengah kamar gelap dengan kaus depan yang basah karena pelukan orang yang tidak ada, dan lantai yang menetes, dan payung terlipat yang tidak pernah dibuka tergeletak di dekat lemari.

Payungnya tertinggal.

Karena payung itu tidak sedang dia pegang waktu logam itu memanas.


Listrik menyala jam sembilan lewat dua puluh.

Lampu kamarku menyala mendadak dan aku menutup mata karena silau, dan waktu aku membukanya lagi aku melihat seluruh kamar itu terang benderang: lantai yang basah dalam bentuk jejak sepatu, payung hitam di dekat lemari, dan dua gelas kopi kosong di rak dari Kamis minggu lalu yang belum kuletakkan kembali ke tempatnya.

Ponselku menyala di kasur.

JANGAN DIANGKAT gulanya masih di saku aku sachet basah semua

Lalu, satu menit kemudian:

grace aku nggak tau prosedurnya gimana tapi aku mau ini resmi

Aku duduk di lantai basah kamarku sendiri dan membaca kata prosedurnya sekitar delapan kali.

Aku mengetik: kamu nggak bisa ngomong biasa aja ya sekali aja

Terkirim.

Nggak bisa.

ya udah resmi.

Oke.

itu doang?

Oke, Ace.

Aku meletakkan ponsel itu di lantai, menghadap ke bawah, dan aku duduk memandangi payung hitam yang tertinggal di dekat lemari selama entah berapa lama.

Lalu aku mengambil ponselku lagi.

Aku membuka kontak. Aku menekan nama itu — dua kata huruf besar yang kutulis di depan Warung Bu Tin pada bulan Agustus, ketika aku sedang berusaha keras membuat sesuatu terdengar seperti nomor penagih pinjaman online.

Aku menghapusnya.

Dan aku mengetik nama yang tidak dipakai siapa pun di kampus ini, yang tidak akan dikenali siapa pun kalau layarku terlihat, yang cuma ada di satu tanda tangan di satu lembar kertas dengan materai enam ribu yang tidak berlaku:

Evandheer

Aku menyimpannya.

Dan besoknya tanggal tujuh, dan lusanya tanggal delapan, dan untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun aku menjalani tanggal delapan Februari tanpa menghabiskan seluruh harinya sendirian.