Chapter Twenty Nine
Boncengan Enam Puluh
Aku sidang tanggal sebelas Juli dan lulus dengan revisi tiga halaman.
Tidak ada yang muncul di ruangan. Tidak ada yang muncul di ruangan sejak bulan Juni, dan kami sudah berhenti membicarakan artinya, dan itu bagian yang paling tidak jujur dari dua bulan terbaik dalam hidupku.
Aku akan menuliskan dua bulan itu apa adanya, sependek mungkin, karena aku sudah belajar bahwa kebahagiaan itu jelek kalau diceritakan terlalu panjang.
Juli: revisi. Wisuda dia diumumkan tanggal dua puluh delapan Agustus. Kami menonton film di kamarnya tiga kali dan dua di antaranya jelek. Sasa mulai dipersiapkan jadi Pemred berikutnya dan aku mulai belajar bagaimana rasanya menyerahkan sesuatu.
Agustus: Poros terbit dua kali. Dimas selesai bab tiga. Kucing ibu kos yang bernama September melahirkan empat ekor dan ibu kos menamainya Oktober, November, Desember, dan — karena kehabisan bulan yang enak — Kliwon.
Aku memasak dua kali dan dua-duanya gagal.
Dia memperbaiki wastafel bocor di kamarku pada suatu Kamis dan wastafel itu tetap bocor sampai aku pindah, tapi bocornya berkurang, dan aku tidak pernah memberitahunya bahwa bocornya berkurang karena dia akan langsung datang lagi untuk menyelesaikannya.
Itu dua bulan.
Tidak ada satu pun peristiwa besar di dalamnya.
Aku ingin sekali punya lebih banyak untuk diceritakan.
Ada satu hal dari bulan Juli yang perlu kucatat, karena aku baru mengerti maknanya di bulan Desember.
Kami menghitung.
Malam Kamis, di kamarku, dengan dua gelas kopi dan kalender di layar ponselnya.
“Terakhir kapan?” katanya.
“Sembilan Juni.”
“Sebelum itu?”
“Dua puluh tiga Mei.”
“Sebelum itu?”
“Tiga belas Mei. Gedung kekunci.”
Dia mengetik sesuatu.
“Agustus sampai Februari: dua puluh satu kali,” katanya. “Maret sampai Juni: enam kali. Juli: nol.”
“Juli belum selesai.”
“Juli tinggal lima hari.”
Kami sama-sama menatap layar itu.
“Van, ini bagus, kan?”
“Iya.”
“Kamu jawabnya cepet banget.”
“Iya,” katanya lagi, dan dia meletakkan ponselnya menghadap ke bawah di lantai, dan kami tidak melanjutkan.
Grafiknya turun. Turun terus. Dan kami berdua duduk di kamar itu memandangi angka yang turun sambil berpura-pura sedang membicarakan kesembuhan.
Yang besar terjadi tanggal dua puluh sembilan Agustus, sehari setelah wisuda.
Aku tahu dari pesannya, jam empat sore.
Ace. Bang Yudha nawarin kerja.
Aku sedang di ruang redaksi menyerahkan berkas serah terima kepada Sasa.
di mana
Ardhi Karsa. Divisi teknik. Mulai Oktober kalau aku mau.
van itu bagus banget
Iya.
kamu mau?
Jeda cukup lama.
Aku nggak tahu.
kenapa nggak tau
Karena aku belum pernah nggak tahu soal hal kayak gini. Aku selalu tahu. Ini pertama kalinya aku harus mikir.
Aku duduk di ruang redaksi dengan Sasa di seberang meja sedang menandatangani berkas, dan aku mengetik satu kalimat, dan aku menatapnya, dan aku mengirimnya.
ambil aja kamu udah setahun mundur-mundur terus sekali-sekali maju
Balasannya datang dua menit kemudian.
Oke.
Dua huruf.
Dan aku menaruh ponselku dan melanjutkan serah terima dan tidak memikirkannya lagi selama enam hari.
Enam hari.
Aku akan memikirkan enam hari itu untuk sisa hidupku.
Aku datang ke wisudanya tanggal dua puluh delapan.
Aku berdiri di antara enam ratus orang tua di halaman Gedung Serba Guna Uniwira, memegang ponsel, memotret dari jarak dua puluh meter.
Aku tidak menyapanya. Aku tidak menyapa ibunya. Aku tidak menyapa bapaknya, yang memakai batik cokelat dan berdiri tegak persis seperti anaknya dan tidak tersenyum sekali pun di seluruh foto yang kuambil.
Pasal 7 masih berlaku.
Aku memotret dua puluh sembilan foto dan tidak mengirim satu pun.
Malamnya dia mengirim pesan: Kamu dateng, ya.
nggak
Aku lihat.
kamu nggak lihat
Kamu berdiri di dekat pilar sebelah kiri. Kamu pakai kemeja putih. Kamu berdiri di situ empat puluh menit.
Aku tidak membalas selama lima menit.
van
Iya.
gedungnya bagus ya
Iya. Aku yang bantu ngukur ulang plafonnya tahun lalu buat skripsi.
Aku membaca kalimat itu, dan aku menyimpannya di tempat yang sama dengan semua hal lain yang belum kumengerti, dan aku baru mengeluarkannya lagi seminggu kemudian pada jam dua pagi.
Sabtu malam, tanggal tiga puluh Agustus.
“Kita ke mana?”
“Nggak ke mana-mana.”
“Van.”
“Beneran nggak ke mana-mana.” Dia menyerahkan helm. “Naik aja.”
Ring road utara jam sembilan malam di akhir bulan Agustus itu kosong. Bukan sepi — kosong. Jalur lambat licin karena gerimis sore, jalur cepat kering, lampu jalan menyala setengahnya seperti biasa, dan angin dari arah utara membawa bau sawah yang masih tersisa di antara gudang-gudang.
Aku duduk di belakang dengan dua tangan memegang besi di bawah jok, seperti sepuluh bulan terakhir.
Dan sekitar dua kilometer dari lampu merah Monjali, aku melihat jarumnya.
Tiga puluh lima.
Empat puluh.
Empat puluh lima.
Aku menegakkan punggung.
Lima puluh.
“Van.”
“Hm.”
Lima lima.
“Van, kamu—“
Enam puluh.
Jarumnya berhenti di enam puluh dan tinggal di sana, dan angin berubah bunyinya, dan lampu jalan mulai lewat dengan jarak yang tidak sama lagi.
Dan aku mengerti.
Sepuluh bulan.
Sepuluh bulan orang itu berkendara di kecepatan tiga puluh lima kilometer per jam di seluruh kota Yogyakarta, setiap hari, siang malam, hujan panas. Berhenti penuh di setiap lampu merah dengan dua kaki di aspal dan tangan lepas dari gas. Tidak pernah menyalip. Tidak pernah mengejar lampu kuning. Diklakson orang, disalip anak SMA, dibilang lelet oleh Dimas selama sepuluh bulan.
Karena kalau dia ditarik pada kecepatan enam puluh, yang jatuh bukan cuma motornya.
Dan malam itu dia menaikkannya ke enam puluh, di jalur cepat, di ring road utara, karena ada satu-satunya keadaan di dunia ini di mana dia tidak bisa ditarik ke mana pun.
Yaitu kalau aku sudah ada di belakangnya.
Aku melepas peganganku dari besi di bawah jok.
Dan aku melingkarkan tangan ke perutnya, dan aku menempelkan dahiku ke punggungnya, dan aku menutup mata.
Kami tidak bicara selama sekitar dua belas kilometer.
Ini yang perlu kucatat, karena aku tahu bagaimana ini akan terdengar: aku bukan orang yang begitu.
Aku Pemimpin Redaksi. Aku memaki empat orang di rapat bulan lalu. Aku pernah membentak seorang dosen di lorong semester enam dan tidak minta maaf sampai hari ini. Aku tidak menonton drama dan aku tidak menangis di film dan aku menganggap orang yang mengunggah foto pasangannya di media sosial sedang melakukan sesuatu yang secara diam-diam menyedihkan.
Dan malam itu aku duduk di belakang motor di ring road utara dengan dagu di bahu orang, dengan helm yang saling berbenturan setiap kali jalan bergelombang, sambil merasakan angin masuk ke lengan jaketku, dan aku berpikir satu kalimat yang benar-benar bodoh dan benar-benar utuh:
Aku mau begini terus.
Bukan menikah. Bukan masa depan. Bukan rencana.
Cuma ini. Cuma bagian ini. Jalan kosong, jam sembilan malam, enam puluh kilometer per jam, dan tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa memanggil siapa pun ke mana pun.
Kami sampai di ujung ring road dan dia memutar balik tanpa bertanya dan kami mengulanginya sekali lagi.
Parkiran kos Melati Dua jam sepuluh lewat.
Lampu terasnya mati. Delapan kucing — dua belas kucing sekarang — tidur di mana-mana. Ibu kos sudah masuk.
Dia mematikan mesin.
Aku turun. Aku melepas helm. Rambutku berantakan dengan cara yang sudah tidak kupedulikan sejak bulan Februari.
“Van.”
“Hm.”
“Kamu ngebut.”
“Enam puluh itu bukan ngebut.”
“Pasal tiga.”
“Pasal tiga bilang di atas enam puluh.” Dia melepas helmnya sendiri dan menggantungnya di spion. “Aku di enam puluh. Persis.”
“Kamu ngeliatin spidometer terus?”
“Aku ngeliatin spidometer terus.”
Aku menatapnya di parkiran gelap itu.
“Kamu nggak akan pernah berubah ya.”
“Nggak.”
Dan aku menciumnya di parkiran kos Melati Dua pada malam Sabtu tanggal tiga puluh Agustus, di bawah lampu teras yang mati, dengan dua belas kucing tidur di sekitar kami dan mesin motor yang masih berbunyi tik-tik-tik karena panas.
Dan kali ini tidak ada yang menghitung.
Tidak ada gelang yang memanas. Tidak ada tiga detik. Tidak ada bunyi sepatu di tangga, tidak ada Sasa, tidak ada rapat setengah jam lagi, tidak ada satpam yang harus ditelepon, tidak ada satu pun hal di seluruh dunia ini yang sedang berjalan mundur.
Aku tidak tahu berapa lama.
Aku sengaja tidak menghitung.
Aku belajar itu dari orang yang mengajariku menghitung.
“Ace.”
“Hm.”
“Aku mulai Oktober.”
Dahiku masih menempel di dahinya.
“Aku tahu.”
“Bang Yudha bilang aku bisa langsung ikut proyek yang di kabupaten. Yang jembatan.” Suaranya pelan, dan ada sesuatu di dalamnya yang belum pernah kudengar dan butuh waktu beberapa detik sebelum aku mengenalinya. “Ace, aku belum pernah dibayar buat mikir sebelumnya.”
Bangga.
Itu bangga.
Sepuluh bulan aku mengenal orang itu — Ketua BEM, juara umum dua kali, orang yang berdiri di depan dua ratus peserta forum tanpa berkedip — dan aku baru pertama kali mendengarnya bangga pada dirinya sendiri.
“Van.”
“Hm.”
“Bapak kamu udah tahu?”
Dia diam sebentar.
“Aku telepon kemarin.”
“Terus?”
“Beliau nanya gajinya berapa.”
“Terus?”
“Aku bilang.” Dia mengangkat bahu, dan sudut mulutnya bergerak. “Terus beliau diem, terus beliau bilang ‘yo wis’.”
“Cuma gitu?”
“Ace, itu banyak.”
Dan aku memeluknya lagi di parkiran gelap itu, dan aku tidak mengatakan apa-apa, karena kalau aku bicara aku akan menangis, dan aku sudah punya reputasi yang harus dijaga bahkan di depan dua belas ekor kucing.
Dia pulang jam setengah sebelas.
Aku berdiri di teras dan menonton lampu belakang motornya sampai belok — kebiasaan bodoh yang sudah kulakukan sejak bulan Februari dan tidak pernah kuakui kepada siapa pun — dan aku naik ke kamar, dan aku mandi, dan aku tidur jam dua belas kurang.
Dan aku ingin sekali berhenti di sini.
Aku sudah beberapa kali mencoba menceritakan bagian ini dan berhenti di parkiran, di bagian dua belas kucing dan mesin yang berbunyi tik-tik-tik, karena kalau berhenti di situ ceritanya bagus.
Tapi aku wartawan.
Wartawan tidak berhenti di bagian yang bagus.
Enam hari kemudian, hari Kamis tanggal empat September, aku datang ke ruang redaksi jam sembilan pagi untuk mengambil sisa berkas serah terima.
Kotak surat pembaca ada di sebelah pintu. Kotak kayu, dicat biru, dengan celah di atasnya. Dipasang tahun dua ribu tujuh belas oleh kepengurusan sebelum kepengurusanku.
Selama tiga tahun aku jadi pengurus, kotak itu terisi empat kali. Tiga di antaranya kertas iklan les privat.
Aku membukanya karena sudah kebiasaan, bukan karena berharap.
Di dalamnya ada satu amplop cokelat, ukuran folio, tebal sekitar satu sentimeter, tanpa nama pengirim, tanpa perangko, tanpa satu pun tulisan di bagian luar kecuali dua kata yang ditulis dengan spidol hitam, huruf balok, di sudut kanan atas.
UNTUK PEMRED
Dan aku sudah bukan Pemred sejak dua hari yang lalu.
Aku berdiri di lorong lantai dua gedung lembaga kemahasiswaan jam sembilan pagi dengan amplop itu di tangan, dan aku sempat berpikir satu kalimat yang sepenuhnya wajar dan sepenuhnya salah:
Ini bukan urusanku lagi.
Aku membawanya masuk.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh reading
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau