Chapter Eight
Level Nol
Yang membunuh bukan sambalnya. Yang membunuh adalah pertanyaan.
Rabu, akhir Oktober, bazar kewirausahaan di pelataran gedung rektorat. Poros dapat lapak karena kami menjual arsip lama sebagai barang antik dan anehnya laku. BEM Teknik dapat lapak paling besar karena BEM Teknik selalu dapat yang paling besar.
Dan di antara keduanya, ada tenda seblak.
Namanya Seblak Mercon Bu Yayuk. Levelnya satu sampai sepuluh. Level sepuluh ada surat pernyataannya, ditempel di tiang, ditandatangani lima belas orang yang berhasil dan tiga yang tidak.
Aku sudah lewat di depan tenda itu empat kali hari itu dan tidak pernah menoleh.
Masalahnya dimulai jam empat sore, waktu Sasa duduk di sebelahku sambil mengipasi diri dengan brosur dan berkata, dengan nada yang terlalu ringan untuk isi kalimatnya:
“Gres. Boleh nanya nggak, tapi kamu jangan marah.”
“Kalau harus bilang jangan marah duluan, berarti aku bakal marah.”
“Ada yang bilang kamu jadian sama Ketua BEM.”
Aku menaruh gelas.
“Ada yang bilang,” lanjut Sasa, cepat, “gara-gara dia dateng ke nobar. Terus ada yang lihat kamu di Gedung C waktu sidang dia. Terus di grup angkatan ada yang bilang kalian sering ketemu di warung belakang.”
“Grup angkatan mana?”
“Ada tiga.”
“Tiga?”
“Empat kalau sama grup fakultas sebelah.”
Aku menatap tenda seblak.
Ini bagian yang orang tidak pernah mengerti tentang posisi yang kupegang. Kalau kamu Pemred, tulisanmu cuma sekuat kepercayaan orang bahwa kamu tidak berutang apa-apa pada siapa pun. Satu rumor bahwa kamu tidur di ranjang yang salah, dan tiga tahun kerja jadi lelucon. Bukan tulisannya yang dibaca lagi. Motifnya.
Dan aku tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya, karena yang sebenarnya jauh lebih tidak masuk akal daripada rumornya.
Jadi aku melakukan hal terbodoh yang pernah kulakukan seumur hidup.
Aku berdiri, aku berjalan ke tenda Bu Yayuk, dan aku bilang dengan suara yang cukup keras untuk terdengar sampai lapak sebelah:
“Bu, level tiga. Nggak usah dikurangin.”
Aku ingin membela diriku sendiri di sini, dan aku tahu aku tidak bisa.
Logikanya begini, dan logikanya bekerja sempurna di kepalaku selama kira-kira dua belas detik: kalau aku duduk di tengah keramaian dan makan seblak seperti manusia normal, artinya aku tidak sedang dilindungi siapa pun, tidak sedang lembek, tidak sedang berubah. Orang akan melihat Pemred Poros makan seblak level tiga sambil ketawa, dan rumor itu kehilangan bentuknya.
Level tiga. Bukan level sepuluh. Aku bahkan merasa sedang bersikap masuk akal.
Sasa berdiri di belakangku. “Gres. Kamu nggak pernah makan pedas.”
“Aku pernah.”
“Kapan?”
“Pernah.”
Bu Yayuk menyerahkan mangkuknya. Merah. Bukan oranye, bukan cokelat. Merah, dengan minyak yang mengambang seperti lapisan cat.
Ada lima belas orang di sekitar tenda itu. Aku menghitungnya, karena aku menghitung segalanya. Empat dari Poros. Enam dari BEM Teknik, termasuk Nadia, yang berdiri di dekat tiang sambil memegang gelas es teh dan menatapku dengan ekspresi yang saat itu tidak kupahami dan sekarang kupahami sepenuhnya.
Suapan pertama tidak terlalu buruk.
Ini bagian yang selalu menipu. Detik pertama, kamu berpikir: oh, ternyata bisa. Ternyata selama ini aku berlebihan. Ternyata orang-orang benar dan aku memang cuma manja.
Suapan kedua juga.
Aku bahkan sempat tertawa waktu Rifqi bertepuk tangan. Aku sempat melihat ke arah lapak BEM dan mendapati beberapa kepala menoleh, dan sesuatu yang kecil dan busuk di dalam diriku merasa puas.
Suapan ketiga adalah tempat semuanya runtuh.
Yang pertama panas. Itu wajar. Semua orang mengalami itu.
Yang kedua bukan panas. Yang kedua adalah tenggorokanku menutup sedikit, dan mataku berair sampai pandangan buram, dan lidahku berhenti mengirim informasi.
Yang ketiga — dan ini yang tidak pernah bisa kujelaskan ke orang yang tahan pedas — adalah panik.
Bukan panik karena pedas. Panik karena tubuhku memutuskan, tanpa berkonsultasi denganku, bahwa aku sedang tercekik.
Aku berdiri. Kursi plastik jatuh ke belakang.
Aku ingat suara Sasa. Aku ingat seseorang menyodorkan air, dan aku ingat aku menolaknya dengan tangan karena air memperburuk semuanya, dan aku ingat aku ingin bilang susu tapi kata itu tidak bisa keluar karena aku tidak bisa mengambil napas cukup panjang untuk satu kata.
Aku ingat berpikir, sangat jelas, di tengah semua itu:
Jangan. Dia lagi di jalan.
Karena aku tahu. Aku tahu dia ada acara di rektorat sore itu, aku baca undangannya, aku baca semua undangan.
Dan aku tahu dia bawa motor.
Itu pikiran terakhirku yang utuh, dan pikiran itu justru membuat semuanya lebih cepat, karena tidak ada yang lebih efektif untuk memicu panik selain berusaha mati-matian tidak panik.
Udara di sebelah kiriku mengental.
Dia muncul di antara meja dan tiang tenda, memakai helm.
Helm terpasang. Kaca visor setengah naik. Sarung tangan. Jaket. Tangan kanannya masih dalam posisi memutar gas, jari-jari melengkung memegang sesuatu yang tidak ada di sana.
Lima belas orang melihatnya.
Dan dia — sesuai aturan tidak tertulis yang dia buat sendiri di depan Warung Bu Tin — tidak kelihatan kaget sama sekali.
Dia melepas helm dengan satu gerakan, meletakkannya di meja, dan berkata ke arah Bu Yayuk dengan suara paling biasa yang pernah kudengar:
“Bu, ada susu? Yang kotak juga nggak apa-apa.”
Lalu dia di sebelahku.
“Duduk,” katanya.
“Aku—“
“Duduk. Bungkuk ke depan. Siku di lutut.”
Aku duduk. Aku bungkuk. Sikuku di lutut.
Dan telapak tangannya turun di punggungku, di antara tulang belikat, dan mulai bergerak — pelan, melingkar, dengan tekanan yang jelas sekali sudah pernah dia lakukan sebelumnya untuk orang lain, entah siapa.
“Napas lewat hidung. Jangan lewat mulut, nanti kamu makan udaranya.”
“Nggak bisa.”
“Bisa. Pelan. Empat.”
Lima belas orang.
Empat dari Poros. Enam dari BEM. Bu Yayuk. Dua pembeli. Nadia di dekat tiang.
Dan aku duduk membungkuk di kursi plastik di pelataran rektorat pukul empat lewat sore, dengan tangan Ketua BEM Fakultas Teknik mengusap punggungku dalam gerakan melingkar yang tenang sekali, sementara dia menghitung dengan suara rendah, berulang-ulang, tanpa sekali pun terdengar terburu-buru.
Susu kotaknya datang. Dia yang menusuk sedotannya. Dia yang memegangnya sampai tanganku cukup stabil untuk memegang sendiri.
Butuh sembilan menit.
Aku tahu karena Nadia, entah kenapa, mencatat waktunya.
Waktu napasku sudah turun, aku mengangkat kepala, dan hal pertama yang kulihat bukan wajah siapa-siapa.
Yang kulihat adalah tiga ponsel yang diturunkan buru-buru.
“Gres,” bisik Sasa, jongkok di sebelahku. “Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu—“
“Sa. Nanti.”
Dan aku menoleh ke sebelah kananku, dan orang itu sudah berdiri, sudah mengambil helmnya dari meja, sudah kembali ke bentuk yang biasa dilihat orang: punggung tegak, wajah rata, tidak ada apa-apa.
“Sudah?” tanyanya.
“Sudah.”
Dia mengangguk. Dia berbalik untuk pergi.
Lalu berhenti. Dan berkata, pelan, cuma untukku, dengan nada yang persis sama seperti waktu dia menyebutkan jenis material di ruang sidang:
“Motorku masih jalan waktu aku ketarik.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa?”
“Perempatan depan bank. Kecepatan sekitar tiga puluh.” Dia memasang helmnya kembali. “Aku ke sana dulu.”
“Kamu—“
“Nggak ada yang di belakang aku. Aku sempat lihat spion.”
“Kamu SEMPAT LIHAT SPION?”
“Iya.”
Dia pergi.
Dia berjalan keluar dari pelataran rektorat dengan helm terpasang tanpa motor, dan dari belakang dia kelihatan seperti orang yang baru saja mengantar barang, dan tidak ada satu pun dari lima belas orang itu yang tahu bahwa laki-laki itu sedang berjalan kaki delapan ratus meter untuk mencari kendaraannya sendiri yang dia tinggalkan melaju tanpa pengemudi di jalan umum.
Motornya ditemukan di trotoar, menabrak pot beton di depan kantor pos. Spakbor depan pecah. Lampu sein kanan hilang. Tidak ada korban.
Aku baru tahu semuanya dua hari kemudian, dari Dimas, yang menceritakannya sebagai lelucon di depan tujuh orang di kantin.
“Motornya jalan sendiri, cuy. Nabrak pot. Dia bilang standar sampingnya kejatuhan.” Dimas menepuk meja. “Standar samping! Lagi jalan tiga puluh! Anak Teknik, lho!”
Semua orang tertawa.
Aku ikut tertawa, karena kalau aku tidak ikut tertawa, aku akan jadi satu-satunya orang di meja itu yang tidak tertawa, dan orang akan mengingat itu.
Aku pulang ke kos siang itu dan duduk di lantai selama entah berapa lama, dan aku menyusun kronologinya lagi, karena itu satu-satunya cara aku bisa memegang sesuatu.
Pukul 16.20 — suapan ketiga. Pukul 16.21 — subjek muncul. Helm terpasang. Kecepatan saat tertarik ± 30 km/jam. Pukul 16.21–16.30 — sembilan menit. Pukul 16.31 — subjek pergi berjalan kaki.
Dan di baris paling bawah, aku menulis satu kalimat yang tidak pernah kuhapus dari catatan itu sampai sekarang:
Dia bisa mati karena aku makan seblak.
Nadia menghampiriku sebelum aku sempat berdiri dari kursi plastik itu.
Dia membawa dua sachet obat dari tasnya dan meletakkannya di meja tanpa banyak bicara.
“Antasida sama yang ini buat lambung. Diminum nanti malam, jangan sekarang.” Dia menunduk sedikit supaya sejajar denganku. “Mbak Grace, aku boleh ngomong satu hal?”
“Boleh.”
“Sembilan menit itu lama.”
Aku menatapnya.
“Aku ngitung,” katanya, dan senyumnya masih di tempatnya, dan suaranya masih ramah, dan aku belum pernah merasa lebih tidak nyaman terhadap orang yang belum pernah berbuat jahat padaku. “Mas Rayyan itu orangnya kalau sudah selesai satu urusan, langsung pindah ke urusan berikutnya. Dari dulu. Aku belum pernah lihat dia nunggu sesuatu sampai sembilan menit.”
Dia menegakkan badan.
“Obatnya diminum ya, Mbak.”
Lalu dia pergi ke lapak BEM dan mulai merapikan brosur, dan dari kejauhan dia kelihatan seperti orang paling tenang di pelataran itu.
Fotonya beredar Kamis pagi.
Diambil dari jarak enam meter, agak miring, kualitas jelek. Kelihatan punggungku yang membungkuk, tangan di punggung itu, dan wajahnya dari samping — menunduk, dekat, sedang bicara pelan.
Kalau aku tidak tahu ceritanya, aku juga akan menyimpulkan hal yang sama.
Sasa mengirimkannya padaku jam tujuh pagi dengan tiga kata: ce. ini rame.
Rapat redaksi hari itu berlangsung empat puluh menit dan tiga puluh delapan menitnya membahas agenda, dan dua menit terakhirnya adalah Rifqi bertanya, dengan niat baik yang paling menyakitkan:
“Mbak, ini kita perlu klarifikasi nggak? Anak-anak banyak yang ditanyain.”
“Klarifikasi apa?”
“Ya... itu.”
Aku menutup map. “Poros bukan lembaga yang mengurus kehidupan pribadi pengurusnya.”
“Iya, tapi—“
“Rapat selesai.”
Aku duduk sendirian di ruang redaksi setelah semua orang keluar, di antara tumpukan edisi lama dan bau tinta printer, dan aku membuka laptop, dan aku melakukan hal kedua paling bodoh yang pernah kulakukan seumur hidupku.
Aku menulis.
Empat jam. Satu halaman penuh untuk edisi November. Tentang alokasi dana kegiatan kepemimpinan BEM Fakultas Teknik triwulan ketiga, tentang tiga mata anggaran yang naik tanpa penjelasan, tentang laporan yang telat empat puluh satu hari.
Semua angkanya benar. Aku cek tiga kali. Aku selalu cek tiga kali.
Judulnya yang tidak benar. Judulnya jahat, dan aku tahu itu waktu menulisnya, dan aku menulisnya justru karena itu.
Karena aku butuh sesuatu yang membuktikan bahwa tangan di punggungku hari Rabu tidak berarti apa-apa.
Aku mengirimnya ke layout jam sebelas malam.
Dan setelah itu aku duduk di ruang redaksi yang kosong, dan aku memikirkan seorang laki-laki berjalan kaki delapan ratus meter dengan helm terpasang untuk mencari motornya sendiri, dan aku memikirkan bahwa dia tidak menyebutkan itu sampai aku selesai bernapas.
Dia menunggu sampai aku selesai bernapas dulu.
Aku menutup laptop, dan aku matikan lampu ruang redaksi, dan aku pulang, dan aku tidak menarik tulisan itu.
Itu bagian yang paling penting, dan aku tidak akan berpura-pura sebaliknya.
Aku bisa menariknya sampai jam dua belas.
Aku tidak menariknya.
Dan jam satu pagi, waktu aku sudah berbaring dan sudah memejamkan mata dan sudah gagal tidur selama empat puluh menit, ponselku menyala sekali.
JANGAN DIANGKAT motor udah di bengkel. spakbor doang. kamu gimana
Aku menatap layar itu sampai mati sendiri.
Lalu aku menyalakannya lagi dan menatapnya lagi.
Aku mengetik aku nggak apa-apa, lalu menghapusnya. Aku mengetik maaf, lalu menghapusnya lebih cepat. Aku mengetik edisi November naik cetak Senin, dan menatap kalimat itu selama satu menit penuh, karena itu satu-satunya kalimat yang jujur dan itu juga kalimat paling pengecut yang pernah kususun.
Aku menghapusnya juga.
Aku tidak membalas apa pun malam itu.
Itu, dan bukan tulisan di halaman empat, yang paling lama kusesali.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol reading
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau