Chapter Twenty Four

Tiga Detik

Gedung Lembaga Kemahasiswaan dikunci jam sepuluh malam oleh satpam bernama Pak Mardi, dari luar, dengan gembok rantai, karena pintu gerbang bawahnya sudah rusak sejak tahun dua ribu delapan belas.

Aku tahu ini karena aku Ketua BEM dan aku pernah mengajukan perbaikan gerbang itu dua kali dan ditolak dua kali.

Aku tidak pernah memikirkan konsekuensinya lebih jauh dari itu.

Sampai malam Selasa tanggal tiga belas Mei, pukul sepuluh lewat empat menit.


Aku sedang di kamar barunya — kamar baruku, maksudnya; aku pindah tanggal delapan, lantai dua, kering, jauh dari selokan, harganya seratus lima puluh ribu lebih mahal dan setiap rupiahnya sepadan.

Aku sedang memasang rak.

Lantai berubah di antara sekrup keempat dan kelima, dan aku muncul memegang obeng.

Gelap.

Bukan gelap kamar. Gelap koridor. Ada bau kertas dan tinta printer dan lantai keramik yang lama tidak dipel. Ada pintu-pintu tertutup di kiri dan kanan sejauh yang bisa kulihat, dan di ujung, ada tangga.

Dan ada seseorang duduk di anak tangga paling bawah dengan ponsel di tangan, dengan cahaya layar yang membuat wajahnya kelihatan salah warna.

“Ace.”

“Van.”

“Kamu di mana.”

“Lantai dua.” Suaranya tipis. “Gedung lembaga.”

“Kenapa kamu—“

“Aku ketiduran di ruang redaksi.” Dia menekan ponselnya. “Aku bangun jam sepuluh lewat. Lampunya udah dimatiin semua. Gerbang bawah digembok. Aku udah coba tiga pintu.”

Aku melihat ke arah tangga.

“Baterai kamu berapa?”

“Sebelas persen.”


Aku turun ke bawah untuk memastikan.

Gerbang lipat besi, digembok rantai dari sisi luar, dengan jarak antarjeruji sekitar dua belas sentimeter. Tidak ada satu pun manusia dewasa yang bisa lewat.

Semua jendela lantai satu berteralis.

Pintu belakang mengarah ke ruang genset yang juga dikunci.

Aku naik kembali. Aku menghitung sepanjang tangga, karena itu yang kulakukan.

“Ada tiga cara,” kataku.

“Van—“

“Satu: telepon Pak Mardi. Nomornya ada di daftar sekretariat BEM, di lantai tiga, di papan pengumuman. Dua: telepon Wakil Dekan Kemahasiswaan, tapi jam segini beliau nggak akan angkat. Tiga: kita nunggu sampai jam enam pagi waktu—“

“Van.”

Aku berhenti.

Dia masih duduk di anak tangga paling bawah, dan dia belum berdiri sejak aku muncul, dan aku baru menyadari bahwa selama tiga menit terakhir aku sedang berjalan bolak-balik di gedung gelap sambil menyusun opsi untuk seseorang yang bahkan belum kutanyai apa pun.

Aku duduk di anak tangga di sebelahnya.

“Maaf,” kataku.

“Nggak apa-apa.”

“Kamu mau aku ngapain.”

Dia menoleh.

Dan wajahnya melakukan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan — sesuatu yang bukan lega, bukan terharu, sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kelelahan.

“Kamu nanya,” katanya.

“Aku nanya.”

“Kamu bener-bener nanya.”

“Aku lagi belajar.”

Dia menatap ponselnya. Sebelas persen. Sepuluh.

“Duduk aja dulu,” katanya. “Bentar aja. Terus baru telepon Pak Mardi.”

“Berapa lama?”

“Aku nggak tahu.”

“Oke.”

Dan aku duduk.


Aku perlu menjelaskan kenapa dia panik, karena ini bukan panik yang wajar dan aku baru mengerti alasannya malam itu.

Bukan karena gelap. Dia sudah biasa gelap.

Bukan karena sendirian. Dia paling produktif sendirian.

“Aku pernah kekunci,” katanya, sekitar sepuluh menit kemudian, ke arah lantai. “Kelas satu SMP. Di perpustakaan sekolah. Sampai jam delapan malam.”

“Siapa yang jemput?”

“Bapakku.”

Ah.

“Beliau meninggalnya tiga bulan setelah itu,” katanya. “Jadi tiap kali aku kekunci di mana pun, otakku langsung—“

Dia berhenti.

“Bodoh, ya,” katanya.

“Nggak.”

“Ini nggak masuk akal, Van. Aku dua puluh satu tahun. Ini gedung kampus. Bukan bahaya.”

“Kutukannya juga nggak peduli sama bahaya.”

Dia tertawa, satu kali, pendek dan basah.

“Iya,” katanya. “Kutukannya cuma peduli sama yang bego-bego.”


“Kamu tahu yang paling aneh?” katanya, sekitar menit kelima belas.

“Apa.”

“Aku sebenernya bisa nelepon Pak Mardi sendiri.” Dia menunjukkan ponselnya. “Nomornya ada di grup lembaga. Semua Pemred punya. Aku bisa nelepon dari menit pertama.”

Aku menoleh.

“Terus kenapa nggak?”

“Karena aku panik dulu.” Dia menekan tumitnya ke anak tangga. “Dan begitu aku panik, kamu dateng. Dan begitu kamu dateng, aku nggak nelepon.”

Sunyi.

“Van, aku baru sadar barusan. Aku nggak nyari solusi. Aku cuma nunggu.”

“Itu wajar.”

“Itu nggak wajar.” Suaranya rata sekali. “Aku tiga tahun jadi orang yang paling nggak pernah nunggu siapa-siapa. Aku yang nyari ambulans, aku yang nelepon dosen, aku yang ke rumah sakit jam dua pagi. Aku nggak pernah nunggu.”

“Sekarang kamu punya orang.”

“Iya.” Dia menoleh. “Itu yang bikin aku takut.”

Dan aku duduk di anak tangga gelap itu dan tidak mengerti sama sekali apa maksudnya, dan aku baru mengerti tujuh bulan kemudian, di bulan Desember, waktu semuanya sudah terlambat.


Kami duduk di anak tangga itu lima puluh menit.

Aku tidak akan menulis semua yang kami bicarakan, karena sebagian besar tidak penting dan justru itu yang membuatnya penting.

Kami membicarakan: rak yang belum selesai kupasang dan kemungkinan besar sekarang miring. Ponselnya yang tinggal enam persen. Kucing ibu kosnya yang bernama September dan sedang hamil, yang menurutnya akan melahirkan kucing-kucing bernama entah apa. Dimas, yang akhirnya masuk ke ruangan Pak Marwan hari Kamis kemarin dan keluar tujuh menit kemudian dan tidak mau menceritakan apa pun kecuali “besok aku ke sana lagi”, yang menurutku adalah kalimat terbaik yang pernah dia ucapkan.

Sekitar menit kelima puluh, napasnya sudah lama normal.

Aku menyadarinya. Tentu saja aku menyadarinya. Aku sudah sembilan bulan mendengarkan napas orang ini dan aku bisa mengenali polanya dari ruangan sebelah.

Gelangku tetap dingin.

Kami sama-sama tahu apa artinya, dan kami sudah lama berhenti membicarakannya, dan itu sudah jadi satu-satunya bahasa yang kami punya untuk hal yang tidak pernah kami ucapkan.

Dia menggeser posisinya di anak tangga.

Dan aku mencium dia.


Ini yang keenam.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya, dan aku tahu betul betapa menyedihkannya itu, dan aku tetap menghitungnya.

Yang pertama di kamar gelap bulan Februari, pendek, dua-duanya tidak tahu urutannya. Yang kedua di ruang redaksi, sembilan detik, terpotong bunyi sepatu Sasa. Yang ketiga di parkiran belakang perpustakaan, empat detik, terburu-buru. Yang keempat di depan warung bensin eceran, gelap, tidak sengaja. Yang kelima di lantai kamarnya sesudah film horor itu, dan yang itu tidak akan kuceritakan.

Yang keenam berbeda karena tidak ada yang mengejar.

Tidak ada Sasa di tangga. Tidak ada orang lewat. Tidak ada jam malam kos. Tidak ada rapat setengah jam lagi. Gedung itu terkunci dari luar dengan gembok rantai dan tidak ada satu pun manusia lain di dalamnya sampai jam enam pagi.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, kami punya waktu.

Dan aku ingat berpikir — betul-betul berpikir, dengan kalimat utuh, di tengah-tengahnya — bahwa ini yang orang lain punya. Ini yang orang lain punya setiap hari, secara gratis, tanpa harus dikutuk sepasang gelang tembaga terlebih dahulu.

Tangannya ada di kerah kemejaku. Anak tangga itu keras dan dingin dan sama sekali tidak nyaman. Ponselnya jatuh dari pangkuannya dan layarnya menyala menghadap langit-langit dan tidak ada satu pun dari kami yang memungutnya.

Dan di suatu tempat di antara semua itu, aku merasakan sesuatu memanas di saku celanaku.


Aku sempat berpikir: bukan sekarang.

Aku sempat berpikir: tolong.

Aku sempat berpikir — dan ini yang paling tidak bisa kumaafkan dari diriku sendiri — dia tenang.

Karena itulah mekanismenya. Itu selalu mekanismenya. Sembilan bulan dan aku tidak pernah sekali pun benar-benar memikirkan artinya sampai malam itu, di anak tangga gedung terkunci, dengan logam yang membakar pahaku lewat kain celana.

Aku tidak dilepaskan karena waktunya habis.

Aku dilepaskan karena berhasil.

Setiap kali aku berhasil membuatnya tenang, aku hilang.

Setiap kali. Halaman posko, balai desa, kamar kos, ruang sidang, warung seblak, kamar gelap di bulan Februari. Sembilan bulan, dua puluh tiga kali, dan setiap satu-satunya di antaranya berakhir pada detik ketika dia berhenti takut.

Kutukan itu tidak menghukum kami dengan memisahkan kami.

Kutukan itu menghukum kami dengan membuat kebahagiaan jadi hitungan mundur.

Satu.

Aku tidak melepas.

Aku tahu apa yang terjadi. Aku tahu persis apa yang akan terjadi tiga detik lagi. Aku bisa merasakan panasnya menembus kain, dan aku tahu bahwa yang benar dan sopan dan aman adalah menarik diri sekarang, seperti yang selalu kulakukan, seperti yang kami berdua sudah latih dua puluh tiga kali.

Dua.

Tangannya masih di kerahku.

Dia belum tahu. Punyanya ada di laci kamar kos, tiga kilometer dari sini. Dia tidak merasakan apa pun.

Aku bisa memberitahunya. Setengah detik cukup untuk satu kata.

Aku tidak memberitahunya.

Ti—


Aku muncul kembali di kamar kosku, berdiri, dengan obeng di tangan kanan.

Rak di dinding miring tujuh derajat.

Aku berdiri di tengah kamar selama entah berapa lama dengan tangan kiri masih setengah terangkat di udara, di posisi yang persis sama, memegang bentuk yang sudah tidak ada di sana.

Lalu aku menelepon Pak Mardi.


Nomornya ada di daftar sekretariat, dan aku tidak bisa masuk sekretariat, tapi aku sudah memotret papan pengumuman itu bulan Oktober untuk keperluan lain, karena aku memotret segala hal.

Delapan menit.

Itu yang kubutuhkan. Delapan menit dari saat aku muncul di kamar sampai Pak Mardi mengangkat telepon dan berkata beliau akan ke kampus.

Kemudian dua puluh menit perjalanan beliau dari rumahnya di Sleman.

Kemudian sembilan menit membuka gembok rantai karena kuncinya ada tiga dan beliau lupa yang mana.

Total: tiga puluh tujuh menit.

Ditambah tiga menit aku turun-naik memeriksa pintu tadi, dan lima puluh menit kami duduk di tangga.

Empat puluh menit dia sendirian di gedung itu setelah aku hilang.

Aku menghitungnya sambil duduk di lantai kamar dengan obeng masih di tangan, dan aku menghitungnya berkali-kali, dan angkanya tidak berubah.


Ke: Ace Pak Mardi udah jalan. 20 menit.

oke

Baterai kamu?

4

Matiin dulu. Nyalain kalau beliau udah sampai.

oke

Ace.

iya

Maaf.

Dan layarnya mati sebelum sempat kulihat apakah dia membacanya.


Aku tidak menceritakan bagian tiga detik itu kepadanya malam itu.

Aku juga tidak menceritakannya bulan berikutnya, atau bulan sesudahnya.

Aku menceritakannya satu setengah tahun kemudian, di tempat yang sama sekali berbeda, dan reaksinya bukan yang kubayangkan sama sekali. Tapi itu nanti.

Yang penting sekarang cuma ini: malam itu, di lantai kamar kos dengan obeng di tangan, aku menyimpan satu hal untuk diriku sendiri.

Dan aku sudah cukup lama mengenal diriku untuk tahu bahwa yang pertama selalu yang paling kecil.


Dia keluar dari gedung itu jam sebelas lewat dua puluh satu.

Dia mengirim pesan jam dua belas kurang, dari kos, setelah mengisi daya:

udah sampai kos pak mardi baik banget beliau bawain teh dari termos aku sampe nggak enak

Syukurlah.

van

Iya.

kamu nggak salah apa-apa

Aku tahu.

terus kenapa minta maaf

Aku duduk di lantai kamar baru yang raknya miring tujuh derajat, jam dua belas kurang, dan aku mengetik empat kalimat lalu menghapus keempat-empatnya.

Karena kalimat yang benar adalah ini, dan aku tidak sanggup mengirimkannya:

Karena aku tahu tiga detik sebelum kamu. Karena aku milih nggak ngasih tahu kamu. Karena aku milih tiga detik itu buat aku sendiri. Karena setelah itu kamu sendirian empat puluh menit di gedung gelap dan aku menyelesaikannya lewat telepon, dari kamar, dengan obeng di tangan, dan aku ngerasa itu cukup.

Yang kukirim jam dua belas lewat dua:

Nggak apa-apa. Tidur.

oke van

Iya.

besok kamis

Iya.

lubang anginnya nggak aku tutup

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Lalu aku meletakkan ponselku menghadap ke bawah di lantai, dan aku menatap rak yang miring tujuh derajat itu sampai lewat jam satu, dan aku tidak memperbaikinya malam itu maupun malam-malam sesudahnya.

Rak itu masih miring sampai aku pindah dari kos itu, empat belas bulan kemudian.