Chapter Thirty Four

Lampu Belakang

Jalan Kaliurang jam sembilan lewat malam, tanggal sembilan Oktober.

Aku pulang dari rumah narasumber di daerah Ngaglik — bukan untuk Poros, aku sudah bukan siapa-siapa di Poros; untuk skripsiku sendiri, yang revisinya tinggal dua halaman dan yang harus kuselesaikan sebelum batas akhir bulan November.

Aku naik ojek daring sampai perempatan, lalu jalan kaki empat ratus meter ke halte, karena ojeknya tidak bisa masuk gang.

Aku menyadarinya di meter kesembilan puluh.

Bukan suara mesin. Suara mesin ada di mana-mana di Jalan Kaliurang.

Yang kusadari adalah bahwa suara mesin itu berubah kecepatan bersamaan denganku.

Aku memperlambat langkah untuk memeriksa. Mesin itu memperlambat.

Aku berhenti pura-pura melihat ponsel. Mesin itu berhenti, sekitar dua puluh meter di belakang, di bahu jalan, tidak dimatikan.

Aku jalan lagi. Mesin itu jalan lagi.

Aku menoleh sekali, cepat, dengan gerakan yang kubuat sealami mungkin.

Motor bebek, warna gelap, dua orang.

Tidak ada pelat nomor di depan.


Ini yang harus kucatat dengan jujur, karena orang selalu menganggap ini bagian yang dramatis dan sebenarnya bagian ini justru sangat sunyi:

Aku tidak lari.

Aku sudah tiga tahun jadi wartawan kampus, dan salah satu hal pertama yang diajarkan orang kepadaku adalah bahwa lari itu memberi tahu mereka bahwa kamu tahu.

Aku terus jalan.

Empat ratus meter jadi tiga ratus. Tiga ratus jadi dua ratus.

Aku membuka aplikasi telepon dengan tangan di dalam saku. Aku tidak menekan apa pun. Aku cuma memegangnya.

Dan aku mengatur napas. Empat, tahan tujuh, buang delapan. Empat, tahan tujuh, buang delapan.

Aku berhasil selama seratus delapan puluh meter.

Di meter keseratus delapan puluh, salah satu dari mereka memanggil.

Tidak keras. Justru itu yang membuat semuanya runtuh.

“Mbak Alecia.”


Nama itu.

Nama yang tidak dipakai siapa pun di kampus itu. Nama yang ada di kontrak kos, di akta, di daftar hadir sidang, di surat permohonan data yang tidak pernah kuajukan.

Nama yang cuma dipakai ibuku, dan sekali oleh seorang laki-laki di gudang di Gunungkidul empat belas bulan lalu, dan sekali lagi di detik ketiga di kamar kos pada malam Kamis bulan Desember.

Napasku pindah ke leher dalam waktu kurang dari satu detik.

Dan jalan itu — Jalan Kaliurang, dua lajur, jam sembilan lewat malam, dengan mobil melaju di lajur kanan pada kecepatan yang sama sekali tidak sopan — terisi.


Dia berdiri di tengah lajur kiri.

Dua meter dariku, di aspal, membelakangi arah datangnya kendaraan.

Tanpa helm. Tanpa alas kaki. Memakai kaus dan celana pendek.

Rambutnya berantakan dengan cara yang cuma bisa terjadi kalau orang sedang tidur.

Ada satu setengah detik di mana tidak ada apa-apa.

Lalu ada klakson.

Bukan klakson pendek. Klakson panjang, dari sedan putih di lajur kiri, yang jaraknya mungkin dua puluh meter waktu aku melihatnya, dan yang tidak sempat mengerem, dan yang membanting setir ke kanan dengan bunyi ban yang akan kudengar setiap kali aku menutup mata selama tiga bulan berikutnya.

Aku menariknya.

Aku tidak ingat memutuskan untuk menarik. Aku ingat tanganku sudah memegang kausnya dan aku ingat kami berdua jatuh ke bahu jalan dan aku ingat aspalnya kasar sekali di telapak tanganku.

Sedan itu lewat.

Klaksonnya masih terdengar seratus meter kemudian.

Motor bebek tanpa pelat itu sudah tidak ada.


Kami duduk di bahu jalan.

Telapak tanganku berdarah di dua tempat. Sikunya juga. Kaki telanjangnya kotor sampai ke mata kaki karena dia mendarat berdiri di aspal yang basah.

“Ace.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Kamu berdarah.”

“Kamu nggak pakai helm.”

“Aku lagi tidur.”

“Kamu nggak pakai SANDAL, Van.”

Dan aku mendengar suaraku sendiri, dan suaraku sudah tidak bisa dipakai untuk apa pun, dan aku duduk di bahu Jalan Kaliurang jam sembilan lewat malam dan menangis dengan cara yang paling tidak bisa dikendalikan yang pernah kualami seumur hidupku.

Dia tidak menghitung.

Untuk pertama kalinya dalam empat belas bulan, dia tidak menghitung. Dia tidak bilang empat, tahan tujuh, buang delapan.

Dia cuma duduk di aspal di sebelahku dengan siku yang berdarah dan membiarkanku selesai.

Butuh sekitar dua belas menit.


“Mereka manggil namaku,” kataku, akhirnya.

“Aku denger.”

“Kamu denger?”

“Aku muncul pas kata terakhirnya.” Dia mengusap telapak tangannya ke celana. “Aku denger ‘Alecia’.”

“Van, nggak ada yang tahu nama itu.”

“Aku tahu.”

“Di kampus nggak ada yang tahu. Di Poros nggak ada. Sasa aja nggak pernah manggil begitu.”

“Aku tahu.”

“Berarti mereka baca kontrak kos. Atau berkas kampus. Atau—“

Aku berhenti.

Karena ada satu tempat lagi.

Surat permohonan izin penggunaan data proyek untuk keperluan penyusunan tugas akhir, tertanggal dua puluh sembilan Agustus tahun lalu, yang ditandatangani oleh mahasiswa pemohon dan diarsipkan oleh perusahaan penerima permohonan.

Di surat itu tidak ada namaku.

Tapi di tujuh halaman pernyataan yang dikirimkan seseorang secara sukarela ke redaksi Poros bulan September, di bagian kronologi, ada satu paragraf yang menjelaskan siapa yang pertama kali menanyakan halaman sebelas di forum terbuka bulan Juni.

Dengan nama lengkap.

Karena dia menuliskan semuanya. Karena dia tidak pernah memotong bagian mana pun. Karena dia menyerahkan tujuh halaman yang isinya semua hal yang membuatnya kelihatan berantakan, persis seperti yang diajarkan orang yang menjemputnya di terminal empat tahun lalu.

Aku menoleh ke arahnya.

Dan aku melihat, dari wajahnya, bahwa dia sudah sampai ke kesimpulan yang sama sekitar sepuluh detik lebih dulu daripada aku.


Ada satu hal lagi yang terjadi di bahu jalan itu, dan aku baru mengerti maknanya dua bulan kemudian.

Aku memeriksa tangannya.

Bukan karena curiga — karena telapak tanganku sendiri berdarah dan aku ingin tahu apakah dia juga.

Aku memegang pergelangan tangannya dan membalik telapaknya ke atas di bawah lampu jalan.

Dan dia menariknya.

Cepat. Terlalu cepat. Dengan gerakan yang langsung dia sambung jadi gerakan lain — dia mengusapkan telapak itu ke celananya, seolah-olah membersihkan pasir, seolah-olah itu memang yang sejak tadi mau dia lakukan.

“Kotor,” katanya.

“Aku juga kotor.”

“Kamu duluan,” katanya, dan mengambil kapas dari tanganku.

Aku membiarkannya.

Aku membiarkannya karena jam sepuluh malam di bahu Jalan Kaliurang setelah hampir tertabrak sedan, dan karena aku baru saja menangis dua belas menit, dan karena aku tidak punya tenaga untuk memeriksa apa pun.

Dua bulan kemudian aku memutar ulang gerakan itu di kepalaku dan aku menghitungnya.

Setengah detik.

Dia sudah bisa melakukannya sejak tanggal sembilan Oktober, dan aku sudah melihatnya, dan aku membiarkannya lewat.


Kami tidak membicarakannya di bahu jalan itu.

Kami tidak membicarakannya di ojek daring yang kupesan untuk mengantar kami berdua ke kosku, yang ditolak dua pengemudi karena salah satu penumpangnya tidak memakai alas kaki.

Kami tidak membicarakannya waktu aku membersihkan sikunya dengan kapas dan alkohol yang ada di kotak P3K pemberian Nadia bulan Oktober tahun lalu, di lantai kamarku, jam sepuluh lewat.

Yang dia bicarakan justru hal lain.

“Ace, kalau tadi aku muncul dua detik lebih awal.”

“Van.”

“Sedan itu sembilan puluh meter lebih jauh. Kalau aku muncul dua detik lebih awal, aku punya waktu buat minggir.”

“Van—“

“Kalau dua detik lebih lambat, dia udah lewat.”

Dia mengucapkannya sambil menatap sikunya yang sedang kubersihkan, dengan nada yang sama sekali datar, seperti orang membaca daftar material.

“Jadi ada rentang,” katanya. “Sekitar empat detik. Di luar itu, aman.”

“Kamu lagi ngapain?”

“Aku ngitung.”

“KAMU LAGI NGITUNG?”

“Ace.” Dia mengangkat kepala. “Aku muncul di tengah jalan raya jam sembilan malam tanpa alas kaki, dan itu terjadi karena kamu ketakutan, dan kamu ketakutan karena ada dua orang yang tahu nama kamu.”

Aku berhenti menekan kapas.

“Aku nggak bisa ngatur kamu takut atau nggak,” lanjutnya. “Aku nggak akan pernah minta kamu jangan takut. Itu paling nggak masuk akal.”

“Terus?”

Dan dia tidak menjawab.

Dia tidak menjawab, dan aku mengira dia tidak punya jawaban.

Dia punya.

Dia sudah punya jawabannya, di bahu Jalan Kaliurang, kira-kira empat menit setelah sedan putih itu lewat.

Dia cuma tidak mengucapkannya.


“Van, aku mau kamu janji satu hal.”

“Apa.”

“Kalau ada yang dateng ke kamu — siapa pun, nanya apa pun — kamu kasih tahu aku hari itu juga.”

Dia sedang memegang kapas di sikunya sendiri.

“Oke.”

“Hari itu juga. Bukan besoknya.”

“Oke.”

“Van, lihat aku.”

Dia melihatku.

“Oke,” katanya, untuk ketiga kalinya.

Dan aku puas.

Aku menuliskan itu sekarang dengan malu yang tidak bisa kutanggung dengan baik: aku puas. Aku menganggap urusan itu selesai. Aku sudah meminta janji dan janjinya sudah diberikan dan orang itu belum pernah sekali pun melanggar janji kepadaku dalam empat belas bulan.

Aku tidak memeriksa jedanya. Aku tidak memeriksa matanya. Aku tidak menghitung apa pun.

Aku wartawan, dan aku menerima jawaban satu kata dari narasumber yang paling terlatih menjawab dengan tenang di seluruh kota Yogyakarta.


Yang aku pahami malam itu, dan yang kami berdua pahami, dan yang kami bicarakan sampai jam satu pagi:

Ada dua arah.

Arah pertama: kalau aku takut, dia muncul di tempatku. Di tengah jalan. Tanpa helm, tanpa sepatu, tanpa satu detik pun persiapan. Dan selama empat belas bulan itu selalu lucu atau memalukan, dan malam itu untuk pertama kalinya itu hampir membunuh orang.

Arah kedua: kalau dia takut, aku muncul di tempatnya.

Dan sampai bulan September, arah kedua itu tidak penting. Tidak ada yang terjadi di tempatnya. Tempatnya adalah kamar kos, ruang rapat, ruang sidang, kantin.

Sekarang tempatnya adalah tempat orang menanyakan alamatnya kepada ibu kos.

“Van.”

“Hm.”

“Kalau ada apa-apa sama kamu, aku bakal muncul di situ.”

“Iya.”

“Di tengahnya.”

“Iya.”

“Tanpa persiapan. Apa adanya. Kayak kamu tadi.”

“Iya,” katanya, untuk ketiga kalinya, dengan nada yang persis sama.

Dan aku mengira dia sedang setuju denganku.

Dia sedang mencatat.


Dia pulang jam setengah dua, memakai sandal jepitku yang kebesaran empat nomor untuknya, naik ojek daring, ke kos baru di Pogung yang belum pernah kulihat.

Aku berdiri di teras dan menonton sampai motornya belok.

Kebiasaan bodoh yang sudah kulakukan sejak bulan Februari.

Dan besok paginya, tanggal sepuluh Oktober, dia mengirim pesan jam enam pagi.

Ace. Aku mau minta satu hal.

apa

Kalau ada apa-apa, apa pun, sekecil apa pun — telepon aku dulu sebelum kamu takut.

Aku membaca kalimat itu dan tertawa di kamar kosong.

van itu nggak masuk akal

Aku tahu.

orang nggak bisa nelepon dulu sebelum takut takut itu duluan

Aku tahu. Tapi coba aja.

oke kamu juga ya

Jeda.

Iya.

Satu kata, tiga huruf, dan aku menerimanya begitu saja, dan aku tidak memeriksanya, dan aku tidak menghitung berapa detik jedanya sebelum dia mengetiknya.

Aku menghitung segala hal selama empat belas bulan.

Yang satu itu tidak kuhitung.