Chapter Thirty Three

Terbit

Dia menceritakannya sendiri, besok paginya, jam tujuh, sebelum aku sempat bangun dengan benar.

Ace. Semalam aku telepon Bang Yudha.

Aku membaca dua baris itu sambil duduk di kasur dengan mata yang masih setengah.

apa yang kamu tanya

Aku tanya apakah ada dokumen pembanding yang bisa aku lihat. Aku nggak nyebut Poros. Aku nggak nyebut amplop. Aku bilang aku lagi nyusun ulang catatan skripsi.

van

Aku tahu. Aku tahu kamu bilang jangan. Aku tetap nelepon. Aku nggak akan bilang aku khilaf, karena aku nggak khilaf. Aku mikir dulu tiga jam, terus aku tetap nelepon.

Aku duduk di kasur dan menatap layar itu selama mungkin dua menit.

Dan yang kurasakan bukan marah.

Yang kurasakan adalah rasa hormat yang sangat, sangat tidak nyaman — karena dia bisa saja tidak memberitahuku. Aku tidak akan pernah tahu. Tidak ada satu pun cara aku bisa tahu.

Dia memberitahuku dua belas jam kemudian, tanpa diminta, dengan kalimat yang tidak mencari ampun.

terus dia bilang apa

Dia bilang “bagus kamu tanya”.

Aku menutup mata.

terus?

Dia bilang dia bakal kirim berkas lengkapnya minggu depan. Dia nawarin aku ikut ke lokasi buat lihat langsung. Dia nanya kabar bapakku.

van

Iya.

dia nggak marah sama sekali?

Nggak. Dia malah kedengeran seneng.


Empat hari kemudian, tanggal empat belas September, ada surat edaran dari Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan.

Pelaksanaan Audit Internal Menyeluruh atas Pengelolaan Dana Kegiatan Lembaga Kemahasiswaan Tahun Anggaran 2023–2025.

Diumumkan di papan, dikirim ke grup, ditempel di sembilan sekretariat.

Ruang lingkupnya: seluruh lembaga kemahasiswaan. Vendor, kuitansi, LPJ, pertanggungjawaban.

Ruang lingkupnya tidak menyebut satu kata pun tentang proyek pembangunan.

Aku membacanya di lorong lantai dua dan aku harus berpegangan pada pagar.

Sasa berdiri di sebelahku.

“Gres.”

“Iya.”

“Ini bagus, kan? Berarti kampus serius.”

“Sa.” Aku menunjuk baris keempat. “Baca ruang lingkupnya.”

Dia membacanya.

Aku menunggu.

“Oh,” katanya, pelan sekali.

“Iya.”

“Mereka duluan.”

“Mereka duluan,” kataku. “Empat hari.”


Aku menyerahkan amplop itu hari itu juga, sore, di ruang redaksi, kepada Pemimpin Redaksi yang sah.

Seratus empat belas lembar, semuanya, termasuk lembar ketiga belas.

Aku juga menyerahkan buku catatanku — enam puluh dua halaman, tiga hari, seluruh verifikasi yang sudah kulakukan, termasuk halaman yang tulisannya besar-besar dan bertanya siapa yang dilindungi kalau ini terbit di sini.

“Gres, ini catatan kamu.”

“Sekarang catatan Poros.”

“Kamu nggak harus—“

“Sa.” Aku meletakkan tanganku di tumpukan itu. “Kalau aku pegang setengah, kamu bakal nulis setengah. Ambil semuanya.”

Dia mengambil semuanya.

Dan hal berikutnya yang dia lakukan adalah hal yang tidak pernah kuajarkan kepadanya dan membuatku sadar bahwa dia sudah tidak butuh diajari:

Dia menulis surat permohonan wawancara resmi kepada PT Ardhi Karsa Nusantara, mengirimkannya lewat pos tercatat dan surel, dengan tenggat tujuh hari, dan memfotokopi tanda terimanya.

“Biar nggak ada yang bilang kita nggak konfirmasi,” katanya.

Tidak dijawab sampai tenggat.

Dijawab pada hari kedelapan, oleh kuasa hukum, tiga paragraf, yang intinya: seluruh pekerjaan telah dilaksanakan sesuai kontrak dan telah diterima oleh pemberi kerja.

Sasa memuat surat itu utuh di halaman terakhir.


Rayyan mengirimkan pernyataannya tanggal delapan belas September.

Tujuh halaman.

Aku tidak membacanya. Aku tidak boleh membacanya, dan aku ingin sekali menuliskan bahwa aku patuh karena aku profesional, padahal alasannya jauh lebih kecil: aku takut.

Sasa yang membacanya. Sasa yang menghubunginya untuk klarifikasi dua kali. Sasa yang mengembalikannya dengan tiga pertanyaan tambahan dan Sasa yang menerima jawabannya.

Dan Sasa yang datang ke kamarku hari Jumat malam, tanggal sembilan belas, dan duduk di lantai dan tidak bicara selama hampir satu menit.

“Sa.”

“Gres, kamu tahu dia nulis apa di halaman lima?”

“Aku nggak boleh tahu.”

“Kamu boleh sekarang. Dia yang bilang boleh.”

Aku menunggu.

“Dia nyerahin data pengukuran lendutan plafon Gedung Serba Guna. Sebelas titik. Diukur sendiri, Oktober tahun lalu, buat draf bab empat yang dia buang.” Sasa membuka buku catatannya. “Satu titik lewat delapan belas persen dari batas standar yang berlaku sekarang.”

Kamar itu jadi sangat sunyi.

“Dan dia nulis di paragraf terakhir,” lanjut Sasa, dan suaranya mulai goyah, “bahwa dia sudah tahu angka itu sejak Oktober tahun lalu, dan dia nggak melaporkannya ke siapa pun, karena waktu itu dia mengira itu masalah metodologi skripsinya sendiri.”

Aku menutup mata.

“Gres, dia nulis itu sendiri. Nggak ada yang nanya.”

“Aku tahu.”

“Itu bagian yang paling jelek buat dia dari seluruh tujuh halaman. Nggak ada satu pun dokumen di amplop itu yang nunjukin dia tahu duluan.” Sasa mengusap wajahnya. “Kalau dia diem, nggak akan ada yang tahu selamanya.”


Aku bertanya kepada Sasa, malam sebelum terbit, satu hal yang tidak pantas kutanyakan.

“Sa. Kamu takut nggak?”

Dia sedang memeriksa tata letak halaman lima untuk yang keenam kali.

“Takut.”

“Takut apa?”

“Takut salah.” Dia tidak mengangkat kepala. “Kalau angkanya salah satu digit aja, yang hancur bukan Ardhi Karsa. Yang hancur Poros, terus setelah itu nggak akan ada lagi yang percaya sama koran mahasiswa di kampus ini selama sepuluh tahun.”

“Terus kenapa tetep terbit?”

Dan Sasa — yang tiga tahun lalu tidak bisa menulis lead berita tanpa kubenahi, yang bicara gue-lo, yang menonton horor sambil menjerit paling keras di ruangan — meletakkan pulpennya dan menjawab dengan kalimat yang membuatku ingin memeluknya dan tidak jadi karena aku bukan orang seperti itu.

“Karena kalau kita nggak terbit, alasannya cuma satu: karena kita takut salah.” Dia mengangkat bahu. “Dan itu bukan alasan. Itu cuma takut.”


Terbit tanggal dua puluh dua September, jam enam pagi, daring.

Judulnya tidak sensasional. Aku ingin mencatat itu, karena Sasa yang memutuskan, dan aku tidak akan pernah memutuskan seperti itu pada umur dua puluh satu.

Sebelas Titik: Catatan Pengukuran yang Dibuang dan Dokumen yang Tidak Pernah Diaudit

Cetak menyusul tiga hari kemudian. Seribu eksemplar — dua kali oplah biasa, dibiayai patungan sembilan lembaga, yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kampus itu.

Jam sepuluh pagi, tautannya sudah di semua grup angkatan.

Jam satu siang, akun media lokal mengutipnya.

Jam empat sore, Gedung Serba Guna Uniwira ditutup sementara dengan garis kuning dan pengumuman tulisan tangan di pintu kaca: DITUTUP UNTUK PEMERIKSAAN TEKNIS.

Aku ke sana jam lima.

Aku berdiri di seberang jalan dan menatap garis kuning itu selama entah berapa lama, dan aku tidak merasakan satu pun hal yang seharusnya dirasakan orang yang baru saja menang.

Karena tiga minggu sebelumnya aku berdiri di dalam gedung itu selama empat puluh menit, di dekat pilar sebelah kiri, memakai kemeja putih, memotret dua puluh sembilan foto orang yang sedang wisuda.

Dan enam ratus orang lain berdiri di sana bersamaku.


Yang tidak terjadi, dan yang membuatku tidak bisa tidur selama seminggu:

Dia tidak menghalangi.

Sekali pun tidak.

Tidak ada telepon jam dua pagi. Tidak ada permintaan menunda. Tidak ada “tolong yang halaman lima jangan”. Tidak ada satu pun pesan yang bisa kutunjukkan kepada siapa pun sebagai bukti bahwa orang ini pernah, walau sedetik, mencoba menyelamatkan dirinya sendiri.

Aku menunggu.

Aku menuliskan itu dengan malu: selama sepuluh hari antara penyerahan pernyataan dan tanggal terbit, aku menunggu dia mencoba.

Bukan karena aku ingin dia mencoba.

Karena aku ingin tahu bahwa dia manusia.

Yang kudapat, tanggal dua puluh satu September jam sebelas malam, dua belas jam sebelum terbit:

Ace.

iya

Besok jam berapa naiknya?

jam 6

Oke.

van

Iya.

kamu nggak mau bilang apa-apa?

Jeda cukup lama.

Nggak.

sama sekali?

Kalau aku bilang sesuatu sekarang, kamu bakal inget itu tiap kali kamu lihat tulisannya. Selama sepuluh tahun. Aku nggak mau ada suaraku di situ.

van—

Tidur, Ace. Besok panjang.

Dan besoknya memang panjang, dan aku tidak tidur, dan aku membaca empat baris itu berkali-kali sampai jam empat pagi.


Yang terjadi di kampus selama sepuluh hari sesudahnya, aku catat sependek mungkin:

Audit internal diperluas ruang lingkupnya — bukan karena kesadaran, karena tekanan. Tiga anggota DPRD kabupaten menanyakannya. Dua media daring lokal menurunkan tulisan lanjutan. Satu di antaranya mengutip Poros dengan benar dan satu lagi menulis judul yang membuatku ingin menelepon redakturnya.

Dua orang dari BEM Fakultas Teknik dipanggil Bagian Kemahasiswaan. Bukan Rayyan — kepengurusannya sudah berakhir September, jadi secara administratif dia bukan siapa-siapa.

Nadia dipanggil.

Aku baru tahu dua bulan kemudian.

Dia dipanggil karena dialah yang tanda tangannya ada di seluruh lampiran LPJ tiga tahun terakhir, sebagai sekretaris, di kolom “disusun oleh”.

Dia masuk sendirian, membawa map, dan tidak mengabari siapa pun.


Pekerjaannya batal.

Aku baru tahu tanggal tiga puluh, dari Dimas, delapan hari setelah terbit, dan aku baru tahu karena aku bertanya.

“Dim, dia mulai kerja tanggal berapa?”

Dimas mengaduk kopinya terlalu lama.

“Nggak jadi, Mbak.”

Aku menaruh gelasku.

“Nggak jadi gimana?”

“Ditunda. Katanya.” Dia mengangkat bahu, dan bahunya tidak turun lagi sesudahnya. “Suratnya masuk tanggal dua puluh empat. Dua hari setelah terbit. Bunyinya ‘penundaan proses rekrutmen sampai batas waktu yang belum ditentukan’.”

“Dia nggak cerita ke aku.”

Dimas tidak menjawab.

“Dim.”

“Aku juga nggak dikasih tahu, Mbak,” katanya. “Aku baca suratnya di meja waktu dia lagi mandi.”


Sisanya, aku kumpulkan belakangan, sebagian dari Dimas dan sebagian dari orang lain dan sebagian tidak pernah dari dia:

Bapaknya menelepon tanggal dua puluh enam. Ada orang dari perusahaan yang menghubungi beliau lebih dulu. Isi pembicaraannya tidak pernah kuketahui sampai sekarang.

Tanggal dua puluh delapan, ibu kos putra tempat dia tinggal menaikkan uang sewa dan menyarankan dia mencari tempat lain karena “ada yang nanya-nanya”.

Tanggal tiga puluh, dia pindah ke kos yang lebih kecil di daerah Pogung, lantai bawah, dekat selokan.

Kembali ke kos lantai bawah dekat selokan.

Aku baru tahu itu dua minggu kemudian, dan waktu aku tahu, aku duduk di lantai kamarku dan menangis dengan cara yang paling tidak berguna, karena aku tahu persis apa artinya kos lantai bawah dekat selokan di kota yang hujan tujuh bulan setahun bagi orang yang tidak bisa mengeluarkan suara kalau ada benda bersayap di langit-langit.


Awal Oktober, ibu kosku menyebut sesuatu sambil lalu, sambil menyapu teras.

“Mbak Grace, kemarin ada yang nyariin.”

Aku berhenti di anak tangga.

“Siapa, Bu?”

“Nggak ngasih nama. Bapak-bapak, umur empat puluhan. Nanya kamar Mbak yang mana.”

“Ibu jawab?”

“Ibu bilang di sini nggak ada yang namanya Grace.” Beliau terus menyapu. “Ibu tahunya Alecia, kan, di kontrak.”

Aku berdiri di anak tangga kos Melati Dua pada awal bulan Oktober dengan tas selempang di bahu, dan aku merasakan sesuatu naik ke leherku, dan aku berhenti — betul-betul berhenti, dengan sadar, dengan sengaja — dan aku menarik napas empat hitungan, tahan tujuh, buang delapan.

Karena kalau aku panik, dia datang.

Dan aku tidak tahu dia sedang di mana, atau sedang naik apa, atau sedang bersama siapa.

Aku berdiri di anak tangga itu dan mengatur napasku sendiri untuk pertama kalinya dalam hidupku tanpa satu pun suara yang menghitungkan untukku.

Dan berhasil.

Dan aku naik ke kamar dan menutup pintu dan duduk di lantai, dan baru di situ aku sadar bahwa aku baru saja mempelajari keterampilan yang sama persis dengan keterampilan yang akan membunuh kami berdua.