Chapter Three

Hipotesis

Ada dua cara menghadapi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Cara pertama, kamu percaya. Kamu terima. Kamu cari kiai, kamu cari dukun, kamu buang benda yang bermasalah ke laut, dan kamu tidur nyenyak karena kamu sudah menyerahkan urusan ini kepada pihak yang lebih berwenang.

Cara kedua, kamu buat tabel.

Aku membuat tabel.

Pukul enam pagi, di halaman belakang buku catatan proyek yang seharusnya berisi progres pengecatan pagar balai desa, aku menggambar empat kolom dengan penggaris kartu identitas. Waktu. Lokasi. Kondisi subjek A. Kondisi subjek B.

Subjek A dan subjek B. Aku menuliskannya begitu karena menuliskan nama akan membuatnya jadi nyata, dan aku belum siap untuk itu pada pukul enam pagi setelah tidur dua jam.

Baris pertama sudah terisi sejak semalam. Baris-baris berikutnya kosong.

Kolom terakhir yang kutambahkan berjudul: Penjelasan alternatif.

Aku menuliskan tiga.

Satu: aku berjalan dalam tidur, mengalami kebingungan lokasi, dan mengarang sisanya. Lemah. Aku ingat semuanya, urutannya rapi, dan orang yang berjalan dalam tidur tidak berdebat soal statistik kebetulan.

Dua: keracunan sesuatu. Air sumur, makanan, jamur. Lebih lemah lagi. Dua orang, halusinasi identik, berurutan, dengan detail yang cocok? Tidak.

Tiga: aku dikerjai. Ini yang paling lama kupertahankan, karena ini satu-satunya yang punya pelaku. Dan pelakunya jelas. Dia sudah tiga semester mencari cara menjatuhkanku, dan orang seperti itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.

Aku menatap kata itu — dikerjai — selama mungkin dua menit.

Lalu aku mencoretnya.

Bukan karena aku percaya padanya. Sama sekali bukan. Tapi karena aku ingat wajahnya di halaman belakang, dan orang yang sedang mengerjai orang lain tidak menghitung napas dengan tangan gemetar.

Itu bagian yang menyebalkan dari mengenal seseorang lewat tulisannya selama tiga semester. Kamu jadi tahu betul bagaimana bunyinya kalau dia sedang menyerang. Dan semalam dia tidak sedang menyerang.


Aku menemukannya jam setengah tujuh, di samping bak air, sedang mencuci gelas dengan cara yang terlalu kasar untuk gelas.

“Kita perlu bicara.”

“Nggak,” katanya, tanpa menoleh.

“Grace.”

“Aku bilang nggak. Aku lagi sibuk.”

“Kamu lagi nyuci empat gelas.”

“Iya. Empat. Banyak.”

Aku berdiri di sana sampai dia menyerah, karena aku tahu satu hal tentang orang seperti dia: dia tidak tahan diamnya orang lain. Dia bekerja dari pertanyaan. Diam itu ruang kosong, dan dia tidak bisa membiarkan ruang kosong.

Delapan belas detik. Lumayan lama, sebetulnya.

“Apa,” katanya akhirnya, sambil membanting gelas terakhir ke rak.

“Aku bikin daftar. Kita uji satu-satu. Kalau semuanya negatif, berarti semalam itu—“

“Kalau semuanya negatif berarti kita berdua gila, dan aku lebih milih gila daripada yang satunya.” Dia mengelap tangan ke celana. “Ya sudah. Uji. Cepat. Sebelum yang lain bangun.”

Kami punya empat puluh menit sebelum sarapan.

Uji satu. Jarak. Aku berjalan ke ujung jalan desa, kira-kira tiga ratus meter, sampai posko tidak kelihatan lagi. Aku menunggu sepuluh menit. Tidak terjadi apa-apa. Aku kembali.

“Nggak ada apa-apa,” kataku.

“Berarti selesai.”

“Berarti belum ada pemicunya.”

Uji dua. Pemicu. Ini bagian yang canggung, karena tidak ada cara sopan untuk meminta seseorang berpura-pura ketakutan.

Dia mencoba. Aku akui dia benar-benar mencoba. Dia berdiri di belakang posko dengan mata terpejam dan mengepalkan tangan dan berkata, “Oke. Aku takut. Aku takut banget. Ada yang ngejar aku. Aduh.”

“Kamu kedengaran kayak baca teks pengumuman.”

“Kamu mau nyoba?”

Aku mencoba. Hasilnya lebih buruk.

Sepuluh menit. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang panas. Tidak ada yang hilang.

Dia menyilangkan tangan. “Nah. Nggak ada apa-apa.”

Dan aku menulis di kolom terakhir, dengan huruf kecil, karena saat itu aku tidak menganggapnya penting:

Pemicu tidak dapat direproduksi secara sengaja.

Aku baru mengerti apa artinya kalimat itu berbulan-bulan kemudian, dan waktu aku mengerti, aku harus duduk.

Uji tiga. Tidak ada. Kami kehabisan waktu. Sarapan.

Tapi sebelum kami masuk, dia berhenti di depan pintu dapur dan bertanya tanpa menoleh, dengan nada orang yang sudah menyiapkan pertanyaannya sejak subuh:

“Semalam kamu ada di mana? Persisnya.”

“Kamar depan. Di lantai. Sebelah Dimas.”

“Kamu lagi apa?”

“Tidur.”

“Bukan itu maksudku. Kamu lagi mimpi apa? Kamu lagi mikirin apa sebelum tidur?”

Aku menatapnya. “Kenapa?”

“Karena kalau ini soal aku yang manggil, aku mau tahu apa yang bikin kamu bisa dipanggil.” Dia menyeka pelipisnya dengan lengan. “Aku nggak mau ada yang bisa manggil orang tanpa izin. Termasuk aku.”

Itu kalimat pertama yang dia ucapkan sejak semalam yang tidak berbentuk serangan.

Aku tidak punya jawaban untuknya. Aku memang sedang tidak memikirkan apa-apa. Itu justru yang menakutkan: tidak ada satu pun yang bisa aku ubah untuk mencegahnya terjadi lagi.

Kami masuk tanpa melanjutkan.

Selama sarapan, dia tidak melihat ke arahku sekali pun, dan aku tidak melihat ke arahnya sekali pun, dan Dimas berkomentar bahwa suasana pagi ini “enak, adem, damai,” dan aku menahan diri untuk tidak melempar sendok.

Aku menutup buku catatanku dengan perasaan yang, kalau jujur, sembilan puluh persen adalah kelegaan.

Sepuluh persennya bukan.

Sepuluh persen dari diriku yang tidak pernah kuakui keberadaannya sampai hari itu mencatat satu hal: sejak jam dua pagi tadi, aku sudah melihat ke arah pintu kamar belakang sebelas kali.


Program hari itu penyuluhan gizi di balai desa. Anak-anak PAUD, ibu-ibu PKK, dua panci besar, satu kompor gas pinjaman.

Aku tidak ikut. Aku kebagian mengukur ulang pagar yang catnya kurang, dan setelah dua jam di bawah matahari, aku pulang ke posko dalam kondisi yang jujur saja tidak layak berada di dekat manusia lain.

Jam sebelas kurang, aku mandi.

Kamar mandi posko itu bilik semen dengan pintu triplek dan bak yang harus diisi manual. Tidak ada gantungan. Bajuku kutaruh di atas ember terbalik. Handuk di paku.

Aku sedang menggayung yang ketiga waktu logam di saku celanaku — celana yang tergantung di paku, dua meter dari tempatku berdiri — mulai berbunyi.

Bukan berbunyi. Aku salah. Bercahaya juga tidak.

Aku hanya tahu.

Itu bagian yang tidak pernah bisa kujelaskan dengan baik ke siapa pun. Tidak ada peringatan yang bisa didengar, tidak ada yang bisa dilihat. Cuma pengetahuan mendadak di tengkuk, seperti orang yang tiba-tiba yakin dia meninggalkan kompor menyala.

Aku sempat berpikir satu kalimat utuh.

Jangan sekarang.

Lalu lantai berubah.


Aku berdiri di balai desa.

Di tengahnya. Di antara dua panci. Di depan kompor gas yang menyemburkan api oranye setinggi setengah meter karena selangnya bocor, di depan ibu-ibu PKK yang menjerit, di depan dua puluh tiga anak PAUD, di depan Bu Kades.

Basah kuyup.

Dengan handuk yang — dan ini bagian yang akan aku syukuri sampai mati — entah bagaimana ikut tertarik bersamaku, karena tangan kiriku sedang memegangnya untuk mengelap wajah.

Di tangan kananku, gayung.

Ada satu setengah detik hening total. Aku ingat detik-detik itu dengan kejernihan yang tidak masuk akal: bunyi desis gas, bau hangus, satu anak PAUD yang berhenti menangis karena bingung, dan di seberang ruangan, berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat pasi dan tangan menutup mulut, seseorang yang jelas-jelas baru saja panik.

Matanya bertemu mataku.

Lalu balai desa itu meledak — bukan kompornya, kompornya sudah dimatikan orang. Suaranya. Dua puluh tiga anak berteriak sekaligus. Ibu-ibu berteriak sekaligus. Seseorang menjatuhkan baskom.

Dan di tengah semua itu, ada satu suara yang naik di atas semuanya, jernih, ceria, dan sangat, sangat meyakinkan.

“MAS RAYYAN! Ya ampun, akhirnya!”

Nadia.

Nadia menerobos kerumunan sambil membawa kotak P3K yang entah sejak kapan dia pegang, langsung berdiri di depanku — memblokir pandangan setengah ruangan dengan tubuhnya yang tingginya seratus lima puluh delapan sentimeter — dan berbicara kepada Bu Kades dengan nada yang sepenuhnya tenang.

“Maaf ya Bu, ini gara-gara saya. Mas Rayyan tadi hampir pingsan di pagar, kena panas. Saya suruh langsung siram kepala terus buru-buru ke sini karena obatnya di tas saya. Saya bilang jangan pakai baju dulu, bahaya kalau suhu tubuhnya naik lagi.” Dia menoleh padaku dengan tatapan yang sangat, sangat tajam. “Kan sudah saya bilang tunggu di kamar mandi, Mas.”

Aku membuka mulut.

“Kan sudah saya bilang,” ulangnya.

Aku menutup mulut.

“Iya,” kataku. “Maaf.”

Di belakangku, samar, aku dengar Dimas berkata pada seseorang, “Wah, iya. Dia emang nggak kuat panas. Dulu waktu ospek juga gitu.”

Itu bohong. Dimas tidak pernah melihatku ospek. Dimas fakultas yang sama tapi angkatan yang sama pula, dan waktu ospek dia berada di barisan yang berbeda dan sedang sibuk pingsan sendiri.

Tapi ibu-ibu mengangguk. Karena begitulah cara kebohongan bekerja: dia tidak perlu benar, dia cuma perlu punya dua orang.

Salah satu ibu PKK bahkan mengambilkan kursi plastik untukku. Ibu yang lain mengipasi punggungku dengan tampah. Seorang anak PAUD berumur empat tahun mendekat, menatapku dari bawah, dan bertanya apakah aku baru saja keluar dari sumur.

Aku bilang iya. Rasanya itu jawaban paling jujur yang bisa kuberikan hari itu.

Dan begitulah cara dua puluh tiga anak PAUD, sebelas ibu PKK, satu Kepala Desa, dan satu Sekretaris Desa menerima penjelasan bahwa Ketua BEM Fakultas Teknik Universitas Wirapraja muncul di tengah balai desa dengan handuk dan gayung karena heat stroke.

Sampai sekarang aku belum pernah bertanya pada Nadia kenapa dia sudah memegang kotak P3K sebelum aku muncul.

Aku curiga jawabannya tidak akan membuatku merasa lebih baik.


Yang tidak diketahui dua puluh tiga anak PAUD, sebelas ibu PKK, satu Kepala Desa, dan satu Sekretaris Desa: aku tidak bisa pulang.

Bukan tidak boleh. Tidak bisa.

Aku mencoba, satu kali, ke arah pintu — dan berakhir kembali di dekat panci, dan seorang ibu bertanya apakah kepalaku masih pusing.

Jadi aku duduk di kursi plastik di sudut balai desa, dengan handuk di pinggang dan gayung yang akhirnya berhasil kuletakkan di lantai, dan aku melakukan hal paling melelahkan yang pernah kulakukan seumur hidupku.

Aku menenangkan orang dari jarak tiga langkah, di depan empat puluh orang, tanpa boleh terlihat sedang menenangkan siapa pun.

“Bu, boleh minta tolong Grace dikasih air putih?” — itu kalimat pertama.

Lalu, waktu ada yang lewat: “Grace. Napasnya.”

Lalu, lebih pelan, waktu tidak ada yang lewat: “Empat hitungan.”

Dia tidak melihat ke arahku. Dia berdiri menghadap dinding, memegang gelas air yang tidak dia minum, dan bahunya naik-turun terlalu cepat.

“Aku nggak bisa,” katanya, ke dinding.

“Bisa.”

“Semua orang lihat kamu.”

“Aku tahu.”

“Semua orang lihat kamu begitu dan itu gara-gara aku.”

Dan di situ aku mengerti sesuatu yang membuat sebelas menit berikutnya jauh lebih sulit dari yang seharusnya.

Dia tidak panik karena kompornya. Kompornya sudah mati dari tadi.

Dia panik karena aku muncul.

Sebelas menit. Aku menghitungnya di jam dinding balai desa yang kelebihan empat menit. Sebelas menit menghitung napas untuk seseorang yang sedang panik justru karena tubuhku ada di ruangan itu, sambil memakai handuk, sambil sesekali menjawab pertanyaan ibu-ibu tentang gejala heat stroke yang tidak pernah kualami.

Menjelang menit kesepuluh, bahunya turun.

Menjelang menit kesebelas, dia menoleh — cuma sekali, cuma sebentar — dan berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar:

“Makasih.”

Logam di suatu tempat mulai memanas.

Satu. Dua. Tiga.


Aku muncul kembali di bilik kamar mandi posko, di titik yang persis sama, dengan air di bak yang sudah tinggal setengah dan sabun yang sudah mengering di lantai.

Aku berdiri di sana cukup lama.

Lalu aku selesai mandi, karena apa lagi yang bisa dilakukan orang.

Malamnya, aku membuka buku catatan proyek itu, membalik ke halaman belakang, dan mengisi tabelnya.

Jarak: tidak berpengaruh dalam radius uji. Pemicu: bukan bahaya. Kompor sudah padam sebelum kejadian. Pemicu: bukan kemauan. Tidak dapat direproduksi. Arah: satu arah. Selalu dia yang menarik, selalu aku yang datang. Kepulangan: kembali ke titik asal. Ada jeda ± 3 detik. Syarat pulang: subjek B tenang. Betul-betul tenang.

Lalu aku menatap kolom terakhir, Penjelasan alternatif, dan tiga barisnya yang sudah kucoret semua.

Aku menulis baris keempat.

Butuh waktu lama sebelum tanganku mau menulisnya, karena begitu ditulis, dia jadi nyata, dan aku sudah dua puluh satu tahun hidup dengan prinsip bahwa segala hal bisa diselesaikan kalau kamu menyusunnya dengan benar.

Empat: gelangnya.

Aku menutup buku itu. Aku matikan senter. Di sebelahku Dimas mendengkur seperti mesin diesel yang sudah pasrah.

Dan aku berbaring dengan mata terbuka, memikirkan bukan soal kutukan, bukan soal Mbah Warsih, bukan soal gelang.

Aku memikirkan sebelas menit itu.

Dan pertanyaan yang tidak berhenti berputar sampai subuh bukan bagaimana ini bisa terjadi, melainkan pertanyaan yang jauh lebih tidak nyaman, yang aku tidak berani tulis di kolom mana pun:

Kenapa aku tidak marah?