Chapter Twelve

Jam Tujuh, Volume Kecil

Kamis kedua, tanggal dua belas, ada cicak lagi.

Kamis ketiga, tanggal sembilan belas, ada cicak lagi.

Aku tidak berkomentar.

Ada beberapa alasan yang kususun untuk tidak berkomentar, dan aku menyusunnya dengan sangat rapi, karena itulah yang kulakukan dengan hal-hal yang tidak ingin kuperiksa.

Alasan pertama: Pasal 6. Pihak yang tertarik dilarang berkomentar mengenai isi kamar pihak yang menarik. Cicak adalah isi kamar. Secara teknis.

Alasan kedua: kos itu memang lembap. Musim hujan. Wajar.

Alasan ketiga, yang tidak pernah kutulis di mana pun: kalau aku berkomentar, dia akan berhenti.


Yang perlu kujelaskan sekarang adalah bagian yang selama tiga bulan kusimpan lebih rapat daripada apa pun.

Namanya Rumah di Ujung Jalan. Film Indonesia tahun dua ribu tujuh belas. Durasi seratus dua belas menit. Bukan film bagus. Kritikus menyebutnya melodrama, dan kritikus benar.

Ceritanya sederhana. Seorang ayah harus menitipkan anak laki-lakinya yang berumur tujuh tahun ke rumah pamannya di kota lain, karena ibunya sakit dan ayahnya harus bekerja di tempat yang tidak bisa membawa anak.

Ada adegan di menit ke empat puluh sembilan.

Ayahnya berjongkok di depan anak itu di halaman rumah paman. Dia menjelaskan bahwa ini cuma sebentar. Dia bilang nanti dijemput. Dia bilang jangan nangis, nanti Ayah juga nangis.

Anak itu mengangguk.

Dan waktu ayahnya berbalik dan berjalan ke mobil, anak itu tetap berdiri di tempat yang sama, tidak mengejar, tidak memanggil, cuma berdiri, karena dia sudah bilang tidak akan nangis dan dia orang yang menepati janji.

Adegannya empat puluh detik.

Aku menontonnya untuk pertama kalinya waktu SMA, di rumah, sendirian, dan aku harus mematikannya di menit ke lima puluh dan pergi ke kamar mandi selama dua puluh menit.

Aku tidak pernah menontonnya lagi selama enam tahun.


Alasan keempat, yang baru kusadari jauh belakangan: kalau aku berkomentar, aku harus menjelaskan bagaimana aku tahu.

Dan aku tahu karena aku sudah mengeceknya.

Kamis pertama aku menganggapnya kebetulan. Kamis kedua aku membuka kalender. Kamis ketiga aku sudah tidak perlu membuka kalender.

Dan pada Kamis ketiga itu, sekitar pukul setengah delapan malam, aku duduk di kamar dengan lampu menyala dan skripsi terbuka dan tidak bisa membaca satu paragraf pun sampai jam sebelas lewat, karena aku sedang menunggu sesuatu yang tidak boleh kuakui sedang kutunggu.

Malam itu tidak ada apa-apa sampai jam sebelas lewat dua puluh. Lalu ada.

Dan aku merasakan sesuatu waktu lantai berubah — sesuatu yang bukan kaget, bukan kesal, bukan lelah.

Lega.

Aku memikirkan kata itu selama tiga hari sesudahnya dan tidak menemukan satu pun cara untuk menyusunnya jadi kalimat yang bisa kutulis di mana-mana.


Kamis, tanggal dua puluh enam Desember, pukul tujuh malam.

Dimas pulang kampung sampai tahun baru. Kos sepi. Aku sudah makan. Aku sudah mandi. Skripsiku sedang menunggu revisi dari pembimbing dan tidak ada yang bisa kukerjakan.

Aku membuka laptop. Aku mencari judul itu. Aku menemukannya.

Aku mengecilkan volume sampai tiga.

Aku ingin menuliskan dengan jelas apa yang kukatakan pada diriku sendiri malam itu, karena kalimatnya masih kuingat persis:

Ini uji coba lanjutan. Uji F. Aku belum pernah menguji rangsangan emosional. Datanya belum lengkap.

Aku bahkan membuka buku catatan dan menulis tanggalnya di halaman baru.

Itu satu-satunya kebohongan yang pernah kutulis di buku catatan itu.


Menit ke empat puluh sembilan datang seperti biasa.

Halaman rumah paman. Ayah berjongkok. Anak berumur tujuh tahun dengan tas ransel yang terlalu besar untuk badannya.

Nanti dijemput, ya.

Aku sudah dua puluh satu tahun. Aku sudah memimpin forum tujuh jam. Aku sudah berdiri di depan tiga penguji.

Dan yang terjadi di tubuhku waktu ayahnya berbalik bukan sedih.

Ini yang tidak dimengerti orang, dan yang aku sendiri tidak mengerti sampai malam itu: yang naik bukan air mata duluan. Yang naik duluan adalah detak. Cepat, tidak teratur, di leher. Dan sesuatu di dada yang menutup, seperti pintu yang dikunci dari luar, dan aku berumur enam tahun lagi di kamar belakang rumah nenek dengan tiga ekor benda di dinding dan tidak ada yang akan datang sampai pagi.

Bukan kesedihan.

Panik.

Aku bahkan sempat mencatatnya, dengan tangan yang bergetar, di buku catatan itu, sebelum lantai berubah:

Uji F. Positif. Mekanismenya bukan sed—


Dia berdiri di kamarku dengan mangkuk mi instan di tangan.

Rambut basah. Kaus lengan panjang kebesaran. Kacamata — dan itu pertama kalinya aku melihatnya pakai kacamata, karena dia cuma memakainya di kamar, dan aku baru tahu itu bertahun-tahun kemudian.

Uapnya masih naik dari mangkuk.

Layar laptopku masih menyala, menghadap ke arah pintu, dan suaranya kecil tapi jelas di kamar yang sunyi.

Dia melihat layar itu.

Dia melihatku.

Dan aku sedang duduk di lantai dengan punggung ke sisi kasur, dengan buku catatan terbuka di sampingku, dengan wajah yang tidak sempat kuurus sama sekali, karena tidak ada tiga detik peringatan untuk yang menarik. Peringatan itu cuma untuk yang datang.

Aku tidak sempat apa-apa.

Ini bagian yang paling sulit kutulis.

Aku sudah menyiapkan sekitar empat kalimat sepanjang tiga bulan terakhir untuk situasi darurat apa pun. Aku punya cerita untuk kos putri. Aku punya cerita untuk balai desa. Aku punya cerita untuk ruang sidang.

Aku tidak punya satu pun kalimat untuk ini.

Jadi aku tidak mengatakan apa-apa.

Dan dia juga tidak.


Dia berjalan ke meja belajarku. Dia meletakkan mangkuk mi itu di sana, di atas tatakan gelas, supaya tidak meninggalkan bekas panas di meja.

Lalu dia duduk.

Di lantai. Di sisi ruangan yang berlawanan denganku. Sudut terjauh, dekat lemari, dengan punggung ke dinding — jarak yang biasanya aku yang pilih di kamarnya.

Dia melipat kakinya. Dia menaruh tangannya di pangkuan.

Dan dia menonton sisa filmnya.

Enam puluh tiga menit.

Kami tidak bicara sama sekali selama enam puluh tiga menit. Dia tidak mendekat. Dia tidak menyentuh apa pun. Dia tidak bertanya apa judulnya, tidak bertanya kenapa volumenya tiga, tidak bertanya kenapa ada buku catatan terbuka dengan kalimat yang berhenti di tengah kata.

Sekali, sekitar menit kedua puluh, dia berdiri — dan aku merasakan sesuatu yang sangat mirip dengan panik untuk kedua kalinya malam itu — tapi dia cuma mengambil mangkuk mi-nya, membawanya kembali ke lantai, dan memakannya di sana.

Mi instan. Di lantai. Sambil menonton film yang bukan pilihannya. Di kamar orang yang tiga jam lalu tidak dia rencanakan untuk dikunjungi.

Sekitar menit keempat puluh, dia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kaus, dan memakainya lagi.

Aku menoleh — cuma sebentar, cuma karena gerakannya menarik perhatian — dan aku mendapati bahwa dia sedang tidak menonton layar.

Dia sedang melihat ke arah rak bukuku.

Di rak itu ada kalender akademik yang dicoret tiga warna, buku-buku struktur, satu kardus kecil berisi kabel, dan di ujung kanan, di antara dua buku, sebuah mangkuk keramik kecil dengan kuas kecil di dalamnya.

Aku belum mengembalikannya. Sudah lima minggu.

Dia melihatnya cukup lama.

Lalu dia kembali menghadap layar, dan tidak mengatakan apa-apa, dan aku duduk di lantai dengan wajah panas untuk alasan yang sama sekali berbeda dari sepuluh menit sebelumnya.

Filmnya berakhir dengan cara yang buruk, seperti yang sudah kutahu.

Layar jadi hitam. Kredit naik.

Dan dalam sunyi itu, dia bicara untuk pertama kalinya.

“Aku nggak suka endingnya.”

“Kenapa?”

“Karena anaknya dijemput.” Dia mengangkat bahu. “Terlalu enak. Kalau ceritanya mau jujur, dia nggak dijemput. Dia cuma tumbuh gede dan tetep nunggu.”

Aku menatap layar hitam itu.

“Iya,” kataku.

Cuma itu.


Gelang di sakuku tidak memanas.

Kami sama-sama menyadarinya sekitar sepuluh menit setelah film selesai, dan tidak ada yang membicarakannya.

Aku tahu apa artinya. Dia juga tahu apa artinya. Artinya aku belum tenang, dan artinya dia tahu aku belum tenang, dan artinya sekarang ada dua orang di ruangan ini yang sama-sama pura-pura tidak sedang menghitung.

Jam sembilan lewat, dia berkata: “Kamu punya kopi?”

“Sachet.”

“Boleh.”

Dia membuatnya sendiri dengan dispenser di sudut kamar. Aku mendengar bunyi sendok mengaduk. Aku tidak menoleh, karena aku belum sanggup menoleh.

Dia meletakkan satu gelas di lantai, di dekat kakiku, dalam jarak yang bisa kujangkau tanpa harus meminta.

Lalu dia kembali ke sudutnya dengan gelasnya sendiri.

Dan itulah malam pertama.

Aku ingin sekali menulis bahwa aku menyadarinya waktu itu juga, bahwa aku mencatatnya sebagai peristiwa penting, bahwa ada semacam kesadaran yang datang seperti lampu menyala.

Tidak ada.

Yang ada cuma dua gelas kopi sachet di lantai kamar kos yang sepi karena Dimas pulang kampung, dan dua orang yang duduk di dua sudut berlawanan, dan satu di antaranya bicara tentang jadwal kereta ke Semarang untuk libur akhir tahun sementara yang satunya mendengarkan.

Gelang itu memanas jam sepuluh lewat dua puluh.

Dia sudah tahu sebelum aku memberi tahu — dia melihat ke arahku waktu aku menegakkan punggung — dan dia berdiri, dan dia menaruh gelasnya di meja, dan dia mengangkat tangan sedikit, setengah lambaian, canggung sekali.

Satu. Dua. Ti—

Kosong.


Aku duduk di lantai sendirian dengan dua gelas kopi.

Satu kosong. Satu setengah, dingin.

Aku memandanginya lama sekali, dan yang kupikirkan bukan hal yang seharusnya kupikirkan.

Yang seharusnya kupikirkan: bahwa aku baru saja menemukan pemicu yang bisa kuulang. Bahwa uji F positif. Bahwa setelah dua belas hari uji coba yang semuanya gagal, aku akhirnya menemukan satu-satunya tombol yang berfungsi di seluruh sistem ini.

Bahwa aku, secara teknis, baru saja menemukan cara memanggil seseorang.

Aku berdiri. Aku mengambil buku catatan itu dari lantai.

Halaman terakhir: Uji F. Positif. Mekanismenya bukan sed—

Aku menatapnya.

Lalu aku merobek halaman itu.

Aku merobeknya jadi empat, lalu delapan, lalu aku membuangnya ke tempat sampah di bawah meja, dan aku menutup buku catatan itu dan memasukkannya ke laci paling bawah dan tidak pernah membukanya lagi sampai bulan Mei.

Karena kalau aku menulisnya, dia jadi data.

Kalau dia jadi data, dia jadi prosedur.

Dan kalau dia jadi prosedur, maka aku sudah melanggar satu-satunya syarat yang pernah dia minta dariku di Warung Bu Tin, dengan tatapan lurus, dengan kalimat yang sudah kusetujui:

Kalau ada tombol yang bisa manggil orang dari mana aja, cepat atau lambat ada yang bakal mencetnya bukan karena darurat.


Aku mencuci dua gelas malam itu.

Dan sebelum tidur aku mengirim satu pesan, karena tidak mengirim apa pun akan terasa seperti pengakuan.

Ke: Grace (Poros) Maaf soal tadi.

Dari: Grace (Poros) maaf soal apa

Aku menatap dua kata itu cukup lama.

Dia tidak sedang berpura-pura tidak mengerti. Aku sudah cukup mengenalnya untuk membedakan. Dia sedang memberiku pintu keluar yang cukup lebar untuk kulewati tanpa harus menunduk.

Ke: Grace (Poros) Nggak jadi.

Dari: Grace (Poros) oke miku enak btw kamu punya yang rasa soto?

Dan aku berbaring di kamar yang gelap sambil menyadari bahwa selama tiga bulan terakhir aku sudah beberapa kali diselamatkan oleh orang yang sama, dengan cara yang berbeda-beda, dan cuma satu di antaranya yang melibatkan kutukan.


Dan Kamis berikutnya — tanggal dua Januari, hari pertama semester baru, kos masih setengah kosong — jam tujuh malam, aku duduk di lantai kamar dengan laptop di pangkuan.

Aku sudah menghapus filmnya.

Aku mengunduhnya lagi.

Aku mengecilkan volume sampai tiga.

Dan sambil menunggu menit ke empat puluh sembilan, aku menyadari bahwa aku sudah menyeduh dua gelas kopi sebelum filmnya mulai, dan bahwa satu di antaranya sudah kuletakkan di lantai, di sudut yang berlawanan, di jarak yang bisa dijangkau seseorang tanpa harus meminta.

Aku tidak berhenti.

Aku tidak menyalakan lampu besar.

Aku tidak pernah menyebutkannya kepada siapa pun, termasuk kepada diriku sendiri, selama lima minggu berikutnya.