Chapter Thirty Five
Menahan
Setahun tiga bulan sebelumnya, di Warung Bu Tin, aku menyerahkan selembar kertas tulisan tangan berjudul Prosedur Pelepasan Terjadwal, dan seseorang menertawakanku karena memberi nama pada sesuatu.
Aku gagal membuat prosedur itu.
Dua belas hari uji coba, enam eksperimen, semuanya negatif. Panik tidak bisa dipancing, tidak bisa dijadwalkan, tidak bisa dipalsukan.
Yang tidak pernah kuuji waktu itu adalah arah sebaliknya.
Panik tidak bisa dinyalakan.
Tapi bisa dimatikan.
Aku mulai tanggal sepuluh Oktober, jam enam pagi, sekitar dua menit setelah mengirim pesan yang berbunyi kalau ada apa-apa, telepon aku dulu sebelum kamu takut, yang merupakan permintaan paling tidak masuk akal yang pernah kuajukan kepada siapa pun.
Aku membuka buku catatan proyek lama — yang kutaruh di laci paling bawah bulan Desember tahun lalu dan tidak pernah kubuka lagi — dan aku membalik ke halaman kosong pertama.
Aku menulis judulnya.
Lalu aku mencoretnya, karena aku sudah belajar sesuatu tentang memberi nama.
Isinya tetap kutulis.
Satu. Hilangkan kejutan.
Panik butuh lonjakan. Lonjakan butuh sesuatu yang tiba-tiba. Kalau tidak ada yang tiba-tiba, tidak ada lonjakan.
Jadi: tidak ada lagi yang tidak diketahui.
Aku memeriksa kamar kos baru di Pogung setiap malam sebelum tidur. Kolong lemari, celah pintu, ventilasi, kolong kasur, sudut di belakang galon. Aku memasang lakban di lubang angin, dua lapis. Aku menaruh kapur barus di sembilan titik, bukan empat.
Aku tidak pernah mematikan lampu sepenuhnya. Lampu tidur menyala setiap malam, menghadap dinding, agar kalau aku terbangun aku sudah tahu di mana aku.
Aku hafal jadwal semua orang di kos itu. Siapa pulang jam berapa, siapa mandi jam berapa, motor siapa yang bunyinya seperti apa.
Dalam tiga minggu, tidak ada satu pun benda di dalam radius sepuluh meter dari tubuhku yang tidak kuketahui posisinya.
Dua. Habiskan cadangannya lebih dulu.
Ini yang paling efektif dan paling mahal.
Kalau tubuh sudah berada di ambang sepanjang hari, dia kehabisan tenaga untuk melonjak.
Aku berhenti tidur nyenyak. Itu bukan keputusan, itu efek, tapi aku menyadari sekitar minggu kedua bahwa efek itu menguntungkan dan aku berhenti melawannya.
Orang yang tidur tiga jam tidak punya tenaga untuk panik.
Orang yang tidur tiga jam juga tidak punya tenaga untuk hal lain, tapi hal lain itu bukan prioritas.
Tiga. Jangan pernah sendirian dengan sesuatu yang belum diketahui.
Surat yang datang, aku buka di tempat terbuka, siang hari, di warung, di antara orang.
Telepon dari nomor tidak dikenal, aku angkat sambil berdiri, di luar, dengan punggung ke dinding.
Kalau ada yang menunggu di depan kos — dan itu terjadi dua kali, tanggal enam belas dan tanggal dua puluh tiga, dua orang, sopan, umur empat puluhan, yang menanyakan apakah saya yang memberi data ke koran mahasiswa — aku menjawabnya di depan warung burjo, di bawah lampu, dengan penjual burjo sebagai saksi yang tidak tahu bahwa dia sedang jadi saksi.
Keduanya tidak mengancam. Aku ingin mencatat itu dengan jujur. Mereka tidak mengancam sekali pun.
Yang pertama bertanya apakah saya sudah dapat pekerjaan.
Yang kedua bertanya bagaimana kabar bapak saya di Semarang, dan menyebut nama jalan.
Empat. Obat.
Antasida tablet kunyah. Sebelumnya dua sampai empat per hari, tergantung.
Bulan Oktober: enam. Awal November: delapan. Pertengahan November: aku berhenti menghitung, dan berhenti menghitung adalah satu-satunya keputusan paling tidak jujur yang kuambil sepanjang tahun itu, karena aku menghitung segala hal, dan berhenti menghitung berarti aku sedang memilih untuk tidak tahu.
Lima. Jangan disentuh.
Ini yang terakhir kutulis dan yang paling cepat kupelajari.
Tangan sudah mulai bergetar sejak minggu kedua. Bukan gemetar besar. Getaran kecil di dua jari, kadang tiga, yang hilang kalau tanganku sedang memegang sesuatu.
Jadi tanganku selalu memegang sesuatu.
Ponsel. Kunci. Gelas. Pulpen. Kalau tidak ada apa-apa, aku memasukkan tangan ke saku.
Dan kalau ada tangan lain yang bergerak ke arah tanganku, aku memindahkan tanganku terlebih dahulu — mengambil sesuatu, membetulkan kerah, merapikan yang tidak perlu dirapikan — sekitar setengah detik sebelum kontak terjadi.
Setengah detik.
Aku melatihnya sampai tidak kelihatan seperti latihan.
Enam. Jangan menghitung yang tidak boleh diketahui.
Ini butuh waktu paling lama untuk kupahami dan paling cepat untuk kulakukan.
Aku menghitung segala hal. Itu bukan kebiasaan, itu cara aku berpikir. Aku menghitung tiga ratus dua puluh eksemplar koran dari luar jendela sekretariat. Aku menghitung sebelas menit di balai desa, lima puluh satu detik di lantai kamar kos, sembilan menit di pelataran rektorat, empat puluh menit di gedung terkunci.
Angka-angka itu ada di kepalaku dan tidak bisa dihapus.
Dan angka-angka itu juga yang paling berbahaya, karena kalau ditanya, aku akan menjawab dengan tepat, dan orang yang menjawab dengan tepat sedang mengaku bahwa dia memperhatikan.
Jadi aku berhenti menghitung hari.
Tanggal berapa terakhir kali ketemu. Berapa hari sejak Kamis terakhir. Berapa jam sejak pesan terakhir dibalas.
Aku berhenti menghitung ketiganya pada minggu ketiga bulan Oktober.
Aku tetap tahu angkanya.
Aku cuma berhenti menuliskannya.
Yang paling sulit bukan lima itu.
Yang paling sulit adalah hari Kamis.
Empat belas bulan. Setiap Kamis, sejak bulan Desember tahun lalu. Bahkan setelah lubang anginnya dilakban empat sisi, bahkan setelah tidak ada lagi cicak yang bisa masuk ke kamar itu, setiap Kamis jam tujuh malam aku ada di lantai kamar kos Melati Dua dengan dua gelas kopi dan film yang jelek.
Kamis pertama bulan Oktober aku datang.
Kamis kedua aku datang.
Kamis ketiga aku bilang ada urusan dengan berkas kelulusan.
Kamis keempat aku bilang bapakku menelepon.
Kamis pertama bulan November aku bilang aku ke Semarang.
Aku tidak ke Semarang.
Aku duduk di lantai kamar kos di Pogung, sendirian, dengan lampu tidur menyala menghadap dinding, dan aku memeriksa kolong lemari untuk keempat kalinya malam itu.
Alasannya sederhana, dan aku sudah menghitungnya di bahu Jalan Kaliurang empat menit setelah sedan putih itu lewat.
Kalau aku panik, dia muncul di tempatku.
Apa adanya. Tanpa persiapan. Di tengah apa pun yang sedang terjadi.
Dan yang sedang terjadi di tempatku, sejak bulan Oktober, adalah dua orang berumur empat puluhan yang tahu nama jalan rumah bapakku.
Aku sudah melihat sendiri bagaimana rasanya. Aku muncul di tengah Jalan Kaliurang tanpa alas kaki dan sebuah sedan membanting setir sembilan puluh meter dari tubuhku, dan yang menarikku ke bahu jalan adalah orang yang beratnya empat puluh delapan kilogram.
Aku tidak akan pernah membiarkan itu terbalik.
Dan yang paling praktis: kalau kami tidak bertemu, dia tidak akan melihat tanganku.
Nadia menemukanku tanggal delapan November, di apotek gerbang selatan, jam delapan malam.
Aku sudah selesai membayar. Aku sudah memasukkan kantongnya ke tas.
“Mas Rayyan.”
Aku berbalik.
Dia berdiri di depan rak vitamin dengan tas kuliahnya, masih memakai jas lab, dengan wajah yang sama sekali tidak terkejut.
“Nad. Malam.”
“Malam.” Dia melihat tasku. “Berapa strip?”
“Apa?”
“Berapa strip, Mas.”
Aku berdiri di apotek gerbang selatan pada malam Sabtu bulan November dan aku menyusun empat kalimat dalam waktu satu setengah detik dan ketiganya adalah bohong.
Yang keempat juga bohong, tapi lebih rapi.
“Dua. Buat stok.”
“Mas beli dua strip tanggal dua puluh sembilan Oktober. Tiga strip tanggal empat November. Sekarang tanggal delapan.”
Aku tidak menjawab.
“Aku nggak ngintip resep, Mas. Aku nggak punya akses ke situ.” Dia menyampirkan tasnya. “Mas Bayu yang jaga di sini itu kakak tingkatku. Dia ngeluh tiap minggu soal orang yang beli antasida kayak beli permen. Bukan cuma Mas. Ada empat orang. Aku cuma tahu Mas yang mana.”
“Nad—“
“Antasida itu ngilangin rasanya, Mas.” Suaranya tetap ramah. Suaranya selalu tetap ramah. “Dia nggak ngobatin apa-apa. Dia cuma matiin alarmnya. Kalau alarmnya dimatiin terus, Mas nggak akan tahu kapan harus ke dokter.”
“Aku tahu.”
“Mas tahu?”
“Aku baca.”
“Di mana?”
Dan aku hampir menjawab.
Aku hampir bilang di kertas resep tulisan tangan kamu, yang dikasih ke aku bulan Mei, yang masih ada di saku kemejaku.
Aku tidak menjawab.
Nadia menatapku beberapa detik.
“Mas,” katanya. “Aku nggak akan ngomong ke Mbak Grace.”
Aku mengangkat kepala terlalu cepat.
“Nah,” katanya.
“Nad—“
“Aku nggak akan ngomong. Aku udah selesai jadi orang yang ngurusin urusan kalian.” Dia mengangkat bahu, dan senyumnya sampai ke matanya, dan itu yang paling buruk. “Tapi Mas baru aja ngasih tahu aku bahwa dia nggak tahu.”
Dia berjalan ke pintu.
Lalu berhenti.
“Mas Rayyan, satu hal.”
“Iya.”
“Orang yang kuat itu baru ketahuan waktu udah nggak bisa jalan.” Dia membuka pintu kaca. “Aku pernah bilang itu ke Mbak Grace bulan Mei. Dia nulis di buku catatannya. Aku lihat.”
Dan dia pergi.
Aku berhasil dua puluh dua kali.
Aku menghitungnya, karena aku menghitung segala hal, kecuali strip obat.
Dua puluh dua kali antara sepuluh Oktober dan dua puluh tujuh November, aku merasakan sesuatu naik ke bahuku — bahu selalu duluan, bukan jantung, bukan tangan — dan aku menghentikannya.
Cara menghentikannya begini, dan aku menuliskannya karena aku ingin ada catatannya betapa bodohnya ini:
Aku menghitung.
Empat. Tahan tujuh. Buang delapan.
Dengan suara yang persis sama seperti suara yang kupakai di halaman posko Sumberwangi jam dua pagi, di balai desa, di pelataran rektorat, di ruang sidang dari jarak sembilan meter.
Aku memakai satu-satunya hal yang pernah kuberikan kepada orang itu, untuk memastikan orang itu tidak pernah lagi datang kepadaku.
Dua puluh dua kali.
Dua puluh dua kali gelang di sakuku tetap dingin.
Dan setiap kali gelang itu tetap dingin, aku merasakan sesuatu yang tidak akan pernah bisa kujelaskan kepada siapa pun tanpa terdengar gila.
Lega.
Dan sesudah lega, sekitar dua sampai tiga detik kemudian, hal yang lain.
Hal yang jauh lebih besar, yang datang tepat setelah lega, setiap kali, tanpa gagal, selama dua puluh dua kali berturut-turut.
Sepi.
Ada satu hari di antara dua puluh dua itu yang perlu kutulis, karena hari itu satu-satunya kali aku hampir berhenti.
Tanggal sembilan belas November, hari Rabu, jam empat sore, di depan gerbang selatan.
Aku baru keluar dari fotokopi. Dia baru keluar dari perpustakaan.
Kami berpapasan.
Bukan janjian. Betul-betul berpapasan, di trotoar, di antara dua puluhan mahasiswa yang pulang kuliah, dalam jarak tiga meter.
Dan dia berhenti.
“Van.”
“Hai.”
“Kamu—“ Dia melihat wajahku terlalu lama. “Kamu kurusan.”
“Legalisir ijazah bikin capek.”
Dia tidak tertawa.
Dan dia mengangkat tangannya — pelan, biasa saja, tanpa maksud apa-apa, cuma gerakan orang yang mau menyentuh lengan orang lain di trotoar di depan gerbang selatan pada jam empat sore.
Aku memindahkan tanganku setengah detik lebih dulu.
Aku membetulkan tali ranselku.
Tanganku sampai di tali ransel dan tangannya sampai di udara kosong, dan kami berdua melihatnya, dan tidak ada satu pun dari kami yang mengatakan apa-apa.
Dia menurunkan tangannya.
“Aku duluan ya,” katanya.
“Iya.”
Dan dia pergi ke arah utara, dan aku pergi ke arah selatan, dan aku berjalan seratus dua puluh meter sebelum aku harus berhenti dan berpegangan pada pagar dan menghitung sampai bahuku turun.
Itu yang kedua belas.
Aku berhasil.
Yang kedua puluh tiga terjadi tanggal dua puluh delapan November, jam sebelas malam.
Aku tidak akan menuliskan apa pemicunya karena itu tidak penting dan karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menulis bagian itu.
Yang penting: yang ini tidak berhasil.
Bahuku naik dan tidak mau turun. Aku menghitung dan angkanya tidak berbunyi benar. Aku berdiri dan ruangan itu miring sedikit ke kiri, dan aku duduk kembali di lantai dengan punggung ke sisi kasur dan tangan kiriku menekan perut di titik yang sudah kuhafal selama enam minggu terakhir.
Empat. Tahan tujuh. Buang delapan.
Empat. Tahan tujuh—
Dan aku merasakan gelang itu.
Di saku celana, di paha kanan. Menghangat.
Aku menariknya keluar dengan tangan yang sudah tidak bisa berpura-pura tidak bergetar.
Empat belas bulan aku memegang benda itu dan aku belum pernah sekali pun melihatnya menghangat dari sisi ini. Dari sisi yang menarik. Dari sisi yang panik.
Tembaganya menyala dari dalam dengan cara yang tidak masuk akal secara fisika.
Dan aku duduk di lantai kamar kos di Pogung, lantai bawah, dekat selokan, pada malam tanggal dua puluh delapan November jam sebelas lewat, dan yang kupikirkan bukan tolong.
Yang kupikirkan adalah: dia bakal muncul di sini, di kos yang alamatnya udah ditanyakan dua orang, jam sebelas malam, apa adanya.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang tersisa.
Aku membuka pintu kamar.
Aku keluar. Aku berjalan ke warung burjo di ujung gang, yang masih buka, yang selalu buka sampai jam tiga.
Aku duduk di bangku panjang di antara empat mahasiswa yang sedang bermain kartu dan seorang bapak yang sedang menonton bola.
Aku memesan teh hangat.
Dan aku duduk di sana, di tempat paling terang dan paling ramai yang bisa kucapai dalam waktu sembilan puluh detik, dengan tangan memegang gelas supaya tidak kelihatan, dan aku menghitung sampai bahuku turun.
Butuh empat puluh menit.
Gelang itu tidak pernah cukup panas.
Tidak ada yang muncul.
Dan aku pulang jam dua belas lewat dan tidur satu jam empat puluh menit, dan besok paginya aku mengirim pesan yang berbunyi Selamat pagi. Aku sehat. Kamu gimana?
Dan dia membalas sehat juga.
Dan kami berdua bohong pada hari Sabtu tanggal dua puluh sembilan November, dan cuma satu dari kami yang tahu bahwa yang satunya bohong.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan reading
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau