Chapter Thirty Nine
Pasal Tiga Belas
Aku di rumah sakit empat hari.
Endoskopi hari kedua. Transfusi dua kantong. Dokternya perempuan berumur tiga puluhan yang bicara sangat cepat dan tidak sekali pun menghaluskan apa pun, dan aku berterima kasih kepadanya sampai sekarang untuk itu.
“Mas ini beruntung,” katanya, sambil membaca layar. “Bukan karena kondisinya ringan. Karena ada yang nemuin.”
“Nggih, Dok.”
“Berapa lama Mas minum antasida?”
“Dua tahun.”
“Sehari berapa?”
Dan aku duduk di ranjang itu dan menjawab dengan satu-satunya kalimat yang tersedia, yang juga kalimat paling memalukan yang pernah kuucapkan kepada orang asing:
“Saya berhenti ngitung bulan November, Dok.”
Beliau menulis sesuatu.
“Mas kerja apa?”
“Belum kerja.”
“Lagi ada masalah?”
Aku membuka mulut.
Dan aku menutupnya lagi, karena ada seseorang duduk di kursi plastik di sisi kanan ranjang yang sudah tiga hari tidak pulang ke kosnya, dan orang itu tidak mengangkat kepala dari ponselnya, dan aku tahu persis bahwa dia sedang tidak membaca apa pun di ponsel itu.
“Ada, Dok,” kataku.
Kursi plastik itu berbunyi sedikit.
Bapakku datang hari kedua.
Naik kereta pagi dari Semarang, sendirian, memakai kemeja lengan panjang yang biasa beliau pakai kalau ke kantor pos.
Beliau berdiri di ambang pintu kamar selama beberapa detik, melihat selang infus, dan bilang:
“Kok nggak bilang.”
Bukan pertanyaan. Tidak ada nada tanya sama sekali.
“Maaf, Pak.”
Beliau duduk di kursi di sisi kiri. Beliau tidak menyentuhku. Beliau tidak menanyakan apa pun tentang penyakitnya.
Beliau bertanya tentang biaya kamar, tentang apakah aku sudah makan, tentang apakah kosnya sudah dibayar bulan ini.
Empat puluh menit.
Dan waktu beliau berdiri untuk pulang mengejar kereta sore, beliau berhenti di ambang pintu dengan punggung ke arahku, dan bilang — cepat sekali, seperti orang melempar sesuatu supaya tidak perlu memegangnya:
“Bapak nanya kamu ada masalah, kamu bilang nggak.”
“Nggih.”
“Bapak juga gitu dulu sama bapak Bapak.” Beliau membetulkan tas. “Jangan diterusin.”
Lalu beliau pergi.
Itu percakapan terpanjang yang pernah kami punya tentang perasaan dalam dua puluh dua tahun, dan panjangnya dua kalimat, dan aku memikirkannya sampai sekarang.
Grace tidak pulang selama tiga hari.
Dia tidur di kursi plastik. Dia mandi di rumah kos temannya yang dekat rumah sakit. Sasa membawakan baju ganti. Dimas membawakan makanan dan menceritakan lelucon yang tidak lucu dan tertawa sendiri.
Dan sepanjang tiga hari itu, kami tidak membicarakan satu pun hal yang penting.
Sampai hari keempat, pagi, sekitar jam sembilan, waktu tidak ada siapa-siapa.
“Van.”
“Hm.”
“Aku mau nanya sesuatu dan aku mau kamu jawab yang bener.”
“Tanya.”
“Malam itu.” Dia menegakkan badan di kursi plastik. “Waktu gelangnya panas. Kamu nahan?”
Aku menatap langit-langit kamar rumah sakit itu.
“Nggak.”
“Van.”
“Aku nggak nahan.” Aku menoleh. “Ace, aku pengin kamu dateng. Aku duduk di lantai sambil megang gelang itu dan aku pengin kamu dateng ke kamar itu, jam setengah sebelas malam, ke kos yang alamatnya udah ditanyain dua orang.”
Dia tidak bergerak.
“Aku berhenti nahan malam itu,” kataku. “Aku berhenti, dan aku tetap sendirian, dan itu yang paling adil yang pernah terjadi sama aku seumur hidup.”
Hari keempat sore, sebelum pulang, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Amplop cokelat kecil. Isinya dua kertas.
Yang pertama: resep tulisan tangan Nadia. Bulan Mei. Terlipat dua, lunak di lipatannya.
Yang kedua: sobekan halaman buku catatan, terlipat empat, tulisannya sendiri.
Dia meletakkan keduanya di meja kecil di sebelah ranjang, berdampingan.
“Baca yang kedua,” katanya.
Aku membacanya.
Aku baru saja meminta orang lain mengawasi orang yang aku sayang, tanpa memberitahu orangnya. Ini persis yang aku benci dari orang-orang yang aku tulis selama tiga tahun.
“Bulan Mei,” katanya. “Aku minta Nadia ngitungin berapa strip yang kamu beli. Aku nggak pernah cerita ke kamu. Tujuh bulan.”
Aku memegang kertas itu.
“Ace—“
“Aku nggak lagi minta maaf.” Dia menyandarkan punggung. “Aku lagi bilang: aku juga.”
Dan kami duduk di kamar rumah sakit itu berdua dengan dua kertas di meja, dan tidak ada satu pun dari kami yang tersenyum, dan itu satu-satunya percakapan jujur yang kami punya sepanjang bulan Desember.
Aku menulisnya di kos, hari kelima, jam sepuluh malam, dengan tangan yang masih bergetar di dua jari karena obatnya belum stabil.
Aku mengeluarkan dompet.
Kertas itu sudah enam belas bulan. Menguning di bagian atas. Bergelombang. Materai enam ribu yang tidak berlaku sejak dua ribu dua puluh satu, sedikit miring, ditempel oleh ibu jari seseorang di Warung Bu Tin pada bulan Agustus.
Pasal 1 dicoret dengan garis lurus yang rapi, tanggal ditulis kecil di margin.
Pasal 8 dengan tulisan tangan yang jelek.
Aku memakai pulpen dengan tinta biru, karena pulpen hitamku habis dan aku tidak mau menunggu sampai besok.
Pasal 13 — Dilarang menahan panik sendirian.
Tidak ada Pasal 9 sampai 12. Aku tidak membuatnya. Aku membiarkan lompatannya di sana karena orang yang pertama kali menomori pasal secara asal-asalan melakukannya supaya kelihatan penting, dan aku tidak pernah mengoreksinya, dan aku tidak akan mengoreksinya sekarang.
Aku menulis tanggalnya di margin, kecil.
Lalu aku menulis satu baris lagi di bawahnya, lebih kecil lagi, yang tidak pernah kuberitahukan kepada siapa pun dan yang baru dia temukan lima bulan kemudian:
Berlaku surut sejak 10 Oktober.
Aku datang ke kosnya hari Kamis, tanggal delapan belas Desember, jam tujuh malam.
Tidak ditarik.
Aku naik ojek daring karena aku belum boleh bawa motor. Aku membawa dua sachet kopi dan satu bungkus gula, di plastik, di tangan — karena aku sudah terbiasa memegang barang di tangan selama enam belas bulan, dan kebiasaan itu tidak hilang dalam empat hari.
Dia membuka pintu.
Dan hal pertama yang dia lakukan adalah melihat tanganku.
Bukan wajahku. Tanganku.
“Masih gemeter.”
“Dokternya bilang dua minggu.”
“Masuk.”
Aku masuk, dan aku duduk di sudut yang sama seperti biasanya, dan dia menjerang air.
Dan sekitar sepuluh menit kemudian ada dua gelas kopi di lantai kamar kos Melati Dua pada hari Kamis jam tujuh lewat, dan salah satunya diseduh setelah orangnya datang, bukan sebelum.
Aku menyerahkan kertas itu.
Dia membacanya di bawah lampu, lama sekali untuk satu kalimat.
Lalu dia melipatnya jadi empat.
Dan dia memasukkannya ke dompetnya sendiri.
“Itu punyaku,” kataku.
“Sekarang punyaku.”
“Ace—“
“Pasal tiga belas itu buat kamu.” Dia menutup dompetnya. “Jadi yang nyimpen orang yang lain.”
Sisanya aku tulis sependek mungkin, karena sisanya tidak rapi dan aku tidak akan berpura-pura sebaliknya.
Januari. Hasil pemeriksaan struktur pihak ketiga keluar. Sembilan titik memerlukan perkuatan. Satu titik dinyatakan tidak memenuhi. Gedung Serba Guna ditutup penuh untuk retrofit selama enam bulan. Biayanya ditanggung pelaksana berdasarkan klausul masa pemeliharaan yang selama ini tidak pernah ada yang membaca.
Februari. Audit gabungan selesai. Temuannya dua puluh tiga poin. Yang berujung sanksi: empat.
Bendahara BEM Fakultas Teknik dua periode sebelumku dicabut gelarnya? Tidak. Dia sudah lulus tiga tahun lalu dan bekerja di Balikpapan dan tidak bisa dihubungi.
Pak Hendra dari Bagian Kemahasiswaan dimutasi ke unit lain di universitas yang sama, dengan golongan yang sama, dengan gaji yang sama. Beliau tidak pernah korupsi sepeser pun. Beliau menandatangani tanpa membaca selama sebelas tahun.
Maret. PT Ardhi Karsa Nusantara mengumumkan perubahan susunan pengurus. Direktur Operasional mengundurkan diri.
Tidak ada perkara pidana. Tidak ada satu orang pun yang ditahan. Tidak ada satu rupiah pun yang dikembalikan ke siapa pun.
Yang ada: satu perusahaan menanggung biaya retrofit, satu orang mundur dari jabatannya, satu pegawai kampus dimutasi, dan satu gedung yang tidak akan runtuh menimpa enam ratus orang.
Aku sudah berkali-kali mencoba menghitung apakah itu cukup.
Aku tidak pernah sampai ke angka yang enak.
Aku bertemu Bang Yudha sekali, tanggal dua puluh tujuh Maret, di sebuah warung kopi di Jalan Kaliurang yang dia pilih.
Dia yang menghubungi.
Dia kelihatan sama. Itu bagian yang paling sulit. Kemeja lengan panjang digulung, jam tangan yang sama, cara duduk yang sama.
“Yan.”
“Bang.”
“Kamu kurusan.”
“Sakit, Bang. Desember.”
“Aku denger.” Dia mengaduk kopinya. “Lambung?”
“Nggih.”
Dia mengangguk. Lama.
Lalu dia bilang, tanpa aku tanya:
“Aku nggak akan bilang aku nggak tahu apa-apa. Itu bohong dan kamu bakal tahu itu bohong dalam dua menit.”
Aku tidak menjawab.
“Aku tahu soal rekeningnya,” katanya. “Aku yang atur. Bukan buat aku — itu juga nggak penting, aku nggak akan pakai alasan itu.” Dia menyandarkan punggung. “Yang aku mau kamu ngerti cuma satu hal, dan habis itu kamu boleh nggak pernah ngangkat telepon aku lagi seumur hidup.”
“Apa, Bang?”
“Kalau proyek itu nggak jalan, nggak ada gedung sama sekali.” Dia menatapku lurus. “Anggarannya nggak cukup dari awal, Yan. Nggak akan pernah cukup. Yang bisa dikerjain dengan angka segitu cuma dua: nggak usah bangun, atau bangun dengan cara yang kamu udah lihat sendiri di dokumen.”
“Bang—“
“Aku milih yang kedua. Empat tahun. Sembilan proyek.” Dia mengangkat bahu, dan gerakannya persis sama seperti waktu dia mengajariku membaca RAB di warung ini juga. “Delapan di antaranya berdiri sampai sekarang dan nggak ada yang kenapa-kenapa. Yang satu ini nggak.”
Aku duduk di sana dengan kopi yang tidak kusentuh.
“Bang, delapan belas persen.”
“Aku tahu angkanya.”
“Bang tahu?”
“Dari bulan Oktober tahun lalu.”
Dan aku merasakan seluruh ruangan itu bergeser.
“Kamu ngasih tahu aku sendiri,” katanya, pelan. “Bulan Oktober. Habis sidang proposal kamu. Kamu telepon aku, kamu cerita bab tigamu direvisi, terus kamu cerita soal pengukuran plafon yang lewat batas, terus kamu tanya apa itu wajar.”
Aku menutup mata.
Aku ingat. Tentu saja aku ingat. Aku ingat aku menelepon dari tangga Gedung C, empat puluh menit setelah sidang, dengan proposal merah di pangkuan dan mangkuk masker bengkoang di ransel.
“Aku bilang wajar,” katanya. “Kamu percaya. Kamu ganti sumber datamu terus buang bab empatmu.”
Dia meletakkan sendok kopinya.
“Yan, aku nggak nawarin kamu kerja karena kamu pinter.”
Aku membuka mata.
“Aku nawarin kamu kerja bulan Agustus karena aku tahu file itu masih ada di laptop kamu,” katanya. “Dan orang yang gajinya dari perusahaan biasanya nggak buka file lama.”
Aku pulang jalan kaki dari Jalan Kaliurang sampai Pogung malam itu. Enam kilometer. Aku belum boleh capek dan aku tetap jalan kaki.
Dan yang kupikirkan sepanjang enam kilometer itu bukan tentang dia.
Yang kupikirkan adalah bahwa selama empat tahun aku mengagumi seseorang karena dia selalu punya jawaban yang masuk akal.
Dan bahwa aku sendiri sudah dua puluh dua tahun berlatih jadi orang yang selalu punya jawaban yang masuk akal.
Dan bahwa jarak antara kami berdua ternyata jauh lebih pendek daripada yang nyaman untuk kupikirkan.
Aku bertanya kepada Grace, bulan Februari, apakah menurutnya semua ini sepadan.
Kami sedang di Warung Bu Tin. Bu Tin sudah membawa dua piring nasi goreng tanpa cabai tanpa kami pesan, karena Bu Tin sudah lama berhenti bertanya.
“Sepadan gimana?”
“Gedungnya diperbaiki. Nadia kehilangan PKPA. Aku kehilangan kerjaan. Kamu kehilangan—“ Aku berhenti.
“Aku nggak kehilangan apa-apa.”
“Ace.”
“Aku serius.” Dia menusuk nasi gorengnya. “Aku nggak kehilangan apa-apa, Van. Aku nyerahin. Itu beda.”
“Apa bedanya?”
“Kehilangan itu diambil orang.” Dia mengangkat bahu. “Nyerahin itu aku yang naruh.”
Aku memikirkan itu selama beberapa hari sesudahnya.
Dan aku sampai pada kesimpulan bahwa dia mengarang perbedaan itu di tempat, di meja itu, untuk menghiburku.
Dan bahwa perbedaan itu tetap benar.
Dimas sidang tanggal enam belas April.
Dia lulus dengan revisi delapan halaman, nilai C+, dan dia mengirimkan foto berita acaranya ke grup dengan enam belas tanda seru.
Nadia masuk PKPA tahun berikutnya, di tempat lain, tanpa rekomendasi siapa pun.
Sasa terpilih lagi jadi Pemred untuk periode kedua, yang belum pernah terjadi dalam sejarah Poros.
Aku mulai bekerja bulan Mei, di konsultan pengawas kecil di Sleman dengan tujuh orang karyawan dan gaji yang jauh lebih kecil daripada yang pernah ditawarkan kepadaku bulan Agustus tahun lalu.
Pekerjaanku memeriksa pekerjaan orang lain dan menuliskan yang tidak sesuai.
Aku belum pernah merasa secocok itu dengan pekerjaan apa pun seumur hidupku, dan aku sadar betul betapa menyedihkannya kalimat itu.
Dan kutukan itu tidak pernah bekerja lagi.
Tidak sekali pun setelah malam tanggal empat belas Desember.
Aku mengujinya — tentu saja aku mengujinya, aku manusia. Bulan Januari, waktu aku benar-benar panik di ruang tunggu klinik karena satu hal yang tidak akan kuceritakan, aku memegang gelang itu di saku selama dua puluh menit.
Dingin.
Bulan Februari, waktu dia menelepon jam satu pagi dengan suara yang salah karena bermimpi lagi, aku menunggu di ujung telepon selama sembilan menit.
Tidak ke mana-mana.
Yang kami lakukan malam itu: aku tetap di telepon sampai jam dua kurang, dan aku menghitung untuknya, empat-tujuh-delapan, lewat sambungan telepon, dari enam kilometer jauhnya.
Dan itu berhasil.
Bukan dalam tiga detik.
Dalam empat puluh menit.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas reading
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau