Chapter Six

Pasal Satu

Perjanjian Damai bertahan sebelas hari.

Aku mencatat angkanya, karena aku mencatat semua angka. Sebelas hari, dari penandatanganan di Warung Bu Tin sampai pukul sembilan lewat dua puluh malam Jumat, ketika aku sedang duduk di lantai kamar dengan laptop di pangkuan, menyusun matriks program kerja triwulan terakhir.

Dimas sedang main gim di kasur dengan headset. Kipas angin di posisi dua. Kos sepi karena Jumat malam.

Yang kurasakan pertama bukan panas di gelang.

Yang kurasakan pertama adalah tengkuk.

Aku sempat menutup laptop.

Aku sempat berpikir: sebelas hari.


Gelap.

Bukan gelap yang kosong — gelap yang penuh. Ada dua puluh orang bernapas di ruangan seukuran enam kali empat, ada cahaya biru dari proyektor kecil yang menyorot ke dinding kapur, ada bau kerupuk dan minyak kayu putih dan keringat.

Dan ada teriakan.

Semua orang berteriak. Layar di dinding menunjukkan koridor rumah sakit dan sesuatu yang bergerak terlalu cepat di ujungnya, dan dua puluh orang berteriak bersamaan, dan aku muncul di tengah ruangan berdiri tegak dengan kaus oblong dan sarung.

Selama kira-kira tiga detik penuh, tidak ada satu orang pun yang menyadari ada tambahan manusia di ruangan itu.

Itu tiga detik paling berguna dalam hidupku.

Aku sempat memindai: pintu di kiri, jendela di kanan, tumpukan bantal di lantai, tujuh belas — bukan dua puluh — tujuh belas orang duduk berdesakan, sebagian besar aku kenali dari byline. Dan di sudut kanan, di dekat lemari, memeluk lutut, dengan wajah yang bahkan dalam cahaya biru itu kelihatan salah warna.

Layar berganti adegan. Ruangan mulai tenang. Seseorang menyalakan senter ponsel untuk mencari kerupuk.

Senter itu lewat di wajahku.

Berhenti.

Balik lagi.

“ADA ORANG.”


Yang menyalakan lampu adalah anak yang aku tahu bernama Rifqi karena dia menulis rubrik olahraga dan selalu salah tulis nama pelatih.

Yang berteriak paling keras adalah perempuan berambut pendek yang duduk paling depan, yang aku kenali sebagai Salsabila, redaktur pelaksana, orang yang tanda tangannya ada di bawah setiap surat permohonan wawancara yang pernah kutolak.

Yang paling cepat pulih adalah dia.

“Ketua BEM,” kata Salsabila, sambil berdiri. “Di kos putri. Jam sembilan malam. Pakai sarung.”

“Selamat malam,” kataku.

Aku ingin mencatat bahwa itu kalimat terbaik yang bisa kususun dalam kondisi tersebut.

Seseorang di sudut belakang berbisik, cukup keras untuk terdengar semua orang, “Anjir, beneran dia.”

Seseorang yang lain, lebih keras lagi: “Fotoin.”

“JANGAN,” kata dua orang bersamaan.

Salah satunya Salsabila. Yang satunya, dari sudut kanan, adalah suara yang membuat seluruh ruangan menoleh dan membuat perutku turun satu tingkat, karena aku tahu persis berapa harga kalimat itu untuknya.

“Mas ngapain?”

Dan di sinilah aku belajar sesuatu tentang diriku sendiri yang tidak pernah kuketahui sebelumnya: aku bisa berbohong dengan sangat cepat, asalkan bohongnya membosankan.

“Surat hak jawab,” kataku. “Edisi September, halaman empat belas. Saya antar sendiri karena besok Sabtu, sekretariat tutup, dan saya nggak mau lewat dari tenggat tujuh hari.”

Aku merogoh sarung.

Tidak ada apa-apa di sarung. Sarung tidak punya saku. Aku baru menyadarinya di tengah gerakan.

“Suratnya ketinggalan,” kataku.

Salsabila menyipitkan mata. “Mas antar surat, jam sembilan malam, ke kos putri, pakai sarung, terus suratnya ketinggalan.”

“Iya.”

“Terus Mas masuk lewat mana? Pintu depan digembok jam sembilan.”

“Pintunya kebuka.”

Tujuh belas orang menatapku.

Dan aku sadar, dengan kejernihan yang menyakitkan, bahwa kebohongan ini tidak akan bertahan lima menit — sampai satu suara dari sudut kanan berkata, dengan nada paling jengkel yang bisa dibuat manusia:

“Sa. Biarin. Dia emang gitu.”

Semua kepala menoleh.

“Dari dulu,” lanjutnya, masih memeluk lutut, masih salah warna. “Tiap ada yang nggak enak di Poros, dia pasti dateng sendiri. Nggak ngirim orang. Biar keliatan gentle.” Dia melambaikan tangan. “Suruh duduk aja. Filmnya jalan terus.”

Dan begitulah cara aku diselamatkan: bukan dengan dibela, tapi dengan dijelekkan.

Salsabila menghela napas. “Ya udah. Duduk, Mas. Tapi nggak boleh komentar.”

“Saya nggak akan komentar.”

“Dan nggak boleh bawa ini ke rapat pimpinan.”

“Saya nggak akan bawa ke rapat pimpinan.”

Lampu dimatikan. Ada yang menggeser bantal. Aku duduk di lantai, di ujung, di antara lemari dan tembok — tempat kosong satu-satunya, yang kebetulan tepat di sebelah orang yang sudah tidak bisa mengatur napasnya sejak sebelum aku datang.

Ada satu hal yang perlu dicatat sebelum aku melanjutkan.

Aku tidak pernah masuk kos putri seumur hidupku. Bukan karena aku suci — karena aku penakut pada jenis masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan berkas. Dan sekarang aku duduk di lantai kamar berukuran enam kali empat bersama tujuh belas anggota lembaga pers mahasiswa yang, secara struktural, adalah pihak yang paling ingin melihatku jatuh.

Salsabila duduk dua meter dariku dan tidak menonton filmnya sama sekali. Dia menonton aku. Sepanjang malam, setiap sepuluh menit, matanya lewat.

Aku duduk dengan punggung lurus, kedua tangan di lutut, seperti orang menunggu giliran donor darah.

Dan yang paling melelahkan bukan itu.

Yang paling melelahkan adalah aku tidak boleh kelihatan kaget. Aturan itu aku sendiri yang bikin, di depan Warung Bu Tin, dengan nada orang yang merasa sudah memikirkan segalanya. Ternyata “tidak boleh kelihatan kaget” itu bukan sikap. Itu pekerjaan. Otot wajah punya pendapatnya sendiri dan mereka harus dipegangi terus-menerus selama satu jam empat puluh menit.


Film itu berjudul sesuatu tentang lorong. Aku tidak menontonnya.

Aku menonton lantai.

Ini bagian yang perlu kujelaskan, dan aku akan menjelaskannya sekali saja: kamar kos lama, lantai bawah, dinding lembap, dekat selokan, bulan basah. Kalau ada tempat di kota Yogyakarta di mana benda itu akan muncul, tempatnya adalah ruangan ini.

Jadi aku memetakan lantai. Kolong lemari. Celah pintu. Sudut di belakang galon. Aku menghitung jalur keluar dan aku memastikan tidak ada satu pun titik gelap yang tidak kuawasi, dan aku melakukan itu selama satu jam empat puluh menit tanpa berkedip lebih lama dari yang wajar.

Setengah jalan, seseorang bertanya keras-keras kenapa aku tidak pernah berkedip ke layar.

“Mas nggak takut, ya?” — anak yang menulis rubrik olahraga itu.

“Nggak.”

“Wih. Berani.”

“Bukan berani.” Aku menjawab tanpa memindahkan pandangan dari kolong lemari. “Saya cuma nggak takut sama yang di layar.”

Kalimat itu keluar terlalu jujur, dan aku menyesalinya begitu terdengar, dan aku merasakan gerakan kecil di sebelah kiriku — kepala yang menoleh, cuma beberapa derajat, cuma sebentar.

Dia mendengar.

Aku menghitung tiga bulan sebelum dia menyusunnya jadi kesimpulan, dan aku salah. Butuh lima minggu.

Di sebelahku, napasnya tidak turun-turun.

Aku tidak bisa menghitung keras-keras. Tujuh belas orang. Aku tidak bisa menyentuhnya. Tujuh belas orang.

Jadi selama dua puluh menit pertama aku tidak melakukan apa-apa selain duduk, dan selama dua puluh menit itu aku belajar bahwa duduk diam di sebelah orang yang sedang panik adalah salah satu bentuk penyiksaan yang paling tidak diakui.

Di menit kedua puluh satu, adegan di layar berubah gelap dan seluruh ruangan menahan napas, dan dalam sunyi itu aku dengar dia menarik napas dengan cara yang benar-benar salah.

Aku menggeser tangan kiriku ke lantai, di antara kami, tertutup lipatan sarung.

Aku tidak memegang. Aku cuma meletakkannya di sana, telapak menghadap atas, di tempat yang bisa dia lihat kalau dia melihat ke bawah.

Sebelas detik.

Lalu tangannya turun ke tanganku.

Dingin. Basah. Gemetar di dua jari.

Aku menutup genggaman dan aku menghitung — bukan dengan suara, dengan tekanan. Empat tekanan pelan. Tahan. Lalu delapan ketukan lambat dengan ibu jari di punggung tangannya.

Di layar, sesuatu berteriak. Tujuh belas orang berteriak. Kami tidak.

Empat. Tahan. Delapan.

Empat. Tahan. Delapan.

Ada satu detik di tengah situ — mungkin yang ketiga puluh — ketika seseorang di depan berdiri untuk mengambil kerupuk dan cahaya proyektor menyapu lantai, dan aku menyadari bahwa kalau orang itu menoleh empat puluh lima derajat ke kiri, dia akan melihat tepat ke arah kami.

Aku tidak melepas.

Aku mencatat itu tanpa memberi komentar pada diriku sendiri, dan aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa hal-hal yang kamu catat tanpa komentar adalah hal-hal yang paling perlu dikomentari.

Lima puluh satu detik.

Aku tahu angkanya karena aku menghitung, dan aku menghitung karena kalau aku tidak menghitung aku harus memikirkan hal lain, dan hal lain itu bukan sesuatu yang ingin kupikirkan di lantai kamar kos di antara lemari dan tembok.

Di detik kelima puluh satu, dia melepas.

Bukan aku. Dia.

Dan napasnya sudah turun, dan tangannya sudah tidak gemetar, dan gelang di lipatan sarungku mulai memanas — dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman waktu logam itu memanas.

Aku belum siap.

Satu. Dua. Ti—


Filmnya, kudengar dari Dimas berminggu-minggu kemudian, punya akhir yang buruk. Hantunya ternyata anak si tokoh utama. Semua orang sudah menebaknya dari menit dua puluh.

Aku tidak menonton menit dua puluh. Aku tidak menonton apa pun.

Aku muncul kembali di kamar kosku, di lantai, dengan laptop tertutup di depanku.

Dimas melepas satu sisi headset-nya.

“Loh,” katanya. “Kamu dari mana?”

Aku menoleh ke jam. Sembilan lewat lima puluh delapan.

“Aku dari sini.”

“Nggak. Aku manggil kamu tadi. Dua kali. Aku pikir kamu ke kamar mandi.” Dia menaikkan alis. “Kamu ke kamar mandi bawa laptop?”

“Iya.”

“Setengah jam?”

“Iya.”

Dimas menatapku dengan tatapan yang akan dia berikan berkali-kali selama satu tahun berikutnya, tatapan orang yang tidak cukup pintar untuk menebak jawabannya tapi cukup pintar untuk tahu bahwa dia sedang dibohongi.

“Ya udah,” katanya akhirnya. “Tapi bawa laptop ke kamar mandi itu jorok, Yan.”

Dia memasang headset-nya lagi, lalu melepasnya lagi tiga detik kemudian.

“Yan.”

“Apa.”

“Kamu lagi ada masalah?”

Dimas ini orang yang skripsinya tidak maju-maju sejak dua semester lalu dan menutupinya dengan tertawa lebih keras dari siapa pun di ruangan mana pun. Aku tahu itu. Semua orang tahu itu. Tidak ada yang pernah menanyakannya, termasuk aku, termasuk malam itu.

“Nggak,” kataku.

“Oke.” Dia mengangguk. “Aku juga nggak.”

Dan kami berdua membiarkan kalimat itu tergeletak di lantai kamar tanpa ada yang memungutnya.

Dia memasang headset-nya lagi.

Dan aku duduk di lantai kamar sendiri, dengan jantung yang tidak mau turun ke kecepatan normal, sambil menyusun daftar baru di kepalaku — daftar yang tidak ada di buku catatan mana pun.

Satu: orang bisa melihat aku menghilang. Selama ini kami cuma memikirkan aku yang muncul. Kami tidak pernah memikirkan sisi sebaliknya. Ada seseorang di setiap tempat yang kutinggalkan, dan orang itu akan bertanya.

Satu setengah — dan ini yang paling praktis, karena aku menuliskannya di ponsel malam itu juga: kami butuh cerita. Bukan alasan dadakan. Cerita tetap, dihafalkan berdua, yang bisa dipakai berkali-kali tanpa berubah. Kebohongan yang berubah-ubah itu yang ketahuan.

Aku mengetiknya sebagai draf pesan dan tidak mengirimnya sampai tiga hari kemudian, dan waktu akhirnya kukirim, balasannya cuma: aku udah bikin. tiga versi. tinggal pilih.

Tentu saja dia sudah bikin. Dia wartawan. Menyusun versi adalah pekerjaannya.

Dua: Pasal 1 gagal bukan karena dilanggar dengan sengaja. Dia tidak bisa menolak nobar tanpa menjelaskan kenapa. Perjanjian kami mengasumsikan dua orang yang hidup sendirian di ruang hampa, dan itu asumsi yang bodoh, dan aku yang menulisnya.

Tiga—

Aku berhenti di tiga.

Karena poin ketiga bukan analisis. Poin ketiga adalah tangan dingin di lantai gelap dan angka lima puluh satu, dan aku tahu persis di mana tempat menyimpan hal seperti itu.

Tidak di daftar mana pun.

Aku membuka laptop. Matriks program kerja triwulan terakhir masih terbuka di baris yang sama, di kolom yang sama, di sel yang sama seperti sebelum semuanya dimulai.

Aku menatapnya sampai lewat tengah malam dan tidak mengetik satu huruf pun.