Chapter Twenty Two

Melanggar Pasal Satu

Idenya bukan dariku.

Aku ingin mencatat itu sejak awal, karena aku akan disalahkan untuk sebagian besar hal yang terjadi malam itu, dan sebagian besar itu memang salahku, tapi bukan idenya.

Ace van

Iya.

kamis besok kita langgar pasal satu

Kita udah langgar pasal 1 bulan November.

itu kecelakaan ini sengaja

Kenapa.

karena bisa


Dia benar. Itu yang menyebalkan.

Aku menghabiskan waktu di lab hari Selasa untuk menghitungnya, dan hasilnya tidak bisa dibantah.

Kutukan itu bekerja dengan satu syarat: harus ada jarak. Yang panik di satu tempat, yang tenang di tempat lain. Tarikannya menutup jarak itu.

Kalau tidak ada jarak, tidak ada yang bisa ditutup.

Artinya, selama kami berada di ruangan yang sama, kami kebal.

Aku menuliskannya di kertas dan menatapnya lama sekali, dan aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman, dan butuh dua hari sebelum aku bisa menamainya.

Selama delapan bulan, kutukan itu adalah satu-satunya alasan aku pernah berada di ruangan yang sama dengannya.

Dan sekarang aku sedang menghitung cara mematikannya.


Kamis, tanggal tujuh belas April. Kos putri Melati Dua. Pukul sepuluh malam.

Aku masuk pukul setengah sepuluh, lewat pintu samping, sambil membawa kardus berisi berkas dan memakai kemeja rapi, karena orang yang membawa kardus dan memakai kemeja rapi tidak pernah dicurigai siapa pun di gedung mana pun di dunia ini.

Ibu kos sedang menonton sinetron di lantai bawah. Delapan kucing tidur di teras dengan nama-nama bulan.

Sasa pulang ke rumah tantenya seperti setiap Kamis.

Empat orang di lantai bawah, semuanya tidur sebelum jam sepuluh.

Aku sudah menghafal seluruh peta ini tanpa pernah sekali pun berusaha menghafalnya, dan aku menyadari fakta itu di tengah tangga, dan aku berhenti satu detik sebelum melanjutkan.


Persiapannya berlebihan. Persiapannya selalu berlebihan.

Laptop di atas kursi plastik — kursi plastik yang sama, yang dulu dinaiki orang, yang tidak pernah kami bicarakan lagi.

Bantal ditumpuk di lantai. Selimut. Dua gelas kopi, disiapkan lebih dulu seperti biasa, dan aku sudah berhenti berpura-pura tidak menyadarinya sejak bulan Februari.

Dan satu hal baru: dia menutup lubang angin dengan kardus.

“Biar apa?”

“Biar nggak ada yang masuk.”

“Kamu takut cicak.”

“Aku bukan takut cicak.” Dia menempelkan lakban ke sisi kardus. “Aku cuma nggak mau ada gangguan.”

Aku tidak berkomentar.

Delapan bulan, dan itu pertama kalinya dia menutup lubang angin sebelum hari Kamis berakhir, dan kami berdua tahu persis apa artinya, dan kami berdua sepakat tanpa berkata apa-apa untuk tidak menyentuh topik itu.

Kalau lubang anginnya ditutup, tidak ada cicak.

Kalau tidak ada cicak, aku tidak akan ditarik ke sini minggu depan.

Dia menutupnya, dan mengundangku datang sendiri.


Filmnya jelek. Judulnya melibatkan kata “lorong”, lagi, karena semua film horor Indonesia tahun itu melibatkan kata lorong.

Lampu mati jam sepuluh lewat lima.

Dan dalam waktu enam menit aku sudah kembali melakukan hal yang selalu kulakukan.

Kolong lemari. Celah bawah pintu — sudah disumpal handuk. Sudut di belakang galon. Ventilasi — sudah dikardus. Kolong kasur, yang tidak bisa kulihat dari posisi dudukku, dan itu mengganggu.

“Van.”

“Hm.”

“Kamu nggak nonton.”

“Aku nonton.”

“Kamu ngeliat lantai dari tadi.” Dia menoleh, dan wajahnya diterangi layar dari samping. “Kamu juga gitu waktu November. Di kamar Sasa. Aku pikir kamu lagi mikirin cara ngerjain kami.”

Aku menatap layar.

“Aku lagi mikirin kolong kasur,” kataku.

“Aku udah ngepel bawah kasur kemarin.”

“Kamu ngepel bawah kasur?”

“Aku ngepel bawah kasur, aku semprot sudut-sudutnya, dan aku kasih kapur barus di empat titik.” Dia kembali menghadap layar. “Nggak ada apa-apa di kamar ini, Van. Aku udah cek dua kali.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Karena yang barusan dia sebutkan adalah daftar tugas yang selama ini kulakukan untuknya. Cek sudut. Cek celah. Cek kolong. Sumpal. Tutup.

Delapan bulan aku memeriksa kamarnya.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya, dia memeriksa kamarnya untukku.


Di menit kedua puluh dua, dia menarik lenganku.

Bukan pelan-pelan. Dia menarik pergelangan tanganku dan melingkarkan lenganku ke depan bahunya sendiri, dan bersandar ke belakang, ke dadaku, sambil terus menatap layar dan tidak mengatakan satu kata pun tentang hal itu.

Aku duduk sangat kaku selama mungkin lima detik.

“Van.”

“Iya.”

“Kamu kayak papan.”

“Aku tahu.”

“Napas.”

“Aku lagi napas.”

“Empat hitungan,” katanya, dan aku bisa mendengar dia tersenyum tanpa harus melihat wajahnya. “Tahan tujuh. Buang delapan.”

Aku tidak membalas, karena tidak ada balasan yang tersedia untuk seseorang yang memakai kalimatmu sendiri terhadapmu di lantai kamar kos jam setengah sebelas malam.

Aku menurunkan bahuku.

Dan sekitar semenit kemudian aku menyadari sesuatu yang membuat seluruh tubuhku berhenti bergerak untuk waktu yang cukup lama:

Ini pertama kalinya aku menyentuhnya tanpa ada yang perlu ditenangkan.

Delapan bulan. Sembilan bulan, hampir. Setiap sentuhan yang pernah terjadi di antara kami punya fungsi. Telapak tangan di bahu — untuk menurunkan napas. Punggung diusap — untuk membuka jalan udara. Genggaman di lantai gelap — empat, tahan, delapan.

Bahkan di kamar gelap bulan Februari, aku memeluknya karena dia baru saja panik.

Sekarang tidak ada apa-apa. Tidak ada bau kabel, tidak ada kompor, tidak ada seblak, tidak ada apa pun yang perlu diselesaikan.

Dan tanganku tetap di sana, dan tidak punya tugas, dan tidak apa-apa.

Aku duduk di lantai kamar itu sambil menyadari bahwa aku baru saja belajar melakukan sesuatu yang seharusnya dipelajari orang pada umur lima belas tahun.


Menit ketiga puluh satu.

Di layar, seseorang membuka pintu lemari, dan tidak ada apa-apa di dalam lemari itu, dan kamera bergerak ke kanan, dan ada wajah.

Dia berteriak.

Sungguhan. Bukan teriakan bercanda. Dia terlonjak dan menyambar lenganku dengan dua tangan dan menekan wajahnya ke bahuku, dan jantungnya — aku bisa merasakannya dari punggungnya yang menempel di dadaku — berdetak dengan kecepatan yang tanpa ragu memenuhi seluruh syarat.

Aku menahan napas.

Aku menunggu.

Satu detik. Dua. Tiga. Lima. Sepuluh.

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada yang berubah. Tidak ada lantai yang bergeser. Tidak ada ruangan yang menghilang. Tidak ada logam yang memanas di saku siapa pun.

Dia mengangkat wajahnya dari bahuku, perlahan, dan aku bisa melihat dia menyadarinya pada saat yang sama denganku.

“Nggak ada apa-apa,” bisiknya.

“Nggak ada apa-apa.”

“Aku beneran takut tadi.”

“Aku tahu.”

“Aku takut banget, Van. Jantungku sampai sekarang—“ Dia menekan dadanya sendiri. “Rasain.”

Aku merasakan.

Cepat. Sangat cepat. Persis seperti di halaman posko jam dua pagi, persis seperti di warung seblak, persis seperti di kamar yang bau kabel terbakar.

Dan tidak ada satu pun hal yang terjadi.


Aku ingin menuliskan ini dengan hati-hati, karena aku sudah beberapa kali mencoba menceritakannya dan selalu terdengar kecil.

Selama sembilan bulan, setiap kali orang ini ketakutan, aku muncul.

Setiap kali. Tanpa gagal. Tanpa pilihan. Dari kota lain, dari kamar mandi, dari atas motor, dari tengah tidur.

Dan malam itu, di lantai kamar kos Melati Dua, dia ketakutan — betul-betul ketakutan, jantungnya sendiri jadi buktinya — dan tidak ada yang datang.

Tidak ada yang datang karena tidak ada yang perlu datang.

Karena aku sudah di sini.

Aku sudah di sini sebelum dia takut, bukan sesudahnya. Bukan karena ditarik, bukan karena wajib, bukan karena sepasang gelang tembaga di gudang di Gunungkidul yang kami patahkan sendiri karena berebut.

Aku di sini karena hari Selasa aku menghitung, dan hari Rabu aku menyetrika kemeja, dan hari Kamis jam setengah sepuluh aku membawa kardus berisi berkas kosong lewat pintu samping kos putri.

“Van,” katanya.

“Hm.”

“Kamu nangis?”

“Nggak.”

“Kamu nangis.”

“Ini film horor.”

“Ini film horor,” ulangnya, dan dia tidak menoleh, dan dia menekan lenganku sedikit lebih erat ke depan bahunya, dan kami menonton sisa filmnya sampai habis tanpa membicarakannya lagi.


Di menit kelima puluh, dia bertanya sesuatu di tengah adegan yang sepi.

“Van. Kamu pernah mikir gimana kalau ini berhenti?”

Aku tidak menjawab langsung.

“Kutukannya?”

“Iya.”

“Sering.”

“Sering gimana?”

Layar itu menerangi setengah ruangan dengan warna biru yang sama sekali tidak enak.

“Mbah Warsih bilang ‘nganti wis ora perlu’,” kataku. “Sampai sudah tidak perlu. Aku mikirin kalimat itu sembilan bulan.”

“Terus kesimpulannya?”

“Nggak ada. Aku nggak tahu ‘perlu’ itu ukurannya apa.” Aku menggeser posisi tanganku sedikit. “Yang aku tahu cuma: kalau kita terus bareng, dia nggak pernah kepakai.”

Dia diam agak lama.

“Terus kalau nggak kepakai, dia berhenti?”

“Mungkin.”

“Kamu mau?”

Dan aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu sejak hari Selasa, karena aku sudah tahu dia akan menanyakannya, karena dia selalu menanyakan hal yang tepat.

Jawaban yang kusiapkan: ya iyalah, aku mau.

Yang keluar: “Aku nggak tahu.”

Dia tidak menoleh.

“Aku juga nggak,” katanya.

Dan kami membiarkan kalimat itu tergeletak di lantai di antara kami, tidak ada yang memungutnya, sampai adegan berikutnya dimulai.


Filmnya selesai jam dua belas kurang.

Dan sesudah kredit naik, dia berdiri, menyalakan lampu, dan berjalan ke lemari.

Aku sudah tahu apa yang ada di dalam pintu lemari itu. Aku sudah tahu sejak bulan Desember, dari malam pertama aku duduk di sudut kamar ini dan pintu lemarinya terbuka sedikit karena engselnya turun.

Aku tidak pernah menyebutnya selama lima bulan.

Dia membukanya lebar.

Satu lembar kertas, ditempel dengan selotip di empat sudut. Sudah menguning di bagian atas. Sudah bergelombang karena lembap. Materai enam ribu di bawah, sedikit miring, yang tidak berlaku sejak dua ribu dua puluh satu.

PERJANJIAN DAMAI

“Kamu simpen,” kataku.

“Ya iyalah aku simpen.”

“Sembilan bulan.”

“Aku wartawan, Van. Aku nggak buang dokumen.” Dia mengambil pulpen dari meja. “Sini.”

“Buat apa?”

“Pasal satu.”

Dan dia menyerahkan pulpen itu kepadaku.

Aku berdiri di depan pintu lemari kamar kos putri jam dua belas kurang, memegang pulpen, di depan selembar kertas yang kuketik di fotokopi depan seharga seribu rupiah sembilan bulan lalu, waktu aku masih memanggil orang di sebelahku dengan nama belakangnya.

Aku mencoret Pasal 1.

Satu garis. Lurus. Rapi, karena aku tidak bisa membuat garis yang tidak rapi.

~~Dilarang menonton film horor dalam bentuk apa pun setelah pukul 21.00.~~

Dan di sampingnya, di margin, dengan huruf kecil, aku menulis tanggalnya. Karena aku selalu menulis tanggal.

“Kenapa ditanggalin?” katanya.

“Biar ketahuan urutannya.”

“Urutan apa?”

Aku menutup tutup pulpen.

“Nanti,” kataku, “kalau semua pasalnya habis, aku mau tahu mana yang duluan.”

Dia menatap kertas itu cukup lama.

Lalu dia menutup pintu lemari, dan tidak menjawab, dan aku tidak menuntut jawaban.

Sebelum aku pergi, dia menahan lenganku di ambang pintu.

“Van.”

“Hm.”

“Tanggalnya kamu tulis kecil banget.”

“Biar muat.”

“Muat apa?” Dia melipat tangan. “Kertasnya masih kosong tiga perempat.”

Aku tidak menjawab, karena jawabannya adalah bahwa aku menulis kecil supaya kalau nanti aku salah, koreksinya tidak kelihatan.

Aku sudah dua puluh satu tahun menulis kecil.

Aku pulang jam dua belas lewat, lewat pintu samping, dengan kardus berisi berkas kosong.

Ibu kos masih menonton sinetron.

Delapan kucing masih tidur di teras.

Dan di sepanjang jalan pulang — empat puluh kilometer per jam, berhenti penuh di setiap lampu merah, kaki turun dua-duanya — aku memikirkan satu hal yang tidak pernah kusampaikan kepada siapa pun sampai bertahun-tahun kemudian.

Kalau kami selalu bersama, kutukan itu tidak akan pernah bekerja.

Dan kalau kutukan itu tidak pernah bekerja, mungkin suatu hari dia akan berhenti sendiri.

Aku berhenti di lampu merah perempatan Kentungan dengan kedua kaki di aspal, dan aku menyadari — dengan rasa malu yang tidak bisa kujelaskan kepada siapa pun — bahwa sebagian kecil dari diriku tidak menginginkan itu.