Chapter Sixteen
Sengaja
Kami sudah bertemu dua puluh enam kali sebelum ketemu untuk pertama kalinya.
Aku menghitungnya. Aku menghitung semuanya, itu penyakit. Sembilan kali selama uji coba bulan November. Empat kali di Warung Bu Tin. Enam Kamis berturut-turut. Sisanya tersebar: gudang, halaman posko, balai desa, kamar kos, ruang sidang, kursi plastik di bazar, dan satu kali di rumah Mbah Warsih dengan teh yang terlalu manis.
Dua puluh enam kali.
Dan tanggal sembilan Februari, hari Minggu, pukul sepuluh pagi, aku berdiri di depan cermin kamar mandi kos selama empat menit karena tidak tahu apakah kemeja itu berlebihan.
Karena dua puluh enam kali itu tidak ada satu pun yang kami pilih.
Perencanaannya memakan waktu empat hari dan menghasilkan dokumen.
Aku sadar itu masalah. Aku sadar waktu mengetiknya. Aku tetap mengetiknya.
Ke: Ace Aku punya tiga opsi. 1. Museum Benteng, buka 08.00, sepi hari Minggu, ada kafe di seberang. 2. Pasar Beringharjo lantai dua, ramai tapi nggak ada anak kampus. 3. Kebun binatang. Opsi 3 aku masukin karena secara statistik paling kecil kemungkinan ketemu orang yang kita kenal.
Dari: Ace van
Iya.
ini kencan apa studi kelayakan
Aku nggak tahu bedanya.
aku tau itu masalahnya
Jadi yang mana.
yang mana aja yang penting kamu jangan bawa map
Aku tidak membawa map.
Aku membawa satu lembar kertas terlipat empat di saku belakang, yang secara teknis bukan map.
Kami memilih opsi satu. Museum Benteng, Minggu pagi, dan aku sampai di sana pukul sepuluh kurang lima belas karena aku tidak bisa tidak sampai lebih awal.
Dia datang pukul sepuluh lewat delapan.
Dan ini bagian pertama yang tidak kuperhitungkan: aku tidak tahu harus berbuat apa dengan tanganku.
Selama enam bulan terakhir, setiap kali kami bertemu, selalu sudah ada pekerjaan. Ada orang yang harus ditenangkan. Ada cicak yang harus diusir. Ada kompor yang harus dimatikan. Ada napas yang harus dihitung.
Tanganku selalu tahu tugasnya.
Pukul sepuluh lewat delapan di depan loket Museum Benteng, tidak ada tugas apa pun.
“Hai,” kataku.
“Hai.”
Sunyi.
“Tiketnya—“
“Aku udah beli.”
“Kamu udah beli?”
“Aku sampai jam sepuluh kurang lima belas.”
“Van.”
“Iya.”
“Kenapa kamu sampai jam sepuluh kurang lima belas.”
“Karena kalau aku sampai jam sepuluh lewat, aku harus jalan cepat, dan kalau aku jalan cepat aku keringetan.”
Dia menatapku beberapa detik.
Lalu dia mengambil tiketnya dari tanganku, memasukkannya ke tas selempangnya, dan berjalan masuk lebih dulu tanpa menunggu.
Aku menyusul.
Ada satu hal lagi yang tidak kuperhitungkan, dan ini yang paling membingungkan.
Aku tidak tahu harus memanggilnya apa di depan orang.
Di loket, petugasnya bertanya, “Berdua, Mas?” dan aku menjawab “iya”, dan sesudah itu ada jeda satu detik di mana secara alami aku seharusnya menyebutkan sesuatu — sama teman saya, sama pacar saya, apa pun — dan aku tidak menyebutkan apa-apa, dan jeda satu detik itu jadi terlalu panjang.
Dia menyadarinya. Tentu saja dia menyadarinya. Dia menyadari segala hal.
Tapi dia tidak berkomentar, dan aku memikirkan jeda satu detik itu sampai malam.
Museum Benteng hari Minggu pagi berisi: satu keluarga dengan tiga anak, dua turis, satu petugas yang sedang menyapu, dan kami.
Kami berjalan melewati diorama perang selama empat puluh menit dan berbicara tentang hal-hal berikut, dalam urutan ini:
Apakah diorama itu skalanya akurat (aku bilang tidak, dia bertanya kenapa aku peduli). Apakah patung lilin itu perlu ada (dia bilang tidak, aku bertanya kenapa dia peduli). Kondisi atap ruang pamer dua yang jelas bocor di sudut timur laut. Rifqi yang untuk keempat kalinya salah menulis nama pelatih. Dimas. Skripsi. Skripsi lagi. Skripsi lagi.
Menit ketiga puluh sembilan, dia berhenti di depan lemari kaca berisi mata uang lama dan bilang:
“Ini aneh, ya.”
“Apa.”
“Kita nggak pernah ngobrol selama ini tanpa salah satu dari kita hampir mati.”
Aku menatap kaca itu. Ada pantulan kami berdua di sana, sedikit melengkung.
“Iya,” kataku.
“Aku nggak tahu harus ngapain.”
“Aku juga nggak.”
“Kamu bikin tiga opsi.”
“Itu justru buktinya.”
Dia tertawa, dan seorang petugas menoleh, dan kami berdua langsung pura-pura membaca keterangan mata uang lama yang tulisannya sudah pudar.
Sekarang bagian yang perlu kucatat dengan jujur, karena kalau tidak, seluruh hari itu akan terdengar manis, dan hari itu tidak manis.
Hari itu canggung sampai ke tulang.
Kami mencoba berpegangan tangan tiga kali dan gagal tiga kali.
Percobaan pertama, di lorong antara ruang pamer dua dan tiga. Aku menggerakkan tangan kiriku ke arah tangan kanannya. Pada saat yang sama, dia memindahkan tas selempangnya dari bahu kanan ke bahu kiri.
Tanganku berakhir di udara. Aku mengubahnya jadi gerakan menunjuk ke arah plafon.
“Itu bocor,” kataku.
“Kamu udah bilang tadi.”
“Iya.”
Percobaan kedua, di halaman, di dekat meriam. Aku memperlambat langkah supaya sejajar. Dia juga memperlambat langkah. Kami berdua jadi berjalan dengan kecepatan yang aneh sekali, kira-kira setengah dari kecepatan manusia normal, selama dua puluh meter.
Lalu dia berhenti dan bilang, “Kenapa kita jalan pelan banget?”
“Aku nggak tahu.”
“Aku juga nggak tahu.”
Kami kembali ke kecepatan normal.
Percobaan ketiga dilakukan olehnya, dan itu yang paling parah.
Kami sedang duduk di bangku beton di bawah pohon di halaman belakang. Dia menaruh tangannya di bangku, di antara kami, telapak menghadap atas.
Aku mengenali gerakan itu. Aku yang mengajarkannya, di lantai kamar kos putri, di antara lemari dan tembok, di malam nobar bulan November.
Aku menaruh tanganku di sana.
Dan detik itu juga, dua anak dari keluarga bertiga tadi berlari melewati kami sambil berteriak, dan salah satunya menabrak lututku, dan aku refleks menangkap anak itu supaya tidak jatuh, dan waktu semuanya selesai kami berdua sudah duduk dengan tangan masing-masing di pangkuan sendiri seperti dua orang yang sedang menunggu antrean bank.
Ibu anak itu minta maaf empat kali.
Kami bilang tidak apa-apa empat kali.
Dan sesudah mereka pergi, kami duduk berdampingan di bangku beton itu selama mungkin satu menit penuh tanpa bicara.
Lalu dia bilang, ke arah depan, tanpa menoleh:
“Ini lebih susah.”
“Iya.”
“Kenapa ini lebih susah? Aku udah pernah—“ Dia berhenti. “Kamu udah pernah lihat aku nangis di lantai. Dua kali.”
“Tiga.”
“Tiga?”
“Kamar kos, September. Bazar. Ulang tahun kamu.”
“Yang ulang tahun itu nggak nangis.”
“Oke.”
“Itu air hujan.”
“Itu air hujan,” ulangku.
Dia menyikutku. Aku menyikutnya balik. Dan itu — bukan tiga percobaan yang gagal, tapi siku yang mengenai lengan — adalah kontak fisik pertama yang berhasil hari itu, dan terjadi karena tidak ada satu pun dari kami yang merencanakannya.
Aku mengerti sesuatu sekitar jam satu siang, di warung soto dekat museum, sambil melihat dia menyingkirkan irisan cabai ke pinggir mangkuk satu per satu.
Yang membuat semuanya mudah selama ini bukan kutukannya.
Yang membuatnya mudah adalah bahwa kutukan itu selalu memberi kami pekerjaan. Selalu ada yang panik. Selalu ada yang harus ditenangkan. Selalu ada peran: satu jadi yang jatuh, satu jadi yang menangkap.
Dan aku sangat baik dalam menangkap. Aku sudah dua puluh satu tahun berlatih jadi orang yang menangkap.
Aku belum pernah sekali pun berlatih jadi orang yang cuma duduk di sebelah.
“Kamu mikir apa,” katanya.
“Nggak ada.”
“Van.”
“Aku mikir aku nggak tahu cara ngobrol sama kamu kalau kamu lagi nggak takut.”
Dia meletakkan sendoknya.
Aku langsung menyesal. Aku sudah menyusun tiga kalimat perbaikan sebelum dia sempat menjawab.
“Ya udah,” katanya. “Latihan.”
“Apa?”
“Latihan.” Dia mengangkat bahu. “Kamu latihan tiga tahun buat pidato. Kamu latihan enam bulan buat sidang. Masa ini nggak mau dilatih.”
“Ini beda.”
“Ini persis sama.” Dia menyendok kuahnya. “Bedanya cuma nggak ada nilainya. Itu doang.”
“Latihan apa,” kataku.
“Diem-diem aja dulu di sebelah orang tanpa ngapa-ngapain.” Dia menyodorkan sendoknya ke arah mangkukku tanpa permisi dan mengambil satu potong daging. “Kamu nggak bisa itu.”
“Aku bisa diem.”
“Kamu nggak bisa diem. Kamu ngitung.” Dia mengunyah. “Dari tadi kamu ngitung terus. Kamu ngitung berapa orang di ruangan, kamu ngitung berapa lama kita di tiap ruang pamer, kamu ngitung tadi kita gagal pegangan tangan berapa kali.”
“Empat kali.”
“Nah.”
Aku meletakkan sendok.
“Itu bukan karena aku nggak nyaman,” kataku. “Itu justru sebaliknya.”
“Maksudnya?”
“Aku ngitung kalau aku nggak mau kehilangan bagian-bagiannya.”
Dia berhenti mengunyah.
Dan aku duduk di warung soto dekat museum pada hari Minggu siang sambil menyadari bahwa aku baru saja mengatakan sesuatu yang jauh lebih telanjang daripada apa pun yang pernah kukatakan di kamar gelap tiga hari lalu, dan bahwa aku mengatakannya karena tidak sedang gelap, tidak sedang hujan, dan tidak ada siapa pun yang sedang panik.
Dia tidak menjawab. Dia menyingkirkan tiga iris cabai terakhir ke pinggir mangkuk.
Lalu dia menggeser mangkuknya sepuluh sentimeter ke arahku, supaya bahu kami hampir bersentuhan di meja sempit itu, dan melanjutkan makan tanpa berkata apa-apa.
Kami pulang jam tiga sore, terpisah, karena Pasal 7 masih berlaku dan karena kami berdua sepakat bahwa jalan berdua di depan gerbang kampus bukan ide yang bagus.
Dia naik ojek daring dari depan warung soto.
Aku berdiri di trotoar sampai motornya belok, seperti orang bodoh, dan aku tahu itu seperti orang bodoh waktu aku melakukannya.
Lalu aku naik motorku sendiri dan pulang dengan kecepatan tiga puluh lima kilometer per jam.
Malamnya, jam sembilan lewat, ponselku menyala.
Ace hari ini jelek banget ya
Iya.
bener2 jelek kita gagal pegangan tangan tiga kali
Empat. Yang di loket juga gagal, kamu nggak nyadar.
ya ampun
Aku menunggu.
tapi van
Iya.
aku suka yang jelek
Maksudnya.
maksudnya selama enam bulan kita ketemu selalu pas ada yang gawat jadi semuanya selalu penting tadi nggak ada yang penting sama sekali kita cuma jalan ngeliatin diorama sama ngomongin atap bocor
Itu yang bikin jelek.
itu yang bikin aku seneng
Aku membaca tiga baris itu berulang-ulang.
aku nggak pernah punya hari yang nggak penting sama orang, van
Aku meletakkan ponselku di lantai selama kira-kira setengah menit, lalu mengambilnya lagi.
Minggu depan gimana.
aku yang mau nanya itu
Dan aku duduk di lantai kamar kos yang sepi karena Dimas sedang di rumah pacarnya yang tidak pernah mau dia akui keberadaannya, dan aku membaca lima huruf itu, dan aku merasakan sesuatu yang sangat tidak sesuai dengan besarnya kejadian.
Minggu depan aku bikin satu opsi aja.
bagus
Tapi aku tetep dateng lima belas menit lebih awal.
kenapa
Karena aku suka bagian nunggunya.
van
Iya.
itu kalimat paling bagus yang pernah kamu ketik seumur hidup kamu
Aku tahu.
jangan diulang
Nggak akan.
ya udah aku dateng lima belas menit lebih awal juga biar sama2 nunggu
Aku membaca kalimat terakhir itu terlalu lama.
Lalu aku mengeluarkan selembar kertas terlipat empat dari saku belakang celana yang tergantung di kursi — daftar yang kutulis empat hari lalu, tujuh butir, judulnya Hal-hal yang bisa dibicarakan — dan aku membuangnya ke tempat sampah di bawah meja, ke tempat yang sama dengan halaman buku catatan yang kurobek delapan bulan lalu.
Dua kertas.
Dua-duanya prosedur.
Dua-duanya dibuat untuk hal yang sama sekali tidak bisa diprosedurkan, dan aku baru mulai mengerti itu pada usia dua puluh satu tahun, di lantai kamar kos, pada hari Minggu di bulan Februari yang sama sekali tidak berjalan sesuai rencana.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja reading
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau