Chapter One

Gudang yang Tidak Ada Isinya

Hari kesembilan belas di Sumberwangi, dan aku sudah hafal bunyi ember kosong.

Bunyinya beda dengan ember penuh. Lebih ringan, lebih sombong, seperti menantang orang untuk mengangkatnya dan sadar bahwa perjalanan tiga ratus meter ke sumur itu percuma. Aku mengangkatnya. Aku selalu mengangkatnya. Sembilan belas hari dan aku belum pernah sekali pun kebagian ember penuh.

Desa ini terletak di punggung bukit kapur. Tanahnya putih, panasnya kering, dan matahari di sini tidak menyinari — dia menempel. Jam tujuh pagi rasanya sudah jam sebelas. Jam sebelas rasanya sudah kiamat.

Di halaman posko, Nadia berdiri dengan papan jalan dan senyum yang entah dia isi baterai dari mana.

“Pagi semuanya! Pembagian tugas hari ini, ya.”

Delapan orang duduk melingkar di atas tikar plastik yang sudah bolong di tiga tempat. Sasa masih setengah tidur dengan rambut diikat asal-asalan. Dimas mengunyah sesuatu yang dia klaim sebagai sarapan. Dan di seberangku, dengan punggung tegak seperti sedang menghadiri sidang paripurna, duduk seseorang yang bahkan di desa tanpa sinyal pun tetap memakai kaus berkerah.

Aku tidak melihat ke arahnya. Sembilan belas hari, aku sudah mahir.

“Kelompok satu, posyandu,” kata Nadia. “Kelompok dua, lanjut ngecat pagar balai desa. Terus—“ Dia berhenti. Aku tahu jeda itu. Semua orang yang pernah menyampaikan berita buruk punya jeda itu. “Terus Mbah Warsih minta gudangnya dibereskan. Beliau sudah dua tahun nggak bisa naik ke sana.”

“Aku!” Dimas mengangkat tangan. “Aku mau. Gudang. Serius. Adem.”

“Bukan kamu, Dim.” Nadia melihat papan jalannya lebih lama dari yang diperlukan. “Grace sama Mas Rayyan.”

Ada bunyi kecil di tikar. Sasa menyikut lututku, pelan, seperti orang yang menonton kecelakaan dari jarak aman.

“Kenapa dua orang?” tanyaku.

“Karena barangnya banyak. Dan berat.”

“Aku bisa sendiri.”

“Aku juga bisa sendiri,” kata suara di seberangku. Sopan. Rata. Suara orang yang terbiasa bicara di depan mikrofon dan tahu persis berapa desibel yang enak didengar. “Nggak masalah, Nad. Biar aku aja.”

Nadia mengembangkan senyum yang sudah dia latih selama tiga semester jadi sekretaris BEM. “Berdua, ya. Sudah dicatat. Sudah dilaporkan ke Bu Kades. Sudah nggak bisa diubah.”

Nadia itu orang paling ramah yang pernah kutemui, dan hari itu aku sadar untuk pertama kalinya bahwa orang paling ramah biasanya juga yang paling susah dilawan.


Kalau ada yang bertanya kapan tepatnya semua ini dimulai, aku bisa menjawab dengan tanggal.

Semester tiga. Bulan September. Ospek fakultas hari kedua. Ada mahasiswa baru yang pingsan di lapangan pukul satu siang dan baru dibawa ke klinik pukul dua kurang seperempat. Empat puluh lima menit. Aku mencatat angka itu di halaman pertama buku catatanku dan aku masih ingat cara tanganku gemetar waktu menulisnya, bukan karena takut, tapi karena marah.

Waktu itu aku reporter magang. Tulisan pertamaku yang naik cetak. Judulnya biasa saja, isinya juga tidak istimewa — cuma kronologi, cuma angka, cuma tiga narasumber. Tapi di halaman terakhir ada satu kalimat yang tidak pernah dimaafkan siapa pun: Ketua panitia tidak berada di lokasi saat kejadian.

Itu fakta. Aku sudah cek dua kali.

Dua hari kemudian, seseorang menghadangku di depan sekretariat. Jaket almamater dikancing sampai atas, padahal jam dua siang, padahal panas.

“Kamu Grace?” katanya.

Bukan begitu cara orang menyapa. Itu cara orang membaca daftar hadir.

“Grace Alecia,” kataku. “Iya.”

“Kamu tahu aku lagi ngurus ambulans waktu itu? Aku nelpon dari parkiran karena di lapangan nggak ada sinyal.”

“Kenapa nggak ada yang bilang gitu waktu aku minta konfirmasi?”

“Karena kamu minta konfirmasi jam sebelas malam.”

“Karena deadline-nya jam dua belas.”

Dia diam. Aku ingat dia diam agak lama, dan aku ingat aku merasa menang, dan aku ingat perasaan menang itu bertahan kira-kira empat detik sebelum dia bilang, dengan suara yang sama sekali tidak naik:

“Lain kali, tulis juga bagian yang bikin kamu nggak kelihatan hebat.”

Lalu dia pergi.

Sejak hari itu, setiap bulan, ada satu halaman di Poros yang dia tunggu. Dan setiap bulan, aku pastikan halaman itu ada.


Gudang Mbah Warsih ada di belakang rumah utama, terpisah, dengan tangga kayu tujuh anak yang tiganya sudah tidak bisa dipercaya.

Di dalamnya gelap, dan bau. Bukan bau busuk — bau tua. Bau kertas yang sudah lama menyerah, kayu yang sudah lama tidak diajak bicara, dan debu yang sudah membentuk pemerintahannya sendiri.

Kami bekerja selama dua jam tanpa bicara sepatah kata pun.

Itu prestasi, sebenarnya. Dua jam. Aku mengangkat kardus, dia mengangkat kardus. Aku menurunkan kardus, dia menurunkan kardus. Sekali kami hampir bertabrakan di pintu dan dua-duanya mundur selangkah dengan kecepatan yang sama, seperti dua magnet yang dipasang salah arah.

Jam sebelas lewat, dia buka suara.

“Kardus yang di pojok itu jangan diangkat sendiri.”

“Aku nggak minta pendapat.”

“Aku juga nggak ngasih pendapat. Itu ada paku nongol di bawahnya.”

Aku melihat ke bawah kardus. Ada paku nongol di bawahnya.

Aku mengangkat kardus itu dari sisi yang lain, dan aku tidak bilang terima kasih, dan dia tidak menunggu.

Itu bagian yang orang lain tidak pernah percaya kalau kuceritakan: dia tidak menyebalkan karena kasar. Dia menyebalkan karena benar, dan karena dia tidak pernah kelihatan menikmati saat dia benar. Kalau dia menyeringai sedikit saja, hidupku akan jauh lebih mudah. Aku bisa membencinya dengan tenang.

Kami menemukan tiga karung beras kosong, satu sepeda tanpa roda belakang, empat puluh dua botol kaca yang aku hitung karena aku selalu menghitung, dan setumpuk buku tulis anak SD dengan nama yang sama di sampulnya. Warsih. Kelas dua. Kelas tiga. Kelas empat. Berhenti di kelas empat.

Aku menyusun buku-buku itu jadi satu tumpukan sendiri, terpisah dari yang lain, dan aku tidak bilang kenapa. Dia melihat, dan dia juga tidak bertanya kenapa, dan waktu dia mengangkat tumpukan berikutnya dia meletakkannya agak jauh supaya tidak menimpa yang tadi.

Dua jam. Tanpa bicara. Kalau saja hari itu berhenti di situ, mungkin kami bisa pulang dari KKN sebagai dua orang yang saling tidak suka dengan cara yang wajar dan sehat.

Begitulah bentuk gencatan senjata kami waktu itu. Bukan damai. Cuma dua orang yang sepakat bahwa berdebat di suhu tiga puluh empat derajat itu tidak efisien.

Kotak kayu itu muncul jam satu siang, di dasar lemari yang tidak punya pintu lagi.

Ukurannya kira-kira sebesar kotak sepatu anak-anak. Kayunya gelap, sudutnya dilapisi lempeng logam tipis, dan tutupnya tidak terkunci — cuma seret, seperti laci lama yang perlu dibujuk.

“Apa itu?” tanyanya.

“Kotak.”

“Terima kasih, Grace. Sangat informatif.”

Aku membukanya.

Di dalamnya ada kain — dulu mungkin merah, sekarang warna sesuatu yang tidak punya nama. Di atas kain itu, dua gelang tembaga.

Bukan dua gelang yang kebetulan diletakkan berdampingan. Dua gelang yang bertaut. Saling menembus, saling mengunci, seperti dua cincin yang sudah lupa cara berpisah. Tembaganya gelap, tapi bukan hijau. Tidak ada karat sama sekali. Untuk benda yang tersimpan di gudang tanpa jendela selama entah berapa puluh tahun, dua gelang itu terlalu bersih.

Aku menyentuhnya.

Hangat.

Aku menarik tanganku. Di gudang setua ini, semua benda logam seharusnya dingin. Aku menyentuhnya lagi. Masih hangat. Suhunya seperti gagang cangkir yang baru ditinggal lima menit.

“Bagus,” katanya dari belakangku, dan suaranya beda. Lebih pelan. “Itu mungkin barang berharga. Kita serahkan ke Bu Kades sore ini.”

“Kita serahkan ke Mbah Warsih,” kataku. “Ini rumah dia.”

“Barang temuan di lokasi kegiatan KKN dilaporkan ke perangkat desa dulu, baru diserahkan ke pemilik. Ada prosedurnya.”

“Ini bukan rapat, Ketua.”

Aku tidak tahu kenapa aku memanggilnya begitu. Aku selalu memanggilnya begitu. Mungkin karena itu satu-satunya cara memanggil orang yang terdengar sopan tapi sebenarnya tidak.

Dia mengulurkan tangan. “Sini biar aku yang bawa.”

“Aku yang nemu.”

“Kita berdua yang nemu.”

“Aku yang buka kotaknya.”

“Alecia.”

Aku berhenti.

Tidak ada yang memanggilku begitu. Tidak di kampus, tidak di redaksi, tidak di daftar hadir. Nama itu tinggal di rumah, di mulut ibuku, di akta yang tidak pernah kubuka. Aku bahkan tidak tahu dia tahu.

Dan dia mengucapkannya seperti orang yang sedang menegakkan tata tertib.

“Jangan begini.”

Tanganku sudah memegang satu gelang. Tangannya sudah memegang yang satunya. Aku bahkan tidak ingat kapan itu terjadi.

Dan kami menarik.

Bukan tarikan besar. Bukan adegan yang layak difilmkan. Cuma dua orang dewasa berusia dua puluh satu tahun, di gudang berdebu, di desa yang airnya susah, menarik sebuah benda ke arah yang berlawanan selama mungkin dua detik.

Bunyinya pendek.

Tak.

Sependek itu. Seperti ranting kering diinjak. Tidak ada dentang, tidak ada cahaya, tidak ada angin yang tiba-tiba masuk lewat jendela yang memang tidak ada.

Cuma dua gelang tembaga yang tadinya bertaut, sekarang tidak lagi.

Aku memegang satu. Dia memegang satu. Di titik sambungannya, tembaganya patah bersih, dan patahannya berkilau seperti sesuatu yang baru dibelah pagi ini.

Kami berdiri di sana, cukup lama.

“Kamu—“ katanya.

“Kamu duluan yang narik.”

“Aku minta baik-baik.”

“Kamu narik.”

“Aku minta. Baik-baik.” Dia menutup matanya sebentar, seperti orang yang sedang menghitung sampai lima di dalam kepala dan sampai di angka tiga sudah menyerah. “Ini barang orang, Grace. Barang orang tua. Di rumah orang tua. Yang mengizinkan kita masuk.”

Dan itu masalahnya dengan orang seperti dia: dia selalu memilih kalimat yang membuatku merasa lebih kecil dari ukuran aslinya, dan dia melakukannya tanpa satu pun kata kasar, sehingga aku tidak bisa mengutipnya di mana-mana.

Aku membuka mulut untuk membalas, dan tidak jadi.

Karena aku merasakan sesuatu di telapak tanganku, dan aku butuh beberapa detik untuk mengenalinya. Gelang itu tidak hangat lagi.

Sekarang dia panas.

Cuma sebentar. Mungkin dua detik. Lalu kembali ke suhu ruangan, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, seperti aku cuma capek dan kepanasan dan sembilan belas hari tanpa mandi layak memang bisa membuat orang mengarang sensasi.

Aku hendak bilang sesuatu — entah apa, mungkin sesuatu yang tidak sopan — waktu bayangan di ambang pintu berubah.


Mbah Warsih berdiri di sana dengan satu tangan di kusen.

Aku tidak tahu sudah berapa lama. Perempuan setua itu naik tujuh anak tangga kayu tanpa bunyi sama sekali, dan sampai hari ini aku belum punya penjelasan untuk bagian itu.

Beliau kecil. Punggungnya bungkuk. Kainnya rapi. Mulutnya mengunyah pelan, dan di sudut bibirnya ada warna merah gelap yang sudah jadi bagian dari wajahnya.

Beliau tidak melihat ke gudang. Tidak melihat ke kardus-kardus yang sudah kami susun rapi selama dua jam. Tidak melihat ke kami.

Beliau melirik ke tangan kami. Sebentar. Betul-betul sebentar — mungkin sepanjang satu tarikan napas.

Lalu beliau bicara, pelan, dengan nada orang yang sedang menyebutkan harga cabai.

“Iku gelang kembar, Le. Sing siji nunggu sing siji.”

Aku menoleh ke sebelahku. Dia — orang yang seumur hidupnya selalu punya kalimat lanjutan — tidak punya kalimat lanjutan.

“Mbah,” katanya akhirnya. “Ini... maaf, Mbah. Ini patah. Kami ganti.”

Mbah Warsih mengunyah.

“Wis kadung pecah, yo wis.”

“Nggih, tapi—“

“Sing sabar.”

Dan beliau berbalik.

Turun tujuh anak tangga kayu, tetap tanpa bunyi, tetap dengan punggung bungkuk itu, tetap mengunyah. Tidak menoleh. Tidak menjelaskan. Tidak marah.

Aku ingin sekali menuliskan bahwa saat itu ada firasat. Ada dingin di tengkuk, ada bulu kuduk berdiri, ada suara yang berbisik jangan-jangan.

Tidak ada.

Yang ada cuma dua mahasiswa yang merasa bersalah karena memecahkan barang orang tua, dan lega karena orang tua itu ternyata tidak marah.

“Kita ganti,” katanya, sambil memasukkan gelangnya ke saku celana. “Aku cari tukang tembaga di kota.”

“Yang ini nggak bisa diganti.”

“Semua bisa diganti kalau kamu mau bayar.”

Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam sembilan belas hari aku benar-benar menatapnya. Ada debu di alisnya. Kausnya sudah tidak berbentuk. Kerahnya kusut. Dia berdiri di gudang orang, memegang setengah benda yang baru saja dia patahkan, dan masih sempat bicara seperti sedang menyusun anggaran.

“Kamu tahu kenapa aku nggak pernah bisa nulis kamu jelek?” kataku.

Dia mengangkat alis.

“Karena kamu selalu punya alasan yang masuk akal.” Aku memasukkan gelangku ke saku. “Itu bagian yang paling nyebelin.”

Aku turun duluan. Anak tangga keempat berdecit seperti biasa.


Malam itu di posko, Dimas bikin teori bahwa gelang itu peninggalan Majapahit dan kami berdua sekarang akan diikuti kelelawar. Sasa bilang Dimas harus tidur. Nadia meminta gelang itu difoto untuk laporan, dan aku memotretnya di atas tikar dengan kamera ponsel yang bateraienya tinggal delapan belas persen.

Foto itu jelek. Buram di bagian patahannya.

Aku berencana menyerahkannya ke Bu Kades besok pagi. Bersama-sama. Aku bahkan sudah menyiapkan kalimat yang cukup dewasa untuk mengaku bahwa kami merusakkannya karena berebut, meskipun aku berencana menghilangkan kata berebut.

Jam sepuluh, lampu posko dimatikan. Genset desa cuma nyala sampai jam sepuluh.

Aku berbaring di kamar belakang, di atas kasur busa yang sudah pipih, di antara Sasa yang langsung tidur dan Nadia yang masih mengetik laporan pakai cahaya ponsel. Di luar, jangkrik. Di kejauhan, anjing. Di atas, atap seng yang mendinginkan diri dengan bunyi tik, tik, tik seperti sesuatu yang sedang menghitung.

Gelang itu kuletakkan di lantai, di samping bantal, di atas buku catatanku supaya tidak hilang.

Aku sempat menyentuhnya sekali sebelum tidur.

Dingin. Biasa saja. Logam tua di malam yang tidak istimewa.

Aku tidur pukul sebelas kurang.

Dan aku ingat betul apa yang kupikirkan tepat sebelum tidur, karena besok-besoknya aku akan mengingat ini berkali-kali dan menertawakan diriku sendiri:

Untung besok tinggal beresin laporan. Nggak akan ada kejadian apa-apa lagi.