Chapter Nineteen
Bebek
Pukul dua lewat dua belas menit, tanggal empat Maret.
Aku sedang tidur. Aku selalu sedang tidur pukul dua. Itu satu-satunya hal yang bisa diandalkan tentang diriku.
Yang membangunkanku bukan tengkuk kali ini.
Yang membangunkanku adalah lantai yang berubah, dan aku terbangun sudah berdiri, dan itu pengalaman yang tidak akan pernah kubiasakan seumur hidup: tubuhmu bangun setelah kakimu.
Gelap. Bau kayu lemari. Suara kipas angin di kecepatan satu.
Dan suara napas yang salah.
Dia duduk di kasur dengan punggung menempel ke tembok dan lutut ditarik ke dada, dan dia belum menyalakan lampu, dan dia belum menyadari bahwa aku sudah ada di ruangan itu.
“Ace.”
Dia terlonjak.
“Aku,” kataku cepat. “Aku. Aku aja.”
“Van—“
“Iya.”
Dia menarik napas dua kali dengan cara yang salah, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan aku mendengar dia berkata dari balik telapaknya, dengan suara yang hancur:
“Mimpi.”
“Oke.”
“Aku mimpi terus bangun terus aku nggak tahu aku di mana.” Dia menarik napas lagi. “Aku pikir aku di Klaten. Aku pikir aku di rumah dan aku harus bangun buat—“
Dia berhenti.
Aku tidak bertanya untuk apa.
Aku menghitung. Empat, tahan tujuh, buang delapan. Aku duduk di lantai di sudut yang biasa, jauh dari kasur, karena itu jarak yang sudah kami sepakati tanpa pernah menyepakatinya.
Kami mengulanginya enam kali sebelum bahunya turun.
Dan waktu bahunya turun, dia mengangkat kepala, dan aku menyalakan senter ponsel dan mengarahkannya ke langit-langit supaya ruangan itu punya bentuk.
Dan aku melihat apa yang dia pakai.
Aku ingin mencatat bahwa aku tidak sedang mencari-cari. Senter itu kuarahkan ke langit-langit, bukan ke arahnya. Cahayanya memantul dan menyebar dan itu satu-satunya cara membuat kamar punya bentuk tanpa menyalakan lampu besar.
Tapi ruangan itu kecil, dan dia duduk tiga meter dariku, dan mata manusia bekerja tanpa izin.
Kaus kuning.
Kebesaran — bukan kebesaran gaya, kebesaran yang salah, yang bahunya turun sampai hampir ke siku. Lengan pendeknya sampai ke sikunya. Kerahnya sudah melar sampai kehilangan bentuk aslinya.
Dan di dadanya ada sablon bebek.
Bebek kartun, kuning lebih terang dari kausnya, dengan paruh oranye dan mata dua titik. Sablonnya sudah retak. Retaknya bukan retak sedikit — retak jaring, di seluruh permukaan, jenis retak yang cuma bisa terjadi kalau kaus dicuci ratusan kali selama bertahun-tahun.
Sebagian sayap kirinya sudah hilang.
Dia menyadari arah pandanganku sekitar satu detik sesudah aku menyadarinya sendiri.
Dan yang terjadi berikutnya adalah hal yang paling cepat yang pernah kulihat dia lakukan.
Dia menarik selimut sampai ke dagu.
Bukan gerakan malu-malu. Bukan gerakan yang lucu. Dia menyambar selimut itu dengan kedua tangan dan menariknya seperti orang menutup sesuatu yang bocor, dan sesudahnya dia tidak melihat ke arahku sama sekali.
“Jangan,” katanya.
“Aku nggak ngomong apa-apa.”
“Jangan ngomong apa-apa.”
“Oke.”
Sunyi.
Kipas angin. Kucing ibu kos yang berkelahi di halaman bawah, yang namanya September dan Maret.
“Kamu boleh ketawa,” katanya, ke selimut.
“Kenapa aku harus ketawa.”
“Karena semua orang ketawa. Sasa ketawa tiga tahun. Dia manggil aku Donal sampai semester lima.”
“Aku bukan Sasa.”
“Van—“
“Donal itu bukan bebek yang tepat,” kataku.
Selimut itu bergerak sedikit.
“Apa?”
“Sablonnya. Itu bukan Donal.” Aku memiringkan kepala. “Paruhnya kependekan dan matanya dua titik. Donal itu matanya oval sama ada alisnya. Itu bebek generik pasar malam.”
Ada jeda cukup lama.
“Kamu ngoreksi ejekan orang dari tiga tahun lalu.”
“Iya.”
“Van, itu bukan poinnya.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
“Aku tahu poinnya.” Aku menyandarkan punggung ke dinding. “Aku juga takut kecoak terbang. Dan kamu nggak ketawa. Jadi kita impas dan kita udahan.”
Aku tidak tahu apakah itu hal yang benar untuk dikatakan.
Yang kutahu: bahunya turun satu tingkat lagi, dan dia menurunkan selimut sampai ke pinggang, dan dia tidak menaikkannya lagi sepanjang malam itu.
Ini bagian yang sulit dijelaskan, dan aku sudah beberapa kali mencoba.
Dia lebih hancur karena kausnya daripada karena mimpinya.
Aku sudah melihat orang itu sesak napas di warung seblak di depan lima belas orang. Aku sudah melihatnya berdiri di ruang sidang dengan masker bengkoang di depan tiga dosen penguji. Aku sudah melihatnya menangis, tiga kali, dan salah satunya dia klaim air hujan.
Tidak ada satu pun dari itu yang membuatnya menarik selimut.
Dan aku duduk di lantai sudut kamar itu jam dua lewat sekian, dan aku mengerti sesuatu yang tidak pernah kumengerti sebelumnya tentang orang.
Semua yang pernah kulihat selama ini adalah dia dalam keadaan darurat.
Keadaan darurat itu, betapapun memalukan, punya satu keuntungan: ada alasannya. Kamu bisa berkata aku begini karena kompornya, aku begini karena kabelnya, aku begini karena seblaknya.
Kaus itu tidak punya alasan.
Kaus itu cuma dia, sendirian, di kamarnya, pada jam ketika tidak ada seorang pun yang seharusnya melihat.
Itu bukan darurat. Itu hari-hari biasanya.
Dan hari-hari biasa jauh lebih pribadi daripada bencana mana pun.
Sebelum dia bicara lagi, ada sekitar dua puluh menit yang perlu kucatat, karena dua puluh menit itu tidak berisi apa-apa dan justru itu poinnya.
Kami tidak bicara.
Dia duduk di kasur menghadap kipas angin. Aku duduk di lantai sudut. Kipas itu berputar. Kucing berkelahi. Ada motor lewat di gang, lalu tidak ada motor lagi selama sangat lama.
Dan aku duduk di sana melakukan sesuatu yang paling sulit yang pernah kucoba, yang bukan menghitung napas, bukan mengusir apa pun, bukan mencabut sekring.
Aku duduk diam.
Di menit kesepuluh tanganku mulai gatal ingin melakukan sesuatu. Menyalakan lampu. Merapikan buku di lantai. Bertanya apakah dia mau minum. Apa saja, asal ada gunanya.
Di menit kelima belas aku menyadari bahwa aku sedang menghitung menit, dan aku berhenti menghitung, dan itu terasa seperti melepas pegangan di tepi kolam.
Di menit kedua puluh dia bicara.
“Dari bapakku,” katanya, sekitar dua puluh menit kemudian, tanpa diminta, ke arah kipas angin.
Aku tidak menjawab.
“Aku kelas empat waktu itu. Beliau beli di pasar malam, salah ukuran, kegedean lima nomor.” Dia menarik ujung lengannya. “Ibuku marah karena mubazir. Beliau bilang nanti juga muat.”
Kipas angin berputar.
“Sampai sekarang nggak muat.”
Aku duduk di lantai dan tidak mengatakan satu pun dari sekitar dua belas kalimat yang muncul di kepalaku, karena kedua belasnya adalah versi dari hal yang sama, dan hal yang sama itu adalah aku turut berduka, dan dia tidak sedang meminta itu.
Jadi aku bertanya hal lain.
“Sablonnya retak dari kapan?”
Dia menoleh.
“Apa?”
“Sablonnya. Retaknya jaring, bukan pecah sebagian.” Aku mengangkat bahu. “Itu bukan karena sering dicuci. Itu karena dijemur langsung kena matahari terus, bertahun-tahun. Kalau dijemur di tempat teduh, sablon karet bisa awet dua kali lipat.”
Dia menatapku selama beberapa detik.
Lalu dia tertawa.
Bukan tawa sopan. Tawa yang keluar dari perut, satu kali, keras, sampai dia harus menutup mulutnya sendiri karena ini kos putri jam dua pagi.
“Kamu—“ Dia menggeleng. “Kamu ngasih aku tips perawatan kaus.”
“Iya.”
“Bapakku meninggal sembilan tahun lalu dan kamu ngasih aku tips perawatan kaus.”
“Kalau kamu jemur di tempat teduh mulai sekarang, sisanya bisa tahan lebih lama.”
Dan sesuatu di wajahnya berubah, di tengah tawa itu, dengan cara yang membuatku menyesal dan tidak menyesal pada saat yang bersamaan.
“Oke,” katanya, pelan. “Oke. Aku jemur di tempat teduh.”
Sebelum dia tertidur, ada satu percakapan lagi yang perlu kutulis.
“Van.”
“Hm.”
“Kamu nggak nanya mimpinya apa.”
“Kamu mau aku nanya?”
Jeda.
“Nggak,” katanya.
“Ya udah.”
“Tapi kamu nanya dulu.” Dia menarik selimut lebih tinggi lagi, kali ini bukan karena malu. “Itu beda.”
“Beda gimana?”
“Kalau kamu nggak nanya sama sekali, artinya kamu nggak peduli. Kalau kamu langsung nanya, artinya aku harus jawab.” Suaranya makin pelan. “Kalau kamu nanya apakah aku mau ditanya, aku boleh bilang nggak.”
Aku duduk di lantai sudut itu dan berpikir bahwa aku sudah dua puluh satu tahun dan baru diajari perbedaan itu jam tiga pagi oleh orang yang sedang memakai kaus bergambar bebek.
Gelangnya tidak memanas.
Sudah lama tidak memanas. Sudah lewat setengah jam sejak napasnya normal, dan kami berdua tahu apa artinya, dan tidak ada yang menyebutkannya, karena itu sudah jadi satu-satunya bahasa yang kami punya untuk hal yang tidak bisa kami ucapkan.
Jam tiga lewat, dia mulai tertidur.
Aku tahu karena kalimatnya jadi lebih pendek, lalu berhenti di tengah, lalu ada jeda panjang, lalu dia bilang “hm” untuk sesuatu yang tidak kutanyakan.
Aku pindah dari sudut ke pinggir kasur. Itu pelanggaran pertama terhadap jarak yang sudah kami sepakati selama tujuh bulan.
Dia tidak protes.
Dia sudah miring menghadap dinding, dengan kaus kuning yang kerahnya melar dan sablon bebeknya yang retak jaring, dan napasnya sudah panjang dan teratur.
Aku duduk di pinggir kasur cukup lama.
Lalu aku menunduk dan mencium puncak kepalanya.
Sekali. Pendek. Di rambut, bukan di kulit kepala. Sepelan yang bisa dilakukan manusia.
Dan aku tahu — aku tahu persis, aku sudah mengenalnya cukup lama untuk tahu perbedaan pola napas orang tidur dan orang yang pura-pura tidur — bahwa dia sedang tidak tidur.
Aku tahu.
Dia tahu aku tahu.
Dan tidak ada satu pun dari kami yang mengatakan apa pun tentang itu, malam itu maupun sesudahnya, sampai sangat lama kemudian.
Gelang itu memanas jam empat kurang lima.
Satu. Dua. Ti—
Sebelum aku hilang, dia berbicara sekali lagi, dengan suara orang yang setengah tenggelam.
“Van.”
“Iya.”
“Besok jangan bawa apa-apa.”
“Apa?”
“Jangan beliin apa-apa.” Napasnya panjang. “Aku tahu kamu lagi mikirin itu.”
Aku duduk di pinggir kasur dan tidak menjawab, dan gelang itu memanas empat menit kemudian.
Aku muncul kembali di kasurku sendiri, berdiri di sampingnya, dengan Dimas mendengkur tiga meter dariku.
Aku tidak tidur lagi.
Aku duduk di lantai sampai subuh, dan yang kupikirkan bukan hal-hal yang seharusnya kupikirkan.
Aku memikirkan bahwa aku sekarang tahu satu hal tentang orang itu yang tidak diketahui siapa pun. Bukan Sasa — Sasa cuma tahu kausnya, tidak tahu asalnya. Bukan ibunya, yang justru marah waktu kaus itu dibeli. Tidak ada seorang pun di Yogyakarta yang tahu bahwa ada kaus kuning kebesaran dengan sablon retak yang dipakai tidur setiap malam oleh Pemimpin Redaksi LPM Poros.
Dan naluri pertamaku — aku bisa merasakannya, jelas sekali, seperti tangan yang hendak bergerak — adalah melakukan sesuatu dengan pengetahuan itu.
Cari kaus yang sama. Cari sablonnya. Cari tukang sablon yang bisa mencetak ulang. Aku bahkan sudah memikirkan bahwa desain bebek itu bisa difoto lalu dilacak, bahwa pasar malam tahun dua ribu dua belas pasti memakai kaus polos merek tertentu, bahwa ukurannya bisa diperkirakan dari lebar bahu.
Aku sudah menyusun tiga langkah pertama sebelum matahari terbit.
Lalu aku ingat lampu belajar Dimas yang diarahkan ke wajahku, dan suara Dimas yang membentak untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dan satu kalimat yang tidak akan pernah lepas dariku.
Aku baru ngomong dua menit dan kamu udah bikin daftar.
Aku menghapus tiga langkah itu dari kepalaku, satu per satu, dan itu jauh lebih sulit daripada yang seharusnya.
Dan aku tidak melakukan apa-apa.
Selama satu setengah tahun berikutnya aku tidak melakukan apa-apa sama sekali tentang kaus itu. Aku tidak mencarinya, tidak menyablonnya, tidak membelikan pengganti, tidak sekali pun menyebutnya.
Itu hadiah pertama yang pernah kuberikan kepada seseorang dalam bentuk tidak melakukan apa-apa, dan tidak ada seorang pun yang tahu bahwa aku memberikannya.
Termasuk dia.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek reading
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau