Chapter Forty Two
Extra 02 — Tembaga Hijau
Kami kembali ke Sumberwangi tanggal dua puluh Juni, dua tahun kurang sebulan setelah pertama kali.
Ide siapa? Aku ingin menulis idenya bersama. Bukan. Idenya dia, disampaikan dengan cara yang sudah kuhafal:
van
Iya.
sumberwangi yuk
Lalu, empat menit kemudian, sebelum aku sempat membalas:
nggak usah kalau ribet serius nggak usah aku cuma nanya
Dua tahun.
Ada beberapa hal yang tidak berubah pada orang, dan aku sudah berhenti berharap sebaliknya, dan aku sudah mulai curiga bahwa itu justru bagian yang kusukai.
Aku ikut.
beneran?
Iya.
Dia datang dari Jakarta hari Jumat malam, kereta terakhir, dengan ransel dan satu kantong oleh-oleh yang isinya kerupuk yang bisa dibeli di mana saja termasuk di Yogyakarta.
Setahun.
Setahun kami menjalani enam ratus kilometer dengan satu kali kunjungan sebulan, kadang tidak, dan aku tidak akan berpura-pura bahwa itu indah.
Bulan ketiga adalah bulan terburuk. Kami bertengkar dua kali lewat telepon dan sekali lewat pesan, dan yang lewat pesan adalah yang paling bodoh, karena tidak ada nada suara di pesan dan dua orang yang sama-sama pandai menyusun kalimat bisa saling melukai dengan sangat efisien.
Yang membuatnya bertahan bukan cinta. Aku minta maaf kalau ini mengecewakan.
Yang membuatnya bertahan adalah Pasal 13, dilipat empat, di dompetnya.
Dilarang menahan panik sendirian.
Kami memakainya seperti orang memakai obat: bukan karena manjur, karena sudah dijadwalkan.
Kalau ada yang tidak beres, ada dua kata yang bisa dikirim kapan saja, dan begitu dikirim, yang satunya wajib menelepon dalam sepuluh menit, dan tidak ada satu pun alasan yang berlaku.
Dua kata itu: pasal tiga belas.
Setahun. Dua puluh enam kali.
Enam belas di antaranya dia yang mengirim.
Sepuluh di antaranya aku.
Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya. Tapi aku menghitungnya untuk alasan yang berbeda dari dulu, dan aku baru sadar itu bulan Mei: aku tidak lagi menghitung untuk tahu kapan harus berhenti.
Aku menghitung karena sepuluh itu angka yang tidak pernah kubayangkan bisa kucapai.
Aku pindah ke Jakarta bulan September.
Bukan pengorbanan. Aku melamar sendiri, ditolak dua kali, diterima yang ketiga, di konsultan yang jauh lebih besar dan jauh lebih membosankan.
Aku menceritakannya kepadanya lewat telepon dan dia diam selama enam detik dan lalu bilang “oh” dengan suara yang salah, dan aku hampir minta maaf sebelum dia bilang, “sebentar, aku ke kamar mandi dulu,” dan aku mendengar keran menyala.
Jalan ke Sumberwangi sudah diaspal.
Itu hal pertama yang kami sadari. Dua tahun lalu tiga kilometer terakhir itu jalan berbatu yang membuat motor bergetar sampai ke gigi. Sekarang aspal, halus, dengan marka putih yang masih terang.
“Ini dana desa,” katanya, dari belakang.
“Kayaknya.”
“Kamu mau ngecek?”
“Nggak.”
“Van.”
“Aku nggak mau ngecek.”
“Kamu bohong.”
“Aku bohong,” kataku. “Tapi hari ini aku nggak ngecek.”
Dia menepuk bahuku dari belakang, satu kali, dan tidak melanjutkan.
Tanahnya masih putih. Panasnya masih menempel. Air masih susah — kami tahu karena ember di depan rumah-rumah masih ada di posisi yang sama seperti dua tahun lalu, terbalik, menunggu.
Posko lama sudah jadi PAUD. Ada tulisan di dindingnya dengan cat biru dan gambar matahari yang matanya terlalu besar.
Mbah Warsih ada di amben depan.
Dua tahun lebih tua. Lebih kecil. Punggungnya lebih bungkuk dan tangan kirinya sekarang selalu memegang tepi amben waktu beliau bergerak.
Cobek kecil berisi sirih di pangkuan.
Beliau melihat kami berdiri di pagar selama beberapa detik.
Dan beliau tidak terkejut sedikit pun.
“Wis rampung?” kata beliau.
Sudah selesai?
Kami belum mengucapkan satu kata pun. Kami belum membuka pagar. Kami belum bilang siapa kami.
Dua tahun, dan itu kalimat pertama beliau.
“Nggih, Mbah,” kataku.
“Yo wis. Mlebu.”
Tehnya masih terlalu manis.
Aku menghabiskannya. Grace juga. Kami berdua dibesarkan dengan cara tertentu.
Beliau tidak bertanya apa pun.
Ini yang perlu kucatat, karena aku sudah menyiapkan jawaban untuk sekitar sembilan pertanyaan selama perjalanan tiga jam dari Yogyakarta, dan tidak satu pun terpakai.
Beliau tidak bertanya kapan kutukannya berhenti. Tidak bertanya bagaimana. Tidak bertanya apa yang terjadi pada kami berdua di antara dua kunjungan itu.
Beliau bertanya apakah kami sudah makan.
Beliau bertanya apakah kami masih kuliah.
Beliau bertanya apakah jalan aspal barunya enak dilewati, dan waktu Grace bilang enak, beliau bilang “yo mbuh” dengan nada yang membuat kami berdua diam selama tiga detik dan lalu memutuskan untuk tidak menanyakannya.
Gudangnya masih ada.
Tujuh anak tangga kayu. Yang keempat masih berdecit.
Kami membereskannya lagi. Tidak diminta. Grace yang berjalan duluan ke belakang rumah dan naik tanpa bilang apa-apa, dan aku menyusul.
Dua jam. Sama seperti dua tahun lalu, kecuali kali ini kami bicara.
Kardus-kardus yang kami susun rapi dua tahun lalu masih tersusun rapi di tempat yang sama. Debunya sudah membentuk pemerintahan baru di atasnya.
Sepeda tanpa roda belakang masih ada. Empat puluh dua botol kaca masih empat puluh dua; Grace menghitungnya lagi dan mengumumkannya dengan puas.
Dan setumpuk buku tulis anak SD dengan nama yang sama di sampulnya masih di tempat yang sama, terpisah dari yang lain, di tumpukan sendiri yang tidak pernah tertimpa apa pun selama dua tahun.
Warsih. Kelas dua. Kelas tiga. Kelas empat.
Berhenti di kelas empat.
“Mbah,” kata Grace, di amben, sesudah kami turun.
“Iyo, Nduk.”
“Buku tulis di gudang itu punya Mbah?”
Mbah Warsih mengunyah.
“Iyo.”
“Kok berhenti di kelas empat?”
“Yo kudu nyambut gawe.”
Harus bekerja.
Grace mengangguk pelan dan tidak menanyakan apa pun lagi, dan aku memperhatikan itu, karena orang di sebelahku adalah orang yang pekerjaannya selama tiga tahun adalah tidak berhenti bertanya.
Dia sudah belajar sesuatu juga.
Kotak kayunya kami bawa turun dari gudang.
Sebesar kotak sepatu anak-anak. Kayu gelap, sudut dilapisi lempeng logam tipis, tutupnya seret.
Aku mengeluarkan setengah gelangku dari saku.
Grace mengeluarkan punyanya dari kantong kecil di dalam tas.
Hijau, dua-duanya. Bukan bintik lagi, bukan tepi. Hijau menyeluruh sekarang, dengan tekstur yang agak berpasir kalau digosok dengan ibu jari, seperti pipa air tua di belakang rumah orang.
“Boleh dikembalikan, Mbah?”
“Yo kono.”
Aku membuka tutupnya.
Dan Grace, yang berdiri di sebelahku, berhenti bergerak.
Kain di dasarnya masih ada. Dulu mungkin merah, sekarang warna sesuatu yang tidak punya nama.
Di atas kain itu, ada gelang.
Bukan kosong.
Empat pasang.
Delapan potong, tersusun berpasangan, semuanya patah di titik sambungan, semuanya hijau — beberapa hijau muda seperti punya kami, satu hijau gelap yang hampir hitam, satu lagi yang tembaganya sudah menipis sampai bisa kulihat cahaya menembus di satu tempat.
Grace menghitungnya. Tentu saja dia menghitungnya. Aku bisa melihat bibirnya bergerak.
“Empat,” katanya.
“Iyo,” kata Mbah Warsih.
“Mbah, ini—“
“Dilebokke wae.” Beliau menunjuk kotak itu dengan sudut sirihnya. “Sing anyar ning ndhuwur.”
Yang baru di atas.
Aku meletakkan dua potong kami di atas empat pasang yang lain.
Lima.
Aku menutup tutupnya, dan tutupnya seret seperti dua tahun lalu, dan aku harus membujuknya.
Grace bertanya.
Aku tahu dia akan bertanya. Aku sudah tahu sejak dia berhenti bergerak di depan kotak itu, dan aku sudah menyiapkan diri untuk apa pun jawabannya.
“Mbah.”
“Iyo.”
“Mbah pernah?”
Mbah Warsih mengunyah.
Beliau melihat ke halaman. Ada ayam. Ayam itu menemukan sesuatu dan sangat puas dengan dirinya sendiri, persis seperti dua tahun lalu, mungkin ayam yang berbeda, mungkin bukan.
Dan beliau tidak menjawab.
Beliau tidak bilang iya. Beliau tidak bilang tidak. Beliau tidak mengalihkan pembicaraan dengan canggung seperti orang yang menyembunyikan sesuatu.
Beliau cuma mengunyah, dan melihat ayam, dan membiarkan pertanyaan itu tergeletak di amben di antara kami sampai pertanyaan itu berhenti terasa seperti pertanyaan.
Lalu beliau menyodorkan teh lagi.
Kami tidak berani menolak.
Kami pamit jam empat sore.
Beliau mengantar sampai pintu pagar — yang beliau tidak pernah lakukan untuk kelompok KKN mana pun, yang beliau lakukan untuk kami dua tahun lalu, yang beliau lakukan lagi hari itu dengan tangan kiri memegang kayu pagar untuk menopang badan.
Dan sebelum kami pergi, beliau bicara.
Bukan kepadaku.
Ini yang membuatku berhenti, dan yang kupikirkan selama tiga jam perjalanan pulang, dan yang masih kupikirkan sampai sekarang.
Dua tahun lalu beliau mengucapkan kalimat itu dua kali, dan dua-duanya kepadaku. Selalu kepadaku. Selalu ditutup dengan satu kata panggilan di belakangnya. Selalu ke satu orang.
Hari itu beliau melihat kami berdua.
“Sing sabar,” kata beliau.
Tanpa Le.
Tanpa Nduk.
Kepada dua orang sekaligus, dengan satu kalimat, tanpa satu pun penanda yang menunjukkan siapa yang harus bersabar terhadap siapa.
Beliau menutup pagar.
Kami berhenti di warung di pinggir jalan aspal baru itu sekitar dua kilometer dari desa, karena Grace mau minum dan karena aku mau berhenti.
Dan sambil duduk di bangku panjang dengan dua gelas es teh, dia bilang:
“Van, aku mau ngomong sesuatu dan kamu jangan bikin daftar.”
“Oke.”
“Aku serius.”
“Aku nggak bikin daftar.”
“Kamu udah bikin di kepala.”
“Aku udah bikin di kepala,” kataku. “Tapi aku nggak bakal ngeluarin.”
Dia tertawa, dan menendang kakiku di bawah bangku, dan lalu diam agak lama.
“Aku mikirin empat pasang itu,” katanya.
“Aku juga.”
“Ada delapan orang, Van. Minimal delapan orang, sebelum kita. Berebut. Di gudang itu, atau di tempat lain, atau entah kapan.”
“Iya.”
“Dan nggak ada satu pun dari mereka yang nulisnya.”
Aku memutar gelas es tehku.
“Mungkin nggak ada yang percaya,” kataku.
“Mungkin.” Dia menyandarkan punggung ke tiang warung. “Atau mungkin karena kalau kamu ceritain, orang bakal nanya kenapa gelangnya bisa patah. Dan kamu harus bilang: karena aku berebut sama orang yang paling aku benci.”
Aku menoleh.
“Nggak ada yang mau mulai ceritanya dari situ,” katanya.
Kami sampai di Yogyakarta jam setengah delapan malam.
Dan malam itu, di kos yang raknya sudah tidak miring lagi karena aku sudah pindah dua kali sejak itu, aku duduk di lantai dan memikirkan hal yang salah lagi — kebiasaan yang kelihatannya tidak akan pernah hilang.
Aku memikirkan bahwa selama dua tahun aku menganggap kutukan itu hal aneh yang terjadi pada kami.
Dan bahwa sebenarnya kutukan itu sama sekali tidak aneh.
Kutukan itu cuma mesin yang sangat sederhana, dengan satu tombol, yang menekan dua orang untuk melakukan satu hal yang seharusnya bisa dilakukan siapa pun secara gratis:
Datang waktu ada yang butuh.
Dan dua orang berumur dua puluh satu tahun butuh enam belas bulan, dua puluh sembilan kali penarikan paksa, satu motor yang menabrak pot beton, satu sedan putih yang membanting setir, satu malam di IGD, dan sebelas botol sambal yang tidak pernah dibuka — untuk mempelajari sesuatu yang, kalau ditulis, panjangnya satu kalimat.
Bukan kalimat yang bagus, malah.
Cuma: bilang.
Aku mengirim pesan jam sepuluh malam.
Ace.
iya
Aku pindah 8 September.
aku tau, van. kamu udah bilang empat kali.
Aku tahu.
terus kenapa bilang lagi
Dan aku duduk di lantai kamar itu cukup lama sebelum mengetik, karena kalimat berikutnya adalah kalimat yang dua tahun lalu tidak akan pernah bisa kususun, dan aku ingin menyusunnya dengan benar.
Karena dulu aku selalu ngasih tahu kamu hal yang udah selesai. Ini belum. Aku masih takut.
Balasannya butuh empat menit.
van
Iya.
pasal tiga belas
Iya.
aku telepon sekarang ya
Dan ponselku berbunyi sembilan detik kemudian, dan aku mengangkatnya di dering pertama, dan tidak ada satu pun benda logam di ruangan itu yang perlu memanas.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau reading