Chapter Thirty Two
Orang yang Mengajari Aku
Aku sampai di Warung Bu Tin jam tujuh lewat empat puluh lima.
Lima belas menit lebih awal, seperti biasa, karena kalau aku datang tepat waktu aku harus jalan cepat dan kalau aku jalan cepat aku berkeringat.
Dia sudah di sana.
Duduk menghadap pintu — kursi yang biasanya kuambil — dengan tas selempang di pangkuan dan dua gelas es teh yang sudah berembun, artinya sudah dipesan minimal dua puluh menit yang lalu.
Aku tahu dari lima langkah sebelum meja bahwa ini akan buruk.
Bukan dari wajahnya. Wajahnya rata. Dia sangat baik dalam hal itu; kami berdua sangat baik dalam hal itu, kami sudah tiga semester berlatih.
Dari tumpukan.
Amplop cokelat itu tidak ada di atas meja. Dia menaruhnya di kursi kosong di sebelahnya, tertutup tas, di tempat yang tidak akan terlihat orang lewat.
Orang yang menaruh dokumen seperti itu tidak sedang berbagi kabar.
Orang yang menaruh dokumen seperti itu sedang mengendalikan urutan.
“Duduk dulu,” katanya.
Aku duduk.
“Kamu udah makan?”
“Belum.”
“Makan dulu.”
“Ace—“
“Van.” Dia mendorong satu gelas ke arahku. “Aku udah tiga hari nggak makan bener dan aku nggak mau kita berdua ngobrolin ini sambil laper. Serius. Makan dulu.”
Kami makan nasi goreng tanpa cabai selama sebelas menit tanpa bicara.
Itu sebelas menit paling tidak masuk akal dalam hidupku, dan aku tahu persis kenapa dia melakukannya, dan aku tetap berterima kasih sampai sekarang.
Dia mulai dari yang paling jauh.
Bagian satu. LPJ lembaga, tiga tahun, halaman-halaman lampiran. Vendor. Kuitansi. Halaman sebelas yang dilingkari pulpen.
Aku membacanya dan aku tidak merasakan apa-apa selain lelah. Ini urusan yang sudah kutahu. Ini urusan yang seharusnya kuselesaikan bulan Januari dan tidak kuselesaikan karena rapatnya lanjut ke agenda berikutnya.
Bagian dua. Kuitansi. Buram sebagian.
Bagian tiga.
Aku sampai di lembar keempat dan aku berhenti.
Kop suratnya kukenali dari jarak setengah meter, tanpa perlu membaca, karena aku sudah melihat kop itu di puluhan berkas selama satu tahun terakhir dan pernah menyalinnya ke dalam daftar pustaka skripsiku.
“Ace.”
“Baca dulu.”
“Ini proyek Gedung Serba Guna.”
“Aku tahu.”
“Ini bukan urusan lembaga kemahasiswaan.”
“Aku tahu.” Dia meletakkan sendoknya. “Baca sampai bawah.”
Aku membaca sampai bawah.
Empat puluh delapan lembar. Berita acara serah terima yang tanggalnya tidak berurutan. Daftar hadir rapat pemeriksaan dengan lima nama yang sama di enam rapat berbeda. Termin pembayaran yang cair sebelum berita acara terbit.
Aku anak Teknik Sipil. Aku menghabiskan satu tahun membaca dokumen jenis ini untuk skripsi yang akhirnya kubuang.
Aku tahu persis apa yang sedang kubaca.
Dan aku ingin mencatat, dengan sejujur-jujurnya, apa yang kulakukan berikutnya:
Aku menjelaskannya.
“Ini bisa wajar,” kataku.
Dia tidak menjawab.
“Serah terima yang tanggalnya mundur itu biasa, Ace. Kalau ada perbaikan minor di masa pemeliharaan, berita acaranya sering ditandatangani belakangan tapi ditulis tanggal selesai fisik.” Aku membalik satu halaman. “Dan termin yang cair duluan itu — ada mekanisme uang muka, ada jaminan pelaksanaan, itu ada dasarnya.”
“Van.”
“Dan daftar hadir yang orangnya sama itu justru wajar, karena tim pemeriksa memang ditunjuk sekali untuk seluruh masa proyek—“
“Van.”
Aku berhenti.
Dan aku mendengar suaraku sendiri, dari luar, seperti rekaman yang diputar ulang.
Setiap kalimat yang barusan keluar dari mulutku, aku pelajari dari satu orang.
Bukan dari kuliah. Bukan dari buku. Dari warung kopi di Jalan Kaliurang, dari perjalanan naik motor ke lokasi proyek pada hari Minggu, dari empat tahun seseorang menjelaskan kepadaku bagaimana dunia bekerja dengan sabar sekali, tanpa pernah membuatku merasa bodoh.
Aku baru saja membela sesuatu memakai kalimat yang diajarkan oleh orang yang sedang dibela.
“Aku tahu semua penjelasan itu,” kata Grace, pelan. “Aku udah cari sendiri tiga hari. Semuanya bisa wajar.”
“Terus?”
“Terus kenapa kamu jelasin semuanya sekaligus dalam waktu empat puluh detik?”
“Van, aku mau nanya satu hal sebelum lanjut.”
“Tanya.”
“Waktu wisuda kamu bilang kamu yang ngukur ulang plafon gedung itu tahun lalu. Buat skripsi.”
“Iya.”
“Hasilnya gimana?”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Jawab aja dulu.”
Aku menarik napas.
“Ada satu titik di ruang bawah yang lendutannya lebih besar dari yang seharusnya,” kataku. “Selisihnya nggak besar. Masih di dalam toleransi kalau pakai standar yang lama.”
“Kalau pakai standar yang baru?”
“Lewat.”
“Lewat berapa?”
“Sedikit.”
“Van.”
“Sekitar delapan belas persen di atas batas.” Aku memutar gelas es tehku. “Aku tulis di bab empat draf pertama. Terus aku ganti sumber data bulan Oktober, jadi seluruh bab empatnya dibuang. Filenya masih ada di laptopku.”
Grace tidak bergerak sama sekali selama beberapa detik.
“Masih ada,” katanya.
“Masih ada.”
“Ada berapa titik yang kamu ukur?”
“Sebelas.”
Dan dia mengeluarkan buku catatannya, dan membuka halaman yang sudah penuh, dan menuliskan angka sebelas di margin, dan menggarisbawahinya dua kali.
“Aku motret retak di dinding utara hari Sabtu,” katanya. “Empat tempat. Sama plafon yang cekung di ruang bawah, satu titik.”
Kami saling menatap di warung yang sunyi.
“Ace.”
“Iya.”
“Gedung itu dipakai wisuda enam ratus orang tiga minggu lalu.”
“Aku tahu,” katanya. “Aku berdiri di dalamnya empat puluh menit.”
Bagian empat.
Dia mengeluarkan penjepit hitam itu dan meletakkannya di antara kami dan tidak menyentuhnya lagi.
Aku membalik lembar pertama. Akta.
Lembar kedua.
Direktur Operasional: Yudha Ardiansyah, S.T., M.T.
Aku sudah tahu.
Aku ingin sekali menulis bahwa aku terkejut. Aku sudah beberapa kali mencoba menceritakan bagian ini dengan versi di mana aku terkejut, karena versi itu lebih baik untukku.
Aku tidak terkejut.
Aku sudah tahu Bang Yudha bekerja di Ardhi Karsa sejak empat tahun lalu. Semua orang tahu. Dia menyebutkannya di forum bulan Juni, di depan seratus dua belas orang, dengan sukarela: saya jawab dari sisi orang yang sekarang kerja di dunia pengadaan.
Dia tidak pernah menyembunyikan apa pun.
Itu yang membuatnya bekerja.
“Van, lihat baris di atasnya.”
Komisaris: Ir. H. Sumarwan Ardiansyah.
Aku menatap nama itu.
“Bapaknya,” kataku.
“Iya.”
“Aku nggak tahu.”
“Aku tahu kamu nggak tahu.” Dia menyandarkan punggung. “Kamu nggak akan pernah nyari.”
Dan itu kalimat paling menyakitkan yang pernah dia ucapkan kepadaku, dan dia mengucapkannya tanpa niat menyakiti sama sekali, dan itu yang membuatnya lebih parah.
Lembar ketiga belas.
Fotokopi surat permohonan izin penggunaan data proyek untuk keperluan penyusunan tugas akhir. Tanggal dua puluh sembilan Agustus tahun lalu.
Tanda tanganku.
Tiga bagian. Yang pertama bukan yang dipakai siapa-siapa.
Aku memandangi kertas itu di atas meja plastik Warung Bu Tin selama waktu yang cukup lama sehingga es di gelasku mencair dan meninggalkan lingkaran air di taplak.
“Ini yang paling bawah,” kataku.
“Iya.”
“Kenapa paling bawah?”
Dan dia menjelaskan.
Dia menjelaskan tentang tumpukan yang disusun. Tentang lingkaran pulpen yang tipis. Tentang penjepit warna berbeda. Tentang spidol huruf balok yang ditujukan kepada jabatan, bukan orang. Tentang kenapa dikirim ke koran mahasiswa oplah lima ratus dan bukan ke tempat lain.
Tentang apa yang terjadi kalau sesuatu meledak di tempat yang kecil lebih dulu.
Aku mendengarkan sampai selesai.
Dan waktu dia selesai, aku duduk di kursi plastik itu dan aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan seumur hidupku, dan butuh berbulan-bulan sebelum aku bisa menamainya dengan benar.
Bukan marah. Bukan sedih.
Malu, tapi bukan malu biasa.
Malu karena baru diberi tahu bentuk ruangan tempat kamu sudah berdiri selama empat tahun.
“Ace.”
“Iya.”
“Kasih aku dua minggu.”
Dia menaruh gelasnya.
“Buat apa.”
“Aku ketemu Bang Yudha. Aku tanya langsung.” Aku menyusunnya cepat, karena aku selalu menyusunnya cepat, karena itu satu-satunya cara aku bisa bernapas. “Aku minta dokumen pembandingnya. Aku minta berita acara aslinya, sama laporan uji material yang nggak ada di sini. Kalau semuanya bener, aku bawa ke kamu, kita cocokin—“
“Van.”
“—dan kalau nggak bener, aku yang—“
“VAN.”
Bu Tin menoleh dari balik etalase.
Grace menurunkan suaranya.
“Kamu dengerin diri kamu sendiri nggak?”
“Aku—“
“Kamu baru tahu sepuluh menit yang lalu.” Dia mencondongkan badan. “Sepuluh menit. Dan kamu udah punya rencana lima langkah.”
“Aku cuma—“
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau kamu nemuin dia dan nanya?”
Aku tidak menjawab.
“Dokumennya pindah,” katanya. “Itu doang. Nggak ada yang lain. Kamu nanya hari Senin, hari Rabu berita acara aslinya udah nggak ada di mana-mana, dan yang tersisa cuma seratus empat belas lembar fotokopi di kotak surat pembaca yang dikirim orang tanpa nama.”
“Dia nggak akan—“
Aku berhenti sendiri.
Karena aku sudah tahu bagaimana kalimat itu akan berbunyi kalau kuselesaikan, dan aku sudah tahu bahwa aku tidak punya satu pun dasar untuk mengucapkannya, dan aku sudah dua puluh dua tahun dan aku sudah cukup dewasa untuk tidak mengucapkan kalimat yang dasarnya cuma perasaan.
“Kamu jadi mulai Oktober?” tanyanya.
Dan di situlah aku kehilangan segalanya.
Karena aku diam.
Bukan lama. Mungkin tiga detik. Mungkin empat.
Tapi aku diam, dan dia melihatku diam, dan kami berdua tahu persis apa artinya empat detik itu.
“Ace—“
“Nggak apa-apa.”
“Aku nggak lagi mikirin gajinya.”
“Aku tahu.”
“Aku mikirin bapakku.”
“Aku tahu,” katanya, dan suaranya sama sekali tidak marah, dan itu yang paling buruk. “Van, aku tahu. Aku nggak nanya buat nguji kamu.”
“Terus kamu nanya kenapa?”
“Karena aku harus tahu posisi kamu sebelum aku bilang ke Sasa apa yang boleh diterbitin.”
Dan warung itu jadi sangat sunyi.
“Sasa yang nulis,” katanya. “Bukan aku. Aku nggak boleh nulis ini.”
“Kenapa?”
“Karena namamu ada di lembar ketiga belas.” Dia melipat tangan. “Kalau aku yang nulis, aku cuma punya satu cara buat buktiin aku nggak berpihak.”
“Nulis lebih keras dari yang perlu.”
Dia menoleh cepat.
“Kamu tahu?”
“Ace, aku ngalamin,” kataku. “Bulan November. Halaman empat.”
Dia menutup matanya sebentar.
“Iya,” katanya. “Bulan November.”
Aku ingin mencatat apa yang terjadi berikutnya dengan setepat mungkin, karena inilah bagian yang akan diputar ulang berkali-kali di kepalaku sampai bulan Desember.
Aku menutup tumpukan itu.
Aku mendorongnya kembali ke arahnya.
Dan aku bilang:
“Terbitin.”
Satu kata.
Dia menatapku.
“Semuanya,” lanjutku. “Termasuk lembar tiga belas. Jangan dipotong bagian yang ada namaku. Kalau dipotong, orang bakal nanya kenapa dipotong, terus itu jadi berita yang lain.”
“Van.”
“Dan jangan tulis ‘seorang mahasiswa’. Tulis namanya. Tulis jabatannya waktu itu.” Aku menghabiskan es tehku yang sudah tawar. “Kalau ditulis samar, semua orang di fakultas bakal nebak dan nebakannya bakal lebih parah dari aslinya.”
“Van, kamu—“
“Aku juga bakal bikin pernyataan tertulis. Kronologi dari sisi aku. Kapan aku minta datanya, kenapa aku ganti, siapa yang nyuruh.” Aku mengeluarkan ponsel. “Aku bisa kirim sore ini.”
Dan Grace Alecia meletakkan tangannya di atas ponselku dan menekannya ke meja.
“Berhenti,” katanya.
“Apa?”
“Berhenti. Sebentar aja. Tolong.”
Aku berhenti.
Dan dia menatapku dengan mata yang sudah tiga hari tidak tidur, dan dia bilang sesuatu yang tidak kumengerti sama sekali pada pagi itu, dan yang baru kumengerti tiga bulan kemudian di ruangan yang lantainya dingin sekali:
“Kamu nggak boleh secepat itu.”
“Aku cuma—“
“Van, orang itu jemput kamu di terminal empat tahun lalu.” Suaranya pecah di kata terminal. “Dia yang ngajarin kamu baca RAB. Dia yang nyuruh kamu maju waktu kamu mau mundur. Dan kamu baru tahu sepuluh menit yang lalu, dan kamu udah selesai.”
“Aku nggak selesai.”
“Kamu udah bikin lima langkah. Kamu udah nawarin nulis kronologi. Kamu udah mikirin gimana biar beritanya nggak jadi berita lain.” Dia menarik tangannya. “Van, kamu belum sempat sedih sedetik pun.”
Aku duduk di kursi plastik Warung Bu Tin dan tidak punya satu pun jawaban.
“Aku sedih,” kataku akhirnya.
“Aku tahu.”
“Aku sedih banget.”
“Aku tahu.” Dia menyandarkan punggung, dan wajahnya melakukan sesuatu yang tidak bisa kubaca. “Itu yang bikin aku takut.”
Kami pulang terpisah, seperti biasa, dengan selisih enam menit, lewat rute yang berbeda dari rute Minggu lalu.
Sebelum aku pergi dia menahan lenganku di depan warung.
“Van.”
“Iya.”
“Dompet.”
Aku mengeluarkannya.
Dia membuka lipatan itu — sepuluh bulan, menguning di bagian atas, materai enam ribu yang tidak berlaku sejak dua ribu dua puluh satu — dan dia menatap Pasal 8 dengan tulisan tangannya sendiri yang jelek.
Dilarang pulang kalau belum ditanya mau pulang atau tidak.
“Aku cuma mau lihat,” katanya.
Dia melipatnya kembali. Dia mengembalikannya kepadaku.
Dan dia pergi, dan aku berdiri di depan Warung Bu Tin dengan dompet di tangan.
Malam itu aku menelepon Bang Yudha.
Aku ingin mencatat bahwa aku tidak berencana. Aku ingin sekali mencatat itu.
Tapi aku sudah menyimpan nomornya di panggilan cepat sejak semester lima, dan jempolku sudah menekannya sebelum aku selesai memikirkan alasannya, dan waktu nada sambungnya berbunyi aku sudah tahu bahwa aku sedang melakukan hal yang tiga jam lalu dilarang keras oleh satu-satunya orang yang berhak melarangku.
Dia mengangkat di dering kedua.
“Yan! Piye?”
Dan aku bilang, “Bang. Saya mau nanya sesuatu.”
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku reading
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau