Chapter Twenty Three
Semarang
Aku sedang memotong poniku sendiri waktu lantai berubah.
Ini kebiasaan buruk yang sudah lima tahun tidak berhasil kuhentikan. Setiap kali ada yang tidak beres — deadline, skripsi, apa saja — aku memotong poniku sendiri di depan cermin kamar mandi dengan gunting kertas.
Hasilnya selalu jelek. Aku selalu menyesal. Aku selalu mengulanginya tiga bulan kemudian.
Sabtu, tanggal tiga Mei, pukul tujuh lewat malam. Rambut depanku basah, sudah terpotong di sisi kanan, belum di sisi kiri. Gunting di tangan kanan. Handuk kecil di bahu.
Dan aku berdiri di ruang tamu rumah orang.
Ada tiga orang di ruangan itu.
Perempuan berumur lima puluhan, memakai daster batik, duduk di kursi dekat pintu dapur dengan piring kerupuk di pangkuan.
Laki-laki berumur enam puluhan, memakai kaus berkerah dan sarung, duduk di kursi utama, punggung tegak, remote televisi di tangan tapi televisinya mati.
Dan berdiri di antara mereka, memakai sarung dan kaus oblong, dengan wajah yang membuatku langsung tahu bahwa aku telah masuk ke tengah sesuatu yang sudah berlangsung cukup lama.
Kerupuk jatuh dari piring.
“Ya Allah,” kata perempuan itu.
Aku memegang gunting.
Aku ingin mencatat, untuk kejujuran, bahwa hal pertama yang kupikirkan bukan bagaimana caraku menjelaskan ini. Hal pertama yang kupikirkan adalah poniku baru setengah.
Aku menurunkan gunting itu pelan-pelan ke atas meja, seperti orang yang sedang menyerahkan senjata.
“Selamat malam,” kataku.
Yang menyelamatkan malam itu bukan aku dan bukan dia.
“Kamu ini!” Perempuan itu berdiri, meletakkan piring kerupuknya, dan berjalan langsung ke arahku. “Evandheer! Kok temenmu dibiarin berdiri di luar sampai basah gitu, to?”
Aku berkedip.
“Bu—“
“Ibu nggak denger pintunya diketuk!” Beliau menyambar handuk kecil dari bahuku, lalu berhenti, lalu mengembalikannya karena sadar itu handukku sendiri. “Ya Allah rambutmu, Nduk. Kehujanan?”
Di luar tidak hujan.
“Iya, Bu,” kataku.
“Masuk, masuk. Duduk. Ibu ambilkan minum.”
Dan begitulah aku duduk di ruang tamu sebuah rumah di Semarang pada pukul tujuh lewat malam, dengan poni yang terpotong setengah dan gunting di atas meja, karena seorang ibu memutuskan bahwa keberadaanku di ruangan itu adalah kesalahan pendengarannya sendiri.
Orang tuanya tidak menanyakan bagaimana aku masuk.
Aku memikirkan itu berbulan-bulan sesudahnya, dan aku sampai pada kesimpulan yang sama seperti yang kudapat di ruang sidang 2.04: orang tidak dijaga oleh kecurigaan. Orang dijaga oleh keinginan agar dunia tetap masuk akal.
Yang tidak dilakukan siapa pun malam itu adalah melanjutkan percakapan yang sudah berlangsung sebelum aku datang.
Tapi aku wartawan, dan wartawan bisa membaca ruangan yang sudah dingin.
Televisi mati. Remote di tangan, tidak dipakai. Piring kerupuk yang sudah lama tidak disentuh. Dan seorang laki-laki berumur enam puluhan yang, sejak aku muncul, belum mengucapkan satu kata pun.
Ibunya membawa teh. Terlalu manis. Aku menghabiskannya, karena aku dibesarkan dengan cara tertentu.
“Kuliah di mana, Nduk?”
“Uniwira, Bu. Ilmu Komunikasi.”
“Seangkatan sama Evandheer?”
“Seangkatan.”
“Wah. Sama-sama mau lulus, dong.”
Ada jeda.
Jeda itu punya bentuk. Aku bisa merasakan bentuknya di seluruh ruangan.
“Insya Allah, Bu,” kataku.
Dan laki-laki di kursi utama itu berbicara untuk pertama kalinya.
“Kapan sidang?”
Beliau tidak bertanya kepadaku.
“Juni, Pak,” kata orang yang berdiri di dekat pintu dapur, yang sejak tadi belum duduk.
“Juni.”
“Nggih.”
“Yang kemarin Februari itu.”
“Nggih.”
“Berarti mundur empat bulan.”
“Nggih.”
Dan tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi selama mungkin sepuluh detik, dan sepuluh detik itu adalah sepuluh detik terpanjang yang pernah kualami di rumah orang lain.
Aku ingin menuliskan bahwa aku diam saja.
Aku tidak diam saja. Itu bukan kemampuan yang kupunya.
“Maaf, Pak,” kataku.
Beliau menoleh.
“Saya kebetulan tahu soal itu. Saya yang wawancara untuk laporan kampus bulan Februari.”
Semua orang di ruangan itu menatapku. Termasuk orang yang berdiri di dekat pintu dapur, dan tatapannya berisi satu kata yang sangat jelas, dan kata itu adalah jangan.
Aku melanjutkan.
“Data yang dipakai di bab tiga itu dari proyek yang statusnya belum selesai audit. Kalau diteruskan, hasilnya bisa dibantah di sidang akhir dan skripsinya bisa gugur.” Aku meletakkan gelas teh. “Penguji nggak nyuruh ganti, Pak. Beliau cuma ngasih tahu risikonya. Yang mutusin ganti itu anak Bapak sendiri.”
Sunyi.
“Delapan belas mahasiswa yang diuji semester itu,” lanjutku, karena aku tidak bisa berhenti, karena aku tidak pernah bisa berhenti, “cuma satu yang milih ganti sumber data. Yang lain jalan terus.”
Beliau menatapku cukup lama.
Lalu beliau bertanya, dengan nada yang sama sekali tidak berubah:
“Mbaknya sidang bulan apa?”
“Juli, Pak.”
“Berarti lebih telat.”
“Nggih, Pak.”
Beliau mengangguk sekali, dan mengambil remote, dan menyalakan televisi.
Dan percakapan itu selesai.
Aku ingin mencatat apa yang terjadi di detik-detik setelah percakapan itu, karena tidak ada yang membicarakannya dan justru itu poinnya.
Televisi menyala di saluran berita. Volume enam belas.
Dan orang yang berdiri di dekat pintu dapur akhirnya duduk — di kursi paling jauh dari kursi utama, di sudut, dengan punggung yang tetap tegak seperti di ruang rapat mana pun — dan tidak mengatakan apa-apa sampai ibunya memanggil kami ke dapur.
Aku memperhatikan tangannya.
Jempolnya mengetuk-ngetuk paha. Empat ketukan. Berhenti. Empat ketukan lagi.
Aku sudah sembilan bulan melihat gerakan itu dan aku selalu mengira itu kebiasaan orang yang tidak sabar.
Malam itu aku mengerti bahwa dia sedang menghitung.
Empat. Tahan. Delapan. Sendirian, di kursi sudut rumah orang tuanya sendiri, di depan televisi yang volumenya enam belas, dengan cara yang sudah dia ajarkan kepadaku sembilan bulan lalu tanpa pernah menyebutkan dari mana dia belajar.
Aku menahan diri untuk tidak menyeberangi ruangan itu, dan itu salah satu hal tersulit yang pernah kulakukan.
Kami pindah ke dapur karena ibunya memaksa.
Aku duduk di kursi plastik di meja makan. Dia duduk di seberangku. Ibunya berdiri di depan kompor menggoreng sesuatu yang tidak dipesan siapa-siapa.
Dan sepanjang lima puluh menit berikutnya aku belajar lebih banyak tentang orang itu daripada dari sembilan bulan sebelumnya.
Aku belajar bahwa namanya diucapkan lengkap di rumah ini. Bukan Rayyan. Bukan Yan. Evandheer, tiga suku kata, setiap kali, dengan huruf terakhir yang ditelan sedikit.
Aku belajar bahwa ibunya memanggilnya begitu sejak lahir dan tidak pernah menyingkatnya sekali pun, dan bahwa dia sendiri yang meminta orang lain memanggilnya Rayyan sejak SMA, dan bahwa ibunya sedikit tersinggung soal itu sampai sekarang.
Aku belajar bahwa dia juara umum dua kali di SMP dan tidak pernah menyebutkannya.
Aku belajar bahwa ada foto di ruang tengah: anak laki-laki berumur tujuh tahun dengan tas ransel yang terlalu besar untuk badannya, berdiri di halaman rumah orang lain.
“Itu di rumah eyangnya,” kata ibunya, tanpa kutanya, sambil membalik gorengan. “Setahun di sana. Bapaknya pindah tugas, Ibu ikut. Nggak bisa bawa anak.”
“Bu,” kata orang di seberangku.
“Apa? Ibu cerita aja.”
“Bu.”
“Kamu nggak nangis waktu ditinggal,” lanjut ibunya, ke arah wajan. “Ibu inget banget. Semua anak nangis, kamu nggak. Ibu sampai bilang ke bapakmu, wah anak ini kuat.”
Wajan itu berdesis.
Aku menatap orang di seberang meja, dan dia sedang menatap taplak, dan aku mengerti untuk pertama kalinya sejak sembilan bulan bahwa dia tidak dipuji karena kuat.
Dia dipuji karena diam.
Dan dia sudah dua puluh satu tahun menjalankan pujian itu.
Aku tidak menyentuhnya sama sekali malam itu.
Sekali pun tidak. Tidak di ruang tamu, tidak di dapur, tidak di teras belakang tempat kami duduk selama dua puluh menit terakhir sementara ibunya mencuci piring.
Ini rumah orang tuanya. Ada aturan yang tidak perlu ditulis di kertas bermaterai.
Tapi di meja makan, sekitar menit keempat puluh, waktu ibunya membalikkan badan ke arah kompor, tangannya bergeser di bawah meja dan punggung tangannya menempel di punggung tanganku.
Dan tinggal di sana.
Tidak menggenggam. Cuma menempel, di bawah taplak plastik bermotif bunga, di dapur rumah orang tuanya di Semarang, sementara minyak berdesis dan ibunya bercerita tentang tetangga yang anaknya sudah bekerja di Jakarta.
Empat menit.
Itu satu-satunya kontak fisik sepanjang malam itu, dan itu satu-satunya yang kuingat dengan jelas dari seluruh perjalanan.
Waktu logam itu mulai memanas, aku sedang berdiri di teras belakang.
“Ace.”
“Aku ngerasain.”
“Bentar—“
Dan ibunya keluar dari dapur dengan wadah plastik di tangan.
“Ini dibawa, Nduk.”
“Bu, jangan—“
“Dibawa!” Beliau menyodorkannya, dan tanganku menerima sebelum otakku sempat memutuskan apa pun, karena begitulah cara ibu-ibu bekerja di seluruh Pulau Jawa. “Ayam sama tempe. Kamu kurus.”
“Bu, saya nggak—“
“Kapan-kapan main lagi ya. Jangan malem-malem. Naik apa tadi?”
Satu.
“Bu—“
Dua.
“Bus,” kataku.
Ti—
Aku muncul kembali di kamar mandi kos Melati Dua, di depan cermin, dengan poni terpotong setengah dan handuk kecil di bahu.
Dan wadah plastik di kedua tangan.
Masih hangat.
Aku berdiri di kamar mandi seluas satu setengah kali satu meter itu, memegang ayam goreng dan tempe yang dimasak oleh seorang perempuan di Semarang yang tidak pernah tahu namaku, dan aku menangis dengan cara yang paling tidak berguna, dengan air keran menyala supaya tidak ada yang dengar, seperti anak SMA.
Guntingku masih ada di meja ruang tamu mereka.
Aku memikirkan itu di tengah menangis, dan itu justru yang membuatnya lebih parah.
Evandheer Kamu bawa wadahnya.
iya
Ibuku nanyain kamu pulang naik apa. Aku bilang udah dijemput.
van
Iya.
guntingku ketinggalan
Aku tahu. Ibuku nyimpen di laci.
jangan dibuang
Nggak akan.
Aku duduk di lantai kamar dengan wadah plastik terbuka di depanku dan makan ayam goreng itu jam sembilan malam sambil mengetik dengan satu tangan.
van boleh nanya
Boleh.
kamu nggak pernah cerita ke bapak kamu ya
Jeda panjang.
Nggak.
yang ganti data itu yang sebenernya
Aku bilang mundur empat bulan. Itu yang penting buat beliau.
bukan itu yang aku tanya
Jeda lebih panjang.
Ace.
iya
Kalau aku cerita, beliau harus nanya kenapa. Dan kalau beliau nanya kenapa, aku harus jawab. Dan aku nggak punya jawaban yang bikin beliau tenang. Jadi lebih gampang beliau kecewa sama yang kecil.
Aku menatap empat baris itu selama sangat lama, dengan mulut penuh ayam goreng ibunya.
Karena aku baru mengerti malam itu.
Selama sembilan bulan aku mengira orang itu menyelesaikan masalah orang lain karena dia sombong. Karena dia merasa paling bisa. Karena dia Ketua BEM dan Ketua BEM memang begitu.
Bukan.
Dia menyelesaikan masalah orang lain karena di rumah tempat dia tumbuh, punya masalah itu tidak diizinkan.
Kamu boleh gagal sedikit. Kamu tidak boleh butuh.
Dan seorang anak berumur tujuh tahun yang berdiri di halaman rumah orang lain tanpa menangis, lalu dipuji karena tidak menangis, akan menghabiskan dua puluh tahun berikutnya memastikan bahwa dia adalah orang yang menangkap, dan tidak pernah, tidak sekali pun, orang yang jatuh.
Aku juga memikirkan satu hal lagi, dan hal ini yang membuatku tidak bisa tidur sampai lewat tengah malam.
Malam itu aku berdiri di ruang tamu rumah orang tuanya dan aku membela dia di depan bapaknya sendiri.
Aku menyebutkan angka. Aku menyebutkan delapan belas mahasiswa. Aku menyebutkan status audit. Aku melakukan persis apa yang selalu kulakukan: aku mengambil fakta dan menyusunnya jadi senjata dan mengarahkannya ke tempat yang menurutku perlu.
Dan sepanjang itu, orang yang kubela berdiri di dekat pintu dapur dan menatapku dengan satu kata di wajahnya, dan kata itu adalah jangan.
Aku baru mengerti sekarang kenapa.
Karena begitu aku bicara, dia jadi orang yang perlu dibela. Di ruangan itu, di rumah itu, di depan orang itu.
Aku pikir aku sedang menolong.
Aku sedang melakukan hal yang persis sama seperti yang selalu dia lakukan kepadaku, dan aku bahkan tidak sempat bertanya dulu.
Aku mengetik lima kali dan menghapus lima kali.
Yang akhirnya kukirim jam sepuluh kurang:
ayamnya enak banget
Aku tahu.
van
Iya.
lain kali aku yang ke sana bukan ketarik beneran ke sana
Balasannya butuh tujuh menit.
Oke.
itu doang?
Aku lagi nggak bisa ngetik.
Dan aku menutup wadah plastik itu, dan menaruhnya di rak — di sebelah dua gelas dan tiga botol sambal yang tidak akan pernah dibuka — dan aku tidur malam itu dengan poni yang terpotong setengah dan tidak sempat kuperbaiki sampai tiga hari kemudian.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang reading
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau