Chapter Thirty Eight

Dua-duanya

38a — Rayyan

Aku tahu ada yang salah jam sepuluh lewat.

Bukan panik. Bukan bahu. Yang ini lain, dan tubuhku sudah tahu bedanya sebelum kepalaku sempat menyusun kalimat.

Rasanya seperti seseorang menekan ibu jari ke satu titik di bawah tulang dada dan tidak melepasnya.

Aku minum dua tablet. Aku menunggu dua puluh menit. Aku minum dua lagi.

Jam setengah sebelas aku berdiri untuk mengambil air dan lantai kamar itu miring — bukan sedikit seperti biasanya, miring dengan cara yang membuatku harus memegang dinding — dan waktu aku melihat ke bawah aku melihat tanganku sendiri di tembok dan tanganku putih.

Bukan pucat. Putih.

Aku duduk kembali.

Dan di situlah semuanya lepas sekaligus.

Bahuku naik. Jantungku naik. Dan untuk pertama kalinya sejak tanggal sepuluh Oktober, aku menghitung dan angkanya tidak berbunyi benar sama sekali — bukan karena aku salah menghitung, tapi karena tubuhku sudah tidak mendengarkan.

Empat. Tahan tujuh—

Empat—

Aku merogoh saku celana.

Gelang itu panas. Panas sekali. Lebih panas dari yang pernah kurasakan dalam enam belas bulan, sampai aku harus memindahkannya ke telapak yang lain.

Dan aku duduk di lantai kamar kos tiga kali tiga di Pogung dengan setengah gelang tembaga di tangan yang menyala dari dalam, dan aku menunggu ruangan itu berubah.

Aku menunggu dia muncul.

Ini bagian yang perlu kutulis dengan tepat, karena aku sudah beberapa kali mencoba dan selalu terdengar salah.

Aku tidak melawannya.

Enam belas bulan aku berlatih supaya ini tidak pernah terjadi. Dua puluh dua kali aku menghentikannya. Aku memindahkan tanganku setengah detik sebelum disentuh. Aku menghitung di trotoar sambil berpegangan pagar. Aku membuat kopi satu gelas pada hari Kamis.

Dan malam itu, di lantai kamar dengan tembaga menyala di telapak tangan, aku berhenti melawan.

Aku ingin dia datang.

Aku ingin dia datang sekarang juga, ke kamar ini, ke kos yang alamatnya sudah ditanyakan dua orang, jam setengah sebelas malam, apa adanya, tanpa persiapan — dan aku tidak peduli sedikit pun tentang satu pun hal yang sudah kuhitung sejak bulan Oktober.

Itu hal paling egois yang pernah kuinginkan seumur hidupku.

Dan aku menunggu.

Sepuluh detik.

Tiga puluh.

Satu menit.

Gelang itu tetap panas dan ruangan itu tidak berubah.


Aku tidak mengerti.

Selama mungkin dua menit penuh aku tidak mengerti sama sekali, dan aku menyusun tiga penjelasan dan mencoret ketiganya, seperti di halaman belakang buku catatan proyek di posko KKN pada bulan Agustus enam belas bulan yang lalu.

Satu: kutukannya sudah habis. Dua: gelangnya rusak. Tiga: aku salah, ini bukan panik, ini cuma sakit.

Ketiganya salah.

Aku menemukan jawabannya sekitar jam sebelas kurang seperempat, di lantai, dengan pandangan yang sudah mulai punya bintik-bintik hitam di pinggirnya.

Enam belas bulan, dua puluh sembilan kali.

Dan tidak sekali pun, tidak satu kali pun, kami berdua panik pada waktu yang bersamaan.

Selalu satu tenang, satu tidak. Selalu ada yang bisa ditarik.

Aturan yang tidak pernah kami temukan karena tidak pernah ada kesempatan untuk menemukannya:

Kalau dua-duanya panik, tidak ada yang tenang.

Kalau tidak ada yang tenang, tidak ada yang bisa ditarik.

Kalau tidak ada yang bisa ditarik, dua-duanya sendirian.

Sopo sing luwih wedi?

Siapa yang lebih takut.

Enam belas bulan aku memikirkan pertanyaan itu sebagai teka-teki, dan aku baru mengerti di lantai kamar kos di Pogung pada malam tanggal empat belas Desember bahwa itu bukan teka-teki.

Itu peringatan.

Dan aku memikirkan satu hal terakhir sebelum aku berhenti bisa memikirkan apa pun dengan urutan yang benar, dan hal itu bukan tentang aku:

Dia sedang takut sekarang juga.

Di suatu tempat, malam ini, dia sedang takut, dan tidak ada yang datang, dan dia mengira itu karena aku memilih untuk tidak datang.


38b — Grace

Aku terbangun jam sepuluh lewat empat puluh karena mimpi yang sudah sembilan tahun tidak kualami.

Bukan mimpi buruk. Justru itu masalahnya.

Aku bermimpi pulang ke Klaten dan ayahku ada di kursi rotan di ruang tengah, dan beliau bertanya sudah makan atau belum, dan aku bilang sudah, dan beliau bilang yo wis.

Aku bangun dan aku tidak tahu di mana aku.

Ini pernah terjadi bulan Maret. Aku terbangun dan tidak tahu aku di mana dan aku panik dan lantai berubah dan ada orang berdiri di kamarku dengan rambut orang bangun tidur.

Malam itu aku menunggunya.

Aku duduk di kasur dengan napas di leher dan aku menunggu — bukan berharap, menunggu, seperti orang menunggu bus yang jadwalnya sudah dia hafal.

Kipas angin berputar.

Aku menarik laci meja belajar dan mengeluarkan setengah gelang itu.

Panas.

Panas sekali. Panas seperti gagang panci. Aku memindahkannya dari satu telapak ke telapak yang lain dan aku menatapnya di kegelapan kamar dan tembaganya menyala dari dalam dengan cara yang tidak masuk akal secara fisika.

Dan tidak ada yang muncul.


Aku duduk di kamar itu selama sekitar delapan menit dengan benda menyala di tangan dan aku menyusun kesimpulan, karena itu satu-satunya cara aku bisa memegang sesuatu.

Kesimpulan pertama: dia menahan.

Itu yang langsung kupikirkan. Tentu saja itu yang langsung kupikirkan. Delapan minggu Kamis tanpa dia. Setengah detik sebelum disentuh. Satu gelas kopi di lantai kamar tiga kali tiga.

Kesimpulan pertama itu bertahan sekitar empat menit dan selama empat menit itu aku membenci orang itu dengan kualitas kebencian yang tidak pernah kupunya sebelumnya.

Kesimpulan kedua datang jam sebelas kurang.

Gelangnya panas.

Bukan hangat. Panas.

Enam belas bulan, dua puluh sembilan kali, dan aku tahu persis bagaimana rasanya benda itu waktu bekerja: hangat sebentar, tiga detik, lalu dingin.

Dia tidak pernah panas seperti ini dan tidak pernah bertahan selama ini.

Kecuali sekali.

Di gudang Mbah Warsih, di Gunungkidul, tanggal sembilan belas Agustus tahun lalu, dua detik setelah patah.

Aku berdiri.

Dan aku menelepon Dimas.


Dimas mengangkat di dering keempat dengan suara orang yang setengah tidur.

“Mbak?”

“Dim, dia di mana.”

“Hah?”

“DIM.”

“Kos. Pogung.” Suaranya langsung berubah. “Mbak—“

“Kamu punya kontak ibu kosnya?”

“Nggak. Mbak, ada apa—“

“Ketemu aku di depan kosnya. Sekarang.”

Aku menutup telepon, dan aku memakai jaket di atas kaus tidurku, dan aku turun tangga dua-dua, dan aku memesan ojek daring di teras dengan tangan yang tidak bisa mengetik alamat dengan benar sampai percobaan ketiga.

Dan sepanjang dua puluh dua menit perjalanan itu, aku memikirkan satu hal berulang-ulang.

Bulan Mei, di anak tangga gedung terkunci, aku bilang kepadanya: aku sebenernya bisa nelepon Pak Mardi sendiri dari menit pertama. Tapi aku panik dulu, terus kamu dateng, terus aku nggak nelepon.

Dan aku bilang: aku tiga tahun jadi orang yang paling nggak pernah nunggu siapa-siapa. Sekarang aku punya orang. Itu yang bikin aku takut.

Enam belas bulan kutukan itu mengajariku menunggu.

Dan malam tanggal empat belas Desember, benda itu berhenti bekerja, dan aku berhenti menunggu, dan itu terjadi dalam waktu delapan menit.


Pintunya tidak dikunci.

Dia tidak pernah mengunci pintu. Kebiasaan buruk yang sudah kutegur empat kali, yang sudah ditegur Nadia empat kali sebelum aku.

Lampu tidur menyala menghadap dinding.

Dan dia di lantai, di sudut, dengan punggung ke sisi kasur, di tempat yang selama enam belas bulan selalu dia pilih sendiri di setiap ruangan.

Tembaga di lantai di sebelah tangannya masih menyala.


Aku tidak akan menuliskan jam berikutnya secara berurutan karena aku tidak mengingatnya secara berurutan.

Yang kuingat: dia sadar. Dia bisa bicara. Kalimat pertamanya, dan aku bersumpah demi apa pun, adalah:

“Kamu jangan panik.”

Yang kuingat: Dimas sampai empat menit sesudahku dan Dimas yang menelepon ambulans karena tanganku tidak bisa memegang ponsel dengan benar.

Yang kuingat: perawat di IGD bertanya sudah berapa lama, dan aku bilang tidak tahu, dan Dimas bilang sembilan strip, dan perawat itu bertanya sembilan strip apa, dan Dimas mengeluarkan foto tempat sampah dari ponselnya karena dia memotretnya hari Sabtu dan tidak pernah menghapusnya.

Yang kuingat: kata perdarahan dan kata lambung dan kata endoskopi, dan bahwa aku sudah membaca ketiga kata itu di kertas resep tulisan tangan Nadia pada bulan Mei di kantin Farmasi, di baris yang menjelaskan apa yang harus dihindari.

Yang kuingat: bahwa dia tidak dalam bahaya seperti yang kubayangkan sepanjang perjalanan, dan bahwa aku baru mengerti itu jam dua pagi, dan bahwa mendengarnya tidak membuatku merasa lebih baik sama sekali.


Jam empat pagi, seorang perawat menyerahkan kantong plastik berisi pakaiannya kepadaku.

Kemeja, kaus, celana. Dan dompet, dan kunci, dan ponsel.

Aku duduk di kursi plastik di koridor dan aku memeriksa sakunya — bukan karena curiga, karena begitulah caranya orang mengurus barang orang lain — dan di saku kemeja sebelah kiri ada sesuatu.

Selembar kertas, terlipat dua, sudah lunak seperti kain di bagian lipatannya.

Aku membukanya.

Tulisan tangan yang rapi sekali, dengan huruf kecil-kecil. Nama tiga jenis obat. Dosis. Waktu minum. Dan di bawahnya empat baris tentang makanan yang harus dihindari.

Ditulis bulan Mei, di kantin Farmasi, sebelum aku datang.

Tujuh bulan di saku kemeja itu.

Tidak pernah ditebus.


Aku duduk di koridor IGD jam empat pagi dengan selembar kertas resep di tangan dan aku tidak menangis.

Aku ingin sekali bisa menuliskan bahwa aku menangis.

Yang kulakukan: aku mengeluarkan dompetku sendiri, dan aku mengambil sobekan halaman buku catatan yang sudah kusimpan di sana sejak bulan Mei, dan aku membukanya.

Aku baru saja meminta orang lain mengawasi orang yang aku sayang, tanpa memberitahu orangnya. Ini persis yang aku benci dari orang-orang yang aku tulis selama tiga tahun.

Dua kertas.

Aku meletakkannya berdampingan di pahaku di kursi plastik koridor IGD, kertas resep dari sakunya dan sobekan catatan dari dompetku, dan aku menatap keduanya sampai lampu koridor itu berubah warna karena pagi.

Kami berdua menyimpan kertas di dompet selama tujuh bulan.

Kami berdua tahu isinya.

Kami berdua tidak melakukan apa-apa dengannya.

Dan kutukan itu — benda tolol yang mematahkan kami di gudang berdebu di Gunungkidul dan menyeret satu orang ke hadapan orang lain dua puluh sembilan kali selama enam belas bulan tanpa sekali pun diminta — kutukan itu ternyata satu-satunya hal di dunia ini yang pernah memaksa salah satu dari kami muncul ketika yang lain butuh.

Dan malam itu dia berhenti bekerja.

Dan aku tetap datang.


Dia bangun jam setengah lima.

Matanya membuka, mencari, menemukan kursi plastik di sisi kanan ranjang.

Dan hal pertama yang dia lakukan — sebelum bertanya di mana dia, sebelum melihat selang di punggung tangannya, sebelum apa pun — adalah mengangkat tangan kirinya sedikit dari kasur.

Bukan untuk menggapai apa pun.

Dia menunjukkannya kepadaku.

Telapak menghadap atas, jari-jari terbuka, di atas selimut rumah sakit, dengan getaran halus di dua jari yang sudah tidak dia sembunyikan lagi.

Delapan minggu dia memindahkan tangan itu setengah detik sebelum disentuh.

Dan jam setengah lima pagi tanggal lima belas Desember, di kamar IGD yang lantainya dingin sekali, dia meletakkannya di atas selimut dan membiarkannya di sana.

Aku menaruh tanganku di atasnya.

Empat. Tahan tujuh. Buang delapan.

Aku yang menghitung.

Dia yang mengikuti.


Aku mengambil setengah gelang tembaga dari kantong plastik itu.

Dingin. Biasa saja. Logam tua.

Dan di sisi patahannya — bagian yang selama enam belas bulan selalu berkilau seperti sesuatu yang baru dibelah pagi ini —

ada bintik hijau.

Kecil sekali. Mungkin tiga milimeter.

Aku memutarnya di bawah lampu koridor selama waktu yang cukup lama untuk memastikan bahwa aku tidak sedang mengarang.

Tembaga yang berkarat hijau.

Seperti tembaga biasa.

Seperti logam yang sudah selesai.