Chapter Seven
Bab Tiga
Aku tidak pernah gugup di depan orang.
Ini bukan kesombongan, ini data. Sejak SMA aku sudah berdiri di depan mikrofon. Aku pernah memimpin forum tujuh jam dengan dua ratus peserta yang saling berteriak. Aku pernah membacakan laporan pertanggungjawaban di depan orang-orang yang datang khusus untuk menjatuhkanku.
Tubuhku tahu cara melakukannya. Bahu turun, napas di perut, jeda setengah detik sebelum kalimat penting.
Jadi pagi itu, jam sembilan lewat sepuluh, di ruang sidang 2.04 Gedung C, aku tidak gugup.
Aku sudah menyiapkan slide dua puluh tiga halaman. Aku sudah membaca ulang proposalku empat kali. Aku sudah menyiapkan tiga jawaban untuk tiga pertanyaan yang paling mungkin muncul, dan cadangan untuk dua pertanyaan yang tidak mungkin muncul.
Aku bahkan sudah mengirim pesan pukul enam pagi:
Ke: Grace (Poros) Sidang jam 9. Gedung C 2.04. Aku nggak akan panik. Tapi kalau iya, maaf.
Dibaca. Tidak dibalas.
Yang tidak kuperhitungkan cuma satu variabel, dan variabel itu bukan pertanyaan.
Aku berjalan ke Gedung C jam delapan lewat empat puluh, melewati koridor yang baunya sama sejak semester satu, dan aku sempat berhenti di depan papan pengumuman untuk memastikan namaku terdaftar di ruangan yang benar. Namaku terdaftar. Nomor urut tiga.
Di sebelah namaku, di kolom pembimbing, ada tulisan tangan seseorang yang mengubah jam dari 09.30 menjadi 09.00 dengan spidol.
Aku sempat berpikir: bagus, cepat selesai.
Ada tiga penguji. Pak Sunarto di kiri, yang selalu mengangguk dan tidak pernah mendengarkan. Pak Widagdo di tengah, pembimbingku. Dan di kanan, dengan pulpen merah dan proposal yang sudah penuh coretan sampai kelihatan dari jarak tiga meter, Bu Ratna.
Aku selamat di bab satu. Aku selamat di bab dua.
Menit ke tiga puluh empat, Bu Ratna membalik ke halaman dua puluh sembilan.
“Bab tiga,” katanya.
“Metodologinya jelas,” katanya. “Rapi. Saya suka strukturnya.”
Aku mengangguk.
“Datanya dari proyek revitalisasi Gedung Serba Guna, ya?”
“Betul, Bu.”
“Data primernya lengkap sekali untuk ukuran mahasiswa. As-built drawing, bill of quantity, laporan uji material.” Dia mengetuk halaman itu dengan ujung pulpen. “Ini biasanya nggak dikasih ke mahasiswa, Mas.”
“Saya dapat izin dari pelaksana.”
“Pelaksananya siapa?”
“PT Ardhi Karsa Nusantara.”
“Kamu kenal orangnya?”
Dan di situ ada jeda. Jeda kecil. Mungkin setengah detik. Aku ragu ada orang lain di ruangan itu yang menyadarinya.
“Kenal, Bu. Alumni sini. Beliau yang bantu saya dapat aksesnya.”
Bu Ratna menulis sesuatu di margin.
“Mas Rayyan tahu proyek itu belum diaudit?”
Ruangan itu ber-AC. Suhunya tidak berubah.
“Maaf, Bu?”
“Serah terima akhirnya belum keluar. Sudah setahun lebih.” Dia membalik satu halaman lagi tanpa melihatku. “Saya kebetulan di senat, jadi saya lihat daftarnya. Kalau kamu pakai data proyek yang statusnya belum tuntas, kesimpulan kamu bisa dibantah gampang. Itu risiko akademik. Bukan risiko yang lain.”
Bukan risiko yang lain.
Aku tahu persis kalimat itu artinya apa. Aku tahu persis kenapa dia menambahkannya. Dan aku tahu persis bahwa aku tidak punya jawaban untuk sesuatu yang bahkan belum jadi pertanyaan.
Bahuku naik.
Itu selalu yang pertama. Bukan jantung, bukan tangan. Bahu.
Aku menarik napas ke dada, bukan ke perut — kesalahan mendasar, kesalahan pemula, kesalahan yang tidak pernah kubuat sejak SMA — dan aku merasakan detak di leher, dan aku sempat berpikir, dengan sangat jernih, satu kalimat utuh:
Jangan sekarang. Tolong. Jangan sekarang.
Dan udara di sebelah kiri podium mengental.
Dia muncul dengan handuk melilit kepala.
Kaus rumahan kebesaran, celana pendek selutut, sandal jepit sebelah kiri lebih pudar dari yang kanan. Di wajahnya, masker berwarna kuning kecokelatan yang sudah setengah kering, retak-retak di sekitar mulut, dan di tangan kirinya, mangkuk kecil berisi sisa masker itu dengan kuas kecil masih tercelup.
Bengkoang. Aku tahu itu bengkoang karena ibuku memakainya setiap Minggu selama dua puluh satu tahun.
Ruangan 2.04 Gedung C mengalami hening yang, menurut perhitunganku, berlangsung selama empat detik.
Pak Sunarto berhenti mengangguk.
Pak Widagdo melepas kacamatanya.
Bu Ratna tidak bergerak sama sekali.
Dan aku berdiri di depan slide halaman dua puluh sembilan, dengan clicker di tangan, dan otakku — otak yang sudah menyiapkan tiga jawaban untuk tiga pertanyaan dan dua cadangan untuk yang tidak mungkin — mengeluarkan satu-satunya kalimat yang tersedia:
“Ini... rekan saya.”
Ini rekan saya.
Aku akan memikirkan ulang kalimat itu selama bertahun-tahun.
Yang menyelamatkan bukan aku.
“Selamat pagi, Bapak, Ibu.” Dia menurunkan mangkuknya ke sisi meja, pelan, seperti orang meletakkan berkas. Suaranya tenang. Suaranya benar-benar tenang, dan aku tidak akan pernah mengerti dari mana dia mengambilnya. “Saya dari LPM Poros. Maaf sekali penampilan saya begini, saya baru mau berangkat, tapi saya dengar sidang ini dimajukan setengah jam dan saya nggak mau kehilangan datanya.”
Pak Widagdo berkedip. “Sidang proposal diliput?”
“Kami sedang menyusun laporan soal beban skripsi mahasiswa tingkat akhir, Pak. Ini data lapangan.”
“Dengan... masker?”
“Dengan masker,” katanya, dan dia mengucapkannya dengan nada yang begitu tidak minta maaf sehingga rasanya justru pihak lain yang salah karena menanyakannya.
Ada jeda lagi. Panjang.
Lalu Bu Ratna, tanpa mengangkat kepala dari proposalku, berkata:
“Silakan duduk di belakang, Mbak. Jangan bikin suara.”
Dan itu saja.
Aku sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan, pengusiran, laporan ke fakultas, skorsing, akhir dari segalanya. Yang terjadi adalah seorang dosen berumur lima puluhan memutuskan bahwa hal ini bukan urusannya.
Aku belajar sesuatu yang penting hari itu. Kampus tidak dijaga oleh kecurigaan. Kampus dijaga oleh kemalasan.
Masalahnya belum selesai. Masalahnya baru dimulai.
Karena sekarang aku harus melanjutkan presentasi bab tiga, dan aku masih panik, dan selama aku masih panik dia tidak bisa pulang, dan selama dia tidak bisa pulang dia akan duduk di kursi belakang ruang sidang 2.04 dengan handuk di kepala dan masker bengkoang di wajah.
Aku sempat mencuri satu pandangan ke belakang sebelum melanjutkan.
Dia sudah duduk. Punggung tegak. Handuk masih di kepala. Dan dia sedang melakukan hal yang paling khas dari dirinya di seluruh dunia: mengeluarkan buku catatan kecil dari — entah dari mana, karena celana pendek rumahan itu tidak punya saku sedalam itu — dan membukanya di pangkuan.
Dia benar-benar akan mencatat sidangku.
Untuk sesaat, di tengah panik yang sedang membakar seluruh sistem sarafku, aku merasakan dorongan yang sangat kuat untuk tertawa, dan itu justru menyelamatkanku setengah detik.
Aku menoleh ke layar. Halaman dua puluh sembilan.
“Jadi, Bu, untuk metodologi—“
Suaraku tipis. Aku dengar sendiri.
“—untuk metodologi, saya menggunakan pendekatan—“
Aku kehilangan kalimatnya. Bukan lupa. Kalimatnya ada di catatan di depanku, hurufnya jelas, aku bisa membacanya. Aku cuma tidak bisa mengangkatnya keluar.
Ini belum pernah terjadi padaku.
Aku berdiri di depan tiga penguji dan dua puluh tiga slide dan aku tidak bisa berbicara, dan yang paling memalukan bukan itu — yang paling memalukan adalah aku tahu tiga orang di ruangan ini sedang menuliskan sesuatu tentang momen ini di kepala mereka masing-masing.
Aku melihat ke belakang ruangan.
Dia duduk di kursi baris terakhir. Handuk. Masker retak. Tangan di pangkuan.
Dan dia mengangkat empat jari.
Setinggi dada. Kecil. Tidak ada yang melihat karena semua orang menghadap ke depan.
Empat.
Aku menarik napas. Ke perut, kali ini.
Dia menutup tangannya jadi kepalan. Tahan.
Aku menahan. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.
Lalu dia membuka telapak tangannya dan menurunkannya pelan-pelan, seperti orang menuangkan air.
Aku membuang napas.
Kami mengulanginya tiga kali, di depan tiga penguji, dengan jarak sembilan meter, tanpa satu kata pun.
Di hitungan ketiga, bahuku turun.
“Maaf, Bu,” kataku. “Saya ulangi. Untuk bab tiga, saya menggunakan pendekatan kuantitatif dengan uji komparatif terhadap tiga sampel material—“
Dan mulutku bekerja lagi, dan kalimat-kalimat itu keluar dalam urutan yang benar, dan sepuluh menit berikutnya berjalan seperti sidang mana pun.
Pak Sunarto bertanya soal jadwal penelitian. Aku menjawab. Pak Widagdo bertanya soal jumlah sampel, dan menjawabnya sendiri sebelum aku sempat, seperti biasa. Bu Ratna tidak bertanya apa-apa lagi.
Beliau cuma menulis. Terus-menerus. Dan setiap kali pulpen merah itu bergerak, aku merasakan sesuatu di perutku yang tidak ada hubungannya dengan nilai.
Aku lulus dengan revisi.
Bab tiga: dirombak. Sumber data: dicari alternatif.
Dia menghilang di menit ketujuh setelah aku tenang, di tengah pertanyaan Pak Sunarto tentang jadwal penelitian, dan tidak ada satu pun dari tiga penguji itu yang berbalik.
Yang berbalik cuma aku, dan cuma sebentar, dan aku menyamarkannya dengan mengambil botol minum.
Kursi baris terakhir kosong. Mangkuk kecil masih di sisi meja.
Aku memasukkannya ke tas ranselku setelah semua orang keluar. Aku tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan dengan mangkuk masker bengkoang milik orang lain.
Bu Ratna menahanku di pintu.
“Mas Rayyan.”
“Nggih, Bu.”
Beliau menyerahkan proposalku yang sudah penuh tinta merah. Lalu berdiri di sana sebentar, sambil menimbang sesuatu, dengan cara orang yang sudah puluhan tahun memutuskan seberapa jujur yang pantas.
“Saya sudah menguji delapan belas mahasiswa semester ini,” katanya. “Kamu yang paling siap.”
“Terima kasih, Bu.”
“Itu bukan pujian.” Beliau menyelipkan pulpen merahnya ke saku. “Kamu nggak takut salah, Mas. Kamu takut ketahuan nggak tahu. Itu dua hal yang beda, dan yang kedua jauh lebih mahal.”
Beliau berjalan pergi tiga langkah, lalu berhenti.
“Dan soal datanya. Saya nggak nuduh siapa-siapa. Saya cuma ngasih tahu: kalau kamu ambil sesuatu dari orang, kamu ikut bawa masalah orang itu. Biasanya belakangan.”
Nadia menungguku di lorong dengan dua botol air mineral, karena Nadia selalu menunggu siapa pun dengan dua botol air mineral.
“Gimana?”
“Lolos. Revisi bab tiga.”
“Mas Rayyan.” Dia menyerahkan satu botol. “Tadi ada yang keluar dari ruangan pakai handuk kepala.”
Aku membuka tutup botolnya dan tidak menjawab.
“Aku nggak nanya,” katanya cepat. “Aku cuma ngasih tahu. Ada dua anak Sipil yang lihat di lorong. Aku bilang itu petugas laundry kampus.”
“Kampus nggak punya laundry.”
“Mereka nggak tahu itu.” Dia tersenyum, dan senyumnya sempurna seperti biasa, dan untuk pertama kalinya aku memperhatikan bahwa senyum itu berhenti tepat di bawah matanya. “Mas, kalau ada yang bisa aku bantu—“
“Nggak ada.”
“Oke.”
Dia tetap berdiri di sana beberapa detik lebih lama daripada yang diperlukan oleh percakapan yang sudah selesai. Lalu dia pergi, dan aku baru menyadari dua jam kemudian bahwa dia tidak pernah bertanya siapa perempuan itu.
Orang yang tidak bertanya siapa biasanya sudah tahu.
Aku duduk di tangga Gedung C selama empat puluh menit setelah itu, dengan proposal merah di pangkuan dan mangkuk bengkoang di ransel.
Ada tiga hal berputar dan tidak ada satu pun yang mau berhenti.
Yang pertama: arahnya bisa berbalik. Selama ini aku menulis di tabelku selalu dia yang menarik, selalu aku yang datang, dan aku menuliskannya dengan huruf besar, dan aku salah. Bukan soal siapa. Soal siapa yang panik lebih dulu.
Yang kedua: kalimat Bu Ratna, dan nama perusahaan yang tidak akan berhenti kupikirkan selama beberapa bulan ke depan.
Yang ketiga — dan ini yang membuatku masih duduk di tangga itu sampai jam sebelas — bukan soal kutukan sama sekali.
Dia melihatku.
Bukan melihatku muncul. Melihatku gagal. Melihat orang yang dia serang setiap bulan selama tiga semester berdiri di depan tiga penguji dan kehilangan kalimatnya sendiri seperti mahasiswa semester satu.
Itu bahan.
Itu bahan yang bagus sekali. Aku sendiri yang akan menulisnya kalau aku dia.
Aku menunggu edisi Oktober terbit dengan perasaan yang tidak pernah kuakui sebagai takut.
Edisi Oktober terbit tanggal delapan.
Halaman empat, kolom kanan: kritik anggaran pelatihan kepemimpinan. Tajam. Angkanya benar. Judulnya tidak sopan.
Tidak ada satu kata pun tentang ruang sidang 2.04.
Dan itu — bukan handuk, bukan masker, bukan empat jari yang diangkat di baris belakang — itu yang membuatku duduk terlalu lama di depan meja kerja malam itu, sambil memegang mangkuk kecil yang belum kukembalikan, sambil menyadari bahwa aku sedang berhenti membenci seseorang dan tidak punya prosedur untuk itu.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga reading
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau