Chapter Fourteen
Dua Gelas
Aku mulai menyetok gelas tanggal enam belas Januari, dan aku punya alasan yang sangat masuk akal untuk itu.
Alasannya: efisiensi.
Kalau seseorang tertarik ke kamarku pukul sebelas malam, dan orang itu tidak bisa pulang sampai aku tenang, dan aku butuh rata-rata tiga puluh delapan menit untuk tenang — aku menghitung rata-ratanya, tentu saja aku menghitung rata-ratanya — maka masuk akal untuk menyiapkan sesuatu yang bisa diminum. Tuan rumah yang tidak menyediakan minum itu tuan rumah yang buruk. Ibuku akan malu.
Itu alasan yang kupakai.
Alasan itu bertahan sampai tanggal tiga puluh Januari, jam sepuluh lewat empat puluh, ketika aku sadar bahwa aku sedang menyeduh kopi kedua sebelum apa pun terjadi.
Begini urutannya, dan aku menuliskannya dengan jujur karena tidak ada gunanya lagi tidak jujur.
Pukul sembilan lewat, aku selesai transkrip. Pukul sembilan lewat dua puluh, aku mandi. Pukul sepuluh, aku merapikan meja belajar dan memindahkan tumpukan buku ke lantai, sehingga ada ruang kosong di sudut kamar yang berlawanan dengan kasur. Pukul sepuluh lewat sepuluh, aku menjerang air. Pukul sepuluh lewat dua puluh, aku menyeduh dua gelas kopi sachet. Pukul sepuluh lewat dua puluh dua, aku meletakkan gelas kedua di lantai, di sudut itu, di atas tatakan.
Pukul sepuluh lewat dua puluh tiga, aku duduk di kasur, mematikan lampu, dan menatap langit-langit.
Belum ada cicak. Belum ada apa-apa. Belum ada satu pun hal yang bisa disebut kejadian.
Aku duduk di kamar gelap dengan segelas kopi panas yang sudah kutuang untuk orang yang belum ada, dan aku baru menyadari apa yang sedang kulakukan sekitar delapan menit kemudian.
Dan aku tidak berhenti.
Itu yang paling penting. Aku tidak berdiri, tidak menuangnya kembali, tidak tertawa pada diriku sendiri.
Aku cuma memindahkannya sedikit — tiga sentimeter ke kiri, supaya tidak kena kaki lemari.
Lalu aku menunggu.
Selama tiga puluh tujuh menit itu aku melakukan hal-hal berikut, dan aku mendaftarnya karena mendaftar adalah caraku menghindari kesimpulan.
Aku memindahkan gelas itu dua kali lagi. Aku merapikan tumpukan buku di lantai yang sudah rapi. Aku memeriksa apakah kausku bau. Aku mengganti kausku. Aku mengganti kausku lagi. Aku mengambil kacamataku, lalu meletakkannya kembali, lalu memakainya, lalu melepasnya, lalu memakainya lagi dan membiarkannya. Aku membuka aplikasi kamera dalam mode depan selama tiga detik dan menutupnya dengan perasaan jijik pada diri sendiri yang tidak proporsional.
Dan sepanjang tiga puluh tujuh menit itu, kalimat yang berputar di kepalaku persis satu, diulang-ulang, dengan nada yang semakin lama semakin tidak meyakinkan:
Ini karena aku nggak mau dia lihat kamarku berantakan.
Cicaknya datang jam sebelas kurang seperempat.
Aku panik dengan sangat sungguh-sungguh, dan ini bagian yang tidak akan pernah bisa dipahami orang yang tidak pernah takut pada hal yang konyol: aku betul-betul takut. Jantungku betul-betul naik. Tanganku betul-betul dingin.
Aku tidak berpura-pura sedikit pun.
Aku cuma sudah menyiapkan ruangannya.
Ruang di depan lemari terisi.
Dia memakai jaket. Bukan jaket almamater — jaket biasa, abu-abu, resletingnya sampai atas. Dan sepatu.
Sepatu.
“Kamu di luar?” tanyaku.
“Warung depan kos. Beli galon.”
“Galonnya mana?”
“Di trotoar.”
Kami sama-sama diam sebentar memikirkan galon itu.
“Ada yang ngambil, nggak, ya,” katanya.
“Ini Karangmalang. Ada.”
“Iya.”
Dia melepas sepatunya di dekat pintu, tanpa diminta, dan menaruhnya sejajar dengan sandalku. Lalu dia berbalik, mencari cicak di dinding, menemukannya dalam sembilan detik, dan menggiringnya keluar lewat jendela dengan sapu.
Aku menyalakan lampu.
Dan aku melihat dia berhenti.
Dia sedang membalik badan dari jendela, dan pandangannya lewat di sudut kamar, dan berhenti di lantai.
Di gelas kopi.
Yang masih mengepul.
Ada beberapa hal yang bisa dia katakan pada saat itu, dan aku sempat memikirkan semuanya dalam waktu kira-kira dua detik, karena otakku bekerja paling cepat justru waktu aku paling ingin otakku diam.
Dia bisa bertanya ini buat siapa.
Dia bisa bertanya kamu tahu aku bakal dateng?
Dia bisa bertanya jam berapa kamu bikin ini?
Ketiganya akan menghancurkan segalanya, dan ketiganya akan sangat wajar, dan aku tidak akan punya satu pun jawaban.
Dia tidak menanyakan satu pun dari ketiganya.
Dia berjalan ke sudut itu. Dia duduk di lantai dengan punggung ke dinding, di tempat yang sudah kukosongkan tanpa pernah kuakui telah kukosongkan.
Dia mengambil gelas itu.
Dia meniupnya.
Dan dia bilang, dengan nada orang yang sedang membahas cuaca:
“Kurang gula.”
Aku hampir melempar bantal ke arahnya.
“Kamu—“
“Aku cuma ngasih tahu.”
“Kamu tahu berapa harga sachet?”
“Seribu lima ratus.”
“Kamu tahu?”
“Aku beli tiap minggu.”
“Ya udah bawa punyamu sendiri.”
“Aku nggak bisa bawa apa-apa,” katanya. “Aku dateng apa adanya. Itu peraturannya.”
Dan dia mengucapkannya begitu datar, begitu tanpa beban, sehingga butuh waktu beberapa detik sebelum aku sadar bahwa dia baru saja mengubah seluruh percakapan ini menjadi lelucon — dengan sengaja, dengan cepat, dengan sangat rapi — supaya aku tidak perlu menjelaskan apa pun.
Dia melihat gelas itu. Dia mengerti. Dia memutuskan untuk tidak membuatku membayarnya.
Aku duduk di kasur dengan gelasku sendiri dan aku merasakan sesuatu yang tidak enak sama sekali di dada, sesuatu yang hangat dan sesak dan tidak punya nama, dan aku minum kopi terlalu cepat sampai lidahku melepuh.
Aku ingin mencatat satu hal tentang lelucon itu, karena aku memikirkannya berhari-hari sesudahnya.
Aku dateng apa adanya. Itu peraturannya.
Kalimat itu lucu. Kalimat itu memang lucu, dan aku memang tertawa.
Tapi kalimat itu juga satu-satunya penjelasan yang pernah dia berikan tentang dirinya sendiri sepanjang enam bulan, dan dia menyelipkannya sebagai lelucon supaya tidak perlu dibahas.
Orang yang jaket almamaternya selalu dikancing sampai atas. Orang yang datang ke warung membawa map plastik. Orang yang menyusun tiga jawaban untuk tiga pertanyaan dan dua cadangan untuk yang tidak mungkin.
Dan satu-satunya keadaan di mana orang itu tidak sempat menyiapkan apa pun adalah keadaan yang tidak dia pilih.
Aku sudah melihatnya bersarung. Aku sudah melihatnya dengan handuk dan gayung. Aku sudah melihatnya berdiri di atas kursi plastik tanpa suara. Aku sudah melihatnya dengan sikat gigi berbusa dan dengan piring nasi yang sambalnya kebanyakan.
Aku belum pernah sekali pun melihatnya siap.
Dan aku baru menyadari malam itu bahwa itulah satu-satunya alasan aku bisa mengenalnya sama sekali.
Kami bicara satu jam sepuluh menit malam itu.
Dia cerita bahwa Nadia berhenti membantu. Bukan marah, katanya, cuma berhenti. Dia menceritakannya dengan cara yang membuatku tahu bahwa ada percakapan yang tidak dia ceritakan, dan aku tidak menanyakannya, karena aku juga punya beberapa.
Aku cerita bahwa Sasa mulai mengambil alih rubrik investigasi karena aku terlalu sibuk skripsi, dan bahwa aku tidak yakin apakah aku lega atau tersinggung, dan bahwa mungkin dua-duanya.
Dia cerita bahwa revisi bab tiganya akhirnya disetujui dengan sumber data yang benar-benar baru, dan bahwa dia harus mengulang pengukuran dari nol, dan bahwa itu memundurkan sidangnya ke bulan Juni.
“Kamu nggak nyesel?” tanyaku.
“Nyesel apa?”
“Ganti data. Kamu mundur satu semester.”
Dia memutar gelasnya di lantai. “Bu Ratna bilang kalau aku ambil sesuatu dari orang, aku ikut bawa masalah orang itu.”
“Terus?”
“Terus aku mikirin itu tiga bulan.” Dia mengangkat bahu. “Kayaknya aku udah kebanyakan ngambil dari orang.”
Aku tidak menjawab.
Karena aku sedang berpikir tentang gelas kedua di lantai, dan tentang siapa yang sebenarnya sedang mengambil sesuatu dari siapa, dan tentang fakta bahwa tidak ada satu pasal pun dalam Perjanjian Damai yang mengatur tentang orang yang datang tanpa diminta lalu duduk di sudut kamar dan mengeluh kurang gula.
Jam dua belas kurang, dia berdiri.
“Galonku.”
“Kamu bisa pulang?”
“Belum. Aku cuma inget galonnya.”
Aku tertawa. Dia juga, satu kali, pendek. Aku belum pernah mendengar dia tertawa sebelum malam itu. Bunyinya jelek. Seperti orang yang tidak punya latihan.
Dia mengumpulkan gelas kosongnya dan gelasku, membawanya ke wastafel bocor di sudut, dan mencucinya — dua gelas, dengan sabun cuci piring merek murah yang kubeli di Indomaret, di kamar orang, jam dua belas kurang.
Aku duduk di kasur dan menontonnya.
Dan di situ aku merasakannya.
Bukan pikiran. Aku tidak berpikir aku suka dia. Otakku terlalu terlatih untuk mengeluarkan kalimat seperti itu; otakku akan langsung memeriksa sumbernya, meminta konfirmasi, mencari sudut lain.
Yang kurasakan lebih rendah dari pikiran. Di bawah tulang rusuk. Semacam pengakuan yang tidak melewati kepala sama sekali.
Aku menaruh gelasnya di rak. Punggungnya. Bahunya yang selalu terlalu tegak. Lengan jaket yang digulung sampai siku supaya tidak basah.
Dan aku berpikir, dengan sangat jelas:
Aku nggak mau dia pulang.
Dan gelang di laciku tetap dingin.
Tetap dingin, karena jantungku sedang tidak tenang sama sekali, dan kutukan itu tidak bisa membedakan alasannya.
Aku memberikan gelas kedua kepada seseorang tanggal tiga puluh Januari, dan sesudah itu aku memberikannya lagi setiap Kamis, dan sesudah itu tidak ada satu kali pun kami membicarakannya.
Bukan sekali pun. Tidak dalam bentuk lelucon, tidak dalam bentuk sindiran, tidak dalam bentuk apa pun.
Itu satu-satunya hal antara kami berdua yang tidak pernah dibahas, dianalisis, ditabelkan, atau dimasukkan ke pasal.
Bertahun-tahun kemudian, waktu aku mencoba menjelaskan kepada seseorang kapan tepatnya semuanya berubah, aku sadar aku tidak bisa menunjuk ke hari besar. Tidak ada pengakuan. Tidak ada hujan. Tidak ada adegan.
Yang ada cuma satu tanggal di bulan Januari ketika aku menuang air panas ke dalam dua gelas, bukan satu, sebelum ada apa-apa.
Sebelum ada cicak.
Sebelum ada alasan.
Sebelum aku punya kata untuk apa pun.
Sebelum aku lanjut, ada satu hal yang harus kucatat karena aku tidak menceritakannya kepada siapa pun sampai bertahun-tahun kemudian.
Hari Sabtu berikutnya, dua hari sesudah malam itu, aku mengecek kalender lagi. Bukan untuk Kamis.
Aku mengecek tanggal enam Februari.
Dan aku melihat bahwa tahun ini tanggal itu jatuh di hari Kamis, dan aku menutup aplikasinya, dan aku duduk di ruang redaksi yang kosong sambil merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman di perut.
Karena tanggal enam Februari adalah hari yang selama sembilan tahun kuhabiskan sendirian, dengan sengaja, dengan segala cara.
Dan untuk pertama kalinya aku tidak yakin apakah aku masih menginginkan itu.
Malam itu, sebelum gelang itu memanas, dia sedang berdiri di dekat pintu memakai sepatunya lagi — kebiasaan yang tidak masuk akal, karena kepulangannya tidak lewat pintu — dan aku mengulurkan tangan untuk mengambil tatakan gelas yang masih tertinggal di lantai.
Kami sampai di sana pada waktu yang sama.
Ujung jariku kena punggung tangannya.
Satu detik. Mungkin kurang.
Dan kami berdua menarik tangan pada waktu yang sama juga, terlalu cepat, dengan cara yang jauh lebih mencurigakan daripada kalau kami membiarkannya.
Tidak ada yang bicara.
Dia memakai sepatu kirinya. Aku membawa tatakan itu ke wastafel yang tidak perlu.
Dan waktu logam itu akhirnya memanas — jam dua belas lewat sembilan belas, aku ingat angkanya — dia berkata satu kalimat sebelum menghilang, dan kalimat itu bukan selamat malam.
“Kamis depan aku bawa gula.”
Satu. Dua. Ti—
Dan aku berdiri sendirian di kamar dengan wastafel bocor dan dua gelas bersih di rak, sambil menyadari bahwa dia baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil.
Dia tidak bisa membawa apa pun. Dia datang apa adanya. Itu peraturannya, dan dia sendiri yang menyebutkannya satu jam yang lalu.
Kecuali kalau dia sedang memegangnya waktu ditarik.
Yang berarti dia harus memegang gula, di tangan, pada hari Kamis, pukul sebelas malam, tanpa tahu kapan persisnya.
Yang berarti dia harus menunggu sambil memegangnya.
Aku duduk di lantai kamar dengan punggung ke kasur dan tertawa sendirian selama mungkin dua menit penuh, dan kemudian aku berhenti tertawa, dan kemudian aku menutup wajahku dengan kedua tangan, dan kemudian aku tidak keluar dari posisi itu untuk waktu yang cukup lama.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas reading
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau