Chapter Eighteen

Teori Dimas

Dimas Saputra sudah menyusun tujuh teori tentangku selama tujuh bulan terakhir, dan aku tahu semuanya karena dia tidak pernah menyimpan satu pun.

Teori satu (Agustus). Aku jalan tidur. Dibatalkan sendiri setelah dia begadang tiga malam untuk memastikan dan menemukan bahwa aku tidur seperti orang mati.

Teori dua (September). Aku punya pacar di kos sebelah dan menyelinap lewat jendela. Dibatalkan karena jendela kamar kami menghadap tembok.

Teori tiga (Oktober). Aku kena pelet. “Ciri-cirinya cocok semua, Yan. Sering ngelamun. Nggak nafsu makan. Tiba-tiba ilang.”

Teori empat (November). Aku ikut MLM dan malu mengaku.

Teori lima (Desember). Aku sakit dan menyembunyikannya dari semua orang. Teori ini bertahan paling lama, dan teori ini yang membuatku paling tidak enak, karena selama dua minggu dia membelikanku susu kotak setiap pagi tanpa bilang apa-apa.

Teori enam (Januari). Aku jadi informan kampus. “Kamu tuh dipanggil-panggil rektorat terus. Aku tahu.”

Yang tidak pernah dia susun teorinya: kenapa aku tidak pernah bertanya balik.

Tujuh bulan, tujuh teori, dan tidak sekali pun aku bertanya kepadanya bagaimana kabarnya.

Teori tujuh disampaikan pada hari Rabu tanggal dua puluh enam Februari, jam sebelas malam, di kamar kos, dengan Dimas duduk bersila di kasurnya sendiri dan aku di lantai.

Dia menyalakan lampu belajar dan mengarahkannya ke arahku seperti orang di film yang dia tonton terlalu banyak.

“Yan.”

“Apa.”

“Kamu nikah siri, ya.”


Aku menaruh laptopku.

Perlu kujelaskan sesuatu tentang Dimas Saputra supaya kalimat berikutnya masuk akal.

Dimas itu orang yang paling sering salah di kamar ini, dan dia salah dengan sangat percaya diri, dan dia tidak pernah malu waktu dibuktikan salah. Dia akan bilang “oh iya juga ya” lalu langsung pindah ke teori berikutnya tanpa satu pun rasa kehilangan.

Aku selalu menganggap itu kebodohan.

Aku baru mengerti malam itu bahwa itu keberanian yang bentuknya jelek.

“Dimas.”

“Denger dulu.” Dia mengangkat telunjuk. “Aku punya bukti.”

“Aku nggak—“

“BUKTI. Satu.” Dia menekuk satu jari. “Bulan Desember kamu beli gula. Kamu nggak minum kopi manis. Kamu nggak pernah beli gula seumur hidup kamu. Aku yang beli gula di kamar ini sejak semester tiga.”

“Aku—“

“Dua.” Jari kedua. “Kamu berhenti pakai sambel. Mendadak. Bulan November. Aku nanya kenapa, kamu bilang ‘hari ini nggak’, terus nggak pernah pakai lagi sampai sekarang. Orang nggak berhenti pakai sambel tanpa alasan, Yan. Orang berhenti pakai sambel kalau ada yang nggak bisa pedes di rumah.”

Aku membuka mulut. Aku tutup lagi.

“Tiga. Kamu punya mangkok kecil di rak buku.” Dia menunjuk. “Itu bukan mangkok kamu. Itu mangkok cewek. Ada kuasnya. Udah lima bulan di situ dan kamu nggak pernah pakai buat apa-apa.”

“Empat. Tiap Minggu pagi kamu pergi pakai kemeja. Kemeja, Yan. Hari Minggu. Kamu nggak punya kegiatan Minggu pagi selama dua tahun.”

“Lima.” Dia menurunkan tangannya. “Kamu jadi enak orangnya.”

Aku menoleh. “Apa?”

“Kamu jadi enak. Kamu ngasih tahu aku minggu lalu kalau charger-ku ketinggalan di lab, kamu balik lagi ke kampus buat ngambilin. Yan, dua tahun lalu kamu bakal bilang ‘itu tanggung jawab kamu’.”

“Aku emang pernah bilang gitu?”

“Kamu bilang gitu delapan kali.”

Kami sama-sama diam.

“Jadi,” katanya, “kesimpulanku: kamu nikah siri. Sama orang yang nggak bisa pedes. Yang suka masker. Yang kamu temui tiap Minggu pagi. Dan kamu nggak berani cerita karena bapak kamu galak.”

Aku duduk di lantai kamar kos jam sebelas malam dan aku merasakan sesuatu yang tidak kuduga sama sekali.

Bukan panik. Bukan kesal.

Malu.

Karena semua yang dia sebutkan benar. Tujuh bulan. Dia mengumpulkan tujuh bulan detail tentang seseorang yang tidak pernah menceritakan apa pun kepadanya.

Dan aku tidak tahu satu pun hal yang terjadi pada Dimas Saputra selama tujuh bulan itu.


“Dim.”

“Iya, siap. Aku nggak akan bilang siapa-siapa.”

“Dim, aku mau nanya.”

“Nanya aja.”

“Skripsi kamu udah bab berapa?”

Lampu belajar itu masih menyala di antara kami.

Dan aku melihat wajah orang yang selama dua tahun selalu punya kalimat lanjutan kehilangan kalimat lanjutannya.

“Bab dua,” katanya.

“Bab dua yang mana?”

“Yang—“ Dia menggaruk belakang lehernya. “Yang lagi direvisi.”

“Direvisi sama siapa.”

Dia tidak menjawab.

“Dim.”

“Aku belum ketemu Pak Marwan sejak Oktober,” katanya. Cepat, satu tarikan napas, seperti orang melepas plester. “Bukan sejak Oktober. Sejak Oktober tahun lalu.”

Enam belas bulan.

“Aku dateng ke ruangannya empat kali. Dua kali beliau nggak ada, dua kali aku balik lagi sebelum ngetuk.” Dia menatap seprainya. “Terus makin lama makin susah. Karena kalau aku dateng sekarang, pertanyaan pertamanya pasti ‘ke mana aja kamu’. Dan aku nggak punya jawabannya. Nggak ada jawaban yang bener buat itu.”

“Kamu tiap pagi berangkat.”

“Aku ke warkop depan perpus. Ada colokan.”

“Enam belas bulan.”

“Iya.”

“Orang tua kamu?”

“Ibuku kirain aku lagi ngerjain bab empat.” Dimas tersenyum, dan senyumnya yang paling buruk yang pernah kulihat. “Aku ngasih tahu bab empat bulan Januari. Bulan November aku bilang bab tiga. Aku maju terus, Yan. Di telepon aku udah mau sidang.”


Yang terjadi sesudahnya adalah kesalahan, dan aku menyadarinya sekitar dua belas jam terlambat.

Aku mengambil laptopku.

Aku membuka spreadsheet baru. Aku mengetik nama dosen pembimbingnya, jadwal beliau, mata kuliah yang beliau ampu, jam kosong beliau. Aku tahu semuanya karena aku Ketua BEM dan aku punya jadwal seluruh dosen fakultas dalam satu berkas.

“Hari Kamis beliau ada di ruangan dari jam sepuluh sampai dua belas,” kataku. “Kita ke sana Kamis. Aku ikut. Aku yang ngetuk.”

“Yan—“

“Kamu bawa draf bab satu sama dua, walaupun jelek nggak apa-apa, yang penting ada yang dipegang.” Aku mengetik lebih cepat. “Terus kamu bikin surat permohonan bimbingan ulang. Aku ada templatenya. Terus kalau beliau nolak, kita ke Kaprodi, aku kenal—“

“Yan.”

“—aku kenal sekretaris prodi, namanya Mbak Ririn, dia bisa bantuin jadwalin. Terus soal semester, kamu masih bisa ambil cuti satu semester tanpa hangus, aturannya ada di—“

“YAN.”

Aku berhenti mengetik.

Dimas duduk di kasurnya dengan lutut ditekuk dan kedua tangan di wajahnya.

“Aku nggak minta itu,” katanya, dari balik tangannya.

“Aku cuma—“

“Aku tahu kamu cuma mau bantu.” Dia menurunkan tangannya. Matanya merah. “Tapi kamu langsung bikin daftar. Aku baru ngomong dua menit dan kamu udah bikin daftar.”

“Karena bisa diselesaikan.”

“Aku tahu bisa diselesaikan!” Suaranya naik, dan itu pertama kalinya dalam dua tahun aku mendengar Dimas Saputra membentak siapa pun. “Aku tahu, Yan. Aku bukan bego. Aku tahu tinggal ngetuk pintu. Aku tahu itu dari bulan Desember tahun lalu.”

Sunyi.

“Aku cuma pengin ada yang tahu,” katanya, jauh lebih pelan. “Itu doang. Aku pengin ada satu orang di dunia ini yang tahu, terus nggak langsung nyuruh aku ngapa-ngapain.”

Aku menutup laptopku.


“Kamu tahu kenapa aku ngumpulin teori tentang kamu?” katanya, sesudah kami diam cukup lama.

“Karena kamu kepo.”

“Karena itu satu-satunya kerjaan yang aku selesein tahun ini.”

Aku menoleh.

“Serius. Aku nggak bercanda.” Dia menatap langit-langit. “Tiap hari aku bangun terus nggak ada yang selesai. Nggak ada satu pun. Terus aku merhatiin kamu, dan itu ada hasilnya. Ada kesimpulannya. Ada perkembangannya tiap bulan.”

“Dim.”

“Aku tahu itu menyedihkan.”

“Bukan itu yang mau aku bilang.”

“Terus apa?”

Dan aku tidak tahu apa. Aku duduk di lantai kamar itu dan aku benar-benar tidak tahu apa, karena satu-satunya kalimat yang tersedia di kepalaku adalah kalimat yang menyelesaikan sesuatu, dan aku sudah mulai curiga bahwa itu bukan yang dia butuhkan.

Jadi aku bilang, “Nggak ada.”

Dan itu jawaban paling jujur yang pernah kuberikan kepadanya.


Aku tidak tidur malam itu.

Bukan karena Dimas. Dimas tidur jam satu, dan mendengkur seperti biasa, seperti mesin diesel yang sudah pasrah, dan itu entah bagaimana membuat semuanya lebih buruk.

Aku tidak tidur karena satu kalimat.

Kamu langsung bikin daftar.

Aku berbaring di kasur dan menghitung mundur.

Halaman posko, jam dua pagi: aku langsung berjongkok dan menghitung napas. Aku tidak bertanya dia takut apa.

Balai desa: aku langsung memberikan instruksi dari jarak tiga langkah.

Bazar: duduk, bungkuk, siku di lutut, napas lewat hidung.

Kamar kos yang kabelnya terbakar: aku langsung ke MCB.

Tujuh kali, delapan kali, sembilan kali. Dan setiap kali, hal pertama yang kulakukan adalah menyelesaikan.

Aku bahkan tidak bisa mengingat satu kali pun aku bertanya kamu mau aku ngapain.

Jam empat pagi aku mengetik pesan yang tidak kukirim sampai jam tujuh, karena aku tidak mau membangunkan siapa-siapa:

Ke: Ace Aku baru sadar aku nggak pernah nanya kamu mau aku ngapain. Aku selalu langsung ngerjain.

Balasannya datang jam setengah delapan.

ya emang

Kamu tahu?

van aku tau dari hari pertama

Kenapa nggak bilang.

Ada jeda cukup lama.

karena kalau kamu berhenti ngerjain, aku harus minta dan aku nggak bisa minta jadi kita cocok itu bukan hal bagus tapi kita cocok

Aku membaca pesan itu di kamar mandi kos sambil sikat gigi, dan aku berhenti menyikat di tengah, dan aku berdiri di depan cermin dengan mulut penuh busa selama mungkin satu menit penuh.


Aku juga mengirim satu pesan lagi, jam delapan pagi, dan ini yang paling sulit kuketik seumur hidupku.

Ke: Ace Boleh aku nanya sekarang?

nanya apa

Kamu mau aku ngapain.

Balasannya butuh sebelas menit.

van

Iya.

aku nggak tau

Nggak apa-apa.

nggak, aku beneran nggak tau aku nggak pernah ditanya aku 21 tahun dan nggak ada yang pernah nanya itu ke aku

Aku duduk di depan gedung Teknik dengan ponsel di tangan dan matahari jam delapan pagi di punggungku.

Ya udah. Nanti aku tanya lagi.

jangan sering2

Kenapa.

nanti aku kebiasaan

Aku menyimpan percakapan itu. Aku belum pernah menyimpan percakapan apa pun sebelumnya, dan aku tidak menyimpan yang lain sesudahnya.


Hari Kamis itu aku tidak membawa Dimas ke ruangan Pak Marwan.

Aku membawa dua bungkus nasi padang ke kamar, jam delapan malam, dan aku duduk di lantai dan aku bilang:

“Aku nggak akan ngapa-ngapain.”

Dimas menatapku dari kasur.

“Aku nggak bikin daftar. Aku nggak nelpon siapa-siapa. Aku nggak nanya kamu kapan mau ke sana.” Aku menyodorkan satu bungkus. “Aku cuma tahu. Itu doang.”

Dia menerima bungkusnya.

Kami makan tanpa bicara sekitar sepuluh menit.

Lalu dia berkata, dengan mulut penuh, tanpa menoleh:

“Kamis depan aku ke ruangannya.”

“Oke.”

“Kalau aku nggak jadi, jangan diungkit.”

“Oke.”

“Kalau aku jadi, juga jangan diungkit.”

“Oke.”

Dan itu satu-satunya percakapan yang kami punya tentang hal itu selama dua bulan berikutnya.


Jam sepuluh malam, sambil membuang bungkus nasi, Dimas bilang:

“Yan. Soal teori tujuh.”

“Apa.”

“Nikah siri itu nggak beneran, kan.”

“Nggak.”

“Tapi ada orangnya.”

Aku berdiri di depan tempat sampah dengan bungkus nasi di tangan.

Ada beberapa kalimat yang bisa kupakai. Aku sudah menyusun empat sepanjang tujuh bulan terakhir, untuk empat situasi berbeda, dan semuanya bisa dipakai sekarang.

“Ada,” kataku.

Dimas mengangguk pelan-pelan, seperti orang yang baru saja memenangkan sesuatu yang kecil setelah waktu yang sangat lama.

“Anak Poros ya.”

Aku menoleh.

“Yan, aku itu bego di skripsi. Bukan di hal lain.”

Dan dia memasang headset-nya, dan menyalakan gimnya, dan tidak pernah menyinggung hal itu lagi kepada siapa pun, tidak sekali pun, tidak di grup angkatan, tidak di kantin, tidak di depan siapa-siapa, sampai semuanya selesai berbulan-bulan kemudian.

Aku sudah salah menilai orang beberapa kali dalam hidupku.

Itu yang paling jauh salahnya.