Chapter Twenty
Kencan yang Batal Tiga Kali
Kami belajar sesuatu yang penting di bulan Maret, dan kami mempelajarinya dengan cara yang paling memalukan.
Kutukan itu tidak bisa merusak kencan.
Selama kami sudah berada di ruangan yang sama, tidak ada yang bisa terjadi. Kalau aku panik dan dia sudah di sebelahku, tidak ada yang ditarik ke mana-mana — dia sudah di sana. Kalau dia panik dan aku sudah di sebelahnya, sama saja.
Jadi secara teknis, kencan itu wilayah aman.
Masalahnya cuma satu:
Kami harus sampai ke sana dulu.
Percobaan pertama. Sabtu, delapan Maret. Bioskop.
Rencananya: pukul empat sore, film jam setengah lima, dua kursi terpisah tiga baris karena kami masih waras.
Pukul tiga lewat dua puluh, aku sedang di depan cermin dengan eyeliner setengah jadi di sebelah kanan.
Lantai berubah.
Aku muncul di kamar kosnya dengan satu mata bereyeliner, memegang kuas, memakai kaus dalam dan celana pendek karena bajuku masih tergantung di belakang pintu.
Dia berdiri di atas kursi.
Sekali lagi. Di atas kursi. Tidak bersuara. Menatap sudut langit-langit di dekat lampu.
“Kamu—“ kataku. “Serius?”
Dia tidak menjawab. Dia tidak pernah menjawab dalam keadaan itu.
Aku mengusir benda itu keluar lewat jendela dengan majalah gulungan dalam waktu sembilan puluh detik, dan aku melakukannya sambil memakai kaus dalam dan celana pendek dan satu mata bereyeliner, dan seluruh operasi itu berlangsung di kamar kos putra pada pukul tiga lewat dua puluh lima menit siang hari, dan Dimas pulang di menit keenam.
Dimas berdiri di ambang pintu dengan kunci motor di tangan.
Dia melihatku.
Dia melihat kursi.
Dia melihat orang di atas kursi.
Dan Dimas Saputra — dan aku akan berutang budi kepadanya selama sisa hidupku untuk ini — cuma bilang:
“Oh. Halo, Mbak.”
Lalu dia mundur, menutup pintu dari luar, dan pergi.
Aku perlu menuliskan satu hal tentang percobaan pertama, karena ini yang paling kuingat dari seluruh hari itu.
Waktu aku selesai — waktu benda itu sudah keluar jendela dan jendelanya sudah kututup dan celah pintu sudah kusumpal handuk — dia masih di atas kursi.
Dan aku berdiri di bawah, mendongak, dengan majalah gulungan di tangan dan satu mata bereyeliner, dan aku mengulurkan tangan.
Dia tidak langsung mengambilnya.
Butuh sekitar sepuluh detik.
Lalu dia mengambil tanganku dan turun dari kursi plastik itu, dan tangannya dingin sekali, dan sesudah dua kakinya di lantai dia tidak melepaskannya.
Kami berdiri di tengah kamar kos putra pada pukul tiga lewat setengah siang hari, berpegangan tangan, dalam keadaan yang secara objektif konyol dari segala sudut, dan tidak ada satu pun dari kami yang tertawa.
Kami tidak jadi nonton. Kami menghabiskan tiga jam berikutnya di kamar itu karena butuh tiga jam sebelum dia benar-benar tenang, dan menjelang jam tujuh aku mengangkat bicara.
“Van.”
“Jangan.”
“Kamu tinggal di kos lantai bawah, deket selokan, di kota yang hujan tujuh bulan setahun.”
“Aku tahu.”
“Kita harus pindahin kamu.”
“Aku tinggal di sini dua tahun.”
“Dan berapa kali kejadian?”
Dia diam agak lama.
“Sebelas,” katanya.
Percobaan kedua. Sabtu, lima belas Maret. Warung kopi di Jalan Kaliurang.
Rencananya: pukul tujuh malam. Dia berangkat dari kos naik motor. Aku naik bus dari Karangmalang lalu jalan kaki.
Hujan mulai jam enam lewat.
Aku berdiri di halte, sendirian, dengan payung hitam yang tertinggal di kamarku sejak bulan Februari dan tidak pernah kukembalikan.
Yang membuatku panik: ada laki-laki berdiri di ujung halte yang sudah dua puluh menit tidak menaiki bus mana pun.
Itu saja. Bukan apa-apa. Dia mungkin sedang menunggu jemputan. Dia mungkin sedang berteduh. Sembilan puluh sembilan persen kemungkinan tidak ada apa-apa.
Tapi aku perempuan, dan hari sudah gelap, dan hujan menutup semua suara, dan tubuhku tidak peduli pada statistik.
Lantai berubah.
Dia muncul di halte dengan helm terpasang, jaket basah, dan kedua kaki masih dalam posisi menopang sesuatu yang tidak ada.
Aku menahan napas.
“Motor kamu—“
“Lampu merah,” katanya, cepat, langsung, sebelum aku sempat naik. “Perempatan Kentungan. Aku lagi berhenti. Kakiku di aspal.”
“Kamu yakin?”
“Aku selalu berhenti penuh sejak November.” Dia melepas helmnya. “Aku nggak pernah lagi jalan pelan-pelan pas lampu kuning. Nggak pernah lagi nyelip di antrean. Aku berhenti, kaki turun dua-duanya, tangan lepas dari gas.”
“Setiap lampu merah?”
“Setiap lampu merah. Sejak lima bulan lalu.”
Aku berdiri di halte hujan dengan payung yang bukan punyaku dan menatap orang yang sudah lima bulan berhenti total di setiap lampu merah di kota Yogyakarta, setiap hari, tanpa pernah menyebutkannya kepada siapa pun, karena kalau dia disentak dari motornya lagi yang jatuh bukan cuma motornya.
Laki-laki di ujung halte itu naik bus jalur empat dan pergi.
Kami tidak jadi ke warung kopi. Kami duduk di halte sampai jam sembilan karena aku butuh selama itu untuk tenang, dan sesudah aku tenang dia sudah kadung basah, dan sesudah dia kadung basah kami sepakat bahwa tidak ada gunanya lagi ke mana-mana.
Motornya masih di perempatan Kentungan. Dia menjemputnya jalan kaki. Tiga kilometer.
Aku menawarkan diri ikut. Dia bilang tidak usah.
Aku ikut.
Percobaan ketiga. Sabtu, dua puluh dua Maret. Ini yang paling buruk.
Rencananya: pukul empat sore, pameran buku di JEC. Alasan yang bisa dipakai kalau ketahuan: dua lembaga kemahasiswaan kebetulan sama-sama meliput.
Aku sampai duluan, jam empat kurang.
Dia tidak datang.
Jam empat lewat sepuluh, lantai berubah.
Dan aku muncul di tengah ruang rapat sekretariat BEM Fakultas Teknik, di depan dua puluh tiga pengurus, di tengah rapat pleno persiapan pertanggungjawaban akhir kepengurusan.
Aku muncul di sebelah kursi ketua.
Dua puluh tiga orang.
Aku memakai kemeja rapi dan sepatu, untung. Aku memegang tas selempang, untung. Tapi aku muncul dari udara di dalam ruangan yang pintunya tertutup dan tidak ada satu pun manusia di ruangan itu yang tidak menyadarinya.
Kursi-kursi bergeser. Seseorang menjatuhkan pulpen. Seseorang berkata “hah?” dengan sangat keras.
Dan aku menoleh ke sebelah kiri, ke kursi ketua, ke orang yang duduk di sana dengan wajah pucat dan tangan yang memegang berkas terlalu erat, dan aku tahu persis apa yang baru saja terjadi.
Karena di layar proyektor di depan ruangan, ada satu slide.
Evaluasi Laporan Pertanggungjawaban Triwulan III — Tindak Lanjut Temuan.
Dan di baris ketiga, ada nama sebuah perusahaan.
Aku menunggu.
Ini bagian yang tidak akan pernah kulupakan.
Aku berdiri di sana selama mungkin empat detik penuh, dan selama empat detik itu aku menunggu satu suara. Suara yang selalu datang. Suara ramah yang langsung memotong keheningan dengan alasan ngawur yang begitu percaya diri sehingga semua orang menerimanya.
Ya ampun, Mbak Grace, akhirnya!
Nadia duduk di kursi kedua dari kanan, dengan notulen terbuka di pangkuannya dan pulpen di tangan.
Dia melihatku.
Dan dia tidak mengatakan apa-apa.
Dia tidak menoleh ke arah lain. Dia tidak pura-pura sibuk. Dia menatapku lurus-lurus dengan ekspresi yang sopan dan tenang dan sama sekali tidak jahat, dan dia menunggu, sama seperti semua orang di ruangan itu.
Karena dia sudah bilang. Aku baru tahu isi percakapan itu berbulan-bulan kemudian, tapi malam itu aku sudah bisa menebak seluruhnya dari satu tatapan.
Kalau ada apa-apa lagi, cari alasan sendiri.
Jadi aku mencari alasan sendiri.
“Selamat sore,” kataku. “Maaf, pintunya nggak dikunci. Saya sudah ketuk tiga kali.”
Dua puluh tiga orang menatapku.
“Saya dari Poros. Saya mau konfirmasi soal laporan pertanggungjawaban triwulan tiga.” Aku mengeluarkan buku catatan dari tas, dan tanganku hampir tidak gemetar. “Kelihatannya saya datang di waktu yang tepat.”
Itu bohong yang buruk. Itu bohong paling buruk yang pernah dibuat orang di ruangan itu.
Pintunya jelas terkunci dari dalam. Tidak ada yang mendengar ketukan. Enam orang duduk membelakangi pintu dan tahu persis bahwa pintu itu tidak terbuka.
Tapi mereka mengangguk.
Semua orang mengangguk, dan seseorang memindahkan kursi untukku, dan rapat dilanjutkan.
Karena bohong yang buruk tetap lebih nyaman daripada tidak punya penjelasan sama sekali.
Aku duduk di rapat itu selama satu jam empat puluh menit, mencatat, bertanya dua kali, dan pergi paling akhir.
Dua pertanyaanku sederhana dan sepenuhnya wajar untuk seorang wartawan kampus.
Pertanyaan pertama: berapa jumlah temuan yang belum ditindaklanjuti.
Jawabannya: tiga.
Pertanyaan kedua: apakah daftar vendor triwulan tiga tersedia untuk publik.
Ada jeda sekitar dua detik sebelum bendahara menjawab bahwa daftar itu ada di lampiran LPJ, dan LPJ terbuka untuk seluruh mahasiswa.
Aku mengangguk dan menulis “terbuka” di buku catatanku dan menggarisbawahinya.
Aku tidak tahu kenapa aku menggarisbawahinya. Aku bersumpah, malam itu aku tidak tahu.
Di kursi kedua dari kanan, Nadia menulis sesuatu di notulennya dan tidak mengangkat kepala sekali pun.
Dan sepanjang satu jam empat puluh menit itu, aku tidak sekali pun melihat ke arah kursi ketua, dan dia tidak sekali pun melihat ke arahku, dan kami berdua melakukannya dengan sangat baik karena kami sudah tiga semester berlatih.
Yang keempat bukan percobaan.
Rabu, dua puluh enam Maret. Tidak direncanakan. Tidak ada pesan, tidak ada tiga opsi, tidak ada tanggal yang dilingkari.
Aku keluar dari gedung lembaga kemahasiswaan jam enam sore setelah rapat redaksi, dan dia sedang berdiri di parkiran sepeda, dengan helm di tangan, jelas-jelas sedang menunggu sejak entah kapan.
“Kamu ngapain?”
“Aku nggak tahu.”
“Kamu nggak tahu?”
“Aku selesai jam lima. Aku mau pulang.” Dia mengangkat bahu. “Terus aku nggak pulang.”
Kami berjalan.
Bukan ke mana-mana. Keluar gerbang belakang, lewat gang di belakang fakultas peternakan, lewat sawah kecil yang masih tersisa di antara kos-kosan, lewat warung yang menjual bensin eceran dalam botol.
Kami tidak membicarakan hal yang penting. Kami membicarakan: harga bensin eceran, apakah sawah itu masih ada tahun depan, kucing ibu kos yang namanya nama bulan, Rifqi yang akhirnya menulis nama pelatih dengan benar dan merayakannya seolah-olah dia memenangkan sesuatu.
Sekitar dua ratus meter setelah warung bensin, tangannya menyentuh tanganku.
Bukan gerakan besar. Kami berjalan berdampingan dan punggung tangan kami bersentuhan dan tidak ada satu pun dari kami yang menjauhkannya.
Lima langkah kemudian, jarinya masuk di antara jariku.
Dan kami terus berjalan.
Itu saja. Tidak ada yang berhenti. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang bilang apa-apa tentang hal itu — tidak malam itu, tidak besoknya, tidak pernah.
Kami jalan empat puluh menit lagi dan pulang sebelum jam delapan karena besoknya dia ada bimbingan.
Malamnya aku duduk di kamar dan mencoba mencari tahu kenapa yang keempat berhasil.
Aku menyusun daftar, karena aku selalu menyusun daftar.
Yang pertama gagal karena kecoak. Yang kedua gagal karena laki-laki di halte. Yang ketiga gagal karena satu nama perusahaan di slide proyektor.
Tidak ada satu pun dari ketiganya yang bisa kami cegah.
Dan yang keempat berhasil bukan karena kami lebih pintar, bukan karena kami lebih hati-hati, bukan karena kutukannya sedang libur.
Yang keempat berhasil karena tidak ada yang bisa dibatalkan.
Tidak ada rencana. Tidak ada jam. Tidak ada tempat yang harus dicapai. Tidak ada satu pun hal yang bisa rusak, karena tidak ada satu pun hal yang sudah disusun.
Aku menulis satu kalimat di aplikasi catatan malam itu, dan kali ini aku tidak menghapusnya:
Berhenti bikin rencana. Rencana itu yang bisa gagal, bukan kita.
Dan tepat sebelum tidur, aku teringat sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan, dan aku mengetiknya di bawah kalimat itu, dan aku menatapnya cukup lama sebelum menutup ponsel.
PT Ardhi Karsa Nusantara.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali reading
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau