Chapter Thirty Seven

Yang Menandatangani

Nadia datang ke kosku hari Kamis, tanggal sebelas Desember, jam empat sore.

Dia yang pertama tahu alamat itu — bukan Dimas, bukan siapa pun. Dia tahu sejak akhir Oktober karena dia yang mengantar berkas serah terima kepengurusan, dan dia tidak pernah menyebutkannya kepada siapa pun selama satu setengah bulan.

Dia berdiri di depan pintu dengan map plastik bening di tangan.

Map. Plastik. Bening.

“Nad.”

“Mas Rayyan.” Dia melihat ke dalam kamar dari ambang pintu, sekali, cepat, dengan cara orang Farmasi memeriksa sesuatu. “Boleh ngobrol? Di luar aja.”

Kami duduk di warung burjo di ujung gang. Tempat yang sama dengan tempat aku duduk empat puluh menit pada malam tanggal dua puluh delapan November sampai bahuku turun.

Dia memesan teh hangat dan tidak menyentuhnya sama sekali.

“Mas, aku mau ngasih tahu duluan,” katanya. “Bukan minta izin. Ngasih tahu.”

“Apa.”

Dia meletakkan map plastik itu di meja.

“Besok pagi aku ke Poros.”


Isinya delapan puluh satu lembar.

Aku membaliknya di bawah lampu warung burjo yang cahayanya kuning dan tidak cukup, dan aku butuh sekitar empat menit untuk mengerti apa yang sedang kupegang.

Bukan salinan dari amplop cokelat itu.

Ini yang tidak ada di amplop cokelat itu.

“Bukti transfer,” kata Nadia. “Semua pos yang aku susun selama tiga tahun. Aku selalu minta bukti transfernya ke bendahara sebelum aku masukin ke LPJ, karena aku nggak mau tanda tangan sesuatu yang aku nggak lihat.”

Aku membalik ke lembar dua puluh tiga.

“Nad, ini nomor rekening.”

“Iya.”

“Ini bukan rekening toko.”

“Iya.”

Dan dia mengeluarkan satu lembar lagi dari sakunya — dilipat empat, sudah lunak di lipatannya — dan meletakkannya di sebelah lembar dua puluh tiga.

Fotokopi lampiran termin pembayaran proyek Gedung Serba Guna. Halaman yang ada di amplop cokelat itu, bagian tiga, lembar keempat belas.

Dan di sana, di kolom rekening penerima pembayaran kepada salah satu penyedia barang, ada enam belas digit angka.

Enam belas digit yang sama.

Digit per digit.

Aku menatap dua lembar itu berdampingan di atas meja plastik warung burjo di ujung gang di Pogung pada hari Kamis sore bulan Desember.

“Nad.”

“Iya.”

“Kamu tahu ini artinya apa?”

“Artinya duit konsumsi pelatihan kepemimpinan lembaga kemahasiswaan,” katanya, “masuk ke rekening yang sama dengan rekening penerima termin proyek pembangunan gedung.”

“Iya.”

“Artinya ini bukan urusan mahasiswa yang ceroboh.”

“Iya.”

“Artinya ini nggak bisa diselesaikan pakai audit internal sama surat pembinaan.” Dia akhirnya memegang gelas tehnya, tapi tidak minum. “Mas, aku anak Farmasi. Aku nggak ngerti konstruksi. Tapi aku ngerti satu hal: kalau ada dua angka yang sama di dua tempat yang harusnya nggak berhubungan, itu bukan kebetulan. Itu jalur.”


Aku melakukan hal yang kulakukan.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena aku sudah dua kali diberi tahu tentang hal ini oleh dua orang berbeda dan aku tetap melakukannya untuk ketiga kalinya.

“Nad, tanda tangan kamu ada di halaman berapa aja?”

“Semua.”

“Semua?”

“Tiga tahun, Mas. Kolom ‘disusun oleh’. Aku sekretaris.” Dia mengangkat bahu. “Delapan puluh satu lembar itu semuanya ada nama aku di bawah.”

“Berarti kalau ini masuk, kamu—“

“Iya.”

“Nad, tunggu dulu.” Aku menarik map itu ke arahku. “Ada cara lain. Kita kasih ini ke Poros tanpa nama kamu. Aku bisa bilang aku yang dapat dari arsip. Aku mantan Ketua, aku punya akses—“

“Mas.”

“—atau kita kasih langsung ke auditor eksternal, jadi nggak lewat kampus, jadi nggak ada yang—“

“Mas Rayyan.”

Aku berhenti.

Dia menatapku di bawah lampu kuning warung burjo itu, dan wajahnya sama sekali tidak marah, dan itu selalu bagian yang paling sulit dari Nadia Ayu Prameswari.

“Mas baru tahu lima menit yang lalu,” katanya.

Dan aku merasakan sesuatu di dadaku jatuh, karena aku sudah pernah mendengar kalimat itu sebelumnya, dengan susunan yang hampir sama persis, di kursi plastik Warung Bu Tin pada bulan September.

“Aku mikirin ini dari bulan Januari,” lanjutnya. “Sebelas bulan. Aku motret halaman sebelas tanggal delapan Januari dan aku nggak ngapa-ngapain selama sebelas bulan.”

“Nad—“

“Mas tahu kenapa aku diem sebelas bulan?”

Aku tidak menjawab.

“Karena aku lapor ke Mas, dan Mas bilang nanti dicek, dan aku mikir: ya udah, berarti nggak penting.” Dia meletakkan gelasnya. “Aku empat semester ngerjain apa yang disuruh sambil nunggu ada yang bilang aku boleh berhenti nunggu.”


Aku duduk di warung burjo itu dan tidak punya satu pun kalimat.

“Mas, aku mau ngomong satu hal dan habis ini aku pulang.”

“Iya.”

“Mas sama Mbak Grace itu mirip. Mirip banget. Mas nggak sadar.”

Aku mengangkat kepala.

“Mbak Grace nggak bisa terima apa-apa,” katanya. “Aku ketemu dia sekali bulan Mei, di kantin Farmasi, satu jam. Aku kasih dia kertas resep tulisan tangan dan dia megang kertas itu kayak megang tagihan. Dia nggak bisa bilang makasih. Dia harus mikir dulu tiga detik.”

“Iya.”

“Dan Mas nggak bisa minta apa-apa.” Dia mengangkat bahu. “Dua-duanya sama. Cuma arahnya beda.”

Aku menatap map plastik bening di meja.

“Terus kalian saling nutupin,” lanjutnya. “Mas ngasih terus, dia nerima terus, dan kelihatannya pas. Kelihatannya cocok banget malah.” Dia tersenyum, dan senyumnya sampai ke matanya. “Sampai ada satu hari di mana Mas yang butuh.”


“Nad.”

“Iya.”

“PKPA kamu gimana?”

Dan dia diam untuk pertama kalinya sepanjang sore itu.

“Aku udah tarik,” katanya.

“Apa?”

“Surat rekomendasinya. Yang ke distributor di Semarang.” Dia memutar gelasnya. “Aku dapat itu lewat rekomendasi alumni. Bang Yudha yang nulisin, bulan Agustus.”

Warung burjo itu jadi sangat sunyi meskipun ada empat mahasiswa main kartu di bangku sebelah.

“Nad—“

“Aku tarik hari Senin. Sendiri. Sebelum ada yang nyabut.” Dia mengangkat wajah. “Aku nggak mau besok ada yang bilang ‘dia lapor karena dendam habis rekomendasinya dicabut’. Jadi aku cabut duluan.”

“Kamu nunggu setahun buat PKPA itu.”

“Iya.”

“Kamu bisa dapet yang lain?”

“Bisa. Tahun depan. Mungkin.” Dia mengangkat bahu, dan bahunya turun lagi seperti biasa, dan tidak ada satu pun bagian dari gerakan itu yang minta dikasihani. “Mas, aku udah ngitung semuanya. Aku anak Farmasi. Ngitung dosis itu kerjaan aku.”

Dia berdiri.

“Ada yang lebih mahal dari PKPA,” katanya, sambil menyampirkan tas. “Kalau gedung itu dibuka lagi tanpa diperiksa bener, terus dipakai wisuda lagi tahun depan, terus enam ratus orang berdiri di dalamnya.”


Dia sudah tiga langkah dari meja waktu aku memanggil.

“Nad.”

Dia berbalik.

“Kenapa kamu ke aku dulu? Kenapa nggak langsung ke Poros?”

Dan dia menjawab dengan kalimat yang kubawa ke rumah sakit dua hari kemudian dan yang masih kubawa sampai sekarang.

“Karena nama Mas ada di dalamnya,” katanya. “Dan aku nggak mau ada orang yang tahu belakangan.”

Dia memasukkan tangannya ke saku jaket.

“Aku empat semester tahu semua hal tentang Mas dari luar, tanpa Mas pernah dikasih tahu.” Dia mengangkat bahu untuk terakhir kalinya sore itu. “Aku nggak mau ngulangin itu.”


Besok paginya, hari Jumat tanggal dua belas Desember, jam delapan lewat, aku berdiri di seberang gedung lembaga kemahasiswaan.

Aku tidak masuk.

Aku berdiri di trotoar di seberang jalan dengan tangan di saku, dan aku melihat Nadia Ayu Prameswari naik tangga lantai dua dengan map plastik bening di tangan dan tas kuliah di bahu dan jas lab yang belum sempat dilepas karena dia baru selesai praktikum jam tujuh.

Sendirian.

Dia tidak menoleh ke seberang jalan. Dia tidak tahu aku di sana.

Dan aku berdiri di trotoar itu selama sekitar dua puluh menit setelah dia masuk, dan yang kurasakan bukan bangga, dan bukan lega, dan bukan takut.

Yang kurasakan adalah sesuatu yang jauh lebih memalukan dan jauh lebih tepat:

Aku merasa jadi orang paling lambat di kampus itu.

Empat semester, ada satu orang yang membaca setiap halaman lampiran yang tidak dibaca siapa pun, yang mencatat setiap orang yang tidak bisa makan siang, yang tanda tangannya ada di bawah delapan puluh satu lembar yang tidak pernah dia keberatan tanda tangani karena dia selalu meminta buktinya lebih dulu.

Dan selama empat semester itu, satu-satunya hal yang pernah kukatakan kepadanya tentang pekerjaannya adalah nanti dicek.


Aku menelepon Grace malam itu juga, tanggal sebelas Desember, jam sembilan.

Kami belum bicara sejak tanggal delapan, sejak malam di kamar tiga kali tiga, sejak kalimat tentang berhenti berpikir bahwa melindungi itu artinya pergi.

Dia mengangkat di dering pertama.

“Van.”

“Nadia besok ke Poros.”

Sunyi di sambungan itu selama beberapa detik.

“Aku tahu,” katanya. “Dia yang telepon aku jam tujuh.”

“Oh.”

“Van.”

“Iya.”

“Kamu nyoba nyegah dia nggak?”

Dan aku duduk di lantai kamar kos di Pogung dengan ponsel di telinga dan aku menjawab jujur, karena aku sudah terlalu capek untuk hal lain.

“Iya.”

“Berapa lama?”

“Sekitar dua menit.”

“Terus?”

“Terus dia bilang aku baru tahu lima menit yang lalu.” Aku menekan pangkal hidungku. “Ace, dia bilang persis kayak kamu. Susunannya beda tapi isinya sama.”

Dia tidak menjawab selama beberapa saat.

“Van, kamu makan?”

“Iya.”

“Beneran?”

“Iya.”

Dan itu bohong, dan dia tahu itu bohong, dan tidak ada satu pun dari kami yang punya tenaga untuk melanjutkannya malam itu.


Poros menurunkan tulisan lanjutan tanggal lima belas Desember, jam enam pagi.

Judulnya lebih pendek dari yang pertama.

Enam Belas Digit

Sasa menulis dua kalimat di paragraf ketiga yang membuatku harus menaruh ponsel dan berjalan keluar kamar:

Dokumen ini diserahkan secara sukarela oleh mantan Sekretaris BEM Fakultas Teknik, yang namanya tercantum sebagai penyusun pada seluruh delapan puluh satu lembar tersebut. Yang bersangkutan meminta agar namanya ditulis lengkap.

Yang bersangkutan meminta agar namanya ditulis lengkap.


Tanggal enam belas, dia dipanggil Bagian Kemahasiswaan untuk kedua kalinya.

Tanggal tujuh belas, ada surat dari kuasa hukum yang ditujukan kepada Poros, dua halaman, yang menyebut nama Nadia empat kali.

Tanggal delapan belas, Dinas Pekerjaan Umum kabupaten mengumumkan pemeriksaan struktur menyeluruh terhadap Gedung Serba Guna Uniwira oleh pihak ketiga yang tidak berafiliasi.

Bukan audit internal kampus.

Pihak ketiga.

Enam belas digit itu yang membukanya. Bukan seratus empat belas lembar. Bukan tujuh halaman pernyataanku. Bukan sebelas titik pengukuran lendutan yang kuukur sendiri setahun lalu dan kubuang.

Enam belas digit yang dikumpulkan selama tiga tahun oleh seorang mahasiswa Farmasi yang tidak mau menandatangani sesuatu yang tidak dia lihat sendiri.


Aku tidak tidur pada tanggal dua belas, tiga belas, atau empat belas Desember.

Bukan karena berita.

Tanggal dua belas malam, bapakku menelepon jam sembilan.

Beliau bertanya apakah aku sudah makan. Beliau bertanya apakah aku sudah dapat pekerjaan. Beliau bercerita bahwa atap dapur rumah bocor lagi di sudut yang sama seperti tahun lalu.

Lalu beliau bilang, dengan nada yang persis sama, tanpa jeda sedikit pun:

“Kemarin ada yang ke rumah, Le. Nanya kamu.”

Aku memegang ponsel di tangan kanan dan aku merasakan tangan kiriku mulai bergerak sendiri di paha.

“Siapa, Pak?”

“Nggak ngasih nama. Dua orang. Sopan kok, dikasih minum.” Beliau berdeham. “Cuma nanya kamu sekarang kerja di mana.”

“Bapak jawab?”

“Bapak bilang belum kerja.”

Sunyi di sambungan telepon itu berlangsung sekitar empat detik.

“Le.”

“Nggih, Pak.”

“Kamu ada masalah?”

Dan aku duduk di lantai kamar kos tiga kali tiga di Pogung, lantai bawah, dekat selokan, dengan lampu tidur menyala menghadap dinding dan lakban dua lapis di lubang angin, pada malam tanggal dua belas Desember jam sembilan lewat.

Dan aku bilang:

“Nggak, Pak.”

Aku bilang tidak.

Kepada laki-laki yang tidak pernah sekali pun dalam dua puluh dua tahun bertanya apakah aku punya masalah.

Aku bilang tidak, dan aku menutup telepon, dan aku duduk di lantai selama empat jam dengan punggung ke sisi kasur dan tangan kiri menekan perut di titik yang sudah kuhafal.

Empat. Tahan tujuh. Buang delapan.

Empat. Tahan tujuh. Buang delapan.

Aku berhasil malam itu.

Dan besok malamnya, dan malam sesudahnya.

Dan pada malam tanggal empat belas Desember, aku tidak berhasil.