Chapter Four
Sing Sabar
Kami datang ke rumah Mbah Warsih sore itu, membawa dua hal: setengah gelang masing-masing, dan sebuah daftar pertanyaan yang kami susun berdua di belakang posko seperti dua orang yang akan menghadapi sidang.
Daftarnya ada sebelas nomor. Ditulis tangan olehku, dinomori ulang olehnya karena urutanku “tidak logis”.
Kami memakai enam nomor. Itu pun kebanyakan.
Mbah Warsih menerima kami di amben depan, di bawah atap yang menjorok, dengan cobek kecil berisi sirih di pangkuannya. Beliau menyodorkan teh. Tehnya manis sekali, jenis manis yang membuat gigi belakangmu protes, dan aku meminumnya sampai habis karena aku dibesarkan dengan cara tertentu.
“Mbah,” kata Ketua di sebelahku, dan aku bisa mendengar dia menyusun kalimatnya di kepala sebelum mengeluarkannya, “soal gelang yang kemarin.”
“Iyo.”
“Kami mau tanya. Gelang itu dari siapa, Mbah? Punya siapa?”
Beliau mengunyah. Melihat ke halaman. Ada ayam.
“Wis ket mbiyen ana,” katanya. Sudah dari dulu ada.
“Dari sebelum Mbah?”
“Sakdurunge mbahmu.”
Itu bukan jawaban. Itu cara halus mengatakan bahwa pertanyaannya salah.
Aku mengambil alih, karena aku memang tidak sabaran dan karena tiga semester di pers mahasiswa mengajariku satu hal: kalau narasumber menghindar, jangan diperhalus, dipersempit.
“Mbah, saya langsung saja.” Aku meletakkan setengah gelangku di amben, di antara kami. “Sejak gelang ini patah, kami berdua kena sesuatu. Kalau saya takut, dia langsung ada di depan saya. Dari mana pun. Dan dia nggak bisa pulang sampai saya tenang.”
Aku menunggu.
Aku menunggu beliau kaget. Aku menunggu beliau bilang ojo ngawur, Nduk. Aku menunggu beliau tertawa, atau bingung, atau memanggil anaknya.
Mbah Warsih melihat gelang itu sebentar.
Lalu beliau mengangguk. Sekali. Pelan. Seperti orang yang diberi tahu bahwa hujan akan turun sore ini.
Dan sesuatu di dadaku jatuh sangat, sangat dalam.
Karena selama dua hari terakhir, di suatu ruang kecil di kepalaku yang tidak pernah kuakui, aku masih menyimpan kemungkinan bahwa ini semua kesalahan besar. Bahwa akan ada orang dewasa yang mendengar ceritaku lalu bilang: itu tidak masuk akal, Nak.
Beliau tidak bilang begitu.
Beliau bilang, “Loro-lorone?”
Berdua?
“Nggih,” kataku. “Berdua.”
“Sing metu sopo?” — Yang keluar siapa?
Aku tidak mengerti maksudnya. Ketua yang mengerti duluan, seperti biasa, dan itu selalu menyebalkan.
“Saya, Mbah,” katanya. “Yang ketarik saya. Selalu saya.”
Mbah Warsih mengunyah lagi. Ada jeda panjang. Ayam di halaman menemukan sesuatu dan sangat puas dengan dirinya sendiri.
“Yo wis kuwi,” kata beliau akhirnya. “Sing siji nunggu, sing siji teka.”
Satu menunggu, satu datang.
“Sampai kapan, Mbah?” tanyaku.
“Nganti wis ora perlu.”
Sampai sudah tidak perlu.
“Nggak perlu gimana?” Suaraku naik sedikit, dan aku menyesalinya begitu keluar, karena aku sedang bicara pada perempuan berumur delapan puluhan yang tidak berutang penjelasan apa-apa padaku. “Maaf, Mbah. Maksud saya — apa yang harus kami lakukan supaya berhenti? Ada syaratnya? Ada yang harus dibaca? Digantiin gelangnya? Kami sudah cari tukang tembaga di—“
“Nduk.”
Aku diam.
Untuk pertama kalinya sore itu, Mbah Warsih melihat langsung ke arahku. Matanya keruh di bagian tepinya, tapi tengahnya tidak.
“Gelang kuwi mung wesi,” katanya. Gelang itu cuma besi. “Sing angel dudu wesine.”
Yang susah bukan besinya.
Beliau menoleh sedikit — ke arah orang di sebelahku, lalu kembali ke arahku, dan mengucapkan satu kalimat pendek yang tidak berhenti mengejarku selama satu setengah tahun berikutnya:
“Sopo sing luwih wedi?”
Siapa yang lebih takut?
Aku menunggu lanjutannya.
Tidak ada lanjutannya.
Beliau menyodorkan teh lagi. Kami tidak berani menolak. Kami minum teh yang terlalu manis di sore yang terlalu panas, bertiga, tanpa bicara, sampai matahari turun cukup rendah untuk membuat bayangan pagar jadi panjang.
Waktu kami pamit, beliau mengantar sampai ke pintu pagar, yang beliau tidak pernah lakukan untuk kelompok KKN mana pun sebelumnya.
Dan sambil memegang kayu pagar, beliau berkata — bukan kepada kami berdua, tapi kepada laki-laki di sebelahku, seperti kemarin, seperti dari awal:
“Sing sabar, Le.”
Di jalan pulang, kami tidak bicara selama dua ratus meter.
“Dia nggak tahu cara menghentikannya,” katanya akhirnya.
“Dia tahu.”
“Kalau tahu, dia bilang.”
“Dia tahu.” Aku menendang batu kapur kecil dan meleset. “Orang yang nggak tahu itu bertanya balik, Ketua. Dia nggak nanya apa-apa ke kita. Dia cuma nanya satu.”
“Siapa yang lebih takut.”
“Iya.”
Kami berjalan lagi. Bayangan kami memanjang sejajar dan aku tidak suka bagaimana bentuknya.
“Itu pertanyaan jebakan,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena nggak ada jawabannya yang enak.”
KKN selesai delapan hari kemudian.
Delapan hari itu berlalu tanpa insiden, dan aku sekarang tahu kenapa, meskipun waktu itu aku mengira kami beruntung: karena selama delapan hari itu aku berjalan seperti orang yang membawa gelas penuh. Aku tidak menonton apa pun. Aku tidak ke kamar mandi malam-malam. Aku tidur dengan lampu menyala dan Sasa mengira aku mulai takut gelap, dan aku membiarkan dia mengira begitu.
Delapan hari tanpa panik adalah delapan hari paling melelahkan yang pernah kualami.
Waktu itu aku belum tahu bahwa ini akan jadi kemampuan yang sangat berguna nanti. Dan aku belum tahu bahwa nanti bukan aku yang memakainya.
Malam terakhir, kami membuat kesepakatan.
Bukan Perjanjian Damai — itu belum. Ini versi lisan, di belakang posko, sepuluh menit sebelum semua orang tidur.
“Aturannya sederhana,” katanya. “Kita nggak ketemu.”
“Setuju.”
“Kamu di FISIP, aku di Teknik. Beda gedung, beda jam, beda kantin.”
“Setuju.”
“Kalau ada forum bersama, salah satu nggak datang. Gantian.”
“Setuju.” Aku melipat tangan. “Dan satu lagi. Poros tetap terbit.”
Dia diam sebentar. “Aku nggak minta itu berhenti.”
“Aku tahu. Aku cuma mau kamu dengar aku bilang.”
“Aku dengar.”
Kami berjabat tangan. Itu jabat tangan paling formal dalam sejarah dua orang berumur dua puluh satu tahun. Dua detik, kaku, seperti serah terima jabatan.
Dan besoknya bus penarikan datang, dan Sumberwangi mengecil di kaca belakang, dan aku tidur sepanjang jalan dengan setengah gelang tembaga di kantong dalam tas, dan aku bangun di Yogya dengan perasaan yang paling mendekati kata lega yang pernah kupunya.
Karena inilah alasan yang paling masuk akal, dan aku memegangnya erat-erat selama dua minggu:
Semua ini terjadi di sana.
Di desa itu. Di gudang itu. Di tanah kapur, di bawah atap seng, di dekat rumah perempuan tua yang mengunyah sirih. Hal-hal seperti ini punya wilayah. Semua orang tahu itu. Kamu pulang, kamu mandi, kamu kembali ke kota yang punya lampu jalan dan indomaret dua puluh empat jam, dan hal-hal seperti itu tidak ikut.
Dua minggu.
Selama dua minggu aku benar.
Dua minggu itu bahkan menyenangkan, kalau aku jujur. Semester tujuh dimulai. Aku kembali ke ruang redaksi yang bau kopi tumpah dan tinta printer, aku memaki rapat perdana karena setengah anggota tidak baca notulen, aku menagih dua tulisan yang telat, dan aku merasa jadi diriku sendiri lagi untuk pertama kalinya sejak Juli.
Aku bahkan sempat berjalan melewati Fakultas Teknik dua kali. Sengaja. Untuk menguji sesuatu yang tidak akan pernah kuakui sedang kuuji.
Tidak ada apa-apa. Cuma gedung. Cuma mahasiswa. Cuma spanduk kegiatan yang hurufnya terlalu besar.
Sekali, dari kejauhan, aku melihat jaket almamater yang dikancing sampai atas berjalan cepat menuju gedung dekanat sambil bicara di telepon. Aku berhenti selama mungkin dua detik.
Lalu aku berbelok, dan aku pulang, dan malamnya aku menulis draf pertama untuk edisi September, dan judulnya tidak ramah sama sekali.
Itulah bentuk kesembuhanku waktu itu. Kembali membencinya dengan cara yang lama. Cara yang wajar. Cara yang tidak memerlukan penjelasan.
Malam itu tanggal dua belas, hari Selasa, dan aku ingat karena besoknya rapat redaksi pertama semester tujuh.
Aku di kamar kos, lantai dua, sendirian. Sasa pulang kampung sampai akhir minggu. Kos Melati Dua di bulan-bulan begini selalu setengah kosong.
Jam sembilan lewat. Aku sedang menyetrika, karena aku selalu menunda menyetrika sampai tidak ada lagi yang bisa dipakai.
Yang pertama kudengar bunyi pop.
Bukan keras. Bunyi kecil, seperti bohlam. Lalu lampu kamar mati, lalu setrikanya berhenti, dan di kegelapan itu ada cahaya jingga kecil berkedip di stopkontak dekat lemari.
Dan bau.
Bau plastik terbakar itu jenis bau yang tidak perlu diajarkan kepada siapa pun. Tubuhmu tahu duluan.
Aku berdiri di tengah kamar dengan setrika masih di tangan, dan aku bisa bilang bahwa aku bertindak cepat dan rasional, tapi kebenarannya adalah aku berdiri di sana selama mungkin empat detik penuh sambil memikirkan satu kata berulang-ulang: lantai dua, lantai dua, lantai dua.
Aku ingat pintu kamarnya seret. Aku ingat tangga cuma satu.
Jantungku naik ke leher persis seperti malam di halaman itu.
Dan ruang di depan lemari terisi.
Dia berdiri di kamarku, di Karangmalang, di kota yang berjarak seratus dua puluh kilometer dari tempatnya seharusnya berada, dengan kaus rumahan dan celana pendek.
Di tangan kirinya, piring.
Piring beling putih dengan nasi, telur dadar, dan sambal yang bahkan dari jarak dua meter membuat mataku perih.
Di tangan kanannya, sendok. Setengah jalan ke mulut.
Kami saling menatap.
Sambalnya menetes ke lantai kamarku.
“Ada yang kebakar,” kataku.
Dia tidak bertanya apa-apa. Itu satu hal yang harus kuakui tentang dia, dan aku sudah berhenti mencoba tidak mengakuinya: dia tidak pernah membuang waktu untuk bertanya kok bisa di saat yang salah.
Dia meletakkan piring di meja belajarku — meletakkan, bukan membanting, masih sempat mencari permukaan yang datar — lalu berjalan ke stopkontak, menarik steker setrika dengan lap kain yang dia sambar dari punggung kursi, dan mencabut sekring di kotak MCB dekat pintu.
Cahaya jingga itu mati.
Baunya tetap ada. Baunya bertahan tiga hari.
“Kabelnya getas,” katanya, sambil menunduk. “Ini kos berapa tahun?”
“Aku nggak tahu.”
“Besok minta ganti.”
“Aku nggak tahu.”
“Grace.” Dia berbalik, dan mungkin karena gelap, mungkin karena aku sudah tidak punya tenaga untuk berpura-pura, aku membiarkan diriku terdengar seperti apa adanya. “Napas.”
“Kamu di Semarang.”
“Iya.”
“Kamu di Semarang.”
“Iya.”
“Seratus dua puluh kilometer.” Suaraku pecah di angka. “Aku udah ngitung. Aku udah ngitung dari kemarin, aku pikir kalau cukup jauh—“
“Aku juga ngitung.”
Itu yang membuatku berhenti.
Aku menatapnya di kegelapan kamar kos yang bau plastik terbakar, dan aku sadar bahwa selama dua minggu ini, sementara aku memegang erat-erat teoriku tentang wilayah dan tanah kapur dan hal-hal yang tidak ikut pulang, ada orang lain di kota lain yang memegang teori yang sama persis, sama eratnya, dengan alasan yang sama persis.
Dan kami berdua salah.
Dia tidak menyentuhku malam itu. Dia berdiri di dekat jendela, membukanya lebar-lebar supaya baunya keluar, dan menghitung dari sana, empat-tujuh-delapan, sampai suaranya sendiri terdengar capek.
Butuh dua puluh menit.
Dua puluh menit itu tidak sunyi. Aku bicara hampir sepanjang waktu, dan aku tidak ingat setengahnya. Aku ingat aku menuduhnya membawa sesuatu dari desa. Aku ingat aku bertanya apakah dia sudah mencoba membuang gelangnya, dan dia menjawab sudah, ke selokan belakang rumahnya, hari kedua di Semarang, dan dia mengambilnya kembali dua jam kemudian karena tidak ada apa pun yang berubah.
Aku ingat aku bertanya, “Kamu takut nggak?”
Dan aku ingat dia butuh waktu lama untuk menjawab, dan yang keluar bukan iya atau tidak.
“Aku lagi ngatur napas kamu,” katanya. “Nanti aja.”
Waktu logam itu memanas, dia sudah duduk di lantai dengan punggung di dinding, dan dia sempat berkata satu kalimat sebelum jeda tiga detik itu habis:
“Besok kita bikin aturan tertulis.”
Lalu dia hilang.
Aku sendirian di kamar gelap dengan bau kabel terbakar, satu setrika yang tidak akan pernah kupakai lagi, dan sepiring nasi dengan telur dadar dan sambal yang masih mengepul di atas meja belajarku.
Aku duduk memandanginya lama sekali.
Sambalnya banyak. Terlalu banyak. Jenis orang yang menyendok sambal sebanyak itu adalah jenis orang yang tidak pernah membayangkan ada orang lain akan melihat piringnya, dan entah kenapa itu terasa seperti sesuatu yang tidak seharusnya kuketahui tentang seseorang yang kutulis dua halaman setiap bulan.
Lalu — dan aku tidak akan pernah bisa menjelaskan kenapa, dan aku tidak pernah menceritakan bagian ini kepada siapa pun, termasuk kepada dia, sampai sangat lama kemudian — aku menutup piring itu dengan tudung saji kecil di atas lemari.
Supaya tidak dingin.
Untuk orang yang sudah tidak ada di kota ini.
- 1 Gudang yang Tidak Ada Isinya
- 2 Pukul Dua Pagi
- 3 Hipotesis
- 4 Sing Sabar reading
- 5 Materai Enam Ribu
- 6 Pasal Satu
- 7 Bab Tiga
- 8 Level Nol
- 9 Yang Terbang Itu
- 10 Tidak Bisa Dibohongi
- 11 Kamis
- 12 Jam Tujuh, Volume Kecil
- 13 Yang Sudah Tahu Duluan
- 14 Dua Gelas
- 15 Mati Lampu
- 16 Sengaja
- 17 Hal-hal yang Tidak Dilaporkan
- 18 Teori Dimas
- 19 Bebek
- 20 Kencan yang Batal Tiga Kali
- 21 Tanpa Sambal
- 22 Melanggar Pasal Satu
- 23 Semarang
- 24 Tiga Detik
- 25 Klaten
- 26 Obat Maag dari Farmasi
- 27 Rapat Gabungan
- 28 Pasal Delapan
- 29 Boncengan Enam Puluh
- 30 Amplop Cokelat
- 31 Nama yang Salah
- 32 Orang yang Mengajari Aku
- 33 Terbit
- 34 Lampu Belakang
- 35 Menahan
- 36 Gelas yang Dingin
- 37 Yang Menandatangani
- 38 Dua-duanya
- 39 Pasal Tiga Belas
- 40 Empat Puluh Menit
- 41 Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas
- 42 Extra 02 — Tembaga Hijau