Chapter Twenty Five

Klaten

Dia mengajakku tanggal dua puluh empat Mei, lewat pesan, jam sebelas malam, dengan cara yang khas sekali:

van

Iya.

minggu besok kosong nggak

Kosong.

ke klaten yuk

Lalu, empat menit kemudian, sebelum aku sempat membalas:

nggak usah kalau ribet serius nggak usah aku cuma nanya

Aku menatap tiga baris itu cukup lama.

Sembilan bulan aku mengenal orang ini. Dia sudah menyuruhku turun dari kursi, mengusir kecoak untukku, membentakku di lorong Gedung C, dan mengoreksi kalimatku di depan tiga penguji.

Ini pertama kalinya dia meminta sesuatu.

Dan dia menariknya kembali dalam empat menit.

Aku ikut.

beneran?

Iya.

oke jam 7 di stasiun tugu jangan pakai kemeja


Dia memakai kemeja.

Aku mencatat ketidakadilan itu untuk sejarah.

KRL Yogyakarta–Klaten berangkat jam tujuh dua puluh dan sampai empat puluh menit kemudian, dan selama empat puluh menit itu dia tidak banyak bicara.

Dia bicara tentang jadwal kereta. Tentang harga tiket yang naik dua ribu. Tentang orang di seberang gerbong yang membawa ayam hidup dalam keranjang.

Tidak tentang ke mana kami pergi.

Aku tidak bertanya.

Aku sudah belajar sesuatu selama sembilan bulan terakhir, dan pelajaran itu mahal harganya, dan pelajaran itu berbunyi: kalau kamu bertanya terlalu cepat, dia akan menjawab dengan hal yang paling aman. Kalau kamu diam cukup lama, dia akan cerita sendiri.

Di menit ketiga puluh dua, kereta melewati sawah yang panjang sekali, dan dia bilang, ke arah jendela:

“Bapakku meninggal di rumah. Bukan di rumah sakit.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu boleh nanya,” katanya.

“Kamu mau aku nanya?”

Dia menoleh.

Dan aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya — sesuatu yang mirip dengan apa yang kulihat di anak tangga gedung terkunci dua minggu sebelumnya.

“Nanti,” katanya. “Di sana aja.”


Rumahnya di pinggir desa, sepuluh menit naik ojek dari stasiun, dengan pagar besi yang catnya sudah mengelupas dan halaman yang lebih luas daripada yang kubayangkan.

Ibunya menunggu di teras.

Perempuan berumur lima puluhan, kecil, dengan cara berdiri yang sama persis seperti anaknya — bahu tegak, dagu sedikit naik, tangan tidak pernah tahu mau ditaruh di mana.

“Ini Rayyan, Bu.”

“Ibu tahu.”

“Bu—“

“Ibu tahu,” ulang beliau, sambil menyalami tanganku. “Kamu itu tiap Minggu ditelepon Ibu, tiap Minggu ceritanya kampus, kampus, kampus. Terus tiga bulan terakhir ada satu nama yang nyempil terus.”

“Bu.”

“Masuk. Ibu udah bikin soto.”

Aku menoleh ke arah orang di sebelahku dan mendapati wajahnya berwarna yang belum pernah kulihat sebelumnya, dan aku memutuskan untuk tidak berkomentar sama sekali, karena aku ingin hidup.


Rumah itu punya satu ruangan tengah, dua kamar, dan dapur yang menghadap ke halaman belakang.

Di halaman belakang ada kandang.

Kandang ayam, kayu, sudah miring, jelas tidak dipakai bertahun-tahun. Atapnya seng yang sudah berlubang. Di salah satu tiangnya, ada tulisan tangan dengan cat putih yang sudah pudar sampai hampir tidak terbaca:

SENIN — SELASA — RABU — KAMIS — JUMAT — SABTU — MINGGU — SENIN 2 — SENIN 3 — SENIN 4

Sepuluh.

“Sebelas,” kataku.

Ibunya menoleh dari dapur. “Apa, Nak?”

“Ayamnya sebelas, Bu?”

Beliau meletakkan sendok.

“Sebelas,” kata beliau. “Yang satu nggak ditulis karena bapaknya kehabisan cat.”

“Namanya apa?”

“Senin Lima.” Beliau tertawa. “Bapaknya bilang nanti dicat. Nggak pernah dicat.”

Dan aku berdiri di dapur rumah orang di Klaten pada pukul sepuluh pagi hari Minggu, di depan kandang ayam kosong yang sudah miring, sambil menyadari bahwa aku sedang menyimpan potongan-potongan seseorang seperti orang menyimpan struk belanja.


Ibunya bercerita di dapur sementara anaknya mandi.

Aku tidak memancing. Aku ingin mencatat itu. Aku duduk di kursi plastik dan beliau bercerita sambil menggoreng kerupuk, dan tidak ada satu pun pertanyaan yang kuajukan.

“Sakit apa, Bu?” — oke, satu.

“Jantung.” Beliau membalik kerupuk. “Serangan. Di kursi itu.” Beliau menunjuk kursi rotan di ruang tengah dengan sudut sendok. “Jam tiga sore. Ibu lagi di sekolah.”

“Innalillahi.”

“Sudah lama, Nak. Sembilan tahun.”

Minyak berdesis.

“Yang bikin Ibu nggak bisa tidur sampai sekarang bukan itu,” lanjut beliau. “Bukan hari itu.”

Aku menunggu.

“Tiga minggu sebelumnya, bapaknya ngeluh dadanya sakit.”

Sendok itu berhenti bergerak.

“Ibu tanya, kenapa? Dia bilang masuk angin. Ibu tanya lagi besoknya, dia bilang kecapekan. Ibu suruh ke puskesmas, dia bilang iya besok.” Beliau mengangkat kerupuk ke atas saringan. “Tiga minggu, Nak. Tiap hari Ibu tanya, tiap hari dia jawab yang enak-enak.”

“Kenapa?”

“Karena Ibu lagi ujian sertifikasi guru waktu itu.” Beliau meletakkan saringan. “Dia nggak mau Ibu mikir yang lain.”

Kerupuk itu berbunyi di atas kertas minyak.

“Dia nggak bohong buat dirinya sendiri,” kata beliau. “Dia bohong buat Ibu. Itu yang bikin nggak bisa dimaafkan sampai sekarang.”

Aku duduk di kursi plastik itu dan tidak mengatakan apa-apa.

Kamar mandi di belakang berhenti berbunyi.

Dan Ibu itu berbalik ke arahku — dan aku bersumpah, sampai hari ini, bahwa beliau menunggu momen itu, bahwa seluruh percakapan tadi disusun untuk sampai ke kalimat berikutnya:

“Anak Ibu nggak bisa dibohongin dua kali, Nak.”

“Nggih, Bu.”

“Ibu nggak lagi nasihatin kamu.”

“Nggih, Bu.”

“Ibu lagi ngasih tahu.” Beliau kembali menghadap wajan. “Kalau kamu punya apa-apa, bilang. Walaupun jelek. Walaupun dia jadi kepikiran. Dia lebih kuat mikirin daripada nggak dikasih tahu.”


Sebelum kami berangkat ke makam, dia menunjukkan sesuatu kepadaku.

Kamar depan, sisi kiri, di dinding dekat jendela. Ada garis-garis pensil dengan tanggal di sebelahnya, memanjang dari setinggi lutut sampai setinggi bahuku.

Garis terakhir bertanggal bulan Februari sembilan tahun lalu.

“Berhenti di situ,” katanya, sambil menunjuk. “Aku masih tumbuh lima senti setelahnya. Nggak ada yang ngukur.”

“Ibumu nggak?”

“Ibu nggak bisa.” Dia mengusap dinding itu dengan ibu jari. “Yang ngukur selalu bapakku. Ibu nggak pernah mau ambil alih. Katanya itu bagiannya bapakku.”

Aku berdiri di depan dinding itu dan aku menghitung garisnya. Empat belas.

Dan aku memikirkan sesuatu yang tidak kukatakan waktu itu, dan yang baru bisa kukatakan bertahun-tahun kemudian:

Ada rumah di mana orang berhenti melakukan hal-hal kecil karena hal-hal kecil itu terlalu berat kalau dilakukan sendirian.

Makamnya di pemakaman desa, dua ratus meter dari rumah, di bawah pohon kamboja yang bunganya berserakan di mana-mana.

Kami jalan kaki.

Dia membawa satu botol air mineral dan tidak membawa bunga, dan waktu aku bertanya beliau bilang bapaknya tidak suka bunga, bapaknya bilang bunga itu pemborosan.

Aku berdiri tiga langkah di belakang.

Dan yang terjadi berikutnya bukan yang kubayangkan sepanjang perjalanan kereta.

Dia jongkok di sisi makam, menyiramkan air dari botol itu ke nisan, membersihkan daun-daun kamboja dengan tangan, dan mulai bicara.

“Pak. Aku Pemred sekarang. Udah dari semester lima, aku belum sempet cerita.”

Dia mengambil daun yang menyangkut di sudut nisan.

“Poros hampir dibubarin tahun lalu. Nggak jadi. Ada yang nggak mau tanda tangan.” Dia melemparkan daun itu ke pinggir. “Aku sidang bulan Juli. Bab empatnya masih berantakan. Ibu udah tahu.”

Angin. Bunga kamboja jatuh.

“Kandang ayamnya udah miring, Pak. Atapnya bolong. Ibu nggak mau dibongkar.”

Dia diam sebentar.

“Aku bawa orang.”

Aku menegakkan punggung.

“Namanya Rayyan. Anak Teknik. Aku dulu nulis jelek tentang dia tiga puluh empat kali.” Dia menyeka nisan itu dengan lengan bajunya. “Sekarang nggak. Ya... sekarang nggak.”

Dan itu saja.

Tidak ada tangis. Tidak ada pidato. Tidak ada satu pun kalimat besar.

Dia bicara kepada ayahnya seperti orang menelepon rumah pada hari Minggu — laporan singkat, hal-hal kecil, tidak ada yang penting, semuanya penting.

Berapa lama dia sudah melakukan ini sendirian.

Sembilan tahun.


Dia berdiri sekitar dua puluh menit kemudian.

Dan waktu dia berdiri, dia tidak berbalik ke arahku. Dia berdiri menghadap nisan itu dengan punggung ke arahku, dan bahunya turun dengan cara yang sudah kuhafal, dan aku tahu apa artinya.

Aku maju tiga langkah.

Aku memeluknya dari belakang.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku ingin mencatat itu, karena selama dua puluh satu tahun aku selalu punya kalimat, dan aku selalu mengeluarkannya, dan aku sudah mulai mengerti bahwa kalimat adalah caraku kabur.

Jadi aku diam.

Aku memeluknya dari belakang di pemakaman desa di Klaten pada hari Minggu siang, dengan bunga kamboja jatuh di sekitar kami, dan aku tidak menghitung napasnya, dan aku tidak menyusun opsi, dan aku tidak melakukan satu pun hal yang berguna.

Berapa lama, aku tidak tahu.

Aku sengaja tidak menghitung.

Itu satu-satunya kali dalam hidupku aku sengaja tidak menghitung sesuatu, dan aku melakukannya karena aku tahu kalau aku menghitung, aku akan tahu kapan harus berhenti.

Kami tidak berciuman. Tidak sekali pun, sepanjang hari itu, dari jam tujuh pagi sampai jam enam sore.

Itu hari paling dekat yang pernah kami punya.


Kami makan siang bertiga di rumah.

Ibunya bertanya tiga hal kepadaku, dan ketiganya diajukan dengan nada yang sama seperti orang menanyakan cuaca, dan ketiganya adalah pertanyaan yang paling sulit yang pernah diajukan kepadaku seumur hidup.

Satu: “Bapakmu kerja apa, Nak?”

Dua: “Kamu anak keberapa?”

Tiga: “Kalau lulus mau ke mana?”

Aku menjawab ketiganya dengan jujur, dan pada pertanyaan ketiga aku menjawab bahwa aku belum tahu, dan beliau mengangguk dan bilang, “Nggak apa-apa. Yang penting jangan bohong soal itu.”

Aku menoleh ke arah orang di sebelahku.

Dia sedang menatap piringnya dengan tekun sekali.


Di kereta pulang, dia tidur di bahuku sejak stasiun pertama.

Gerbongnya setengah kosong. Matahari sore masuk dari sisi barat dan bergerak di lantai setiap kali kereta berbelok.

Dan aku duduk di sana selama empat puluh menit dengan kepala orang lain di bahuku, tidak bisa bergerak, tidak bisa mengambil ponsel, tidak bisa melakukan apa pun kecuali berpikir.

Dan yang kupikirkan salah.

Aku ingin menuliskan bagian ini dengan hati-hati, karena bagian inilah yang menghancurkan segalanya enam bulan kemudian, dan aku tidak mau ada yang mengira aku tidak tahu apa yang kulakukan.

Aku tahu persis apa yang kulakukan.

Aku duduk di gerbong KRL Klaten–Yogyakarta, dengan sisa suara ibunya di kepalaku — dia bohong buat Ibu, itu yang bikin nggak bisa dimaafkan sampai sekarang — dan aku mengambil kesimpulan yang persis terbalik.

Aku tidak menyimpulkan: jangan sembunyikan apa pun darinya.

Aku menyimpulkan: jangan pernah jadi orang yang bikin dia kehilangan lagi.

Dua kalimat itu terdengar mirip. Dua kalimat itu bahkan terasa mirip, dari dalam, di gerbong kereta, pada sore hari di bulan Mei.

Yang pertama artinya: kalau aku sakit, aku bilang.

Yang kedua artinya: kalau aku sakit, aku pastikan dia tidak pernah tahu.

Aku memilih yang kedua di gerbong itu, tanpa menyadarinya, tanpa satu pun tanda peringatan, dengan kepalanya di bahuku dan matahari sore bergerak di lantai.

Dan aku merasa sangat baik tentang diriku sendiri.


Dia bangun waktu kereta memasuki Lempuyangan.

“Kita di mana?”

“Hampir sampai.”

“Aku ngiler?”

“Nggak.”

“Kamu bohong.”

“Aku bohong,” kataku.

Dia mengusap bahuku dengan lengan bajunya, dengan sangat tidak niat, dan menguap.

“Van.”

“Hm.”

“Makasih ya.”

Aku menoleh.

Sembilan bulan. Botol sambal yang tidak pernah disebut. Dua gelas kopi yang tidak pernah dibicarakan. Lima kali percobaan yang gagal di bulan April.

“Kamu baru aja bilang makasih,” kataku.

“Iya.”

“Kamu—“

“Jangan dibahas.” Dia menegakkan badan dan merapikan rambutnya. “Aku ngomongnya pas setengah tidur biar nggak sadar.”

“Kamu udah bangun.”

“Aku setengah.”

Kereta berhenti. Pintu terbuka.

Dan sepanjang perjalanan pulang dari stasiun, jalan kaki lewat rute yang berbeda dari rute Minggu lalu seperti yang sudah kami sepakati sejak bulan Februari, aku menyusun daftar di kepalaku.

Bukan daftar solusi kali ini.

Daftar hal-hal yang harus kupastikan tidak pernah dia ketahui.

Daftar itu masih pendek waktu itu. Cuma satu butir: tiga detik di anak tangga gedung terkunci, dan bahwa aku sudah tahu duluan, dan bahwa aku memilih diam.

Satu butir.

Aku sudah bilang di bab sebelumnya bahwa yang pertama selalu yang paling kecil.

Aku ingin sekali salah tentang itu.