Chapter Two

Pukul Dua Pagi

Yang membangunkanku bukan mimpi. Kandung kemih.

Aku tahu ini bukan pembukaan yang anggun untuk malam paling penting dalam hidupku, tapi begitulah kejadiannya, dan aku sudah terlalu tua untuk berbohong soal hal-hal kecil.

Pukul dua kurang sepuluh. Layar ponselku menyala di kegelapan seperti sesuatu yang tidak sopan. Sasa tidur telungkup dengan satu kaki keluar dari kasur. Nadia tidur telentang dengan tangan terlipat di perut, rapi, seperti orang yang bahkan dalam tidur tidak mau merepotkan siapa-siapa.

Kamar mandi ada di luar. Tentu saja ada di luar.

Aku turun dari kasur busa, menyeret sandal jepit dengan kaki, dan membuka pintu belakang sepelan mungkin. Engselnya tetap berdecit. Semua engsel di desa ini berdecit. Aku curiga itu bagian dari kebijakan keamanan.

Di luar, udara dingin. Ini yang tidak pernah dipercaya orang kota tentang Gunungkidul: siang membakar, malam menggigit. Bulan sedang tanggung, tidak bulat, tidak sabit. Halaman belakang itu tanah yang dikeraskan, sepuluh langkah ke sumur, lima langkah lagi ke kamar mandi.

Aku menyalakan senter ponsel. Delapan persen.

Aku matikan lagi.

Aku bisa sepuluh langkah tanpa senter. Aku sudah sembilan belas hari di sini.

Langkah keempat, aku dengar sesuatu di belakangku.

Bukan suara besar. Bukan langkah kaki manusia. Bunyi geseran pendek di tanah, seperti sesuatu yang menyeret dirinya sendiri, dua kali, lalu berhenti.

Aku berhenti juga.

Ada aturan tidak tertulis kalau kamu perempuan dan kamu sendirian di luar jam dua pagi: kamu tidak menoleh. Menoleh itu untuk orang di film. Kamu jalan terus, kamu percepat sedikit, kamu jangan lari karena lari membuat sesuatu di belakangmu tahu bahwa kamu tahu.

Aku jalan terus.

Bunyi itu jalan terus juga.

Dan di situ aturan tidak tertulis itu rusak, karena aku menoleh, dan senterku tidak menyala, dan yang kulihat cuma bentuk-bentuk hitam yang di siang hari adalah tumpukan kayu bakar tapi jam dua pagi adalah apa saja.

Napasku naik ke tempat yang salah. Ke leher. Ke belakang telinga.

Dan sesuatu menyentuh mata kakiku.

Sesuatu yang hangat.

Aku tidak berteriak. Ini bagian yang selalu kutekankan kalau ada yang menceritakan ulang kejadian ini dengan bumbu: aku tidak berteriak. Aku menarik napas dengan cara yang salah dan mundur dua langkah dan menabrak dinding sumur dengan pinggang, dan rasa sakit itu justru yang membuat semuanya jadi lebih buruk, karena sekarang aku sakit dan takut.

Lalu ada orang berdiri di sebelahku.

Tidak berjalan ke sana. Tidak keluar dari kegelapan. Tidak ada langkah, tidak ada bunyi, tidak ada apa pun yang bisa aku susun jadi kronologi.

Satu detik halaman itu kosong. Detik berikutnya, ada laki-laki berdiri satu setengah meter dariku, memakai sarung, tanpa baju atas selain kaus dalam, tanpa alas kaki, dengan rambut yang berantakan ke arah yang belum pernah kulihat sepanjang hidupku.

Aku berteriak.

Oke. Sekarang aku berteriak.

Tapi teriakannya tidak keluar utuh karena ada telapak tangan menutup mulutku dari samping — cepat, canggung, sama sekali tidak lembut — dan suara yang jelas-jelas kukenal berbisik dengan nada orang yang juga sedang dalam proses tidak mengerti apa-apa:

“Jangan. Nanti semua orang bangun.”

Aku melepas tangan itu dengan menepisnya keras.

“KAMU—“

“Sst.”

“Kamu ngapain di sini?!”

“Aku nggak tahu.”

“Kamu ngapain—“ Suaraku pecah di tengah. “Kamu ngintip?”

“Aku tidur.” Dia mengucapkannya seperti sedang membela diri di sidang etik. “Aku tidur, Grace. Di kamar depan. Bareng Dimas. Aku bisa panggil dia sekarang juga buat—“

Dia berhenti.

Karena dia baru menyadari sesuatu yang aku sudah sadari tiga detik lebih awal: dia tidak tahu bagaimana caranya sampai di sini.


Kucing.

Yang menyentuh mata kakiku tadi adalah kucing. Kucing kampung, oranye, kurus, yang keluar dari bawah tumpukan kayu bakar dan menatap kami berdua dengan tatapan yang jelas-jelas menganggap kami berdua tidak penting.

Kalau ini cerita yang wajar, di sinilah semuanya selesai. Aku ketakutan karena kucing, dia kebetulan bangun, kami bertengkar sedikit, lalu tidur.

Tapi dia tidak bisa pulang.

Dia mencoba. Aku melihatnya mencoba. Dia bilang “ya sudah” dengan nada orang yang ingin sekali mengakhiri percakapan ini, lalu berbalik dan berjalan ke arah kamar depan, dan aku berdiri di sana dengan napas masih di tempat yang salah, dan dia sampai di sudut rumah, dan—

Dan dia ada di depanku lagi.

Bukan berbalik. Bukan berubah pikiran.

Satu kedipan. Sudut rumah kosong. Dia di depanku.

Aku mundur sampai punggungku kena dinding sumur. Napasku berhenti bekerja sebagai napas dan mulai bekerja sebagai sesuatu yang lain.

Dia menatap tangannya sendiri.

“Aku—“ katanya. “Aku tadi di sana.”

“Kamu tadi di sana.”

“Aku jalan. Aku ingat aku jalan.”

Dia mencoba lagi. Kali ini lebih cepat, hampir setengah berlari, dan aku ingin bilang jangan, tapi aku juga ingin dia pergi, dan dua keinginan itu bertabrakan di tenggorokanku dan yang keluar cuma bunyi kecil.

Dia sampai ke pintu kamar depan. Dia bahkan sempat memegang gagangnya.

Lalu dia di halaman lagi.

Ketiga kalinya, dia tidak sampai lima langkah.

Ketiga kalinya juga, dia mulai marah — bukan padaku, itu yang aneh. Dia marah pada halamannya. Pada tanahnya. Pada arah.

“Ini nggak masuk akal,” katanya, sambil menunjuk sudut rumah seperti sudut rumah itu punya tanggung jawab hukum. “Aku jalan lurus. Aku ngitung langkahnya. Empat langkah, terus—“

“Terus kamu di sini lagi.”

“Aku nggak pindah. Aku nggak ngerasa pindah.” Dia menekan pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. “Kalau aku pindah, harusnya ada rasanya. Naik lift ada rasanya. Direm mendadak ada rasanya. Ini nggak ada apa-apa.”

“Mungkin kamu jalan tidur.”

“Aku nggak jalan tidur.”

“Kamu tahu dari mana? Orang jalan tidur nggak ada yang tahu dia jalan tidur.”

Dia membuka mulut, lalu menutupnya, dan aku merasakan kepuasan kecil yang benar-benar tidak pantas untuk situasi ini.

Lalu dia mencoba lagi.

Keempat kalinya, dua langkah.

Kelima kalinya, dia bahkan tidak sempat berbalik.

Dan begitulah kami berdua berdiri di halaman belakang rumah orang, jam dua lewat sepuluh, dengan seekor kucing oranye sebagai satu-satunya saksi, sambil menyaksikan seorang Ketua BEM Fakultas Teknik gagal berjalan menjauh dari seseorang sebanyak lima kali berturut-turut.

Jantungku semakin cepat setiap kali dia menghilang.

Dan setiap kali jantungku semakin cepat, dia kembali lebih cepat.

Butuh waktu — terlalu lama, memalukan lamanya — sebelum salah satu dari kami menyambungkan dua hal itu.

Dia yang duluan. Tentu saja dia yang duluan.

“Berhenti,” katanya.

“Apa.”

“Berhenti panik.”

“OH, IYA YA. Kenapa aku nggak kepikiran—“

“Grace.” Dia berjongkok. Itu yang membuatku diam, sebenarnya. Dia berjongkok, jadi dia lebih rendah dariku, dan aku baru tahu malam itu bahwa orang yang berjongkok jauh lebih susah ditakuti. “Dengerin aku. Setiap kali kamu takut, aku ketarik ke sini. Aku nggak bisa pergi selama kamu masih begitu.”

“Kamu nggak tahu itu.”

“Aku nggak tahu itu,” dia mengakui. “Tapi lima kali, Grace. Aku nggak percaya kebetulan lima kali.”

Aku ingin mendebat. Sungguh. Mendebat dia adalah satu-satunya olahraga yang kutekuni sejak semester tiga.

Tapi aku tidak bisa mengatur napas.

“Kamu tahu apa yang paling nggak masuk akal?” kataku, dan suaraku keluar terlalu tinggi, terlalu cepat, seperti bukan suaraku. “Dari semua orang. Dari delapan orang di posko ini. Dari dua ratus juta orang di negara ini. Kenapa harus—“

“Aku juga lagi mikirin itu.”

“Aku belum selesai.”

“Aku tahu.” Dia menghela napas, panjang, dan untuk pertama kalinya aku sadar dia juga belum tidur cukup. “Silakan selesaikan. Tapi selesaikan sambil napas.”

“Aku nggak bisa napas.”

“Itu masalahnya.”

Aku menatapnya di kegelapan dan aku benci bahwa dia benar, dan aku benci bahwa dia bahkan tidak kelihatan senang karena benar, dan aku benci bahwa satu-satunya orang yang bisa membantuku sekarang adalah orang yang bulan lalu kutulis dua halaman penuh.


Yang dia lakukan berikutnya akan dia bantah selama berbulan-bulan sesudahnya, dan aku akan terus menceritakannya persis seperti kejadiannya.

Dia bilang, “Aku pegang bahu kamu, ya.”

Bukan memegang. Bilang dulu. Minta izin, jam dua pagi, di halaman belakang, kepada orang yang tulisannya tiap bulan menghancurkan program kerjanya.

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab.

Telapak tangannya turun di bahu kiriku. Berat, tidak digerak-gerakkan, tidak diusap. Cuma ditaruh, seperti pemberat kertas.

“Tarik napas empat hitungan,” katanya. “Satu. Dua. Tiga. Empat.”

“Aku nggak—“

“Tahan tujuh. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.”

Suaranya rata. Datar. Tidak ada kelembutan sama sekali di dalamnya — itu suara orang membacakan tata tertib ujian. Dan justru karena itu, entah bagaimana, aku bisa mengikutinya.

“Buang delapan. Pelan. Sampai habis.”

Kami mengulanginya empat kali.

Telapak tangannya di bahuku selama itu. Empat detik, kalau dihitung dari kapan dia menaruhnya sampai kapan dia mengangkatnya kembali di antara hitungan — dia mengangkatnya, lalu menaruhnya lagi, seperti orang yang tidak yakin apakah dia sudah melewati batas.

Aku menghitung. Aku selalu menghitung. Empat detik, lalu dilepas, lalu empat detik lagi.

Aku ingat tangannya dingin. Untuk orang yang baru bangun tidur di bawah selimut, tangannya dingin sekali.

Nanti aku akan tahu kenapa. Nanti sekali.

Pada hitungan yang keempat, napasku turun kembali ke tempatnya. Bahuku ikut turun. Kucing oranye itu sudah pergi dari tadi, jelas menganggap kami membosankan.

Dan aku melihat wajahnya berubah.

“Panas,” katanya.

“Apa?”

Dia merogoh lipatan sarungnya dan mengeluarkan setengah gelang tembaga itu, dan bahkan dalam gelap aku bisa melihat dia memindahkannya cepat-cepat dari satu tangan ke tangan yang lain, seperti orang memegang gorengan.

Aku merogoh saku celana tidurku.

Punyaku juga panas.

“Grace,” katanya, dan ada sesuatu di suaranya yang belum pernah kudengar sebelumnya, sesuatu yang tidak tersusun, “kalau aku hilang lagi, jangan—“

Dia tidak selesai.

Ada jeda. Aku sempat menghitungnya, karena aku menghitung segala hal: satu, dua, tiga.

Di hitungan ketiga, halaman itu kosong.

Sarung, kaus dalam, rambut berantakan, tangan dingin, kalimat yang belum selesai. Hilang. Bukan memudar, bukan menipis, bukan efek film. Ada, lalu tidak.

Aku berdiri sendirian di halaman belakang rumah orang, jam dua lewat dua puluh tiga, memegang setengah gelang tembaga yang mendingin di telapak tanganku dengan kecepatan yang normal, seperti logam biasa, seperti tidak ada apa-apa.


Aku tidak jadi ke kamar mandi.

Aku duduk di bibir sumur selama entah berapa lama, dengan sandal jepit yang salah pasang dan kaki yang mulai kesemutan, sambil melakukan satu-satunya hal yang aku tahu cara melakukannya.

Aku menyusun kronologi.

Pukul 01.50 — bangun. Pukul 01.53 — keluar. Pukul 01.55 — bunyi geseran. Kucing (dikonfirmasi kemudian). Pukul 01.56 — subjek muncul. Jarak ± 1,5 meter. Tidak ada suara. Tidak ada langkah. Pukul 01.58–02.10 — lima percobaan menjauh, lima kali gagal. Pukul 02.14 — kontak fisik. Empat detik. Diulang empat kali. Pukul 02.23 — logam memanas. Jeda tiga detik. Subjek hilang.

Aku mengetiknya di ponsel dengan sisa baterai lima persen, seperti orang bodoh, seperti ini akan berguna, seperti ada redaktur di dunia ini yang mau menerima naskahnya.

Dan sesudah semuanya tersusun rapi, dua hal berputar bergantian di kepalaku, dan sampai sekarang aku tidak yakin mana yang lebih menakutkan.

Yang pertama jelas: sesuatu yang tidak masuk akal baru saja terjadi, dua kali, di depan mataku, dan aku wartawan, dan pekerjaanku adalah memeriksa hal yang tidak masuk akal sampai jadi masuk akal, dan aku tidak punya satu pun cara memeriksa yang ini.

Yang kedua, yang tidak akan pernah kutulis di mana pun:

Selama empat detik itu, aku berhenti takut.

Bukan karena kucingnya pergi. Bukan karena halamannya jadi terang. Tapi karena ada telapak tangan di bahuku dan suara yang menghitung, dan tubuhku — tubuh bodohku yang tidak pernah membaca satu pun tulisanku tentang orang ini — langsung percaya.

Aku benci itu.

Aku benci itu dengan kualitas kebencian yang belum pernah kupunya sebelumnya, karena ini bukan kebencian pada dia. Ini kebencian pada diriku sendiri, dan itu jenis yang tidak bisa diterbitkan.

Aku masuk kembali ke kamar pukul tiga kurang. Sasa masih telungkup. Nadia masih rapi.

Aku berbaring, dan aku menatap seng, dan aku memikirkan perempuan tua yang berdiri di ambang pintu gudang kemarin siang dan melirik tangan kami cuma sebentar sekali.

Beliau tidak marah karena gelangnya patah.

Beliau tidak memarahi kami sama sekali.

Aku memikirkan itu berulang-ulang sampai langit di celah seng berubah abu-abu, dan menjelang subuh aku sampai pada satu-satunya kesimpulan yang masuk akal, dan kesimpulan itu membuatku tidak bisa tidur sampai ayam pertama berbunyi:

Beliau tidak marah karena beliau tahu kami yang akan membayarnya.