Chapter Thirty One

Nama yang Salah

Aku tidak menghubunginya selama tiga hari.

Aku menuliskan itu lebih dulu supaya tidak ada yang mengira aku bertindak dengan benar. Aku tidak bertindak dengan benar. Aku melakukan hal yang paling kukuasai, yang paling nyaman, dan yang paling salah:

Aku bekerja.


Jumat, lima September.

Aku ke Dinas Pekerjaan Umum kabupaten sebelah, naik bus dua kali, memakai kemeja, membawa surat tugas dari Poros yang sudah tidak berlaku karena aku sudah bukan pengurus.

Aku tidak memalsukan apa pun. Surat itu asli, cuma tanggalnya bulan Juli.

Petugas informasinya perempuan berumur empat puluhan yang sedang makan siang di mejanya dan tidak keberatan diganggu.

“Gedung Serba Guna Uniwira, Bu. Yang tahun dua ribu dua puluh tiga.”

“Itu bukan proyek kami, Mbak. Itu di kampus.”

“Sumber dananya hibah, Bu. Ada di lampiran APBD perubahan.”

Beliau berhenti mengunyah.

Dan aku belajar sesuatu hari itu tentang cara kerja negeri ini: kalau kamu menyebutkan satu istilah yang benar, orang berhenti menganggapmu mahasiswa.

Aku pulang membawa dua lembar fotokopi dan satu nomor telepon.

Sabtu, enam September.

Aku ke lokasi.

Gedung Serba Guna Uniwira berdiri di sisi timur kampus, dua lantai, selesai dua tahun lalu, dipakai untuk wisuda dan seminar dan sesekali pernikahan anak dosen.

Aku berjalan mengelilinginya selama satu jam empat puluh menit dan memotret seratus dua puluh tiga foto.

Aku bukan anak Teknik. Aku tidak tahu apa yang kulihat.

Yang bisa kulihat, karena mata siapa pun bisa melihatnya: retak rambut memanjang di dinding sisi utara, dari lantai sampai setinggi pinggang, di empat tempat. Plafon ruang bawah yang cekung di satu titik. Dan di sudut belakang, di bagian yang tidak pernah dilewati orang karena mengarah ke tempat sampah, lantai keramiknya turun sekitar dua sentimeter dan sudah diganjal dengan semen yang jelas dikerjakan belakangan dan tidak pernah dicat.

Aku tidak tahu apakah itu berarti sesuatu.

Aku memotretnya.

Minggu, tujuh September.

Aku duduk di kamar seharian dan menyusun kronologi.

Aku selalu menyusun kronologi. Aku sudah menyusun kronologi sejak jam dua pagi di halaman posko Sumberwangi, dan aku akan menyusun kronologi sampai mati, dan itu satu-satunya cara aku bisa memegang sesuatu yang tidak bisa dipegang.

Agustus tahun lalu — mahasiswa mengajukan izin data proyek untuk skripsi. Diberikan. Oktober — sidang proposal. Penguji menyebut status audit. Sumber data diganti. Januari — sekretaris BEM melapor dua alamat vendor. Ketua bilang akan dicek. Tidak dicek. Juni — forum terbuka. Pertanyaan halaman sebelas. Dijawab dengan sangat baik oleh seorang alumni. Agustus — alumni itu menawarkan pekerjaan kepada mahasiswa itu. September — seratus empat belas lembar masuk ke kotak surat pembaca yang tiga tahun cuma diisi iklan les privat.

Aku menatap kronologi itu selama sangat lama.

Dan pertanyaan yang tidak berhenti berputar bukan apakah dia bersalah.

Pertanyaannya: kenapa sekarang?


Karena ini bagian yang tidak dimengerti orang tentang dokumen bocor.

Dokumen tidak bocor sendiri. Dokumen dibocorkan. Dan orang yang membocorkan dokumen selalu punya alasan, dan alasannya hampir tidak pernah keadilan.

Tumpukan itu bisa dikirim bulan Januari. Bisa dikirim bulan Juni, tepat setelah forum terbuka, waktu dampaknya paling besar.

Dikirim bulan September.

Enam hari setelah seseorang menerima tawaran pekerjaan.

Dua hari setelah aku berhenti jadi Pemred.

Ditujukan UNTUK PEMRED, dengan spidol, huruf balok — kepada jabatan, bukan kepada orang. Yang artinya pengirimnya tidak tahu bahwa jabatan itu sudah berpindah.

Yang artinya pengirimnya bukan orang dalam Poros. Yang artinya pengirimnya tidak mengikuti kabar lembaga kemahasiswaan secara dekat. Yang artinya pengirimnya bukan mahasiswa.

Aku menulis itu di buku catatanku hari Minggu malam, dan aku menggarisbawahinya tiga kali, dan aku merasakan sesuatu yang dingin sekali di belakang leherku.

Ada orang dewasa di luar kampus ini yang ingin sesuatu diterbitkan oleh koran mahasiswa.

Bukan koran beneran. Koran mahasiswa. Oplah lima ratus. Gratis.

Kenapa?

Aku sudah tahu jawabannya sekitar pukul sebelas malam, dan aku muntah di kamar mandi setelahnya, dan itu satu-satunya kali dalam hidupku aku muntah karena kesimpulan.

Karena kalau sesuatu terbit di koran mahasiswa dulu, sesuatu itu jadi urusan kampus.

Vendor konsumsi. LPJ lembaga. Mahasiswa yang ceroboh. Berita sepekan, dua pekan, lalu selesai dengan sanksi administratif dan surat pembinaan.

Dan begitu sudah jadi urusan kampus, dia tidak akan pernah lagi jadi urusan yang lain.

Seseorang tidak sedang membocorkan skandal.

Seseorang sedang mengecilkan skandal, dengan cara membiarkannya meledak di tempat yang paling kecil.

Dan tiga belas lembar terakhir — akta, susunan pengurus, dan surat permohonan izin data bertanda tangan mahasiswa — bukan bukti tambahan.

Itu umpan.

Itu supaya nama yang ikut terbawa bukan cuma nama perusahaan.


Ada satu hal lagi yang kulakukan hari Minggu, dan hal ini yang paling tidak bisa kumaafkan dari diriku sendiri.

Aku mengeluarkan kertas dari dompetku.

Sobekan halaman buku catatan, dilipat empat, sudah lunak di lipatannya karena empat bulan di dompet.

Aku baru saja meminta orang lain mengawasi orang yang aku sayang, tanpa memberitahu orangnya. Ini persis yang aku benci dari orang-orang yang aku tulis selama tiga tahun.

Aku menatapnya lama sekali.

Lalu aku mengambil ponsel dan mengetik pesan kepada Nadia.

nad. boleh nanya lagi?

Aku menghapusnya sebelum terkirim.

Aku mengetiknya lagi.

Aku menghapusnya lagi.

Dan aku duduk di lantai kamar hari Minggu malam sambil menyadari bahwa aku hampir menarik orang ketiga ke dalam hal ini — orang yang sudah setengah tahun berusaha keluar, yang sudah bilang dengan sopan bahwa dia selesai berbohong untuk siapa pun — hanya karena aku tidak sanggup menanggung seratus empat belas lembar sendirian.

Aku melipat kertas itu kembali dan memasukkannya ke dompet.

Tiga bulan kemudian Nadia datang sendiri, tanpa kuminta, dan aku bersyukur seumur hidupku bahwa aku tidak pernah mengirim pesan itu.


Aku sakit hari Senin dan tidak keluar kamar.

Sasa datang jam empat sore membawa bubur dan berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sudah kuhafal sejak semester dua.

“Gres.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Kamu keliatan kayak orang yang tiga hari nggak tidur.”

“Aku tidur.”

“Berapa jam?”

Aku tidak menjawab.

Dia duduk di lantai — di sudut, di tempat itu, dan sesuatu di dadaku bereaksi terhadap hal itu dengan cara yang sama sekali tidak masuk akal — dan meletakkan buburnya.

“Gres, aku mau ngomong sesuatu dan kamu jangan marah.”

“Kamu selalu bilang gitu.”

“Aku tahu kamu pacaran sama dia.”

Kamar itu jadi sangat sunyi.

“Dari bulan Februari,” lanjutnya. “Waktu kipas angin. Aku bukan bego, aku cuma nunggu kamu cerita, dan kamu nggak cerita-cerita, dan lama-lama aku mikir mungkin ada alasannya.”

Aku menatap dinding.

“Sa—“

“Aku nggak nanya sekarang.” Dia mengangkat tangan. “Aku nanya yang lain. Amplopnya ada nama dia nggak?”

Dan aku menoleh terlalu cepat, dan itu jawabannya.

Sasa menutup matanya sebentar.

“Oke,” katanya.

“Sa, dia nggak—“

“Aku belum bilang apa-apa.”

“Kamu mau bilang.”

“Aku mau bilang,” katanya, “bahwa kalau namanya ada di situ, kamu nggak bisa yang nulis.”

Aku membuka mulut.

“Bukan karena kamu nggak jujur,” lanjutnya, cepat. “Kamu orang paling jujur yang aku kenal. Justru itu. Kalau kamu yang nulis, satu-satunya cara kamu bisa buktiin kamu nggak berpihak adalah dengan nulis lebih keras dari yang perlu.”

Aku menutup mulutku.

Karena aku sudah pernah melakukan itu.

Bulan November. Halaman empat. Judul yang jahat, ditulis empat jam setelah seseorang mengusap punggungku di pelataran rektorat selama sembilan menit di depan lima belas orang.

Aku sudah pernah melakukan persis itu, dan aku tidak pernah menariknya, padahal masih sempat sampai jam dua belas.

“Terus siapa yang nulis?” kataku.

“Aku.”

“Sa—“

“Aku Pemred sekarang, Gres.” Dia berdiri. “Kamu yang naruh aku di sini. Dua hari yang lalu. Ada berita acaranya.”


“Sa.”

Dia berhenti di pintu.

“Aku belum kasih amplopnya.”

“Aku tahu.” Dia mengangkat bahu. “Kasih kalau kamu udah siap.”

“Sa, itu nggak profesional. Kamu Pemred. Itu masuk lewat kotak surat lembaga, itu punya lembaga, bukan punya aku.”

“Iya.” Dia bersandar ke kusen. “Dan kamu tetep belum ngasih.”

Kami saling menatap cukup lama.

“Gres, aku bakal nunggu tiga hari,” katanya. “Bukan karena kamu senior aku. Karena kalau aku ambil paksa hari ini, kamu bakal nyerahin sambil ngerasa dirampok, terus kamu bakal ngecek tulisanku tiap paragraf sampai terbit, terus kita berdua bakal berantem, terus tulisannya jadi jelek.”

“Tiga hari.”

“Tiga hari.” Dia mengetuk kusen dua kali dengan buku jari. “Habis itu aku ambil.”

Dan dia pergi, dan aku duduk di lantai dengan bubur yang sudah dingin, dan aku menyadari bahwa aku baru saja diberi tenggat oleh orang yang tiga tahun lalu tidak bisa menulis lead berita tanpa aku benahi.


Aku menghubunginya jam sepuluh malam.

Bukan telepon. Aku belum sanggup mendengar suaranya.

van

Iya.

besok pagi bisa? warung bu tin jam 8

Balasannya datang dalam dua belas detik.

Oke.

Dan aku menatap dua huruf itu, dan aku mengetik lagi, karena aku tidak bisa membiarkan orang berangkat ke sesuatu tanpa tahu bentuknya. Itu satu-satunya kesopanan yang tersisa yang bisa kuberikan.

van

Iya.

bawa dompet kamu

Jeda.

Kenapa.

yang isinya kertas itu

Jeda yang jauh lebih lama.

Oke.


Aku tidak tidur lagi malam itu.

Jam dua pagi aku duduk di lantai kamar dengan seratus empat belas lembar tersusun dalam empat tumpukan di depanku dan lampu belajar menyala, dan aku melakukan satu hal terakhir.

Aku mengambil lembar kedua dari bagian empat — susunan pengurus perusahaan — dan aku membacanya untuk yang keempat kalinya.

Komisaris: Ir. H. Sumarwan Ardiansyah Direktur Utama: Widya Kusumaningrum, S.T. Direktur Operasional: Yudha Ardiansyah, S.T., M.T.

Yudha Ardiansyah.

Anak dari Sumarwan Ardiansyah.

Dan aku duduk di lantai kamar kos jam dua pagi sambil memikirkan seorang laki-laki yang berdiri di aula bulan Juni dan berkata, kepada seratus dua belas orang, dengan sangat tulus:

Jangan jawab “akan kami cek”. Itu jawaban yang bikin orang curiga. Bawa dokumennya. Semua. Termasuk yang bikin kalian kelihatan berantakan.

Nasihat itu bagus.

Nasihat itu bagus sekali.

Dan aku baru mengerti jam dua pagi tanggal sembilan September bahwa nasihat itu bukan untuk BEM.

Nasihat itu untuk satu orang di ruangan itu, yang duduk di podium, yang mencatatnya, yang akan mengingatnya, dan yang enam bulan kemudian — kalau semuanya berjalan seperti yang direncanakan — akan berdiri di depan orang-orang dengan setumpuk dokumen di tangan dan berkata ini semua yang saya punya, termasuk yang bikin saya kelihatan berantakan.

Termasuk surat permohonan izin data bertanda tangan namanya sendiri.

Bang Yudha tidak sedang mengajari BEM cara menjawab pertanyaan.

Bang Yudha sedang mengajari seseorang cara menanggung.

Dan orang itu, waktu itu, tertawa dan bilang terima kasih.

Aku menutup buku catatanku jam tiga pagi.

Dan sebelum tidur — atau sebelum berbaring, karena aku tidak tidur — aku menyalakan lampu belajar sekali lagi dan menulis satu halaman terakhir.

Bukan kronologi. Bukan daftar.

Satu pertanyaan, di tengah halaman kosong, dengan huruf besar semua, dan aku menuliskannya besar-besar karena aku ingin melihatnya dari kasur:

SIAPA YANG DILINDUNGI KALAU INI TERBIT DI SINI?

Aku menatapnya sampai langit di luar berubah abu-abu.

Dan aku tidak menemukan satu pun jawaban yang di dalamnya ada namaku, atau nama Sasa, atau nama Poros, atau nama enam ratus orang yang berdiri di dalam gedung itu tiga minggu lalu.