Chapter Thirteen

Yang Sudah Tahu Duluan

Orang mengira sekretaris itu pekerjaan mencatat.

Bukan. Sekretaris itu pekerjaan mengingat.

Aku tahu siapa yang alergi udang, siapa yang tidak bisa datang hari Jumat karena antar adik, siapa yang bapaknya baru dioperasi, siapa yang sebenarnya tidak punya uang untuk iuran jaket tapi tidak mau bilang. Aku tahu semuanya, dan aku tidak pernah menuliskan satu pun dari daftar itu, karena kalau ditulis namanya jadi data, dan kalau tidak ditulis namanya jadi perhatian.

Jadi waktu orang bertanya bagaimana aku bisa tahu, jawabannya membosankan.

Aku tahu karena itu memang pekerjaanku.


Aku masuk Farmasi karena nilai, bukan karena panggilan jiwa. Aku masuk BEM Teknik karena satu hal, dan hal itu punya nama.

Hari kedua ospek fakultas, tahun pertama. Lapangan. Jam satu siang.

Aku yang pingsan.

Aku tidak pernah menceritakan itu kepada siapa pun di kepengurusan, dan aku baru menceritakannya sekarang karena sudah tidak ada gunanya lagi disimpan. Aku belum sarapan. Aku sedang datang bulan hari pertama. Aku terlalu malu untuk mengacungkan tangan dan bilang saya pusing, karena baru hari kedua dan aku belum kenal siapa-siapa dan aku tidak mau jadi anak yang merepotkan sejak awal.

Yang kuingat sesudahnya cuma potongan.

Aku ingat lantai klinik yang dingin. Aku ingat perawat yang menanyakan tanggal lahirku dan aku menjawab salah. Dan aku ingat suara laki-laki di luar tirai yang sedang bicara di telepon dengan nada yang sangat tenang dan sangat marah pada saat yang sama, mengulang alamat kampus tiga kali, mengeja nama jalannya huruf per huruf.

Empat puluh lima menit.

Aku baru tahu angka itu dua minggu kemudian, dari koran mahasiswa.

Aku membacanya di kantin dan aku menangis di kamar mandi, dan aku tidak menangis karena artikelnya jahat.

Aku menangis karena artikelnya benar.

Empat puluh lima menit memang terlalu lama. Aku memang bisa kenapa-kenapa. Dan di halaman terakhir ada satu kalimat: Ketua panitia tidak berada di lokasi saat kejadian.

Itu juga benar. Dia memang tidak di lokasi.

Dia di parkiran, mengeja nama jalan huruf per huruf, karena di lapangan tidak ada sinyal.

Dua-duanya benar. Itu yang tidak dimengerti orang tentang kejadian itu, dan itu yang membuatku, selama empat semester, tidak pernah bisa benar-benar membenci perempuan yang menulisnya.

Aku mendaftar jadi staf BEM Teknik semester dua.

Aku bilang ke semua orang alasannya karena ingin belajar organisasi.


Sekarang bagian yang lebih tidak nyaman.

Aku tahu soal kutukan itu sejak hari kesembilan belas KKN, sekitar dua belas jam sebelum keduanya tahu bahwa aku tahu.

Aku bangun jam dua pagi karena mendengar pintu belakang berdecit — semua engsel di posko itu berdecit — dan aku melihat kasur di sebelahku kosong, dan aku berdiri di ambang pintu dapur selama mungkin tiga menit.

Aku melihat seorang laki-laki muncul di halaman tanpa berjalan ke sana.

Aku melihatnya mencoba pergi lima kali.

Aku melihat dia berjongkok dan meletakkan tangannya di bahu perempuan itu dan menghitung sampai empat, dan aku melihat perempuan itu mengikuti hitungannya.

Dan aku kembali ke kasurku, dan aku berbaring menghadap dinding, dan aku tidak tidur sampai subuh.

Bukan karena aku takut hantu. Aku anak Farmasi, aku percaya pada dosis dan pada hal-hal yang bisa diukur, dan yang kulihat malam itu tidak bisa diukur sama sekali.

Aku tidak tidur karena satu hal lain.

Karena selama empat semester aku sudah melihat orang itu di ratusan situasi, dan aku sudah menghafal cara dia berdiri di setiap situasi itu, dan malam itu dia berjongkok.

Dia tidak pernah berjongkok untuk siapa pun.

Aku sudah tahu malam itu juga. Dua belas jam sebelum mereka tahu aku tahu, dan kira-kira lima bulan sebelum mereka sendiri tahu.

Itu bagian yang paling melelahkan dari jadi orang yang mengingat.


Aku membantu mereka dua puluh satu kali.

Aku menghitungnya, karena aku menghitung segala hal — itu satu-satunya kemiripan antara aku dan perempuan itu, dan aku tidak suka menyadarinya.

Balai desa: heat stroke. Lorong Gedung C: petugas laundry kampus. Parkiran motor: Mas Rayyan lupa bawa berkas. Bazar: sudah kubawakan obatnya. Ruang rapat, dua kali: beliau ke toilet.

Ada satu yang aku bangga, dan ada satu yang membuatku ingin menghilang.

Yang aku bangga: bulan Oktober, di depan Wakil Dekan, aku berbohong tanpa jeda sedetik pun dan bahkan menambahkan detail yang tidak diminta, dan Wakil Dekan mengangguk dan menandatangani. Aku pulang malam itu merasa berguna dengan cara yang tidak pernah kurasakan dari mencatat notulen selama empat semester.

Yang membuatku ingin menghilang: bulan Desember, aku berbohong kepada Dimas.

Dimas orangnya percaya semua yang dikatakan orang kepadanya. Itu bukan kebodohan. Itu jenis kebaikan yang jarang dan tidak dihargai siapa pun. Dan aku memakainya.

Aku bilang, “Mas Rayyan lagi ada masalah keluarga, jangan ditanya-tanya ya.”

Dimas mengangguk dan tidak pernah bertanya lagi selama dua bulan.

Aku memikirkannya berkali-kali sejak itu.


Yang membuatku memutuskan bukan hal besar.

Kamis, tanggal sembilan Januari. Aku mengantar berkas LPJ triwulan ke kosnya karena besoknya deadline dan dia perlu tanda tangan basah.

Jam tujuh lebih sedikit. Aku mengetuk. Tidak dijawab. Pintunya tidak dikunci — dia tidak pernah mengunci pintu kalau Dimas sedang keluar, kebiasaan buruk yang sudah kutegur empat kali.

Aku membukanya sepuluh sentimeter.

Lampu besar mati. Cuma layar laptop di lantai. Volumenya kecil sekali, kecil sampai aku harus menahan napas untuk mendengar bahwa itu suara orang bicara, bukan musik.

Dan di lantai, di dua sudut ruangan yang berlawanan, ada dua gelas kopi.

Yang satu di dekatnya.

Yang satu lagi, di sudut seberang, di sisi yang jauh, masih penuh. Masih mengepul.

Tidak ada orang di sana.

Aku berdiri di celah pintu itu selama mungkin lima detik, dan aku mengerti seluruhnya dalam lima detik itu, dan aku menutup pintunya pelan-pelan dan pergi dan menyerahkan berkas itu besok paginya di kampus seolah-olah aku tidak pernah ke mana-mana.

Bukan gelas yang di dekatnya yang menghancurkanku.

Gelas yang di seberang. Yang belum diminum siapa-siapa. Yang sudah disiapkan sebelum ada orangnya.

Orang tidak menyiapkan minum untuk kecelakaan.


Aku menunggu lima hari, dan lima hari itu aku memikirkan satu hal berulang-ulang.

Aku memikirkan bahwa aku bisa saja tidak mengatakan apa-apa.

Ini bukan pikiran yang bagus, dan aku tidak bangga padanya, tapi aku mau jujur: selama lima hari itu aku menghitung apa yang akan terjadi kalau aku diam saja. Kalau aku terus jadi orang yang mengingat. Kalau aku terus jadi satu-satunya orang yang tahu.

Karena orang yang tahu itu punya tempat. Orang yang tahu itu dibutuhkan.

Dan kalau aku bicara, aku kehilangan tempat itu, dan yang kudapat sebagai gantinya cuma satu kalimat yang sudah kutahu jawabannya.

Hari kelima, hari Senin, aku ikut kelas Farmakologi dan dosen menjelaskan tentang obat yang menutupi gejala tanpa menyembuhkan penyebabnya. Beliau bilang, dengan nada yang sama sekali biasa, bahwa masalahnya bukan obatnya tidak bekerja. Masalahnya obatnya bekerja terlalu baik, sehingga orangnya tidak pernah pergi ke dokter.

Aku menuliskan itu di buku catatanku dan menggarisbawahinya dua kali, dan aku tahu persis aku sedang mencatat apa.

Aku bilang hari Selasa berikutnya, tanggal empat belas Januari, di parkiran belakang gedung dekanat, jam lima sore, sesudah rapat evaluasi kepengurusan.

Aku sudah menyiapkan kalimatnya selama lima hari dan tetap saja keluar salah.

“Mas Rayyan. Aku suka sama Mas.”

Dia sedang memasang helm. Tangannya berhenti di tali dagu.

“Dari ospek,” kataku, karena kalau berhenti sekarang aku tidak akan bisa mulai lagi. “Dari hari kedua ospek. Aku yang pingsan waktu itu. Mas nggak pernah tahu, karena Mas nggak pernah lihat mukaku, Mas cuma dengar dari perawat. Aku yang di balik tirai.”

Dia melepas helmnya.

“Aku masuk BEM bukan karena mau belajar organisasi.” Aku menatap aspal. “Empat semester, Mas. Aku bukan mau Mas jawab sekarang juga atau gimana. Aku cuma nggak mau nyimpen ini terus sambil bantu-bantuin Mas.”

Ada suara motor lewat di gerbang. Ada anak-anak Sipil tertawa di kejauhan.

Dan dia tidak melakukan hal yang sudah kubayangkan selama lima hari.

Dia tidak bilang maaf. Dia tidak bilang kamu perempuan baik. Dia tidak bilang aku nggak pantes. Dia tidak bilang kita temenan aja ya.

Dia berdiri di sana memegang helmnya dengan dua tangan, dan dia bilang:

“Aku tahu.”

Aku mengangkat kepala.

“Dimas pernah bilang, semester empat. Aku nggak percaya. Terus Bu Ratna pernah nyindir waktu bimbingan, dan aku juga nggak percaya.” Dia menghela napas, dan aku baru sadar bahwa dia juga sedang mengumpulkan sesuatu. “Aku nggak percaya karena kalau aku percaya, aku harus melakukan sesuatu. Dan aku nggak tahu apa. Jadi aku milih nggak percaya selama dua tahun. Itu bukan nggak tahu, Nad. Itu pengecut.”

Aku tidak menyangka itu.

Aku sudah menyiapkan diri untuk ditolak dengan lembut. Aku tidak menyiapkan diri untuk seseorang yang menyalahkan dirinya sendiri dengan benar.

“Terus?” kataku.

“Terus aku harus jujur sekarang, dan yang jujur itu jelek.”

“Bilang aja.”

“Aku nggak bisa balas.” Dia mengucapkannya lurus, tanpa dilembutkan, dan aku bersyukur dia tidak melembutkannya. “Dan aku nggak mau bilang alasannya karena orang, karena itu bikin kamu ngerasa kalah sama orang. Kamu nggak kalah sama siapa-siapa. Aku aja yang nggak pernah lihat.”

Aku menarik napas dan tahan tujuh dan buang delapan, dan aku tertawa di tengah-tengah karena aku sadar dari mana aku belajar itu.

“Mas Rayyan.”

“Iya.”

“Aku udah tahu jawabannya dari bulan Agustus.”

Dia diam.

“Malam kesembilan belas KKN. Aku lihat dari pintu dapur.” Aku mengangkat bahu. “Mas jongkok.”

“Aku apa?”

“Mas jongkok,” ulangku. “Buat nenangin orang. Aku udah empat semester lihat Mas berdiri di depan dua ratus orang, di depan dekan, di depan wartawan. Mas nggak pernah jongkok.”

Dia menatapku dengan ekspresi orang yang baru diberi tahu sesuatu tentang dirinya sendiri yang seharusnya dia sadari lebih dulu daripada siapa pun.

“Nad—“

“Satu permintaan,” kataku cepat, karena kalau dia mulai minta maaf aku akan menangis di parkiran dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melakukan itu. “Boleh?”

“Boleh.”

“Jangan minta maaf lebih dari sekali.”

Dia mengatupkan mulutnya.

“Kalau Mas minta maaf tiap ketemu, aku harus bilang nggak apa-apa tiap ketemu. Dan tiap kali aku bilang nggak apa-apa, aku bohong lagi.” Aku merapikan tali tasku. “Aku udah kebanyakan bohong buat Mas tahun ini.”

Sunyi cukup lama.

Lalu dia bilang, satu kali, jelas:

“Maaf, Nadia.”

“Iya.”

Dan itu satu-satunya kali dia mengatakannya, sampai sekarang.


Aku menangis di kamar mandi kos malam itu, selama dua belas menit, dengan keran menyala.

Aku menulis itu bukan supaya ada yang kasihan. Aku menulisnya karena orang selalu menceritakan bagian yang kuat dan melewati bagian ini, dan bagian ini juga terjadi.

Lalu aku cuci muka, aku pakai pelembap, aku minum air putih dua gelas karena menangis itu membuat dehidrasi dan aku anak Farmasi dan aku tidak bisa mematikan bagian itu dari kepalaku bahkan di tengah menangis.

Dan aku tidur jam sebelas seperti biasa.


Aku mengundurkan diri dari kepengurusan? Tidak.

Ini bagian yang membuat orang kecewa waktu kuceritakan. Mereka mengharapkan aku pergi. Mereka mengharapkan adegan.

Aku masuk kerja hari Rabu seperti biasa, membawa notulen rapat evaluasi yang sudah kurapikan, dan aku duduk di kursi yang sama, dan aku mengurus hal-hal yang sama.

Karena aku sudah empat semester di sana, dan tempat itu juga milikku, dan aku tidak akan menyerahkan sesuatu yang kubangun sendiri hanya karena satu percakapan di parkiran.

Aku cuma berhenti melakukan satu hal.

Aku berhenti berbohong untuk mereka.

Aku bilang begitu ke Mas Rayyan minggu berikutnya, sopan, dua kalimat, di sela-sela rapat: kalau ada apa-apa lagi, Mas cari alasan sendiri. Dia mengangguk dan bilang iya, dan aku tahu dia mengerti bahwa aku tidak sedang menghukum siapa-siapa.

Aku cuma sudah selesai.


Ada satu hal lagi, dan sebenarnya ini bukan bagian dari cerita malam itu, tapi aku menuliskannya di sini karena inilah tanggal ketika aku pertama kali melihatnya.

Rabu itu, sambil merapikan arsip untuk persiapan audit internal, aku membuka lagi LPJ triwulan ketiga.

Aku membacanya bukan karena curiga. Aku membacanya karena aku selalu membaca. Anak Farmasi dilatih empat tahun untuk membaca angka kecil di kemasan, dan kebiasaan itu tidak bisa dimatikan.

Ada satu pos, halaman sebelas, sub-kegiatan pelatihan kepemimpinan lanjutan. Vendor konsumsi dan perlengkapan. Nilainya tidak besar. Nomor rekeningnya juga tidak aneh.

Yang aneh cuma satu hal: nama vendornya sama dengan nama vendor di halaman tujuh, tapi alamatnya beda.

Aku memotretnya dengan ponsel dan tidak melakukan apa-apa dengan foto itu selama tujuh bulan.

Aku bukan orang yang mencari masalah.

Aku cuma orang yang mengingat.