Chapter Twenty Eight

Pasal Delapan

Dia sidang tanggal dua puluh Juni, jam sembilan pagi, di ruang 2.04 Gedung C.

Ruangan yang sama.

Aku tahu jadwalnya karena dia mengirimkannya kepadaku tiga hari sebelumnya, dengan cara yang sudah kuhafal:

Sidang Jumat jam 9. Gedung C 2.04. Aku nggak akan panik. Tapi kalau iya, maaf.

Kalimat yang sama persis seperti bulan Oktober. Huruf per huruf. Aku mengeceknya.

Delapan bulan, dan satu-satunya yang berubah adalah nama kontaknya di ponselku.

Jumat pagi itu aku bangun jam lima.

Aku keramas. Aku memakai masker bengkoang — bukan karena butuh, karena ada semacam takhayul yang tumbuh sendiri di dalam kepalaku selama delapan bulan dan aku tidak sanggup melawannya. Aku membiarkannya di wajahku sampai jam delapan lewat empat puluh lima.

Aku memakai handuk kepala.

Aku duduk di kasur dengan gunting kertas di tangan — tidak, aku tidak memotong poniku, aku sudah janji pada diri sendiri — dan aku menunggu.

Jam sembilan lewat.

Sepuluh.

Setengah sebelas.

Tidak terjadi apa-apa.


Dia mengirim pesan jam sebelas lewat dua belas.

Lulus. Cum laude nggak. Nilainya B+. Bu Ratna bilang bab tiganya paling rapi dari delapan belas yang dia uji semester ini.

Aku membaca itu sambil duduk di kasur dengan masker bengkoang yang sudah kering dan retak-retak di seluruh wajahku.

van

Iya.

kamu nggak panik

Nggak.

sama sekali?

Sama sekali.

Aku menatap layar itu cukup lama.

kenapa

Jeda.

Aku nggak tahu.

van

Aku beneran nggak tahu, Ace. Aku udah mikirin dari tadi. Aku duduk di depan tiga penguji dan aku nggak ngerasain apa-apa. Padahal bab tiganya masih bab tiga.

Aku mencuci mukaku dengan air dingin dan duduk di lantai kamar mandi selama beberapa menit.

Karena aku tahu jawabannya, dan aku tidak yakin apakah jawabannya bagus.

Delapan bulan lalu, di ruangan yang sama, dia panik karena satu pertanyaan tentang asal data. Panik sungguhan, sampai kehilangan kalimatnya sendiri, sampai aku harus mengangkat empat jari dari kursi baris belakang.

Sekarang tidak.

Bukan karena pertanyaannya lebih mudah.

Karena dia sudah tidak sendirian di ruangan itu, bahkan ketika dia sendirian di ruangan itu.

Dan itu artinya kutukan itu semakin jarang bekerja.

Dan itu artinya sesuatu sedang menuju akhirnya, dan aku tidak tahu apakah aku senang.


Kami merayakannya di Warung Bu Tin, karena tentu saja di Warung Bu Tin, karena kami tidak pernah punya tempat lain.

Dimas ikut. Dimas selalu ikut sekarang.

“Aku juga mau lapor,” katanya, sambil menuang teh dari teko. “Bab satu udah di-ACC.”

Kami berdua menoleh.

“Serius?”

“Kemarin.” Dia mengangkat bahu, tapi telinganya merah, dan aku baru sadar malam itu bahwa dua orang di kos itu punya kebiasaan yang sama. “Pak Marwan bilang berantakan. Tapi di-ACC.”

“Dim—“

“Jangan diungkit,” kata Dimas.

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Aku tahu kamu mau ngomong. Jangan.”

Dan orang di sebelahku menutup mulutnya, dan mengangguk sekali, dan menuangkan teh untuk Dimas tanpa berkata apa-apa.

Aku memperhatikan itu.

Aku memperhatikan seluruh gerakan kecil itu — mulut yang ditutup, anggukan, teko yang diangkat — dan aku menyadari bahwa aku sedang melihat seseorang menahan seluruh sistem sarafnya sendiri, dan bahwa dia sudah berlatih empat bulan untuk itu, dan bahwa dia berlatih karena satu bentakan di kamar kos pada bulan Februari.

Orang bisa berubah.

Aku mencatat itu malam itu dengan perasaan yang sangat hangat, dan aku salah menerjemahkannya, dan aku baru tahu berbulan-bulan kemudian bahwa orang yang belajar menahan diri untuk hal yang baik akan memakai kemampuan yang sama persis untuk hal yang buruk.


Ada satu hal lagi yang terjadi malam itu di Warung Bu Tin, dan aku baru mengerti maknanya jauh kemudian.

Dimas pergi duluan jam sembilan karena harus mengembalikan motor pinjaman.

Dan begitu dia pergi, orang di sebelahku mengeluarkan ponselnya, membuka sesuatu, dan menyodorkannya kepadaku.

Foto notulen rapat evaluasi bulan Januari. Halaman empat, poin enam.

Sekretaris menyampaikan ditemukan perbedaan alamat vendor pada lampiran LPJ TW III. Ketua: akan dicek. Agenda dilanjutkan.

Aku membacanya dua kali.

“Nadia bilang ke aku hari ini,” katanya. “Habis forum.”

“Kamu nggak inget?”

“Sama sekali.”

Aku menyerahkan ponselnya kembali.

“Van, itu lima bulan lalu. Rapat evaluasi itu tiga jam. Nggak ada yang inget poin enam halaman empat.”

“Nadia inget.”

Dan dia mengucapkannya dengan nada yang membuatku menaruh sendok, karena nadanya bukan nada orang yang sedang menyesal.

Nadanya nada orang yang sedang menghitung sesuatu dan tidak suka dengan hasilnya.


Malamnya — Kamis, tanggal dua puluh enam Juni, seminggu kemudian — aku membuka pintu lemari.

Perjanjian Damai itu sudah menguning di bagian atas. Selotipnya sudah kering di dua sudut. Kertasnya bergelombang karena sepuluh bulan lembap.

Pasal 1 dicoret dengan garis lurus yang rapi sekali, dengan tanggal ditulis kecil di margin.

Aku berdiri di depannya cukup lama sambil memegang pulpen.

“Kamu mau nambah?” katanya, dari lantai.

“Aku mau nambah.”

“Pasal delapan.”

“Iya.”

“Isinya apa?”

Aku tidak menjawab. Aku menulis.

Tulisan tanganku jelek. Selalu jelek. Aku menulis cepat karena kalau aku menulis pelan aku akan berhenti di tengah dan aku tahu itu.

Pasal 8Dilarang pulang kalau belum ditanya mau pulang atau tidak.

Aku menutup tutup pulpen.

Aku tidak berbalik.

Dan selama mungkin delapan detik penuh tidak ada satu pun suara di kamar itu selain kipas angin.


“Ace.”

“Aku tahu itu nggak masuk akal.”

“Aku nggak bilang gitu.”

“Kamu nggak bisa milih.” Aku masih menghadap lemari. “Kamu nggak pernah bisa milih. Gelangnya panas terus kamu ilang, itu doang. Nggak ada bagian di mana kamu mutusin apa-apa.”

“Iya.”

“Jadi pasal itu bodoh.”

“Iya,” katanya. “Tapi kamu tetep nulis.”

Aku berbalik.

Dia duduk di lantai di sudut, di tempatnya, dengan gelas kopi kedua di sampingnya, dan wajahnya melakukan hal yang tidak pernah kutahu bisa dilakukan wajahnya.

“Aku nggak bisa ngomong,” kataku.

“Aku tahu.”

“Bukan itu. Maksudku—“ Aku menekan pangkal hidungku. “Sepuluh bulan, Van. Dua puluh tujuh kali. Aku ngitung. Dan tiap kali kamu ilang, aku selalu di tengah kalimat.”

Dia tidak menyela.

“Aku selalu punya satu hal lagi yang mau aku bilang. Tiap kali. Dan tiap kali aku nyimpen buat besok, dan besoknya udah nggak relevan, jadi nggak pernah kebilang.” Aku bersandar ke lemari. “Sepuluh bulan aku nyimpen kalimat yang nggak pernah selesai.”

“Kalimat apa?”

“Kalau aku bisa bilang, aku udah bilang.”

Dan dia berdiri.

Dia berjalan ke arahku, dan berhenti setengah meter, dan tidak menyentuhku sama sekali.

“Boleh aku baca lagi?”

“Apa?”

“Pasal delapannya.”

Aku menggeser badan.

Dia membaca. Lama sekali untuk satu kalimat.

Lalu dia melakukan sesuatu yang membuatku menahan napas: dia mengulurkan tangan, dan melepas selotip di keempat sudut, pelan-pelan, satu per satu, supaya kertasnya tidak sobek.

“Van—“

“Sst.”

Dia mengambil kertas itu dari pintu lemari.

Sepuluh bulan. Menguning. Bergelombang. Materai enam ribu yang tidak berlaku sejak dua ribu dua puluh satu, sedikit miring, ditempel oleh ibu jariku sendiri di Warung Bu Tin pada bulan Agustus.

Dia melipatnya jadi empat.

Dan dia memasukkannya ke dompetnya.

“Itu punyaku,” kataku.

“Sekarang punyaku.”

“Van—“

“Kamu yang nyimpen sepuluh bulan.” Dia menutup dompetnya dan memasukkannya ke saku belakang. “Sekarang giliran aku.”

“Kenapa?”

Dan dia menjawab dengan kalimat yang, kalau aku dengar dari orang lain, akan kutertawakan sampai besok.

“Karena pasal delapan itu buat aku,” katanya. “Pasal satu sampai tujuh itu aturan buat kita berdua. Pasal delapan cuma buat satu orang. Jadi yang nyimpen orangnya.”


Aku mencium pipinya karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, dan dia menunduk sedikit, dan yang terjadi berikutnya adalah dia mencium pelipisku.

Sekali. Pelan. Dengan tangan kanannya masih di saku belakang tempat kertas itu berada.

Bukan ciuman yang berarti apa-apa dalam arti biasa.

Ciuman yang artinya sudah, cukup, kamu nggak perlu ngomong lagi.

Dan aku berdiri di depan pintu lemari yang sekarang kosong di bagian dalamnya, dengan bekas empat sudut selotip yang membentuk persegi panjang lebih terang di catnya, dan aku menyadari bahwa selama sepuluh bulan aku setiap hari membuka lemari itu untuk mengambil baju dan setiap hari melihat kertas itu tanpa pernah sekali pun benar-benar membacanya.

Sekarang tinggal persegi panjang.

Aku menatapnya cukup lama.


Gelangnya memanas jam sebelas lewat dua puluh enam.

Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh bulan, sesuatu yang berbeda terjadi.

Dia merasakannya. Aku melihat wajahnya berubah, seperti biasa, seperti dua puluh tujuh kali sebelumnya.

Dan dia bilang:

“Ace.”

“Iya.”

“Aku mau pulang.”

Satu.

Aku menahan napas.

“Aku capek. Aku sidang minggu lalu. Aku pengin tidur di kasurku sendiri.” Dia mengangkat bahu, dan sudut mulutnya bergerak. “Jadi jawabannya iya.”

Dua.

“Kamu—“ Aku tertawa, dan suaraku pecah di tengah. “Kamu nggak bisa gitu. Itu bukan—“

“Pasal delapan,” katanya. “Aku udah ditanya. Aku udah jawab.”

Ti—

Kosong.


Aku berdiri sendirian di kamar itu jam sebelas lewat dua puluh enam malam.

Dua gelas di lantai, satu kosong, satu setengah.

Pintu lemari terbuka dengan persegi panjang lebih terang di catnya.

Aku tidak menangis. Aku ingin menuliskan bahwa aku menangis, karena itu akan lebih rapi, dan karena orang mengharapkannya.

Aku tidak menangis.

Aku duduk di lantai dan aku tertawa sendirian selama mungkin satu menit, sampai ada yang mengetuk dinding dari kamar sebelah, dan aku menutup mulut dengan bantal dan tertawa sisanya di sana.

Karena dia curang.

Dia curang dengan cara yang paling rapi, paling sopan, dan paling tidak bisa dibantah: dia mengubah pasal yang kutulis untuk protes menjadi pasal yang bisa dijawab.

Dia tidak bisa memilih untuk tinggal.

Jadi dia memilih untuk pergi.

Itu satu-satunya bagian dari seluruh urusan ini yang bisa dia kendalikan, dan dia menemukannya dalam waktu tiga detik, dan dia memakainya.


Sebelum tidur aku melakukan satu hal yang tidak kuceritakan kepada siapa pun.

Aku mengambil foto persegi panjang lebih terang di cat pintu lemari itu.

Tidak ada objek di dalamnya. Cuma cat, dan bekas empat sudut selotip, dan bayangan pintu.

Foto paling tidak berguna yang pernah kuambil.

Aku menyimpannya di folder yang sama dengan sebelas foto lain yang kubuka setiap tanggal enam Februari.

Sekarang dua belas.


Ponselku menyala jam sebelas lewat empat puluh.

Evandheer Ace.

iya

Kamis depan aku dateng sendiri. Jam tujuh. Bukan ketarik.

Aku memandangi layar itu di lantai kamar.

lubang anginnya udah aku tutup permanen aku lakban empat sisi

Aku tahu. Aku lihat bulan April.

kamu nggak bilang

Kamu juga nggak.

Dan aku berbaring di lantai kamar kos Melati Dua pada malam Kamis di akhir bulan Juni, dengan pintu lemari terbuka dan persegi panjang lebih terang di catnya, sambil menyadari bahwa sepuluh bulan yang lalu ada dua orang yang menandatangani selembar kertas supaya bisa saling menjauh.

Dan bahwa kertas itu sekarang ada di dompet salah satu dari mereka, dilipat empat, dengan satu pasal dicoret dan satu pasal ditambahkan dengan tulisan tangan yang jelek.

Aku tidur jam dua belas lewat.

Dan di bulan Juli, semuanya masih baik-baik saja.

Dan di bulan Agustus, semuanya masih baik-baik saja.

Aku menuliskan itu sekarang karena aku ingin ada catatannya di suatu tempat bahwa kami sempat punya dua bulan.