Chapter Thirty

Amplop Cokelat

Aku tidak langsung membukanya.

Ini penting, dan aku menuliskannya bukan untuk membela diri: aku membawa amplop itu ke meja, menyalakan lampu, mengambil ponsel, dan memotretnya lebih dulu.

Bagian luar. Kedua sisi. Sudut kanan atas dengan dua kata spidol.

Lalu aku memotret kotak surat pembaca itu, tertutup, dari tiga sudut.

Aku sudah tiga tahun mengajarkan itu kepada anak-anak baru. Kalau ada yang datang tanpa nama, yang pertama kamu amankan bukan isinya. Yang pertama kamu amankan adalah bukti bahwa dia datang tanpa nama.

Baru setelah itu aku duduk.


Isinya seratus empat belas lembar.

Aku menghitungnya dua kali. Fotokopi semua. Kualitas mesin kantor, bukan warnet — abu-abunya rata, tidak ada garis vertikal di tepi.

Urutannya rapi.

Bukan rapi seperti tumpukan yang kebetulan tersusun. Rapi seperti disusun oleh orang yang tahu bagaimana orang lain akan membacanya.

Bagian satu, dua puluh dua lembar: lampiran LPJ lembaga kemahasiswaan Fakultas Teknik, tiga tahun berturut-turut. Halaman-halaman yang tidak pernah dibaca siapa pun. Daftar vendor, nomor kuitansi, nilai.

Yang halaman sebelas ada di sana. Dilingkari. Bukan pakai stabilo — pakai pulpen, satu putaran, tipis.

Bagian dua, tiga puluh satu lembar: fotokopi kuitansi. Nama toko, alamat, cap. Sebagian besar buram.

Bagian tiga, empat puluh delapan lembar, dan ini yang membuatku berhenti minum kopi: dokumen yang sama sekali bukan urusan mahasiswa.

Berita acara serah terima pekerjaan. Daftar hadir rapat pemeriksaan. Surat perintah mulai kerja. Rekapitulasi termin pembayaran.

Kop suratnya bukan kop fakultas.

Bagian empat, tiga belas lembar terakhir, terpisah dengan penjepit kertas hitam.

Aku tidak membuka bagian empat malam itu.


Aku bekerja dari jam sepuluh pagi sampai jam tiga sore di ruang redaksi yang sudah bukan ruang redaksiku.

Empat jam pertama aku tidak membaca isinya. Aku memetakan.

Ini yang tidak dimengerti orang tentang dokumen bocor: yang pertama kamu lakukan bukan mencari kesalahan. Yang pertama kamu lakukan adalah menghitung bentuknya.

Berapa lembar. Urutannya bagaimana. Fotokopi generasi keberapa — dari kejelasan hurufnya, ini generasi kedua, artinya yang mengirim tidak memegang aslinya. Ada berapa jenis kertas. Ada berapa jenis mesin.

Aku menemukan tiga jenis kertas.

Bagian satu dan dua di kertas HVS tujuh puluh gram, kekuningan, khas mesin fotokopi kampus.

Bagian tiga di kertas delapan puluh gram, putih, rata.

Bagian empat — tiga belas lembar terakhir — di kertas delapan puluh gram juga, tapi dengan bayangan tipis di sisi kiri setiap lembar. Bayangan yang muncul kalau dokumen difotokopi dalam keadaan dijilid, tanpa dilepas dulu.

Artinya bagian empat difotokopi dari berkas yang tidak boleh dibongkar.

Artinya orang yang memfotokopinya buru-buru, atau tidak berwenang, atau dua-duanya.

Aku menulis itu di halaman pertama buku catatanku dan aku belum tahu artinya apa-apa selama tiga hari.

Sasa datang jam satu dan berdiri di ambang pintu selama beberapa detik sebelum bicara.

“Gres.”

“Hm.”

“Kamu udah bukan pengurus.”

“Aku tahu.”

“Serah terimanya kemarin lusa. Ada berita acaranya. Kamu yang nyuruh aku bikin berita acaranya.”

Aku tidak mengangkat kepala dari lembar keempat puluh dua.

“Sa, duduk.”


Dia butuh sembilan menit untuk membaca sekilas, dan waktu dia selesai wajahnya sudah berubah.

“Ini serius?”

“Angkanya belum aku verifikasi.”

“Gres, ini—“ Dia membalik satu halaman. “Ini bukan cuma vendor konsumsi. Ini proyek beneran. Ini gedung.”

“Iya.”

“Ini bisa jadi edisi khusus.”

“Sa.”

“Ini bisa jadi hal terbesar yang pernah Poros terbitin sejak—“

“Sa. Duduk.”

Dia duduk.

Dan aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan orang yang sudah tiga tahun berdiri di tempat itu, meskipun aku sudah bukan siapa-siapa di ruangan itu sejak dua hari yang lalu.

“Kamu lihat apa dari tumpukan ini?” tanyaku.

“Bukti.”

“Aku lihat pekerjaan orang.”

Dia mengerutkan kening.

“Sa, dengerin.” Aku mengetuk tumpukan itu. “Ini seratus empat belas lembar, diurutkan, dilingkari, dan dikasih penjepit warna beda buat bagian terakhir. Orang yang ngasih ini nggak lagi ngasih tahu kita sesuatu. Orang ini lagi ngasih tahu kita bagaimana cara membacanya.”

“Ya bagus dong. Mempermudah.”

“Nggak ada yang mempermudah wartawan tanpa alasan.”

Sasa diam.

“Aku nggak bilang isinya bohong,” lanjutku. “Aku belum tahu. Bisa jadi semuanya benar. Yang aku bilang: kalau ada yang nyusun seratus empat belas lembar buat kamu, kamu harus tanya kenapa dia nggak nyusun seratus dua puluh.”

“Maksudnya?”

“Maksudnya, yang nggak dia kasih itu apa.”


“Gres, satu hal lagi.” Sasa berhenti di pintu. “Kalau ini beneran, ini bukan cuma soal BEM.”

“Aku tahu.”

“Ini soal gedung. Gedung tempat kita wisuda nanti.”

Aku mengangkat kepala.

Dan Sasa mengucapkan sesuatu yang membuatku, sampai sekarang, menganggap keputusanku menyerahkan Poros kepadanya adalah satu-satunya keputusan benar yang kuambil sepanjang tahun itu.

“Kalau gedungnya jelek,” katanya, “yang mati bukan angka.”

Lalu dia pergi mengambil dummy.


Aku pulang jam empat dan tidak makan siang.

Aku ingin mencatat beberapa hal yang kulakukan hari itu, karena semuanya benar dan tidak satu pun cukup.

Aku mengecek delapan nama vendor di sistem informasi perusahaan yang bisa diakses publik. Enam terdaftar. Dua tidak.

Aku mencocokkan tiga nomor kuitansi dengan foto lampiran LPJ yang kupotret sendiri bulan Juni di forum terbuka. Cocok, digit per digit.

Aku menelepon dua orang: satu mantan bendahara lembaga angkatan atas, satu penjual di toko yang namanya muncul di enam kuitansi. Yang pertama mengangkat dan tidak tahu apa-apa. Yang kedua mengangkat, mendengar pertanyaanku, dan menutup telepon.

Aku menulis semuanya di buku catatan. Aku selalu menulis semuanya.

Dan jam sebelas malam, di kamar kos, aku melakukan hal yang sudah kutunda sejak pagi.

Aku mengetik pesan.

van

Iya.

ada yang naruh amplop di kotak surat poros

Isinya apa?

Aku menatap layar.

Ada versi yang aman. Ada versi yang setengah. Ada versi yang menunda semuanya sampai aku selesai memverifikasi, yang sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan secara profesional, yang akan kupakai kalau ini sumber mana pun di dunia.

lpj lembaga tiga tahun sama dokumen proyek

Proyek apa?

belum aku baca semua

Itu bohong.

Aku sudah membaca semuanya kecuali tiga belas lembar terakhir, dan tiga belas lembar terakhir itu ada di atas mejaku, dijepit penjepit hitam, dan aku sudah menatapnya selama empat puluh menit tanpa menyentuhnya.

Ace.

iya

Kamu udah makan?

Dan aku duduk di lantai kamar kos dengan seratus empat belas lembar fotokopi di meja dan menangis selama mungkin dua menit karena pertanyaan tentang makan.

belum

Ya udah makan dulu. Besok aja bacanya.

van

Iya.

kalau nanti isinya jelek

Jeda.

Jelek gimana?

jelek buat orang yang kita kenal

Jeda yang lebih lama.

Ace, kamu nggak perlu nanya itu ke aku.

aku nanya

Terbitin.

Empat huruf dan satu titik.

kamu nggak tau isinya

Aku nggak perlu tahu. Kalau kamu nanya “gimana kalau jelek”, artinya kamu udah lihat sesuatu. Dan kalau aku bilang “tunggu dulu”, aku jadi orang yang minta kamu tunggu. Aku nggak mau jadi orang itu.

Aku membaca empat baris itu di lantai kamar, dan aku merasakan sesuatu yang seharusnya lega dan ternyata bukan.

Karena ada yang salah dengan kecepatannya.

Orang yang ditanya gimana kalau jelek biasanya bertanya balik. Biasanya minta waktu. Biasanya, minimal, diam dulu.

Dia menjawab dalam waktu kurang dari satu menit.

Dan aku sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu apa artinya kalau dia menjawab cepat.

Artinya dia sudah menyiapkan jawabannya sebelum ditanya.


Aku tidak tidur.

Jam satu, aku duduk kembali di meja.

Jam satu lewat dua puluh, aku memindahkan penjepit hitam itu ke pinggir meja.

Jam dua kurang, aku menyalakan lampu belajar dan mematikan lampu besar, karena entah kenapa itu terasa lebih benar.

Dan aku memikirkan sesuatu yang sudah berputar sejak pagi dan tidak mau berhenti, dan aku menuliskannya sekarang karena aku ingin ada catatannya bahwa aku sudah tahu sejak hari pertama:

Aku tahu apa yang ada di tiga belas lembar terakhir.

Bukan detailnya. Bukan namanya. Tapi bentuknya.

Aku tahu sejak jam sepuluh pagi, waktu aku melihat kop surat di bagian tiga dan mengenali dua kata pertamanya. Aku tahu sejak enam hari sebelumnya, di parkiran gelap kos Melati Dua, waktu seseorang bilang Bang Yudha bilang aku bisa langsung ikut proyek yang di kabupaten. Aku tahu sejak bulan Juni, di lorong setelah forum, waktu aku berdiri delapan meter di belakang dan melihat seorang alumni menepuk bahu seseorang dua kali.

Aku tahu sejak bulan Oktober tahun lalu, di ruang sidang 2.04, waktu seorang dosen penguji bertanya siapa yang memberikan akses data itu dan ada jeda setengah detik sebelum jawabannya keluar.

Aku sudah tahu selama sebelas bulan.

Aku cuma belum pernah menuliskannya.


Jam dua kurang seperempat, aku melakukan satu hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Aku membuka galeri ponselku dan menggulir ke tanggal dua puluh delapan Agustus.

Dua puluh sembilan foto. Semuanya dari jarak dua puluh meter. Semuanya buram di bagian wajah karena zoom digital.

Di foto keenam belas, yang paling jelas, dia sedang berdiri di depan Gedung Serba Guna dengan toga dan tali kuning dan wajah yang — kalau kamu tidak mengenalnya — akan kamu sebut datar.

Aku mengenalnya.

Aku memperbesar foto itu sampai piksel-pikselnya kelihatan, dan aku menatap sudut mulutnya selama entah berapa lama, dan aku menutup galeri.

Lalu aku kembali ke meja.


Jam dua lewat lima, aku menarik penjepit hitam itu.

Tiga belas lembar.

Lembar pertama: akta perusahaan. Nomor, tanggal, notaris.

Lembar kedua: susunan pengurus.

Aku membacanya sekali.

Aku membacanya dua kali.

Aku membacanya tiga kali, karena aku selalu mengecek tiga kali, karena itu satu-satunya hal yang membuatku layak melakukan pekerjaan ini.

Lalu aku meletakkan lembar itu menghadap ke bawah di atas meja.

Aku berdiri.

Aku ke kamar mandi dan mencuci muka dengan air dingin dan berdiri di depan cermin selama entah berapa lama.

Dan waktu aku kembali dan membalik lembar itu lagi, namanya masih di sana, di baris keempat, dengan huruf yang sama, dengan ejaan yang sama, dengan gelar yang sama.

Dan di lembar ketiga belas — yang terakhir, yang paling bawah, yang jelas sekali sengaja diletakkan paling bawah oleh siapa pun yang menyusun tumpukan ini —

ada fotokopi surat permohonan izin penggunaan data proyek untuk keperluan penyusunan tugas akhir.

Tertanggal dua puluh sembilan Agustus tahun lalu.

Ditandatangani oleh mahasiswa pemohon.

Tanda tangannya panjang. Ada tiga bagian. Yang pertama bukan yang dipakai siapa-siapa.

Aku duduk di lantai kamar kos jam dua lewat lima belas menit pada tanggal empat September, dan aku tidak menangis, dan aku tidak memanggil siapa-siapa, dan tidak ada satu pun benda logam di kamar itu yang memanas.

Karena aku tidak panik.

Itu bagian yang paling aneh dari seluruh malam itu, dan aku memikirkannya berhari-hari sesudahnya.

Aku pernah panik karena cicak. Aku pernah panik karena kucing di halaman belakang. Aku pernah panik karena setrika, karena seblak, karena laki-laki yang berdiri terlalu lama di halte, karena gerbang yang digembok.

Dan malam itu, memegang selembar kertas yang bisa menghancurkan hidup dua orang sekaligus, jantungku sama sekali tidak naik.

Aku sudah cukup lama bekerja dengan dokumen untuk tahu apa artinya.

Tubuhmu tidak panik terhadap hal-hal yang sudah kamu tunggu.