Chapter Eleven

Kamis

Kamis adalah hari paling kosong dalam satu minggu.

Ini bukan perasaan, ini jadwal. Senin rapat redaksi. Selasa liputan. Rabu penyuntingan. Jumat layout. Sabtu dan Minggu semua orang punya keluarga.

Kamis tidak ada apa-apa.

Sasa pulang ke rumah tantenya setiap Kamis sore dan kembali Jumat pagi. Kos Melati Dua di malam Kamis tinggal empat orang, tiga di antaranya di lantai bawah, dan semuanya tidur sebelum jam sepuluh.

Aku sudah tiga tahun tinggal di kamar itu dan tidak pernah menganggap Kamis sebagai masalah.

Sampai bulan Desember.


Kamis pertama, tanggal lima.

Hari itu edisi November sudah beredar sepuluh hari. Halaman empat sudah dibicarakan, sudah dijawab dengan hak jawab dua paragraf yang ditandatangani “Pengurus BEM FT” tanpa nama, sudah lewat.

Aku bertemu dengannya dua kali dalam sepuluh hari itu, dua-duanya di lorong, dua-duanya cuma anggukan.

Dia tidak menyinggung tulisan itu sekali pun. Bukan dengan sindiran, bukan dengan diam yang berat, bukan dengan cara apa pun yang bisa kubaca.

Dan itu jauh lebih tidak nyaman daripada kalau dia marah.

Aku pulang jam lima sore, dan sebelum mandi, aku bersih-bersih kamar.

Aku ingin sekali menuliskan itu sebagai kalimat yang biasa saja, karena begitulah cara aku menuliskannya di kepalaku waktu itu. Aku bersih-bersih kamar. Orang bersih-bersih kamar. Itu hal yang wajar dilakukan manusia dewasa yang tinggal sendiri.

Yang kulakukan sebenarnya, dalam urutan:

Menggeser lemari sepuluh sentimeter dari dinding dan mengecek celahnya dengan senter. Mengangkat kasur. Mengecek belakang kalender. Mengecek bagian atas kusen pintu. Mengecek balik gorden, dua sisi. Menutup lubang angin dengan kardus, lalu membukanya lagi karena pengap, lalu menutupnya lagi.

Tidak ada apa-apa. Kamar itu bersih. Kamar itu paling bersih sejak aku pindah ke sana.

Aku mandi. Aku makan. Aku mengerjakan transkrip wawancara sampai jam sembilan.

Dan jam sembilan lewat, aku mematikan lampu.

Bukan tidur. Duduk. Di kasur, bersandar ke dinding, dengan lampu mati dan gorden terbuka dan cahaya jalan yang masuk lewat jendela membuat langit-langit jadi abu-abu bergaris.

Aku tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Aku orang yang menyalakan lampu.

Aku duduk seperti itu selama satu jam empat puluh menit.

Dan sekitar pukul sebelas kurang, sesuatu bergerak di sudut atas dinding, di dekat lubang angin yang kardusnya sudah kulepas.

Aku tidak akan berbohong: aku memang takut cicak. Ini bukan hal yang aku karang. Sejak SD. Bukan takut yang besar — takut yang kecil, yang konyol, yang tidak layak dibicarakan, jenis takut yang membuat orang bilang ih, masa gitu aja.

Tapi di ruangan gelap, setelah satu jam empat puluh menit menatap langit-langit, takut yang kecil punya cara untuk tumbuh.

Bentuknya lewat di garis cahaya. Ekornya bergerak dua kali.

Dan aku merasakan napasku pindah ke leher.

Ruang di depan lemari terisi.


Dia memakai kaus abu-abu dan celana training, dan di tangannya ada sikat gigi.

Berbusa.

Kami saling menatap dalam gelap selama beberapa detik.

“Cicak,” kataku.

Dia melihat ke arah lubang angin. Lalu ke arahku. Lalu ke sikat gigi di tangannya, dengan ekspresi orang yang baru menyadari bahwa dia sedang memegang sikat gigi.

“Boleh numpang?” katanya, tidak jelas, karena mulutnya penuh.

“Kamar mandi di ujung koridor. Kalau ada yang lihat kamu, aku pindah kos malam ini juga.”

Dia berkumur di wastafel kecil di sudut kamarku, yang bocor, yang sudah tiga bulan kulaporkan ke ibu kos. Dia mengelap mulutnya dengan lengan.

Lalu dia berbalik, menyalakan lampu, mengambil sapu dari balik pintu, dan mengusir cicak itu keluar lewat jendela dalam waktu empat puluh detik.

Empat puluh detik.

Dia menutup jendela. Dia mencuci tangan. Dia berdiri di tengah kamarku dan berkata:

“Udah.”

“Udah.”

Kami sama-sama menunggu.

Tidak ada yang memanas.


“Kamu belum tenang,” katanya.

“Aku tenang.”

“Grace.”

“Cicaknya masih bisa balik.”

“Jendelanya ditutup.”

“Ada lubang angin.”

Dia melihat lubang angin itu. Lalu melihatku. Dan aku bisa melihat dia sedang menghitung sesuatu, karena dia selalu sedang menghitung sesuatu, dan aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadaku.

“Ya udah,” katanya. “Aku tungguin.”

“Kamu nggak punya pilihan.”

“Aku tahu.”

Dia duduk di lantai, dengan punggung ke dinding, di sisi kamar yang paling jauh dari kasur — dan itu jarak yang dia pilih sendiri setiap kali, dan aku baru menyadari malam itu bahwa dia selalu memilihnya, dan bahwa dia tidak pernah sekali pun duduk di kasurku meskipun tidak ada satu pasal pun yang melarangnya.

“Kamu lagi apa tadi?” tanyaku.

“Nyikat gigi.”

“Jam sebelas?”

“Aku tidur jam sebelas.”

“Kamu tidur jam sebelas?”

“Aku bangun jam lima.”

“Kamu—“ Aku berhenti. “Kamu itu manusia paling membosankan yang pernah aku temui.”

“Iya.”

Dia mengucapkannya tanpa membela diri sama sekali, dan entah kenapa itu yang membuatku tertawa untuk pertama kalinya sejak entah kapan, tawa pendek satu suku kata yang bahkan tidak sempat kutahan.

Dia melihat ke arahku waktu aku tertawa.

Aku berhenti.


Aku mengambil dua gelas dari rak dan menyeduh kopi sachet karena itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan tangan sementara mulut belum tahu mau bilang apa.

“Kamu punya kopi?” tanyanya, terlambat, waktu aku sudah mengaduk gelas kedua.

“Kamu udah dituangin.”

“Oh.”

“Kamu selalu nanya setelah kejadian?”

“Aku nanya biar sopan.”

“Itu bukan sopan, itu telat.”

Dia menerima gelasnya dan tidak membalas, dan aku duduk di kasur dengan gelasku sendiri, dan aku menyadari bahwa ini pertama kalinya kami berdua memegang sesuatu yang sama di ruangan yang sama tanpa ada keadaan darurat yang sedang berlangsung.

Kami bicara empat puluh menit.

Bukan tentang kutukan. Itu bagian yang aneh.

Dia cerita soal revisi bab tiganya yang harus mengganti seluruh sumber data dan mundur satu bulan. Aku cerita soal Rifqi yang salah menulis nama pelatih untuk ketiga kalinya. Dia cerita soal Dimas yang mengaku sedang mengambil mata kuliah pengganti tapi tidak pernah ada di kelas. Aku cerita soal ibu kos yang punya delapan kucing dan menamai semuanya dengan nama bulan.

Tidak ada satu pun dari itu yang penting.

Dan sekitar menit ketiga puluh, aku sadar bahwa napasku sudah turun sejak lama, mungkin sejak menit kesepuluh, dan bahwa gelang di laci mejaku belum juga memanas.

Aku tidak mengatakan apa-apa tentang itu.

Aku juga tidak berhenti bicara.


Di menit ketiga puluh lima, dia bertanya sesuatu yang tidak pernah ditanyakan siapa pun kepadaku selama tiga tahun.

“Kenapa kamu milih Poros?”

“Maksudnya?”

“Kamu anak Komunikasi. Kamu bisa masuk radio kampus, bisa masuk EO, bisa magang di agensi dari semester tiga kayak yang lain.” Dia memutar gelasnya. “Kamu milih lembaga yang kerjanya bikin orang marah, gajinya nol, dan tiap tahun hampir dibubarkan.”

“Kamu tahu Poros hampir dibubarkan?”

“Aku Ketua BEM. Aku yang diminta tanda tangan surat rekomendasinya tahun lalu.”

Aku meletakkan gelasku.

“Kamu tanda tangan?”

“Nggak.”

Kami sama-sama diam.

“Kenapa?”

“Karena tulisan kamu tentang aku itu benar,” katanya, datar, seperti sedang membaca daftar. “Semuanya. Angkanya nggak pernah salah sekali pun. Kalau aku ikut bubarin lembaga yang benar cuma karena aku nggak suka dibenerin, aku jadi orang yang persis kayak yang kamu tulis.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Kamu nggak pernah bilang.”

“Ya nggak perlu.”

“Rayyan. Itu perlu.”

“Kenapa perlu?”

“Karena aku udah setahun mikir kamu diem-diem mau ngebubarin kita.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kumau. “Karena tiap kali aku nulis tentang kamu, aku selalu nambahin satu kalimat lebih jahat dari yang perlu, dan aku pikir itu perlawanan. Ternyata bukan. Ternyata aku mukul orang yang lagi megangin pintunya biar nggak ketutup.”

Dia tidak menjawab.

Dia menatap lantai, dan telinganya merah lagi, dan aku baru tahu malam itu bahwa itu satu-satunya bagian tubuhnya yang tidak bisa dia kendalikan.


Menit keempat puluh dua, aku menyebut sesuatu tentang ayahku.

Aku tidak berencana. Aku sedang bercerita tentang kucing ibu kos yang namanya September, dan bagaimana ayahku dulu juga menamai ayam-ayam di belakang rumah dengan nama hari, dan kalimat itu keluar sebelum aku sempat menyaringnya.

Aku berhenti di tengah.

Dia tidak bertanya. Itu yang paling kuingat. Dia tidak bertanya ayah kamu kenapa, tidak bertanya sekarang di mana, tidak melakukan gerakan wajah yang orang lakukan waktu mereka menyadari mereka sedang berada di dekat lubang.

Dia cuma bilang, “Nama hari itu susah. Cuma tujuh.”

“Ayamnya sebelas.”

“Terus?”

“Terus ada Senin Dua sampai Senin Empat.”

Dia mengangguk pelan. “Masuk akal.”

Dan sesuatu di dadaku, yang sudah tiga tahun berdiri dengan bahu tegang, duduk.

Aku tidak tahu bagaimana lagi menjelaskannya. Duduk. Seperti orang yang akhirnya diizinkan duduk.

Lampu kamar masih menyala. Jam sudah lewat tengah malam. Di luar hujan mulai turun, jenis hujan Desember yang tidak deras tapi tidak berhenti-berhenti.

Aku menggeser posisiku di kasur sehingga aku bisa menyandarkan punggung ke dinding yang sama dengan dinding yang dia sandari, cuma di ketinggian yang berbeda, dan tanganku turun ke sisi kasur.

Dia sedang menjelaskan sesuatu tentang beban struktur pelat lantai dan sama sekali tidak menyadari bahwa dia sedang menjelaskan sesuatu tentang beban struktur pelat lantai kepada anak Ilmu Komunikasi jam dua belas lewat.

Aku memikirkan sesuatu yang tidak masuk akal, dan aku memikirkannya sambil pura-pura mendengarkan.

Aku memikirkan bahwa dia sudah dua jam di kamarku dan tidak sekali pun melihat ke arah lemari.

Lemari itu ada di garis pandangnya. Pintunya sedikit terbuka — selalu sedikit terbuka, karena engselnya turun. Dan di sisi dalam pintu itu, ditempel dengan selotip di empat sudut, ada satu lembar kertas dengan tujuh pasal dan satu materai enam ribu yang tidak berlaku.

Dia tidak melihat ke sana sekali pun.

Aku tidak tahu apakah itu karena dia tidak menyadarinya, atau karena dia menyadarinya sejak menit pertama dan memutuskan untuk tidak melihat.

Aku menurunkan tanganku sedikit lagi.

Ujung jariku kena punggung tangannya, yang bertumpu di lantai di sebelah pahanya.

Dia berhenti bicara.

Dia tidak menarik tangannya.

Dan aku duduk di atas kasur dengan jantung yang tiba-tiba bekerja dengan kecepatan yang sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh cicak mana pun di kota Yogyakarta, dan aku berpikir — dengan sangat jelas, dengan sangat jernih, dengan seluruh kemampuan analitis yang membuatku jadi Pemred di semester lima:

Ini karena cicaknya.

Dan aku mempercayainya.

Itu bagian yang paling ingin kutertawakan sekarang. Aku benar-benar mempercayainya.

Tangannya berbalik. Telapak menghadap atas.

Aku menaruh tanganku di sana.

Kami tidak mengatakan apa-apa selama mungkin dua menit. Hujan di luar. Kipas angin di kecepatan satu. Kucing ibu kos yang namanya September berkelahi dengan kucing yang namanya Maret di halaman bawah.

Lalu gelang di laciku memanas.

Aku merasakannya lewat kayu laci. Panas yang tidak masuk akal, panas yang tidak ada penjelasan fisikanya.

Satu.

Dia tidak melepas.

Dua.

Aku juga tidak.

Ti—

“Alecia.”

Dan dia hilang.


Aku duduk di kasur dengan tangan masih terbuka di udara, di posisi yang sama, selama entah berapa lama.

Nama itu.

Dua kali seumur hidup. Sekali di gudang di Sumberwangi, di puncak pertengkaran, waktu dia mengucapkannya seperti orang menegakkan tata tertib.

Dan sekali barusan, di detik ketiga, waktu tidak ada gunanya lagi mengatakan apa pun.

Aku menarik laci. Gelang itu sudah dingin. Logam biasa. Tembaga tua yang tidak punya cerita.

Aku mematikan lampu. Aku berbaring. Aku menarik selimut sampai dagu.

Dan sebelum tidur, aku melakukan satu hal yang akan aku bantah keras-keras kalau ada yang menuduhku melakukannya.

Aku membuka aplikasi kalender di ponselku, dan aku mengecek tanggal berapa Kamis depan.

Dua belas Desember.

Aku menutup ponselnya.

Aku tidak menulis apa-apa. Aku tidak membuat pengingat. Aku tidak menandai apa pun.

Aku cuma mengeceknya.

Dan aku tidur dengan perasaan yang, kalau aku jujur pada diriku sendiri malam itu — dan aku tidak jujur pada diriku sendiri malam itu, dan tidak akan jujur selama lima minggu berikutnya — sama sekali bukan perasaan orang yang baru saja diganggu cicak.