Chapter Forty One

Extra 01 — Alasan Nomor Sembilan Belas

Aku menulis daftarnya di halaman belakang buku catatan farmakologi, semester lima, dengan pensil, supaya bisa dihapus.

Tidak pernah kuhapus.

Aku memindahkannya ke buku baru dua kali, dan pada pemindahan kedua aku sadar bahwa memindahkan daftar kebohongan ke buku yang lebih rapi adalah hal paling aneh yang pernah kulakukan, dan aku tetap memindahkannya.

Dua puluh satu.

Ini semuanya. Aku tidak melewatkan satu pun, termasuk yang membuatku ingin menghilang.


Satu. Balai desa, KKN, Agustus. “Mas Rayyan tadi hampir pingsan di pagar, kena panas. Saya suruh langsung siram kepala terus buru-buru ke sini karena obatnya di tas saya.”

Dua puluh tiga anak PAUD. Sebelas ibu PKK. Satu Kepala Desa.

Aku memegang kotak P3K sebelum dia muncul. Sampai sekarang tidak ada yang pernah menanyakan itu, dan aku bersyukur, karena jawabannya adalah bahwa aku sudah tiga hari membawa kotak itu ke mana-mana sejak malam aku berdiri di ambang pintu dapur dan melihat sesuatu yang tidak bisa diukur.

Dua. Posko, sore harinya. “Mbak Grace tadi salah masuk kamar. Poskonya mirip semua.”

Sasa percaya. Dimas percaya. Dua orang yang tidur di ruangan yang sama dengan mereka selama sembilan belas hari percaya bahwa poskonya mirip semua.

Orang percaya apa pun yang membuat hari mereka lebih pendek.

Tiga. Lorong Gedung C, Oktober. “Itu petugas laundry kampus.”

Kampus tidak punya laundry.

Dua anak Sipil mengangguk dan pergi. Aku memikirkan ini setiap kali ada yang bilang mahasiswa teknik itu kritis.

Empat. Parkiran, Oktober. “Mas Rayyan lupa bawa berkas, dia balik ke gedung.”

Ini yang paling membosankan dan paling sering kupakai. Sembilan kali sepanjang tahun itu, dengan variasi. Berkas, kunci, jaket, ponsel.

Kebohongan yang bagus itu membosankan. Kebohongan yang menarik selalu ketahuan.

Lima. Ruang rapat, November. “Beliau ke toilet.”

Enam. Ruang rapat, November, empat puluh menit kemudian. “Beliau masih di toilet.”

Aku tidak bangga dengan nomor enam.

Tujuh. Bazar, Oktober. “Mbak, obatnya udah saya bawain dari tadi.”

Ini setengah bohong. Obatnya memang sudah kubawa. Yang bohong adalah dari tadi, karena aku mengambilnya dari tas setelah menonton seseorang mengusap punggung seseorang selama sembilan menit di depan lima belas orang.

Aku menghitung sembilan menit itu.

Aku tidak tahu kenapa aku menghitungnya. Aku tahu sekarang.

Delapan. Depan Wakil Dekan, Oktober.

Ini yang aku bangga.

Beliau bertanya kenapa Ketua BEM meninggalkan ruangan di tengah paparan tanpa izin. Aku menjawab dalam waktu kurang dari satu detik, dengan tiga kalimat, lengkap dengan detail yang tidak diminta — bahwa ada masalah teknis di sekretariat, bahwa kunci brankas ada padanya, bahwa aku yang menyuruhnya buru-buru karena berkas hibah harus dikirim hari itu juga.

Beliau mengangguk. Beliau menandatangani.

Aku pulang malam itu merasa berguna dengan cara yang belum pernah kurasakan dari mencatat notulen selama empat semester.

Aku memikirkan perasaan itu bertahun-tahun sesudahnya, dan aku sampai pada kesimpulan bahwa perasaan itu tanda bahaya, bukan tanda baik.

Orang yang merasa berguna karena berbohong untuk orang lain sedang mencari alasan untuk ada di ruangan.

Sembilan sampai lima belas. Variasi. Berkas, ban bocor, dipanggil dosen, adiknya sakit, ada tamu dari fakultas lain, salah lihat jadwal, sinyal.

Aku tidak menuliskannya panjang-panjang karena tidak ada yang menarik dari nomor sembilan sampai lima belas kecuali jumlahnya.

Enam belas. Sekretariat, Desember. “Mbak Grace tadi ke sini nganterin surat hak jawab.”

Padahal dia muncul di sekretariat jam delapan malam dengan piyama.

Tujuh belas. Ke ibu kos putri Melati Dua, lewat telepon, Januari. “Halo Bu, saya Nadia, teman Mbak Grace. Tadi ada teman kami yang mampir sebentar buat nganterin berkas, mungkin Ibu lihat. Iya, Bu. Iya. Maaf ya Bu.”

Ibu kos itu punya delapan kucing dan menamai semuanya dengan nama bulan, dan beliau tidak pernah menanyakan hal itu lagi.

Delapan belas. Ke diriku sendiri, sepanjang Desember.

Ini yang tidak dihitung orang sebagai kebohongan dan yang sebenarnya paling besar.

“Aku bantuin karena aku sekretaris.”


Sembilan belas.

Aku menulis nomor ini paling akhir, tiga bulan setelah kejadiannya, karena aku tidak sanggup menuliskannya waktu itu.

Kamar kos putra, Desember. Kepada Dimas Saputra.

“Mas Rayyan lagi ada masalah keluarga, jangan ditanya-tanya ya.”

Dimas mengangguk.

Dan dia tidak bertanya apa pun selama dua bulan.


Aku perlu menjelaskan kenapa nomor sembilan belas berbeda dari delapan belas nomor sebelumnya, dan aku sudah bertahun-tahun mencoba menjelaskannya dan selalu terdengar lebih kecil daripada yang sebenarnya.

Delapan belas nomor pertama itu kubohongkan kepada orang yang tidak akan rugi.

Wakil Dekan tidak rugi. Ibu-ibu PKK tidak rugi. Dua anak Sipil di lorong tidak rugi. Kepala Desa tidak rugi. Mereka semua pulang ke rumah masing-masing dan tidur nyenyak dan tidak pernah memikirkannya lagi seumur hidup.

Dimas rugi.

Karena Dimas orangnya percaya semua yang dikatakan orang kepadanya. Itu bukan kebodohan. Itu jenis kebaikan yang jarang dan tidak dihargai siapa pun.

Dan aku memakainya.

Aku memakai kebaikan itu sebagai bahan, seperti orang memakai kardus bekas untuk menyumpal celah pintu.

Dan yang paling parah bukan itu.

Yang paling parah: waktu aku mengucapkannya, Dimas sendiri sedang punya masalah. Skripsinya sudah mandek empat belas bulan. Dia belum berani mengetuk pintu ruangan Pak Marwan sejak Oktober tahun sebelumnya. Setiap pagi dia berangkat dengan tas ransel ke warung kopi depan perpustakaan yang ada colokannya, lalu pulang jam lima seperti orang yang habis kuliah.

Dia sedang membutuhkan seseorang bertanya apakah dia baik-baik saja.

Dan aku datang ke kamarnya, dan aku melihat wajahnya, dan aku menggunakan sepuluh detik yang kupunya untuk memintanya berhenti bertanya kepada orang lain.


Dua puluh. Bagian Kemahasiswaan, September. “Saya nggak tahu, Pak.”

Dua kali dipanggil, dua kali menjawab begitu.

Ini bohong yang berbeda jenisnya. Yang ini bukan untuk melindungi orang lain. Yang ini karena aku belum siap, dan karena tanda tanganku ada di bawah delapan puluh satu lembar, dan karena aku takut.

Aku mencabutnya sendiri tiga bulan kemudian dengan datang ke Poros membawa map plastik bening.

Tapi tiga bulan itu tetap terjadi dan tidak bisa dihapus dan aku tidak akan berpura-pura sebaliknya.

Dua puluh satu. Apotek gerbang selatan, November, jam delapan malam.

Sebelum aku menuliskan yang ini, ada satu hal yang perlu kujelaskan tentang pekerjaan yang kupilih.

Anak Farmasi dilatih empat tahun untuk satu hal: membaca angka kecil yang tidak dibaca siapa pun.

Dosis di kemasan. Tanggal kedaluwarsa yang dicetak samar di lipatan strip. Selisih satu digit di kartu stok. Nomor batch.

Kami tidak dilatih untuk menyembuhkan orang. Dokter yang menyembuhkan. Kami dilatih untuk memastikan tidak ada yang salah di bagian yang tidak dilihat orang.

Aku baru sadar di semester tujuh bahwa aku memilih jurusan yang isinya persis sama dengan cara aku menjalani hidupku sendiri.

Berdiri di samping. Memeriksa. Tidak pernah di depan.


Ini yang terakhir, dan ini bukan aku yang berbohong.

“Dua. Buat stok.”

Aku berdiri di depan rak vitamin dan mendengar seorang laki-laki berumur dua puluh dua tahun mengarang angka dalam waktu satu setengah detik, dan aku mengenali suaranya.

Bukan suara orang berbohong.

Suara orang yang sudah lama sekali berlatih.

Aku menuliskannya di daftarku meskipun bukan aku yang mengucapkannya, karena aku ada di sana, dan karena aku memutuskan malam itu untuk tidak memberitahu siapa pun, dan diam adalah kebohongan yang paling sopan.

Aku menyesalinya selama tiga puluh enam hari.

Pada hari ketiga puluh enam, ada seseorang di IGD, dan aku tahu dari Dimas jam enam pagi, dan aku duduk di lantai kamar kos sambil memikirkan bahwa aku sudah melihat semuanya dan memilih menghormati privasi orang.

Menghormati privasi orang itu bagus.

Tidak selalu.


Dua puluh satu.

Aku menghitungnya lagi bulan Juli tahun berikutnya, di kamar kos di Surabaya, minggu pertama PKPA, dengan buku catatan yang sudah kupindahkan dua kali.

Dua puluh satu kebohongan dalam enam belas bulan.

Nol di antaranya untuk diriku sendiri.

Itu yang membuatku menutup buku itu dan duduk di tepi kasur cukup lama.

Karena kalau kamu berbohong dua puluh satu kali dan tidak sekali pun untuk keuntunganmu sendiri, orang akan bilang kamu baik.

Aku tidak baik.

Aku cuma tidak pernah menganggap diriku cukup penting untuk dibohongi.


Hari kelima PKPA, di apotek rumah sakit tempat aku ditempatkan, aku menemukan sesuatu.

Kartu stok obat golongan tertentu — yang wajib dicatat manual, ditandatangani dua orang, dan dicocokkan setiap pergantian shift.

Selisih empat ampul.

Bukan empat puluh. Empat.

Selisih yang bisa berarti salah tulis, bisa berarti lupa paraf, bisa berarti seseorang mengambil dari lemari sebelum kartunya diisi. Tiga kemungkinan, dan dua di antaranya sepenuhnya wajar.

Aku mahasiswa PKPA. Hari kelima. Aku tidak digaji, aku tidak punya wewenang apa pun, dan penilaian akhirku ditandatangani oleh apoteker penanggung jawab yang kartunya sedang kupegang.

Aku duduk di meja itu memegang kartu stok selama sekitar dua menit.

Dan aku menghitung sesuatu yang lain.

Bukan ampul.

Bulan.

Sebelas.

Aku memotret halaman sebelas lampiran LPJ pada tanggal delapan Januari, dan aku menyerahkannya pada tanggal dua belas Desember, dan di antara kedua tanggal itu ada sebelas bulan yang tidak bisa dikembalikan kepada siapa pun.

Sebelas bulan aku menunggu ada yang bilang bahwa aku boleh berhenti menunggu.


Aku berdiri.

Aku ke ruangan apoteker penanggung jawab dan aku mengetuk dan aku masuk dan aku bilang, tanpa pengantar, tanpa permintaan maaf lebih dulu, tanpa satu pun kalimat penghalus yang biasanya kupasang di depan:

“Bu, kartu stok yang lemari dua ada selisih empat ampul. Saya sudah cocokkan sama catatan serah terima shift kemarin. Yang malam nggak ada parafnya.”

Beliau mengangkat kepala dari layar.

Beliau menatapku selama sekitar empat detik.

Lalu beliau bilang, “Oke. Taruh di meja.”

Tidak ada terima kasih. Tidak ada pujian. Tidak ada satu pun hal yang membuat momen itu terasa seperti sesuatu.

Aku keluar dari ruangan itu dan kembali ke meja dan melanjutkan pekerjaanku dan tidak ada yang berubah di rumah sakit itu hari itu.

Aku ingin menuliskan bahwa aku tenang sesudahnya.

Aku tidak tenang. Aku duduk di meja itu selama empat puluh menit sambil menunggu sesuatu yang buruk terjadi. Aku menyusun tiga skenario: dipanggil, ditegur, atau — yang paling kutakuti — dianggap mahasiswa PKPA yang sok tahu, dan disebut begitu di belakang selama dua bulan sisa penempatan.

Tidak satu pun terjadi.

Yang terjadi: seorang asisten apoteker lewat di belakangku jam empat sore dan bilang “Mbak, lemari dua besok jangan dibuka dulu ya, lagi dihitung ulang,” dengan nada yang sepenuhnya biasa, dan lanjut berjalan.

Itu saja.

Dua hari kemudian ada memo internal tentang kewajiban paraf ganda pada shift malam.

Namaku tidak ada di memo itu.

Aku memotretnya dan menyimpannya di ponsel dan tidak mengirimkannya kepada siapa pun.


Malamnya aku membuka buku catatan itu lagi.

Aku membalik ke halaman daftar. Dua puluh satu nomor, ditulis pensil, dipindahkan dua kali.

Dan aku menulis nomor dua puluh dua.

Bukan kebohongan.

Aku menulis tanggalnya, dan tempatnya, dan satu kalimat yang kuucapkan di ruangan itu pada hari kelima, dan di sebelahnya aku menulis dua kata:

Hari kelima.

Bukan bulan kesebelas.

Hari kelima.

Lalu aku menutup bukunya.


Ada satu hal lagi yang mungkin ingin diketahui orang, dan aku akan menjawabnya sekali saja.

Tidak.

Aku tidak menangis lagi soal itu. Aku sudah selesai bulan Februari tahun sebelumnya, dua belas menit di kamar mandi kos dengan keran menyala, dan sesudahnya aku cuci muka dan minum dua gelas air karena menangis itu membuat dehidrasi.

Aku ke pernikahan mereka empat tahun kemudian. Aku duduk di meja yang sama dengan Dimas dan Sasa dan aku tertawa terlalu keras untuk lelucon Dimas yang masih tidak lucu.

Dan waktu Mbak Grace memelukku di depan pintu — dia yang duluan, dia selalu yang duluan, orang itu tidak pernah bisa menerima apa pun tapi dia selalu yang duluan memeluk — aku bilang selamat, dan aku sungguh-sungguh, dan itu bukan kebohongan nomor dua puluh tiga.

Aku sudah berhenti menghitung di dua puluh dua.

Aku berhenti karena daftar itu isinya semua hal yang kukatakan untuk orang lain.

Dan aku memutuskan, di kamar kos di Surabaya pada bulan Juli, bahwa aku sudah cukup lama jadi orang yang mengingat.

Sekarang giliranku jadi orang yang bilang.