Chapter Five

Materai Enam Ribu

Ada tiga puluh empat tempat makan di radius satu kilometer dari kampus, dan kami memilih yang paling buruk.

Warung Bu Tin ada di gang belakang, di antara bengkel las dan kos-kosan yang catnya sudah menyerah. Menunya empat. Kursinya lima. Tidak ada mahasiswa Uniwira yang pernah ke sana secara sukarela sejak angkatan dua belas, dan itulah tepatnya kenapa kami di sana.

Aku datang duluan. Sepuluh menit lebih awal, karena aku ingin memilih kursi yang menghadap pintu.

Perjalanan ke sana memakan waktu dua belas menit dengan tiga kali berhenti, dan dua di antaranya tidak perlu. Aku berhenti di depan fotokopi dan pura-pura membaca daftar harga. Aku berhenti di mulut gang dan pura-pura membalas pesan.

Aku belum pernah merasa selicik ini seumur hidupku, dan yang paling menghina adalah aku tidak sedang melakukan apa pun yang salah. Aku akan bertemu seseorang di warung. Itu saja. Manusia melakukan itu setiap hari sejak manusia punya warung.

Bu Tin mengelap meja di depanku dan bertanya mau pesan apa.

“Nunggu satu orang dulu, Bu.”

“Pacar?”

“Bukan.”

“Yo wis.” Beliau tidak bertanya lagi. Ini alasan lain kenapa Warung Bu Tin adalah pilihan yang tepat: di tempat yang tidak pernah didatangi mahasiswa, kamu bukan siapa-siapa, dan bukan siapa-siapa itu barang mewah.

Dia datang tepat waktu, membawa map plastik bening.

Map. Plastik. Bening.

“Kamu bawa map,” kataku.

“Aku bawa map.”

“Kita ini mau bikin kesepakatan atau mau ngajuin proposal dana?”

Dia duduk, menarik satu lembar kertas keluar, dan meletakkannya di meja plastik yang lengket.

Diketik. Font serif. Rata kanan-kiri. Judulnya di tengah, huruf besar, ditebalkan.

PERJANJIAN DAMAI

Aku menatapnya cukup lama.

“Kamu ngeprint ini di mana?”

“Fotokopi depan.”

“Kamu ngasih ini ke tukang fotokopi.”

“Aku ngeprint sendiri. Ada komputernya.”

“Dan kamu bayar berapa?”

“Seribu.”

Aku menutup wajah dengan satu tangan dan tertawa — bukan tertawa yang enak, tertawa yang keluar dari orang yang tidak tidur cukup selama tiga minggu. Bu Tin melirik dari balik etalase.

Lalu aku menarik kertas itu ke arahku dan mulai membaca.


Pasal 1 — Dilarang menonton film horor dalam bentuk apa pun setelah pukul 21.00.

“Kenapa jam sembilan?”

“Karena sebelum jam sembilan kamu masih di kampus, ada orang, terang.”

“Aku nonton horor jam dua siang juga bisa takut.”

“Kamu nonton horor jam dua siang?”

“Nggak.”

“Ya sudah.”

Pasal 2 — Pihak Kedua dilarang mengonsumsi makanan pedas. Pihak Pertama dilarang menantang.

Aku berhenti di situ.

Ini bagian yang perlu kujelaskan, karena kalau tidak, orang akan mengira aku pengecut.

Aku tidak tahan pedas. Sama sekali. Bukan level sepuluh, bukan level lima. Level nol pun tubuhku menganggapnya penghinaan. Sejak kecil. Ibuku bilang aku satu-satunya orang Klaten yang alergi pada kebudayaannya sendiri.

Dan selama tiga tahun di kampus, aku tidak pernah sekali pun makan siang bersama tim redaksi.

Bukan karena aku sombong. Karena aku tidak mau menjelaskan.

“Ini kamu tulis dari mana?” tanyaku, dan aku berusaha keras membuat suaraku terdengar seperti pertanyaan biasa.

“Dari kejadian.” Dia tidak melihat ke arahku. Dia sedang mengatur posisi sendok di meja supaya sejajar dengan pinggir meja. “Waktu di posko, ada acara makan-makan malam kedua belas. Semua orang ambil sambal. Kamu ambil dua sendok nasi terus pergi.”

“Aku kenyang.”

“Kamu ambil dua sendok nasi.”

Aku tidak menjawab.

“Aku nggak nulis alasannya,” katanya. “Aku cuma nulis larangannya.”

Dan itu — aku baru mengerti berbulan-bulan kemudian — adalah cara dia meminta maaf dan berjanji sekaligus, dan aku terlalu sibuk merasa telanjang untuk mengenalinya.

Pasal 3 — Dilarang mengendarai sepeda motor di atas 60 km/jam.

“Ini buat kamu apa buat aku?”

“Dua-duanya.”

“Aku nggak punya motor.”

“Kamu boncengan.”

“Ya kalau yang bawa ngebut aku bisa apa?”

“Turun.”

Pasal 4 — Dilarang membiarkan serangga hidup berada di dalam kamar.

Nah.

“Serangga hidup,” kataku.

“Iya.”

“Serangga apa?”

“Serangga.”

“Kecoak? Laba-laba? Semut? Kalau semut aku nggak bisa janji, kamarku ada semut sejak tahun lalu, mereka punya jalur sendiri, kami sudah damai.”

“Serangga,” ulangnya, dan ada sesuatu di rahangnya yang bergerak sedikit. “Tulis aja begitu.”

Aku menatapnya.

Dia menatap sendok.

Dan di situlah pertama kalinya aku menyadari bahwa dokumen ini punya dua penulis dan dua rahasia, dan bahwa dia sudah mengungkap punyaku di Pasal 2 tanpa menyebut namanya, dan bahwa aku sekarang sedang memegang kesempatan untuk membalas dengan pertanyaan lanjutan.

Aku bisa bertanya. Aku wartawan. Bertanya itu satu-satunya keahlianku.

“Oke,” kataku. “Serangga.”

Aku tidak tahu kenapa aku tidak bertanya. Sampai sekarang aku tidak yakin.

Pasal 5 — Jadwal mandi wajib diberitahukan lebih dulu lewat pesan singkat.

Kami sama-sama tidak berkomentar untuk pasal ini selama kira-kira delapan detik.

Lalu aku bilang, “Ini nggak akan bekerja.”

“Kenapa.”

“Karena kalau aku panik jam sebelas malam, aku nggak akan buka HP dulu buat cek apakah kamu lagi mandi.” Aku mengetuk pasal itu dengan kuku. “Dan karena kamu mandi dua kali sehari di jam yang sama, jadi ini pasal yang isinya cuma bilang ke aku jam berapa kamu mandi.”

Telinganya merah. Aku mencatat itu dan menyimpannya.

“Ganti,” katanya akhirnya. “Ditulis begini: kedua pihak wajib memberi kabar sebelum masuk ruang tertutup.”

“Ruang tertutup.”

“Iya.”

“Kamu tahu itu artinya sama saja, kan.”

“Aku tahu.”

Kami tetap memakai kata mandi, karena tidak ada dari kami yang mau mengetik ulang dokumennya di fotokopi depan seharga seribu rupiah.

Pasal 6 — Pihak yang tertarik dilarang berkomentar mengenai isi kamar pihak yang menarik.

“Ini kenapa?”

“Karena kamar kamu berantakan dan aku nggak mau berdebat soal itu tiap kali.”

“Kamar aku—“

“Pasal 6,” katanya.

“Ini belum ditandatangani.”

“Sebentar lagi ditandatangani.”

Pasal 7 — Segala kejadian akibat perjanjian ini dilarang dibawa ke ranah organisasi maupun pemberitaan.

Aku membaca pasal itu dua kali.

Lalu tiga kali.

“Ini yang kamu mau dari awal,” kataku.

“Ini yang kita berdua butuh.”

“Ini yang kamu butuh. Aku yang punya media.”

“Kamu juga yang punya nama yang bisa hancur.” Dia akhirnya melihat ke arahku, dan tatapannya rata seperti biasa, dan itu selalu membuatku ingin melempar sesuatu. “Kalau ini bocor, aku dianggap punya pacar diam-diam. Kamu dianggap tidur sama orang yang kamu tulis tiap bulan. Coba tebak yang mana yang dibahas lebih lama di grup angkatan.”

Warung Bu Tin sunyi selama beberapa detik. Di luar, bengkel las menyalakan sesuatu dan suaranya seperti dunia sedang disobek.

“Aku benci kamu benar,” kataku.

“Aku tahu.”

“Aku benci lebih karena kamu nggak pernah kelihatan seneng waktu kamu benar.”

Dia mengangkat wajah. “Kamu mau aku kelihatan seneng?”

“Aku mau kamu kelihatan manusia.”

Ada sesuatu yang lewat di wajahnya. Cepat sekali. Kalau aku berkedip aku akan melewatkannya, dan sampai sekarang aku tidak tahu itu apa, cuma aku tahu bentuknya tidak sama dengan apa pun yang pernah kutulis tentang dia selama tiga semester.

Lalu dia menunduk lagi ke kertas.

“Pasal tujuh masih kurang satu klausa,” katanya.


Dia mengeluarkan materai dari saku kemejanya.

Aku ingin mencatat untuk sejarah bahwa dia menyimpan materai di saku kemeja, seperti orang dewasa berusia empat puluh lima tahun yang bekerja di kelurahan.

Aku mengambilnya dari tangannya, membolak-balik, dan tertawa lagi.

“Enam ribu.”

“Kenapa?”

“Ketua. Materai enam ribu udah nggak berlaku sejak tahun dua ribu dua puluh satu.”

Dia diam.

“Kamu tahu artinya apa? Artinya dokumen ini batal demi hukum sejak menit pertama. Ini kertas. Ini kertas seribu rupiah yang kamu print di fotokopi depan.”

“Dari mana kamu tahu soal materai?”

“Karena aku pernah nulis tentang pengadaan materai di sekretariat lembaga kemahasiswaan.” Aku menempelkan materai itu ke kertas dan menekannya dengan ibu jari. “Dan karena aku selalu baca yang orang lain lewatin.”

Dia mengambil pulpen. “Kamu masih mau tanda tangan?”

“Ya.”

“Padahal nggak sah.”

“Justru karena nggak sah.” Aku menandatangani lebih dulu, di kiri, menembus materai. “Kalau ini sah, artinya kita nggak percaya satu sama lain, kita cuma takut hukum. Kalau ini nggak sah, dan kita tetap patuh, artinya lain.”

Dia memegang pulpen itu cukup lama sebelum menulis namanya.

Namanya panjang. Jauh lebih panjang dari yang kukira. Ada tiga bagian, dan yang pertama bukan yang dipakai siapa-siapa, dan aku membacanya terbalik dari seberang meja sambil berpikir bahwa aku sudah menulis tentang orang ini tiga puluh empat kali dan baru hari ini tahu ejaan lengkap namanya.

Evandheer.

Aku tidak berkomentar. Aku juga punya nama yang tidak dipakai siapa-siapa.


Bu Tin akhirnya membawa dua piring nasi goreng yang tidak kami pesan, karena menurut beliau dua anak muda yang duduk sejam tanpa memesan apa-apa itu tidak sopan terhadap warung.

Kami makan dalam diam. Nasi gorengnya asin. Aku menyingkirkan irisan cabai ke pinggir piring satu per satu, dan aku sadar setengah jalan bahwa dia melihat, dan aku sadar dia sengaja tidak berkomentar, dan aku sadar bahwa tidak berkomentar itu justru bentuk komentar yang paling keras.

“Pasal dua,” kataku, tanpa mengangkat kepala.

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“Kamu ngeliat.”

“Aku makan.”

“Kamu ngeliat sambil makan.”

Dia meletakkan sendoknya. “Grace. Kalau tiap kali aku nggak komentar kamu anggap aku komentar, kita nggak akan pernah bisa duduk semeja.”

“Kita memang nggak boleh duduk semeja. Itu poin dari seluruh dokumen ini.”

Dia melihat kertas di antara kami. Materai enam ribu itu sedikit miring.

“Iya,” katanya. “Betul.”

Dan entah kenapa, itu jawaban yang membuatku kehilangan selera makan.


Sebelum berpisah, ada satu urusan yang tersisa dan sama-sama kami tunda sampai akhir.

“Nomor,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kalau ada apa-apa—“

“Aku tahu.”

Kami bertukar nomor di depan warung, sambil sama-sama melihat ke arah gang, sambil sama-sama berharap tidak ada yang lewat.

Aku menyimpan nomornya sebagai JANGAN DIANGKAT.

Aku sempat mengetik KETUA dulu, lalu menghapusnya, karena kalau ada yang melihat layarku, kata itu bisa ditebak dalam dua detik. JANGAN DIANGKAT aman. JANGAN DIANGKAT terdengar seperti nomor penagih pinjaman online.

Aku juga menyalakan mode senyap khusus untuk nomor itu, lalu mematikannya lagi tiga menit kemudian, dan aku memilih untuk tidak memikirkan kenapa.

Aku tidak tahu dia menyimpanku sebagai apa. Aku baru tahu enam bulan kemudian, dan waktu aku tahu, aku harus keluar sebentar dari ruangan.

“Satu lagi,” katanya, sudah setengah berbalik. “Aturan tidak tertulis.”

“Kok ada yang nggak tertulis?”

“Karena ini nggak bisa ditulis.” Dia memasukkan map plastiknya ke tas. “Kalau salah satu dari kita ketarik di tempat ramai, yang satunya nggak boleh kelihatan kaget. Kaget itu yang bikin orang nanya. Kalau kamu biasa aja, orang mikir mereka yang salah lihat.”

“Kamu udah mikirin ini sampai situ?”

“Aku mikirin ini sampai jam tiga pagi.”

Dia pergi lebih dulu. Aku menunggu enam menit sebelum keluar dari gang, seperti orang yang habis melakukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada yang sebenarnya terjadi.


Malamnya aku memfotokopi Perjanjian Damai itu — dua rangkap, karena aku tidak percaya pada dokumen tunggal — dan menempel yang asli di dalam pintu lemari, di sisi dalam, tempat yang cuma aku yang buka.

Aku membacanya sekali lagi sebelum menutup lemari.

Tujuh pasal. Semuanya diawali dengan kata dilarang.

Dan berbaring di kasur malam itu, aku menyadari satu lubang yang tidak bisa kutambal, dan lubang itu membuatku tidak bisa tidur sampai lewat tengah malam.

Perjanjian ini mengatur semua hal yang tidak boleh kami lakukan.

Tidak ada satu pasal pun yang mengatur apa yang harus dilakukan kalau perjanjiannya gagal.

Dan aku sudah cukup lama bekerja dengan dokumen untuk tahu bahwa bagian yang tidak diatur bukan bagian yang tidak akan terjadi.

Bagian yang tidak diatur adalah bagian yang paling sering terjadi.