Chapter Seventeen

Hal-hal yang Tidak Dilaporkan

Kami menyusun aturan lagi.

Tidak diketik. Tidak ada materai. Aturan yang ini tumbuh sendiri, satu per satu, dari kejadian, seperti semua aturan yang benar-benar dipatuhi orang.

Aku menuliskannya sekarang karena aku ingin ada catatannya di suatu tempat:

Tidak pernah masuk gerbang bersamaan. Selisih minimal empat menit. Tidak pernah membalas pesan dalam dua menit pertama. Tidak pernah menyebut nama di depan orang lain — cukup “anak Teknik” dan “anak Poros”. Kalau berpapasan di koridor: angguk, jangan senyum. Senyum itu yang bikin orang menoleh dua kali. Tidak pernah lewat jalan yang sama dua Minggu berturut-turut. Tidak ada foto. Tidak ada satu pun foto.

Dan yang paling penting, yang tidak pernah diucapkan tapi paling ketat kami jalankan: kalau salah satu dari kami muncul di depan orang banyak, yang satunya harus terlihat sama jengkelnya seperti bulan Agustus.

Kami sangat baik dalam hal ini. Itu bagian yang menyedihkan.

Kami sudah tiga semester berlatih.

Ada satu kejadian di minggu kedua yang membuatku sadar seberapa baiknya kami.

Rapat koordinasi lembaga, aula lantai satu, sembilan lembaga hadir. Agenda soal alokasi ruang sekretariat. Poros duduk di baris keempat, BEM Teknik di baris pertama seperti biasa.

Aku mengangkat tangan dan menyampaikan keberatan mengenai pemotongan jatah ruang arsip, dan aku menyampaikannya dengan tajam, dan di tengah kalimat aku menyebut BEM Fakultas Teknik sebagai lembaga yang “terbiasa mengukur kebutuhan orang lain dari kursi paling depan”.

Beberapa orang bersuit. Sasa menepuk meja.

Dan dia berdiri, dan menjawab dengan tenang, dan menyebut bahwa Poros “punya kebiasaan mengukur niat orang dari jarak yang tidak pernah didekati”.

Balasan yang bagus. Aku hampir tersenyum dan berhasil menahannya.

Kami saling menyerang selama sebelas menit di depan sembilan lembaga.

Tujuh jam sebelumnya kami sarapan bubur di warung yang sama, dari mangkuk yang sama, karena dia lupa pesan dua.

Aku pulang dari rapat itu dan tidak bisa tidur, bukan karena merasa bersalah, tapi karena satu hal yang lebih tidak enak daripada bersalah:

Aku baru sadar aku menikmatinya.


Pasal 7 mendadak jadi barang berharga.

Segala kejadian akibat perjanjian ini dilarang dibawa ke ranah organisasi maupun pemberitaan.

Kami menulisnya bulan Agustus untuk melindungi diri masing-masing dari satu sama lain. Sekarang pasal yang sama melindungi kami berdua dari semua orang.

Aku menyadari itu pada suatu malam di bulan Februari sambil menatap pintu lemari yang terbuka sedikit, dan aku tertawa sendirian cukup lama, dan aku merasa perlu memberi tahu seseorang.

Ke: Evandheer pasal 7 ternyata jadi berguna

Aku tahu.

kamu udah kepikiran duluan ya

Bulan Desember.

kamu nyimpen itu dari desember?

Aku nggak mau kamu ngerasa kita ngumpet karena aku.

Aku duduk memandangi kalimat itu terlalu lama.

Karena itu justru masalahnya, dan kami berdua tahu, dan tidak ada satu pun dari kami yang mau menyebutkannya:

Kami ngumpet karena aku.

Kalau ini bocor, dia akan disebut punya pacar diam-diam, dan orang akan mengangkat bahu, dan tiga minggu lagi ada gosip baru.

Kalau ini bocor, aku akan kehilangan satu-satunya hal yang membuat tulisanku berarti.


Sekarang bagian yang paling konyol dari seluruh urusan ini.

Semua aturan itu — empat menit, dua menit, jalan berbeda, tidak ada foto — semuanya sia-sia terhadap satu hal yang tidak bisa kami atur sama sekali.

Kalau aku panik, dia akan berdiri di sebelahku. Di mana pun. Di depan siapa pun.

Kami sedang menjalankan protokol keamanan paling ketat di kampus ini untuk melindungi rahasia yang bisa runtuh kapan saja karena seekor cicak.

Aku menyebutkannya sekali, di Warung Bu Tin, dan dia menjawab dengan sangat tenang:

“Iya. Tapi kalau kita berhenti hati-hati, kita nggak punya apa-apa lagi.”

“Kita emang nggak punya apa-apa.”

“Kita punya empat menit.”

Dan aku benci bahwa itu terdengar masuk akal.


Tanggal dua puluh Februari, hari Kamis, jam lima sore, dia datang ke ruang redaksi Poros.

Resmi. Dengan surat.

Aku perlu menjelaskan ini, karena ceritanya lucu.

Bulan Oktober, di ruang sidang 2.04, aku berdiri di depan tiga penguji dengan handuk di kepala dan mengarang sebuah alasan: bahwa Poros sedang menyusun laporan soal beban skripsi mahasiswa tingkat akhir.

Itu bohong.

Bulan Desember, Sasa membaca notulen rapat lama, menemukan catatan itu, dan bertanya kapan laporannya jalan.

Jadi sekarang laporannya jalan.

Enam belas responden, tiga fakultas, dua narasumber dosen. Aku sudah kepalang. Aku menjalankan sebuah proyek jurnalistik yang lahir dari kepanikan seseorang, dan proyek itu ternyata bagus, dan itu bagian yang paling kusesali karena artinya aku harus meneruskannya.

Salah satu narasumbernya: Ketua BEM Fakultas Teknik, yang sidang proposalnya mundur satu semester karena mengganti seluruh sumber data.

Sasa sendiri yang mengusulkan namanya.

“Dia kandidat sempurna,” katanya di rapat. “Orang yang paling nggak mungkin gagal, tapi mundur juga. Itu justru poinnya.”

Empat orang mengangguk.

Aku menulis “setuju” di notulen dengan tangan yang sangat stabil.


Ruang redaksi Poros ada di lantai dua gedung lembaga kemahasiswaan, di ujung koridor, dengan pintu yang tidak bisa ditutup rapat karena kusennya melengkung.

Jam lima sore itu ruangan kosong. Semua orang sudah pulang. Sasa sedang di percetakan mengambil dummy.

Wawancaranya berlangsung dua puluh delapan menit dan sepenuhnya profesional.

Aku bersumpah demi apa pun bahwa dua puluh delapan menit itu sepenuhnya profesional. Aku punya rekamannya. Aku bertanya sembilan pertanyaan, tujuh di antaranya tidak nyaman, dan dua di antaranya membuat dia diam agak lama sebelum menjawab.

Menit kedua puluh delapan, aku mematikan perekam.

Dua pertanyaan yang membuatnya diam agak lama itu perlu kutulis di sini, karena keduanya menjadi penting berbulan-bulan kemudian.

Pertanyaan keenam: Kenapa Mas mengganti seluruh sumber data padahal proposalnya sudah lolos?

Jawabannya, setelah jeda tujuh detik: “Karena ada masukan penguji soal status proyeknya.”

Pertanyaan kedelapan: Apakah pergantian itu memundurkan Mas satu semester?

Jawabannya, setelah jeda yang lebih panjang: “Iya.”

Aku tidak menanyakan pertanyaan kesembilan, yang sudah kutulis di daftar dan kucoret di tempat: Proyek siapa?

Aku mencoretnya bukan karena aku tidak ingin tahu.

Aku mencoretnya karena aku takut dia akan menjawab.

Dan menit kedua puluh delapan koma lima, aku berkata:

“Kamu di sini setengah jam lagi nggak?”

“Kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

Dia menatapku.

Aku menatapnya.

Dan ini bagian yang tidak akan pernah kutulis di rubrik mana pun: aku yang berdiri lebih dulu, lagi, seperti di kamar gelap dua minggu sebelumnya, karena ternyata aku memang orang yang begitu dan aku baru tahu di umur dua puluh satu tahun.

Meja redaksi itu penuh kertas. Kami menjatuhkan dua tumpukan.

Ciuman keduanya berlangsung mungkin sembilan detik, dan sepenuhnya berbeda dari yang pertama, karena yang pertama gelap dan hujan dan tidak ada satu pun dari kami yang tahu urutannya, sementara yang ini terang dan terburu-buru dan dua-duanya tahu persis apa yang sedang dilakukan.

Dan di detik kesembilan, ada bunyi di tangga.

Sepatu. Bunyi khas. Sasa punya sepatu kanvas yang solnya sudah lepas di bagian tumit sebelah kanan dan bunyinya tidak bisa ditiru orang lain di gedung itu.

Kami terpisah dengan kecepatan yang, kalau ada yang mengukurnya, mungkin memecahkan rekor.

Dia mundur tiga langkah dan menabrak rak arsip. Aku menjatuhkan perekam. Aku memungutnya. Aku duduk. Aku membuka laptop. Aku mengetik dua belas huruf acak.

Pintu terbuka.

“Gres, dummy-nya—“ Sasa berhenti. “Loh.”

“Wawancara,” kataku.

“Wawancara,” kata dia, dari depan rak arsip, dengan suara yang untungnya rata karena orang itu memang selalu rata.

Rak arsip itu bergoyang. Satu map jatuh. Dia menangkapnya di udara dengan refleks yang, dalam situasi lain, akan mengesankan.

Sasa melihat kertas yang berhamburan di lantai.

“Ini kenapa?”

“Kipas,” kataku.

Kipas angin di ruang redaksi itu rusak sejak bulan Juni.

Sasa melihat kipas itu. Lalu melihat kami. Lalu melihat kipas itu lagi.

“Oh,” katanya.

Dan dia berjalan ke mejanya, meletakkan dummy, dan mulai membicarakan margin halaman sembilan.


Dia pulang jam enam kurang.

Aku dan Sasa mengerjakan layout sampai jam delapan, dan selama dua jam itu Sasa tidak menyinggung apa pun sama sekali, dan itu jauh lebih buruk daripada kalau dia menyinggung.

Jam delapan lewat, sambil mematikan komputer, Sasa berkata tanpa menoleh:

“Gres.”

“Hm.”

“Kalau kamu mau cerita, ceritain. Kalau nggak mau, ya udah.” Dia memasukkan laptopnya ke tas. “Tapi jangan bikin aku pura-pura bego. Aku nggak bego.”

Aku menatap layar yang sudah mati.

“Sa—“

“Aku bukan nanya.” Dia menyampirkan tas. “Aku cuma nggak mau tiga tahun kita jadi kayak gini gara-gara satu hal yang aku nggak boleh tahu.”

Dia keluar. Sepatunya berbunyi di tangga, sol tumit kanan yang lepas, sampai hilang di lantai bawah.

Aku duduk di ruang redaksi yang kosong selama entah berapa lama.


Aku Pemimpin Redaksi.

Aku sudah tiga tahun berdiri di depan orang dan bilang bahwa hal yang disembunyikan selalu disembunyikan untuk melindungi orang yang salah. Aku sudah menulis kalimat itu, atau versinya, mungkin dua puluh kali. Aku pernah membentak anggota yang menahan satu paragraf demi menjaga perasaan narasumber.

Dan bulan Februari tahun itu, daftar hal yang tidak kulaporkan kepada siapa pun berbunyi begini:

Bahwa aku menyetok kopi dua gelas setiap Kamis sejak akhir Januari. Bahwa ada nama di ponselku yang tidak ada orangnya di kampus ini. Bahwa ada payung hitam di sudut kamarku yang bukan punyaku dan tidak akan pernah kukembalikan. Bahwa aku tahu persis kenapa Ketua BEM Fakultas Teknik mundur satu semester, dan itu bukan alasan yang dia berikan dalam wawancara, dan aku tetap menulis alasan yang dia berikan. Bahwa aku pernah melihatnya berdiri di atas kursi plastik tanpa suara, dan tidak menuliskannya, dan tidak akan pernah menuliskannya. Bahwa dia satu-satunya orang yang tidak pernah bertanya kenapa aku tidak makan pedas. Bahwa aku berbohong kepada Sasa hari ini, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tentang kipas angin yang rusak sejak bulan Juni.

Tujuh butir.

Aku menulisnya di aplikasi catatan ponselku malam itu, lalu menghapusnya, karena aku tahu betul apa yang terjadi pada dokumen.

Aku juga memikirkan Sasa.

Aku memikirkan bahwa selama tiga tahun, dialah orang yang selalu kutelepon duluan. Waktu aku terpilih jadi Pemred. Waktu ibuku masuk rumah sakit dua hari di semester empat. Waktu aku ditolak magang di dua tempat sekaligus.

Dan bahwa hal terbesar yang terjadi padaku tahun ini, aku ceritakan kepada nol orang.

Bukan karena aku tidak percaya padanya.

Karena begitu aku menceritakannya, aku harus menceritakan seluruhnya — kutukan, gudang, gelang tembaga, halaman posko jam dua pagi — dan pada titik itu bukan cuma hubunganku yang jadi taruhan. Kewarasanku juga.

Dan aku sudah tiga tahun mengajarkan satu hal kepada anak-anak baru di Poros: kalau sumbermu cuma satu dan tidak bisa diverifikasi, kamu tidak menulisnya.

Aku sumber tunggal yang tidak bisa diverifikasi.

Aku, secara harfiah, tidak layak berita.

Dan aku pulang jalan kaki lewat rute yang berbeda dari rute Minggu lalu, seperti yang sudah kami sepakati, di bawah lampu jalan Karangmalang yang setengahnya mati.

Sepanjang jalan aku memikirkan satu hal, dan aku belum menemukan jawabannya sampai sekarang:

Kalau pekerjaanku adalah memastikan orang tahu, apa artinya bahwa hal terpenting dalam hidupku tahun ini adalah hal yang paling rapi kusembunyikan?

Sampai di kos, ponselku menyala.

Evandheer Kipas.

diem

Rusak sejak Juni.

DIEM

Sampai kos?

iya

Oke. Selamat malam, Ace.

Dan aku berdiri di depan pintu kamar dengan kunci di tangan dan senyum yang untungnya tidak dilihat siapa-siapa, dan aku sadar dengan sangat jelas bahwa aku sudah jadi orang yang persis seperti yang biasa kutulis.

Orang yang punya informasi, dan memutuskan sendiri siapa yang berhak tahu.