Chapter Forty

Empat Puluh Menit

Aku dapat kerja di Jakarta bulan Juni.

Media daring kecil, dua belas orang, kanal liputan mendalam, gaji yang cukup untuk kos di Tebet dan tidak cukup untuk hal lain. Redakturnya menghubungiku duluan lewat surel, dan di badan surelnya beliau menyebut satu tulisan.

Bukan tulisanku.

Sebelas Titik, ditulis Salsabila, dan Enam Belas Digit, ditulis Salsabila.

Aku membalas dan menjelaskan bahwa keduanya bukan tulisanku dan bahwa saya waktu itu sudah tidak menjabat.

Beliau membalas: Saya tahu. Saya juga tahu siapa yang nyerahin seluruh berkasnya ke penerusnya tanpa nahan satu lembar pun. Yang itu lebih susah.

Aku menatap surel itu selama sepuluh menit dan menangis di ruang redaksi Poros yang sudah bukan ruang redaksiku, di kursi yang sudah bukan kursiku, di gedung yang tiga tahun lalu kunaiki tangganya untuk pertama kali dengan tas selempang dan buku catatan lecek.


Kami membicarakannya selama tiga minggu.

Bukan bertengkar. Membicarakan.

Aku menuliskan itu karena orang selalu mengharapkan pertengkaran di bagian ini, dan tidak ada.

Yang ada: dua orang duduk di lantai kamar kos pada hari Kamis dengan dua gelas kopi, menghitung.

Enam ratus kilometer. Kereta lima jam. Tiket dua ratus ribu sekali jalan, empat ratus pulang pergi. Dia baru mulai kerja bulan Mei di konsultan pengawas dengan tujuh karyawan. Aku baru mulai bulan Juli dengan masa percobaan tiga bulan.

Kami menghitung berapa kali sebulan yang masuk akal.

Jawabannya: satu.

Kadang tidak.

“Van, kalau kamu mau bilang jangan pergi, bilang sekarang.”

Dia meletakkan gelasnya.

“Aku nggak akan bilang itu.”

“Kenapa?”

“Karena aku pernah mikir ngelindungin itu artinya pergi,” katanya. “Dan kamu marah setengah mati. Jadi kayaknya nahan orang juga bukan artinya sayang.”

“Itu bukan hal yang sama.”

“Aku tahu.” Dia mengangkat bahu. “Tapi aku belum pinter, Ace. Aku baru belajar tujuh bulan. Aku pakai aturan yang paling aman dulu.”


Bus berangkat tanggal dua puluh delapan Juni, jam empat sore, dari Terminal Giwangan.

Bukan kereta. Bus, karena bagasi kereta tidak cukup dan karena aku membawa dua kardus buku yang tidak akan pernah kubuka lagi tapi tidak sanggup kutinggalkan.

Aku mengirim pesan pagi harinya.

van jam 4 ya giwangan

Aku tahu.

kamu kerja sampai jam berapa

Setengah lima. Proyek di Prambanan.

ya udah nggak usah

Aku tahu.

van serius nggak usah jauh terus kamu belum boleh capek

Oke.

“oke” nya beneran oke apa oke yang lain

Oke.


Hujan mulai jam dua siang.

Bukan hujan Juni yang wajar. Hujan yang salah musim, yang datang tiba-tiba dan tidak berhenti-berhenti, jenis hujan yang membuat semua orang di terminal berdiri di bawah kanopi sambil menatap langit dengan wajah yang sama.

Sasa dan Dimas mengantarku.

Sasa membawa payung. Dimas tidak membawa apa pun dan berdiri kehujanan selama enam menit sebelum menyerah dan masuk ke bawah kanopi.

Nadia datang jam tiga lewat.

Aku tidak menyangka.

Dia membawa kantong plastik kecil berisi obat perjalanan dan permen jahe dan dia bilang “ini buat mabuk darat, Mbak, diminum tiga puluh menit sebelum berangkat” dengan nada yang sama persis seperti nada di kantin Farmasi bulan Mei.

Aku memeluknya.

Aku tidak merencanakan itu. Aku bukan orang yang begitu.

Dia kaget selama satu detik, lalu tidak.


Busnya berangkat jam empat.

Aku ketinggalan.

Ini bagian yang harus kuceritakan dengan tepat, karena orang selalu mengira aku ketinggalan karena drama, dan tidak.

Aku ketinggalan karena aku salah baca kode peron.

Peron sembilan, bukan peron enam. Aku sudah dua puluh dua tahun dan aku sudah tiga tahun bekerja dengan angka dan aku salah baca satu digit di layar yang buram karena hujan, dan waktu Sasa berlari ke peron sembilan sambil berteriak namaku, busnya sudah keluar gerbang.

Empat menit.

Empat menit dan enam ratus kilometer.

Bus berikutnya jam sembilan malam.


Sasa harus pulang jam setengah lima karena dia ada rapat redaksi. Aku memaksanya pulang. Dia menolak tiga kali dan aku memaksa.

Dimas harus pulang jam lima karena motornya dipinjam dan harus dikembalikan.

Nadia menawarkan untuk menunggu dan aku bilang tidak usah, dan dia menatapku beberapa detik dengan cara yang membuatku tahu bahwa dia tahu, dan dia tetap pulang karena dia menghormati apa pun yang sedang kulakukan.

Jam setengah enam, aku sendirian di Terminal Giwangan dengan dua kardus buku, satu koper, dan hujan yang tidak berhenti-berhenti.


Aku panik jam enam kurang.

Aku ingin menuliskan bahwa penyebabnya besar. Tidak.

Lampu di ruang tunggu peron sembilan mati — cuma sebagian, cuma yang di sisi timur — dan bagian itu jadi gelap, dan aku sendirian di bangku besi dengan dua kardus, dan ada seorang laki-laki berdiri di ujung peron yang sudah dua puluh menit tidak menaiki bus mana pun.

Sembilan puluh sembilan persen kemungkinan tidak ada apa-apa.

Tubuhku tidak peduli pada statistik.

Napasku pindah ke leher dalam waktu kurang dari dua detik, dan tanganku dingin, dan aku merasakan seluruh terminal itu mengecil menjadi seukuran satu bangku besi.

Dan aku memanggil.

Aku tidak berteriak. Aku mengucapkannya dengan suara biasa, seperti orang memanggil seseorang di ruangan sebelah, karena selama enam belas bulan aku tidak pernah perlu berteriak.

“Van.”

Hujan di atap seng.

“Van.”

Aku merogoh tas. Aku mengeluarkan setengah gelang tembaga itu — yang selalu kubawa, di kantong kecil di dalam, selama sepuluh bulan terakhir tanpa satu pun alasan yang bisa kupertanggungjawabkan.

Hijau di sisi patahannya. Bukan bintik lagi. Hijau semuanya sekarang, sepanjang tepinya, seperti pipa air tua.

Dingin.

Aku menggenggamnya sampai sisinya berbekas di telapak tanganku, dan aku duduk di bangku besi di peron sembilan Terminal Giwangan pada tanggal dua puluh delapan Juni jam enam kurang, dan tidak ada yang datang.


Laki-laki di ujung peron itu naik bus jurusan Wonogiri jam enam lewat.

Lampu sisi timur menyala lagi jam enam lewat dua puluh, setelah petugas memukul kotak sekringnya dua kali.

Napasku turun sendiri sekitar jam setengah tujuh, tanpa ada yang menghitungkan, karena aku sudah belajar melakukannya sendiri sejak bulan Oktober di anak tangga kos Melati Dua.

Dan aku duduk di bangku itu, basah sampai lutut, dengan dua kardus buku yang bagian bawahnya sudah mulai lembek.

Dan aku menghitung.

Enam belas bulan. Dua puluh sembilan kali. Halaman posko jam dua pagi, balai desa, kamar kos yang kabelnya terbakar, tujuh belas orang menonton film horor, ruang sidang 2.04, warung seblak, kursi plastik, gedung yang digembok, Jalan Kaliurang.

Dua puluh sembilan kali seseorang muncul di depanku tanpa pernah sekali pun diberi kesempatan untuk memilih.

Dan hari ini, di peron sembilan, untuk pertama kalinya sejak tanggal sembilan belas Agustus dua tahun yang lalu, aku takut dan tidak ada yang datang.

Aku menuliskan sekarang apa yang kurasakan, dan aku sudah lama berhenti berpura-pura tentang hal ini:

Lega.

Dan sesudah lega, sekitar dua sampai tiga detik kemudian, hal yang lain.

Sepi.


Empat puluh menit.

Aku menghitungnya, karena aku menghitung segala hal, karena aku sudah dua puluh dua tahun begitu dan tidak akan berubah.

Dari jam enam kurang — dari detik aku mengucapkan namanya untuk yang kedua kali di peron kosong — sampai jam enam lewat tiga puluh delapan.

Empat puluh menit.

Aku dengar motornya sebelum aku melihatnya.

Bunyi mesin yang sudah kuhafal sejak bulan November tahun lalu, masuk lewat gerbang barat terminal dengan kecepatan yang jelas-jelas melanggar Pasal 3 dan setiap peraturan lalu lintas yang berlaku di Republik Indonesia.

Motor itu berhenti sepuluh meter dari peron sembilan.

Jas hujan plastik dua ribuan yang sudah sobek di bahu kanan. Air masuk lewat sobekan itu dan seluruh sisi kanan bajunya lebih gelap daripada sisi kiri.

Sepatunya penuh air. Aku bisa melihatnya waktu dia turun. Air keluar dari lubang tali sepatunya waktu dia melangkah.

Dia melepas helm.

Rambutnya basah dan menempel ke dahi.

Dan aku duduk di bangku besi itu dengan setengah gelang tembaga hijau di tangan dan dua kardus buku yang bawahnya lembek, dan aku tidak berdiri.


“Telat.”

“Iya.” Dia berjalan mendekat, dan berhenti di depan bangku, dan air menetes dari ujung jas hujannya ke lantai peron. “Jauh, tau.”

Aku mengangkat wajah.

“Tapi kali ini aku yang milih dateng.”


Kami tidak memeluk.

Belum. Bukan saat itu.

Dia duduk di bangku besi di sebelahku dengan jas hujan yang masih dipakai, dan selama beberapa detik tidak ada yang bicara, dan hujan di atap seng terdengar seperti sesuatu yang tidak akan pernah berhenti.

“Kamu tahu dari mana aku ketinggalan?”

“Sasa.”

“Sasa?”

“Dia nelepon jam setengah lima.” Dia melepas jas hujannya dan melipatnya asal-asalan. “Aku masih di Prambanan. Aku ganti baju di pos satpam proyek dan berangkat jam lima kurang.”

“Satu setengah jam, Van.”

“Hujan.”

“Kamu belum boleh capek.”

“Aku tahu.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Kamu nggak bales pesanku yang bilang jangan.”

“Aku bales. Aku bilang oke.”

“Itu oke yang mana?”

Dan dia menoleh, dan sudut mulutnya bergerak, dan hujan menetes dari rambutnya ke bahunya sendiri.

“Yang lain,” katanya.


Aku membuka telapak tanganku.

Setengah gelang tembaga, hijau di seluruh tepinya, dengan bekas cetakan di kulit telapakku karena aku menggenggamnya terlalu lama.

Dia merogoh saku celananya.

Punyanya juga hijau. Lebih parah — dia menyimpannya di saku selama dua tahun dan tembaga tidak suka keringat.

Kami meletakkan keduanya di bangku besi di antara kami.

Mereka tidak menyatu. Mereka tidak menyala. Tidak ada apa pun yang terjadi.

Dua potong logam tua di bangku terminal.

“Udah selesai, ya,” kataku.

“Kayaknya.”

“Kapan?”

“Empat belas Desember.”

“Kamu tahu kenapa?”

Dia diam agak lama.

“Mbah Warsih bilang nganti wis ora perlu,” katanya. “Sampai sudah tidak perlu.”

“Terus kita udah nggak perlu?”

“Bukan gitu.” Dia memutar potongan gelangnya di antara jari. “Yang nggak perlu itu dipaksanya, Ace. Bukan datengnya.”

Hujan di atap seng.

“Sing siji nunggu sing siji,” katanya. “Selama masih ada yang nunggu, benda ini masih ada kerjaan. Begitu dua-duanya udah pasti dateng tanpa disuruh, nggak ada lagi yang perlu ditagih.”

Aku menatap dua potong logam itu.

“Van, itu penjelasan paling ngarang yang pernah aku denger.”

“Aku tahu.”

“Kamu mikirin itu berapa lama?”

“Enam bulan.”

“ENAM BULAN?”

“Aku nggak punya kerjaan lain di ruang tunggu klinik.”

Dan aku tertawa di peron sembilan Terminal Giwangan pada tanggal dua puluh delapan Juni jam tujuh kurang, dengan celana basah sampai lutut dan dua kardus buku yang sudah tidak bisa diselamatkan, sampai aku harus menutup mulutku dengan tangan karena ada ibu-ibu di bangku seberang yang menoleh.


Bus jam sembilan.

Kami punya dua jam.

Kami menghabiskannya di warung soto di seberang terminal — soto yang biasa saja, yang kuahnya terlalu asin, yang di mejanya ada botol sambal yang tidak disentuh siapa pun di meja itu.

Dia mengantarku sampai peron jam sembilan kurang sepuluh.

Dia mengangkat dua kardus buku itu ke bagasi meskipun aku bilang jangan, dan dia melakukannya dengan cara orang yang belum boleh angkat berat dan sedang berpura-pura tidak sedang berpura-pura.

Dan di depan pintu bus, dengan sopir yang sudah menyalakan mesin dan kondektur yang sudah mengetuk badan bus dua kali, aku bertanya.

Aku sudah menyiapkan pertanyaan itu sejak warung soto, dan aku mengucapkannya dengan suara yang sepenuhnya tidak siap.

“Van. Kalau nanti aku panik lagi.”

Dia berdiri di bawah kanopi dengan rambut yang masih basah.

“Di sana,” lanjutku. “Enam ratus kilometer. Nggak ada gelangnya lagi.”

Hujan sudah berhenti sekitar dua puluh menit yang lalu. Yang tersisa cuma tetesan dari kanopi, satu-satu, ke aspal.

Dan dia menjawab.

“Jangan kaget, nanti aku datang.”