← Empat Jam

Chapter Nine

Laki-Laki yang Lebih Mudah

POV: Cyntia


Aldi Pranatha adalah jenis laki-laki yang membuat hidup terasa masuk akal.

Dia salah satu pendiri Arunika, VP Product, tiga puluh tiga tahun. Dia mengingat nama istri seluruh kepala departemen dan nama anak-anak mereka. Dia memotong rapat yang tidak produktif dengan sopan sebelum menit kelima belas. Dia satu-satunya orang di jajaran atas yang benar-benar membaca dokumen sebelum berkomentar, dan ketika dia tidak setuju denganku di rapat produk minggu kedua, dia mengirim pesan setelahnya: maaf tadi keras, argumenmu bener di dua poin, aku salah.

Aku menyukainya. Dengan tulus, dengan cara yang tidak rumit, seperti orang menyukai cuaca yang bagus.

Dia mengajakku makan malam pada hari Kamis, di lobi, pukul tujuh lewat, ketika aku sedang menunggu lift turun.

“Bukan urusan kerjaan,” katanya, dan dia mengatakannya dengan lurus, tanpa lelucon pengaman, tanpa jalan keluar yang disiapkan sebelumnya. “Kalau kamu nggak nyaman karena aku founder dan kamu manajer, aku ngerti. Bilang aja nggak, dan besok kita rapat seperti biasa dan aku nggak akan singgung lagi.”

Aku menghormati itu. Aku benar-benar menghormatinya. Sedikit sekali laki-laki yang berani memberi orang lain pintu keluar sebelum diminta.

Dan di detik yang sama, di ujung penglihatanku, pintu lift di sisi kanan terbuka dan Ervan keluar sambil menenteng tas laptopnya.


Waktu punya selera humor yang sangat buruk, atau mungkin tidak punya selera humor sama sekali dan itu justru yang membuatnya lucu.

Aldi berdiri di depanku menunggu jawaban. Ervan berjalan melintasi lobi ke arah pintu putar, jalurnya melewati kami dalam jarak empat meter, dan sudah terlambat baginya untuk berbelok tanpa terlihat sengaja.

Aku punya satu setengah detik untuk memutuskan, dan aku benci diriku karena aku memakai satu setengah detik itu untuk berpikir tentang orang ketiga.

Sebagian kecil dari diriku — bagian yang paling ingin kubuang ke tempat sampah — berkata: biarkan dia melihat.

Aku membenci bagian itu.

Tapi aku juga tahu, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa aku tidak akan pernah tahu apa pun kalau aku tidak pernah melemparkan sesuatu ke arahnya. Dia tidak memberi apa-apa. Selama tiga minggu dia tidak memberi apa-apa. Kalau ada satu hal saja yang bisa membuat wajah itu bergerak, aku ingin tahu apa itu.

Jadi aku tidak menurunkan suaraku.

“Aldi, makasih,” kataku, dengan volume normal, volume orang yang tidak sedang menyembunyikan apa pun. “Tapi aku nggak bisa. Bukan soal jabatan. Aku lagi nggak di posisi buat itu.”

Empat meter.

Aku tidak menoleh. Aku memaksa diriku untuk tidak menoleh, dan aku menatap wajah Aldi, dan aku memakai seluruh sisa kesadaranku untuk merasakan sisi kanan tubuhku, cara orang merasakan sesuatu tanpa melihat.

Langkahnya tidak berubah.

Tidak melambat. Tidak mempercepat. Tidak ada jeda satu pun di ritme sepatunya di lantai marmer.

“Oke,” kata Aldi, dan dia tersenyum dengan cara yang sepenuhnya baik-baik saja. “Makasih udah jawab lurus. Aku nggak akan singgung lagi.”

Dan pada saat itu Ervan sampai di jarak terdekatnya dengan kami, dan dia menoleh, dan dia berkata:

“Malam, Pak Aldi. Malam, Bu Cyntia.”

Ramah. Wajar. Volume yang tepat. Dua nama disebut dengan urutan yang benar sesuai senioritas.

“Malam, Van,” kata Aldi. “Udah kelar sistemnya?”

“Belum, Pak. Besok.”

“Jangan malem-malem terus.”

“Siap, Pak.”

Dan dia berjalan terus, mendorong pintu putar, keluar ke udara malam, punggungnya menghilang di antara mobil-mobil.


Aku pulang dan berdiri di dapur apartemenku dengan lampu belum kunyalakan.

Ada bagian dari diriku yang berharap dia marah. Ada bagian yang lebih buruk lagi, yang berharap dia cemburu, dan bagian itu sekarang berdiri di dapur gelap ini bersamaku dan aku tidak bisa mengusirnya.

Tapi bukan itu yang membuatku tidak bisa menyalakan lampu.

Yang membuatku tidak bisa menyalakan lampu adalah dua kata.

Bu Cyntia.

Dia menyebut namaku setelah nama Aldi. Dia menyapa kami berdua dengan ramah, di detik ketika perempuan yang pernah dia cintai baru saja menolak laki-laki lain dengan suara yang cukup keras untuk didengar dari empat meter.

Dan sekarang aku duduk di sini dan aku tidak tahu mana dari dua hal ini yang benar:

Dia tidak mendengar.

Atau dia mendengar semuanya, dan tetap menyapa dengan ramah, karena tidak ada satu bagian pun dari dirinya yang menganggap dia punya hak untuk terganggu.

Kemungkinan pertama menyakitkan.

Kemungkinan kedua jauh lebih buruk, karena kemungkinan kedua berarti dia sudah selesai memutuskan, jauh-jauh hari, bahwa apa pun yang kulakukan dengan hidupku bukan lagi wilayah yang boleh dia rasakan.

Aku menyalakan lampu.

Aku memasak mi instan karena aku tidak sanggup memutuskan apa pun yang lebih rumit dari itu, dan aku memakannya berdiri di depan kompor, dan di tengah suapan aku menyadari sesuatu yang membuatku menaruh garpuku.

Aku menolak Aldi karena aku tidak sedang di posisi untuk itu. Itu benar. Itu jujur.

Tapi aku menolaknya dengan suara keras.

Aku memakai penolakan yang tulus sebagai alat, dan aku memakainya di depan dua orang, dan salah satunya adalah laki-laki baik yang baru saja memberiku pintu keluar sebelum aku memintanya.

Aku menaruh mangkukku di wastafel.

Aku pernah melakukan ini sebelumnya. Ini persis polaku: aku mengambil sesuatu yang sebenarnya benar, lalu memakainya untuk keperluan lain, lalu berkata pada diriku bahwa aku tidak berbohong karena secara teknis setiap katanya benar.

Aku lagi banyak kerjaan. Benar. Aku ketiduran. Benar. Kamu nggak apa-apa kalau aku baru bisa telepon besok? Benar, dan dijawab dengan tidak apa-apa, dan disimpan sebagai izin.

Tiga tahun, dan aku masih orang yang sama.


Aku mengirim pesan ke Aldi pukul sebelas malam.

Aldi, maaf soal tadi. Jawabanku bener, tapi caraku salah — aku ngomongnya keras di lobi padahal ada orang lewat. Kamu nggak pantes dijawab kayak gitu. Maaf.

Dia membaca dalam dua menit.

Nggak masalah. Tapi makasih udah bilang.

Lalu, satu menit kemudian:

Boleh nanya satu hal? Terus nggak usah dijawab kalau nggak mau.

Boleh.

Ervan?

Aku menatap layar itu lama sekali, cukup lama sampai layarnya meredup dan aku harus menyentuhnya lagi.

Kenapa nanya gitu?

Karena kamu ngomong keras pas dia lewat, tulisnya. Dan karena tiga minggu terakhir tiap rapat, kamu selalu tahu dia lagi di mana di ruangan.

Aku tidak menjawab.

Titik-titik muncul di layarnya, lalu hilang, lalu muncul lagi.

Nggak usah dijawab. Aku cuma mau bilang satu hal terus selesai.

Aku udah lima tahun kerja bareng dia. Orang itu nggak pernah minta apa pun ke perusahaan ini. Sekali pun.

Kalau kamu bikin dia minta sesuatu, kamu berhasil.

Aku membaca pesan itu berkali-kali sambil duduk di lantai dapur.

Laki-laki yang baru saja kutolak, dengan cara yang tidak adil, di depan orang yang tidak bersangkutan, mengirimiku petunjuk tentang bagaimana cara memperbaiki hidupku.

Dan yang paling menyakitkan bukan itu.

Yang paling menyakitkan adalah Aldi menganggap “membuat Ervan meminta sesuatu” adalah hal yang mungkin.

Aku sudah tiga minggu di sana. Aku sudah melihat mejanya, kalendernya, kolom nolnya, gelas kopi hitam yang datang tanpa diminta.

Aku sudah tidak yakin hal itu mungkin.

Aku menyandarkan kepala ke pintu lemari es dan memejamkan mata, dan yang muncul bukan lobi tadi.

Yang muncul adalah tahun kedua kuliah, di kantin, ketika seorang laki-laki tingkat tiga menghampiri mejaku dan mengajakku nonton, dan Ervan — yang saat itu bukan siapa-siapa, cuma teman satu kelompok tugas yang bicaranya tidak ada remnya — berhenti bicara di tengah kalimat dan tidak melanjutkannya selama dua puluh menit penuh.

Dua puluh menit. Aku menghitungnya waktu itu, karena diamnya begitu aneh sampai lucu. Aku menggodanya sepanjang jalan pulang dan dia menyangkal habis-habisan dengan wajah merah sampai ke telinga.

Itu orang yang tidak bisa menyembunyikan apa pun.

Dan malam ini, orang yang sama berjalan melewati empat meter dan menyapa dua nama dengan urutan yang benar.

Aku mematikan lampu dapur.

Bukan dia yang berubah jadi orang lain, pikirku, sambil berjalan ke kamar.

Dia cuma belajar. Dan aku yang mengajarinya.