Chapter Thirty Six
Kiki Menang Taruhan
POV: Ervan
Wiwi menahannya selama sembilan hari, dan itu jauh lebih lama dari yang kuduga.
Aku tahu dia tahu. Dia berdiri di bordes tangga darurat dengan gelas kopi dan mengatakan sesuatu tentang sinyal, dan setelah itu dia memperlakukanku persis seperti biasa selama sembilan hari, yang bagi Wiwi berarti menyindir laporan bug-ku dua kali sehari.
Yang membocorkannya bukan Wiwi.
Yang membocorkannya adalah aku.
Rabu pagi, rapat mingguan tim. Empat belas orang, ruang rapat besar, agenda sepuluh butir.
Cyntia memimpin. Butir kelima soal jadwal rilis, dan dia bilang, “Rilisnya geser ke hari Kamis, karena Jumat aku ada acara.”
Dan aku berkata, tanpa berpikir sedetik pun:
“Kondangan sepupumu?”
Ruangan itu berhenti.
Aku mendengar suaraku sendiri di udara dengan sangat jelas — kondangan sepupumu, dua kata terakhirnya, tanpa “Bu”, tanpa apa pun — dan aku merasakan sesuatu yang mirip dengan jatuh dari kursi.
Naufal yang pertama bereaksi, dan tentu saja reaksinya adalah membuat semuanya lebih buruk.
“Mas Ervan tahu jadwal keluarganya Bu Cyntia?”
Kiki menutup mulutnya dengan dua tangan.
Wiwi meminum kopinya dan tidak berkata apa-apa dengan cara yang sangat mencolok.
Dan Cyntia — yang sudah empat setengah bulan menjaga wajahnya lebih baik dariku — Cyntia menatap agendanya dan berkata, dengan suara manajer yang sempurna:
“Butir keenam.”
Yang tidak menolong sama sekali.
Kiki mengejarku ke pantry setelah rapat.
“Mas.”
“Nggak.”
“Mas Ervan.”
“Kiki.”
“MAS.” Dia berdiri di antara aku dan mesin kopi, merentangkan tangannya seperti orang menghalangi pintu darurat. “Saya cuma mau nanya satu hal. Satu.”
Aku menghela napas.
“Satu.”
“Sejak kapan?”
“Itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan satu kalimat.”
“BERARTI IYA.”
Dia berteriak. Di pantry. Pukul sepuluh pagi. Suaranya terdengar sampai ke seberang lantai sebelas, dan aku melihat setidaknya empat kepala muncul dari balik monitor.
“Kiki—”
“Tiga koma dua juta,” katanya, sambil mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar. “Mas. Tiga koma dua juta rupiah. Dua puluh enam orang. Ini taruhan terbesar dalam sejarah lantai sebelas.”
“Kamu buka taruhan soal itu?”
“Bukan saya doang! Anak infra ikut! Bahkan HR ikut!” Dia menggulir layarnya. “Ada empat kategori. ‘Ada apa-apa’, ‘nggak ada apa-apa’, ‘ada tapi nggak jadi’, dan—”
“Dan?”
Kiki menurunkan ponselnya sedikit.
“Dan ‘udah pernah ada’.”
Aku menatapnya.
“Siapa yang buka kategori itu?”
“Mbak Wiwi.”
Aku menghabiskan sisa pagi itu memikirkan kategori keempat.
Udah pernah ada.
Bukan “ada apa-apa”. Bukan “nggak ada apa-apa”. Kategori yang mengandaikan bahwa sesuatu sudah selesai sebelum siapa pun di gedung ini datang.
Wiwi membukanya di hari pertama Cyntia masuk. Bulan Mei. Sebelum satu percakapan pun terjadi.
Aku menghitung dua ratus enam puluh empat percakapan selama lima bulan, aku mengatur timer lima belas menit, aku memindahkan mejaku ke pojok paling jauh dari pintu, dan aku menyusun tiga aturan di dalam mobil di parkiran basement.
Dan seorang QA Lead yang tidak pernah kuceritakan apa pun membacanya dari satu kata.
Wiwi mendapat satu koma delapan juta.
Dia menerimanya di mejanya sore itu, dalam bentuk transfer dari dua puluh enam orang, dan reaksinya adalah mengangguk sekali dan melanjutkan pekerjaannya.
“Wi,” kataku. “Kamu tahu dari kapan?”
“Bulan Mei.”
“Bulan Mei?”
“Hari pertama dia masuk.” Dia tidak mengangkat wajah dari layar. “Dia manggil kamu ‘Ervan’. Semua orang di gedung ini manggil ‘Mas Ervan’. Dari OB sampai CTO.”
“Itu doang?”
“Itu doang.” Dia mengetik. “Orang nggak buang gelar tanpa alasan. Kalau nggak pernah kenal, dia bakal ikut yang lain. Kalau baru kenal, dia bakal lebih formal, bukan kurang.”
Aku berdiri di sebelah mejanya dengan perasaan seperti orang yang baru tahu bahwa dinding rumahnya transparan selama lima bulan.
“Kamu diem lima bulan.”
“Bukan urusan saya.” Wiwi menyimpan berkasnya. “Dan Mas kelihatan lagi berat. Orang yang lagi berat nggak perlu ditambahin penonton.”
Dia berdiri, mengambil gelasnya, dan berhenti.
“Mas.”
“Ya.”
“Selamat, ya.”
Dan dia pergi ke pantry sebelum aku sempat menjawab.
Kiki menyeret tim untuk makan malam pada hari Jumat, dan dia membayarnya dengan uang taruhan yang bahkan tidak dia menangkan, karena Kiki tidak pernah mengerti cara kerja uang.
Rumah makan Padang yang sama. Enam bulan kemudian. Empat belas orang.
Dan aku duduk tiga kursi dari Cyntia lagi, karena kebiasaan tubuh butuh waktu lebih lama daripada kebiasaan kepala.
Naufal bercerita tentang wawancara kerjanya di tempat lain — kontrak magangnya habis bulan depan — dan bagaimana pewawancaranya bertanya apa kelemahan terbesarnya, dan Naufal menjawab: “Saya terlalu jujur.”
“Terus?” kata Kiki.
“Terus dia nanya contohnya.”
“Terus?”
“Terus saya bilang saya nggak punya contoh karena sebenernya saya nggak terlalu jujur, saya cuma baca itu di internet.”
Wiwi menaruh sendoknya.
“Kamu diterima?”
“Iya!”
Dan aku tertawa.
Bukan tawa pendek yang biasa. Bukan satu kali. Aku tertawa keras — keras sekali, keluar begitu saja, dan tubuhku ikut, dan aku harus menaruh sendokku karena tanganku tidak stabil.
Dan aku tertawa cukup lama sehingga meja itu berhenti dan menoleh.
Kiki menunjuk wajahku dengan garpu.
“MAS ERVAN KETAWA.”
“Kiki—”
“Tiga tahun, Mbak Wiwi! Tiga tahun saya bikin lelucon terus dia cuma bilang ‘lucu’!” Kiki berdiri dari kursinya. “Dia bilang ‘lucu’ pakai muka datar! Kayak orang baca notulen!”
Seluruh meja meledak.
Dan di ujung sana, tiga kursi dariku, Cyntia menaruh gelasnya dan menunduk dan tidak mengangkat wajahnya selama beberapa detik, dan aku tahu apa yang sedang dia lakukan dan aku tidak berkata apa-apa tentang itu.
Aku memikirkan tawa itu di jalan pulang.
Aku memikirkannya karena ada yang aneh: aku tidak memutuskan untuk tertawa. Biasanya ada jeda — sangat pendek, mungkin tidak terlihat orang, tapi ada — antara sesuatu yang lucu dan reaksiku terhadapnya. Di jeda itu aku memeriksa: seberapa besar reaksinya boleh, apakah ini ruangan yang tepat, apakah ada orang yang akan merasa ditertawakan.
Malam ini jedanya tidak ada.
Sesuatu keluar sebelum diperiksa.
Dan aku menyetir pulang dengan dua perasaan yang bertumpuk, dan yang pertama menyenangkan dan yang kedua tidak.
Yang pertama: ternyata masih bisa.
Yang kedua: kalau tawa bisa lolos tanpa diperiksa, berarti sistem pemeriksaannya sedang melemah.
Dan sistem itu bukan cuma menahan tawa.
Sistem itu juga yang menahan segalanya yang lain. Sistem itu yang memeriksa setiap kalimat sebelum keluar, yang menghitung dua menit, yang menaruh gelas di sebelah kiri lalu berpura-pura tidak menaruhnya.
Tiga tahun aku membangunnya baris demi baris. Aku tahu setiap bagiannya.
Dan aku tidak tahu apa yang tersisa di bawahnya kalau sistem itu benar-benar berhenti berjalan.
Hari Senin, Tresna memanggilku ke lantai dua puluh tiga.
“Van, duduk.”
Ruangannya menghadap kota. Dia menutup laptopnya, yang berarti ini bukan percakapan lima menit.
“Program Zero Single Point udah ditutup dua minggu lalu,” katanya. “Laporan penutupnya bagus. Cyntia nulisnya rapi.”
“Iya, Pak.”
“Terus sekarang kamu ngapain?”
Aku tidak menjawab, karena itu pertanyaan yang sudah kutanyakan pada diriku sendiri setiap pagi selama dua minggu, dan karena Naufal sudah menanyakannya di ruang rapat dan seluruh ruangan tertawa.
Tresna bersandar.
“Aku lihat commit kamu turun enam puluh persen bulan ini.”
“Sistemnya udah dipegang bertiga, Pak. Kalau saya terus nyentuh, mereka nggak bakal pernah bener-bener pegang.”
“Betul.” Dia mengangguk. “Itu jawaban yang bener dan aku setuju. Tapi itu juga artinya perusahaan ini punya satu staff engineer paling mahal yang kerjaannya sekarang lima puluh persen ngajarin dan lima puluh persen nunggu.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Aku nggak lagi ngancem, Van.” Tresna mengetukkan pena ke meja. “Aku lagi bilang bahwa kamu terlalu bagus buat duduk nunggu, dan kalau aku nggak nyariin kamu sesuatu dalam tiga bulan, kamu bakal keluar. Bukan karena marah. Karena bosen.”
Dia membuka laciny, mengeluarkan sesuatu, lalu memikirkan sesuatu dan menutupnya kembali.
“Ada satu hal,” katanya. “Belum pasti. Aku kabarin kalau udah pasti.”
“Baik, Pak.”
“Van.”
Aku berhenti di pintu.
“Kalau nanti aku kabarin,” katanya, “jangan langsung nolak dalam sepuluh detik. Itu kebiasaan jelek kamu.”
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan reading
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua