← Empat Jam

Chapter Twelve

Perintah untuk Protes

POV: Cyntia


Scope creep adalah istilah yang terlalu sopan untuk apa yang dilakukan tim produk terhadap Atlas dalam enam minggu.

Ruang lingkupnya bertambah empat kali. Setiap penambahan masuk akal secara terpisah — satu fitur pelaporan yang diminta mitra besar, satu integrasi yang “cuma sedikit”, satu dasbor yang katanya sudah dijanjikan ke dewan. Tidak ada yang jahat. Semua orang hanya melakukan pekerjaannya, dan hasil dari semua orang melakukan pekerjaannya adalah tim enam orang yang sekarang memikul pekerjaan sembilan orang dengan tenggat yang tidak digeser satu hari pun.

Kiki mulai terlihat seperti orang yang tidur di kantor. Karena memang.

Dan setiap kali ada penambahan baru, ada satu orang yang menyerapnya diam-diam supaya tidak ada yang perlu bilang tidak.

Aku menyiapkan rapat penyelarasan hari Rabu. Aku mengundang Aldi, dua orang tim produk, Tresna, dan seluruh tim Atlas.

Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya sebagai manajer.

Aku mengirim pesan langsung ke Ervan, pukul sembilan malam Selasa.

Besok di rapat, aku mau kamu sampaikan keberatan soal scope. Semua. Angka jam kerjanya, risikonya, apa yang harus dipotong. Bukan aku yang sampaikan. Kamu.

Dia membaca dalam empat menit.

Baik, Bu.

Aku menatap dua kata itu di layar terlalu lama.


Dia melakukannya dengan sempurna.

Itu masalahnya. Aku tidak pernah menduga bahwa “dia melakukannya dengan sempurna” bisa menjadi hal terburuk yang terjadi dalam satu hari.

Dia berdiri di depan ruang rapat besar dengan slide yang jelas dibuat semalam. Sebelas halaman. Data jam kerja aktual enam minggu terakhir dibandingkan estimasi awal, diagram ketergantungan antar fitur, tiga skenario dengan konsekuensi masing-masing, dan satu tabel di halaman kesembilan yang menunjukkan probabilitas kegagalan rilis kalau ruang lingkup tidak dipotong.

Enam puluh delapan persen.

Ruangan itu diam.

“Jadi rekomendasinya?” tanya Tresna.

“Potong fitur pelaporan mitra dan dasbor eksekutif. Dorong ke fase dua.” Ervan mengganti slide. “Kalau dua itu dipotong, probabilitas gagalnya turun ke sembilan belas persen.”

“Mitra besar sudah dijanjikan,” kata orang produk.

“Iya, Pak. Makanya itu keputusan bisnis, bukan keputusan teknis.” Dia menutup laptopnya. “Saya cuma menyampaikan angkanya.”

Aldi menegakkan punggung.

“Van, kalau kamu yang mutusin, kamu potong nggak?”

Dan di situlah aku melihatnya.

Satu jeda. Setengah detik. Ibu jari menyentuh pelipis, lalu turun lagi.

“Bukan saya yang mutusin, Pak.”

“Aku nanya pendapat kamu.”

“Pendapat saya ada di slide sembilan.”

Aldi menatapnya sedikit lebih lama, lalu mengangguk dan menulis sesuatu.

Keputusan diambil dua puluh menit kemudian: kedua fitur dipotong. Tenggat tetap. Tim Atlas mendapat satu orang tambahan. Kiki hampir menangis untuk kedua kalinya di ruangan yang sama, dan Wiwi menendang kursinya di bawah meja supaya tidak jadi.

Rapat terbaik yang pernah kupimpin.

Dan aku duduk di sana merasa seperti orang yang baru saja kalah.

Karena aku memperhatikan satu hal sepanjang sebelas slide itu, dan tidak ada orang lain di ruangan yang bisa memperhatikannya.

Di seluruh presentasi, dia tidak sekali pun memakai kata “saya”.

Bukan “saya sudah kerja delapan puluh jam minggu lalu”. Bukan “tim saya kelelahan”. Bukan bahkan “menurut saya”. Semuanya pasif, semuanya kolektif, semuanya milik data: ruang lingkupnya bertambah, jam kerjanya melebihi, probabilitasnya enam puluh delapan persen.

Sebelas slide tentang orang-orang yang hancur, dan tidak satu pun kalimat yang punya subjek.

Angka enam puluh delapan persen itu adalah dirinya sendiri, disamarkan sebagai statistik, disodorkan ke ruangan berisi sembilan orang yang mengangguk-angguk dan tidak satu pun tahu bahwa mereka sedang melihat seseorang meminta tolong dengan satu-satunya bahasa yang diizinkan dirinya sendiri.


Aku menahannya setelah semua orang keluar.

“Bagus,” kataku.

“Makasih, Bu.”

“Sebelas slide, semalam.”

“Datanya udah ada, tinggal disusun.”

Aku menutup pintu ruang rapat.

“Ervan, kamu tahu enam minggu terakhir kamu ngerjain berapa jam.”

“Tahu.”

“Kamu tahu tim kamu hampir hancur.”

“Tahu.”

“Kamu tahu itu semua dari lima minggu lalu.”

“Iya.”

“Terus kenapa baru kemarin malem kamu bikin slide-nya?”

Dia menaruh laptopnya di meja.

“Karena kemarin malam Ibu nyuruh.”

Dan dia mengatakannya tanpa satu pun serat sindiran. Itu jawaban yang tulus. Itu jawaban yang dia anggap sepenuhnya masuk akal, dan itu sebabnya jawaban itu terasa seperti seseorang menekan ibu jari ke pangkal tenggorokanku.

“Kalau aku nggak nyuruh?”

“Saya serap sendiri.” Dia mengangkat bahu. “Sebagian besar udah saya serap. Yang saya sampaikan tadi cuma sisanya yang nggak muat lagi.”

“Ervan.”

“Bu.”

“Aku nggak minta kamu nyampein data.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kuinginkan, dan aku menurunkannya. “Aku minta kamu keberatan. Itu dua hal beda.”

“Hasilnya sama, Bu. Fiturnya dipotong.”

“Hasilnya sama, caranya beda.”

“Saya nggak ngerti bedanya di mana.”

Dan dia benar-benar tidak mengerti. Itu bagian yang membuatku ingin duduk di lantai. Wajahnya bukan wajah orang yang sedang menghindar; wajahnya wajah orang yang sedang diminta membedakan dua warna yang bagi matanya identik.

Aku mencoba sekali lagi.

“Coba bilang ini,” kataku. “Persis kayak yang aku bilang. ‘Saya keberatan.’”

Dia menatapku.

“Bu—”

“Dua kata. Nggak ada yang denger. Cuma aku.”

Kipas AC berdengung. Di luar dinding kaca, lantai sebelas berjalan seperti biasa; Kiki sedang menjelaskan sesuatu ke Naufal dengan dua tangan.

“Saya keberatan,” katanya.

Rata. Persis seperti orang membacakan nomor rekening.

“Sekali lagi.”

“Saya keberatan.”

“Ervan—”

“Bu Cyntia.” Dan untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke gedung ini, ada sesuatu di suaranya. Bukan marah. Bukan bahkan tajam. Hanya sesuatu yang lelah, tipis sekali, seperti retak rambut di gelas. “Ibu mau saya ngomong apa, saya ngomong. Ibu mau saya bikin slide, saya bikin. Ibu mau saya keberatan, saya keberatan. Saya ikut semua.”

“Aku nggak mau kamu ikut.”

“Terus Ibu mau apa?”

Ruangan itu diam.

Aku membuka mulutku dan tidak ada yang keluar, karena jawaban yang jujur adalah: aku mau kamu marah sama aku, tolong, marah sama aku sekali aja, biar aku bisa berhenti bawa ini ke mana-mana — dan aku tidak berhak mengatakan itu, tidak di ruang rapat, tidak sebagai atasannya, tidak sebagai orang yang menyebabkan seluruh keadaan ini.

Jadi aku berkata, “Aku mau kamu jaga diri kamu sendiri.”

Dia mengangguk sekali, mengambil laptopnya, dan berkata:

“Saya nggak apa-apa, Bu.”

“Aku nggak butuh dibantu—” dia berhenti di pintu, lalu meralat dirinya sendiri, dan itu adalah kalimat paling telanjang yang pernah dia ucapkan padaku. “Saya. Saya nggak butuh dibantu, Bu.”

Pintu tertutup.


Aku duduk di ruang rapat kosong itu selama sepuluh menit.

Aku nggak butuh dibantu.

Aku.

Bukan saya. Untuk pertama kalinya sejak hari pertama, dia lupa.

Setengah detik dia berbicara denganku sebagai orang yang mengenalku, dan yang keluar dari celah setengah detik itu adalah penolakan.

Aku membuka bukuku dan menulis satu baris, dengan tangan yang sudah tidak berpura-pura stabil:

Usaha 4 gagal. Dia patuh, bukan protes. Perintah nggak bisa nembus.

Lalu aku menatap tiga baris di atasnya, yang kutulis berminggu-minggu lalu di malam setelah Atlas diberikan ke Kiki.

Bukan hadiah. Perintah.

Aku mencoretnya sampai tintanya menembus ke halaman berikutnya.

Dan di bawahnya, untuk pertama kalinya, aku menulis sesuatu yang membuat perutku dingin bahkan sebelum penanya berhenti bergerak:

Kalau dia nggak bisa marah karena disuruh — mungkin dia cuma bisa marah kalau aku bikin dia marah.

Aku menatap kalimat itu, dan bagian terburuknya adalah bahwa aku tahu persis caranya.

Aku tahu di mana letak hal-hal yang dia lindungi. Aku tahu dia lebih takut orang lain terluka daripada dirinya sendiri. Aku tahu dia akan berdiri di depan siapa pun yang diserang di ruangan mana pun. Aku punya jabatan yang memberiku akses ke semua tuas itu sekaligus.

Empat tahun aku mempelajari orang ini karena aku mencintainya, dan sekarang seluruh pengetahuan itu tergeletak di mejaku seperti kotak peralatan.

Lalu aku menutup bukuku dengan keras, seperti orang menutup pintu ruangan yang tidak seharusnya dia masuki, dan berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah melakukan itu.