← Empat Jam

Chapter Ten

Kardus di Atas Lemari

POV: Cyntia


Alasanku kali ini bahkan tidak sah, dan aku tahu itu sejak awal.

Laptop penggantinya datang hari Jumat. Prosedurnya sederhana: IT menyiapkannya, orangnya mengambil di lantai tujuh, selesai. Ratusan orang di gedung ini sudah melakukannya tanpa satu pun manajer terlibat.

Ervan tidak masuk hari Jumat.

Bukan cuti — dia tidak punya cuti. Dia mengirim pesan di kanal tim pukul enam pagi: hari ini saya kerja dari rumah, ada urusan. Semua sudah saya handover ke Kiki. Kalau ada P1 telepon saya.

Dan aku, Engineering Manager di sebuah perusahaan yang mempekerjakan seorang kurir internal dan tiga orang IT support, berdiri di lantai tujuh sambil berkata kepada petugas IT bahwa aku kebetulan akan lewat sana dan bisa sekalian mengantar.

Petugas itu bahkan tidak curiga. Kenapa harus curiga.


Apartemennya di lantai empat sebuah gedung tua di belakang pasar, jenis gedung yang koridornya terbuka dan setiap pintunya menghadap jemuran tetangga. Anak-anak main bola plastik di ujung lorong. Ada bau minyak goreng dari suatu tempat.

Aku berdiri di depan pintu 4C sambil memegang kotak kardus laptop dan menyadari bahwa jantungku berdetak seperti orang yang akan wawancara kerja.

Aku mengetuk.

Butuh waktu. Aku mendengar sesuatu bergeser di dalam, lalu langkah, lalu pintu terbuka.

Dia tidak memakai kacamata.

Itu hal pertama yang kulihat, dan itu membuat seluruh wajahnya berbeda — lebih muda, lebih tanpa perlindungan, lebih seperti orang yang kukenal. Rambutnya tidak diikat. Kaus abu-abu, celana pendek, kaki telanjang.

Selama satu detik penuh, dia benar-benar tidak punya wajah yang siap.

Aku melihatnya. Aku melihat semuanya, dalam satu detik itu: keterkejutan, sesuatu yang menukik, sesuatu yang seperti takut.

Lalu dia mengambil kacamatanya dari saku celana dan memakainya, dan wajahnya kembali.

“Bu Cyntia.”

“Laptop kamu,” kataku, mengangkat kotaknya. “Aku kebetulan lewat.”

Kami berdua tahu tidak ada yang kebetulan lewat ke gang di belakang pasar ini.

Dia tidak mengatakan itu.

“Makasih, Bu. Repot-repot.” Dia mengulurkan tangan untuk mengambil kotaknya. “Maaf saya nggak bisa persilakan masuk, lagi berantakan.”

Dari balik bahunya, aku bisa melihat ke dalam.

Tidak berantakan sama sekali.


Aku masuk karena aku memaksa, dan aku memaksa dengan cara paling murahan yang tersedia: aku bilang aku perlu ke toilet.

Dia tidak bisa menolak itu. Tidak ada manusia di Indonesia yang bisa menolak itu.

Dia membuka pintu lebih lebar dan berkata silakan, dan aku masuk ke apartemen Ervan Bagaskara untuk pertama kalinya dalam tiga tahun dan satu bulan.

Dua puluh satu meter persegi, kira-kira. Satu ruangan yang merangkap segalanya.

Kasur di sudut, dirapikan dengan sudut-sudut terlipat rapi seperti kamar hotel. Meja kerja dengan dua monitor — di rumah pun dua monitor — dan satu kursi. Lemari pakaian dua pintu. Kompor listrik satu tungku dengan satu panci. Satu gelas di rak. Satu piring.

Tidak ada sofa. Tidak ada televisi. Tidak ada karpet. Tidak ada satu pun benda di dinding: tidak ada foto, tidak ada kalender, tidak ada jam, tidak ada poster, tidak ada struk bioskop.

Dinding kosong empat sisi.

Aku pernah masuk ke kosnya dulu, dan aku tidak bisa menaruh gelas di mejanya karena penuh. Ada gitar yang tidak pernah dia bisa mainkan lebih dari tiga lagu. Ada tumpukan komik bekas. Ada kaleng biskuit berisi kabel-kabel yang menurutnya suatu hari akan berguna. Ada foto kami di Dieng yang dicetak di tukang cetak murah sehingga warnanya terlalu biru, ditempel dengan selotip yang mengelupas di satu sudut.

Aku berdiri di tengah ruangan ini dan yang kupikirkan adalah: ke mana perginya semua itu.

Bukan dibuang, kataku pada diriku. Orang pindah rumah, orang membereskan barang, orang tumbuh dewasa dan berhenti menempel struk di dinding. Itu wajar. Itu terjadi pada semua orang.

Tapi ada bedanya antara ruangan orang dewasa dan ruangan seperti ini.

Ruangan orang dewasa tetap punya benda yang tidak berguna. Satu mug jelek dari kantor lama. Botol parfum kosong yang belum dibuang. Kabel charger yang sudah tidak ada perangkatnya. Sisa-sisa manusia yang mengendap begitu saja karena hidup memang meninggalkan sampah.

Ruangan ini tidak punya sampah.

Ruangan ini sudah dibersihkan oleh seseorang yang memeriksa setiap benda dan bertanya: ini gunanya apa. Dan yang tidak punya jawaban, pergi.

Lalu aku melihat ke atas lemari.

Ada satu kardus di sana.

Cokelat, ukuran sedang, ditutup dengan lakban yang sudah menguning di tepinya. Berdebu di sisi atasnya — bukan debu tiga minggu, debu bertahun-tahun, yang menumpuk rata dan tidak pernah terganggu.

Satu-satunya benda di seluruh ruangan itu yang tidak berfungsi.

“Toiletnya di sebelah sana, Bu.”

Suaranya datang dari belakangku.

Dan pada saat aku berbalik, aku menyadari sesuatu yang baru kupahami penuh berjam-jam kemudian.

Dia sudah berpindah tempat.

Dia berdiri di antara aku dan lemari itu.

Bukan dengan cara yang mencolok. Dia hanya kebetulan berdiri di situ, dengan tangan memegang kotak laptop, dengan wajah yang sepenuhnya biasa. Kalau aku merekam ruangan ini, tidak ada satu frame pun yang akan membuktikan apa pun.

Tapi selama sisa empat menit aku berada di apartemen itu, dia tidak pernah pindah dari garis itu. Ketika aku bergerak ke kiri untuk melihat mejanya, dia bergerak selangkah. Ketika aku berbalik ke arah pintu, dia menyesuaikan.

Seperti orang yang tubuhnya sudah lama sekali menghafal satu tugas.


Aku keluar dari toilet dan dia sudah membuka kotak laptop di meja, sudah menyalakannya, sudah masuk ke proses pengaturan awal — memberi kami berdua sesuatu untuk dilihat selain satu sama lain.

“Kamu nggak enak badan?” tanyaku.

“Nggak, Bu.”

“Kamu nggak pernah nggak masuk.”

“Hari ini ada urusan keluarga sebentar pagi tadi.” Dia mengetik kata sandi. “Adik saya lagi urus sidang skripsi, orang tua saya di Semarang, jadi saya yang tanda tangan-tanda tangan.”

Nadia. Adiknya dulu masih SMA, mengomel karena kakaknya jarang pulang, memanggilku “Mbak Cyn” dan meminta dibelikan boba setiap kali aku datang.

“Nadia udah skripsi,” kataku.

Tangannya berhenti di atas keyboard.

Setengah detik. Lalu lanjut.

“Iya,” katanya. “Udah gede.”

Dia tidak bertanya bagaimana aku tahu namanya. Tentu saja tidak. Aku pernah menonton adiknya menari di acara sekolah, duduk di sebelah ibunya di kursi plastik lapangan basket, dipegangi tangannya oleh perempuan yang memanggilku Nak.

Ada seluruh keluarga di ujung sana yang pernah menjadi hampir keluargaku, dan sekarang berdiri di antara kami seperti benda yang terlalu besar untuk dilewati.

“Bu,” katanya, tanpa menoleh dari layar. “Boleh saya minta sesuatu?”

Sesuatu di dadaku berdiri.

Minta.

Tiga minggu. Wiwi tiga tahun. Aldi lima tahun.

“Boleh,” kataku, terlalu cepat.

“Lain kali kalau ada barang buat saya, biar saya yang ambil sendiri di kantor.” Dia menutup layar laptop dan menoleh, dan wajahnya sopan dan tenang dan sepenuhnya tertutup. “Nggak enak kalau manajer yang nganter ke rumah karyawan. Nanti kalau orang lain lihat, jadi omongan.”

“Nggak ada yang lihat.”

“Ibu naik lift bareng Pak RT tadi,” katanya. “Dia yang paling cepat.”

Aku tidak punya jawaban untuk itu.

“Iya,” kataku. “Maaf.”

“Nggak apa-apa, Bu.”


Di tangga turun — aku memilih tangga, bukan lift, karena aku tidak sanggup berdiri diam di kotak logam selama empat lantai — aku berhenti di lantai dua dan menyandarkan bahu ke dinding.

Aku sudah melihat mejanya di kantor: kosong. Aku sudah melihat kalendernya: abu-abu. Aku sudah melihat kolom lemburnya: nol. Sekarang aku sudah melihat tempat dia tidur: dinding kosong empat sisi.

Semua yang ada padanya adalah tempat yang sudah dikosongkan.

Kecuali satu kardus di atas lemari, dengan debu bertahun-tahun di permukaannya, yang tidak pernah dibuka dan tidak pernah dibuang.

Kau tidak menyimpan kardus di atas lemari selama tiga tahun kalau isinya tidak penting.

Dan kau tidak membiarkan debu setebal itu menumpuk kalau kau sanggup membukanya.

Aku berjalan turun dua lantai lagi, keluar ke gang yang panas, dan berdiri di sebelah mobilku memikirkan hal yang sama sekali tidak boleh kupikirkan sebagai atasan seseorang:

Aku ingin tahu apa isinya.

Dan aku tahu, dengan kepastian yang membuat perutku dingin, bahwa apa pun isinya, itu ada hubungannya denganku.